Asyiknya Baca Cerpen

Terkirim 19/05/2012 oleh aadityabudiman
Kategori: Uncategorized

Suatu waktu saya membaca sebuah resensi buku mengenai efek samping penggunaan internet. Kalau tidak salah bukunya berjudul Shallow karya Nicholas Carr. Singkat cerita, resensi itu bertutur soal dampak dari internet terhadap cara berpikir kita. Para pengguna internet cenderung tidak mampu membaca teks-teks yang panjang dan memakan waktu lama. Tak aneh, mengingat kalau kita sedang browsing kita kerap berganti-ganti topik. Bahkan ciri khas pengguna internet adalah membuka lebih dari dua bahkan tiga halaman website. Ini penyebab utama, orang yang gandrung dengan internet kesulitan fokus.

Ternyata hal itu terjadi pada saya. Seperti biasanya, tiap kali hari libur saya suka menghabiskan waktu untuk berkunjung ke toko buku. Biasanya kegiatan membeli atau melihat buku dibarengi dengan nonton film baru. Setiap kali saya datang ke toko buku, gairah untuk menulis dan membaca begitu menggebu-gebu. Tangan ini terasa gatel pengen segera membeli buku dan atau menulis untuk sekedar mengomentari buku-buku yang ada di rak-rak.

Tapi anehnya, gairah untuk membaca atau menulis sirna begitu sampai di rumah. Lenyap tak berbekas. Beberapa buku yang terlanjur dibeli pun masih menumpuk menanti untuk dihabisi. Sampai akhirnya, suatu ketika, saya kembali teringat oleh sebuah tulisan. Saya sendiri lupa siapa yang menulisnya. Samar-samar di memori saya tersebut nama Seno Gumira Adjidarma.

Soal apakah tulisan itu? Soal betapa sulitnya orang zaman sekarang untuk menyelesaikan membaca sebuah novel panjang. Panjang disini adalah ceritanya, sebagai contoh, panjang versi saya adalah seperti novel Dan Brown, Pramoedya. Yah, diatas 400 halaman lah. Mungkin ini hanya mendera saya pribadi. Tapi sejauh ini saya memang merasa malas membaca sebuah buku atau cerita panjang bila benar-benar tidak menarik.

Mungkin faktor inilah yang bikin para penerbit berlomba-lomba mengklaim kalau buku terbitnnya paling best seller. Atau setidak-tidaknya ada referensi dari seorang arti atau tokoh terkenal dalam buku terbitannya.

Tapi keinginan untuk membaca sudah menjadi sebuah kebutuhan. Rasanya aneh kalau dalam sebulan gak baca atau beli buku baru. Walhasil, rasa malas membaca buku tebal atau novel panjang terobati dengan penemuan sebuah buku antologi atau kumpulan-kumpulan cerita pendek dalam satu buku. Terakhir, saya membeli buku berjudul Fiksi Lotus.

Fiksi lotus ternyata sebuah situs yang dimotori oleh penulis Maggie Tiojakin. Kumpulan cerpen yang saya beli merupakan volume satu. Volume pertama ini berisi tentang cerpen-cerpen klasik. Hanya beberapa penulis lawas yang saya kenal, sisanya bikin dahi berkerut.

Pilihan saya untuk beralih sementara waktu ke cerpen cukup bisa mengobati rasa haus saya akan bacaan-bacaan tentang cerita. Selama ini saya berdalih kalau waktu luang tak banyak saya miliki untuk membaca novel-novel panjang. Selain itu, hingga sekarang belum ada novel keluaran baru yang punya cerita bagus dan berkualitas, sejenis Harry Potter. Untuk saat ini, saya sedang menikmati asyik berburu buku-buku antologi seputar cerpen-cerpen. Apa anda punya referensi?

Mahalnya Toleransi di Negeri Ini

Terkirim 10/04/2012 oleh aadityabudiman
Kategori: Uncategorized

“Kaum muslimin (baik Sunni maupun Syiah) bukanlah pengikut banyak agama. Mereka adalah pengikut satu agama, satu al-Quran, dan pokok-pokok agama yang sama. Ketika mereka berbeda, maka perbedaan itu hanya timbul dari perselisihan penalaran, riwayat hadis, dan metode. Tetapi, semuanya adalah pencari kebenaran dari al-Quran dan sunnah rasul. Kebijaksanaan ibarat harta kaum muslimin yang hilang dan hendaknya mereka mengambil kebijaksanaan tersebut dari mana saja. “ (Syaikh Mahmoud Syaltout, Guru Besar Universitas Al-Azhar)

Setelah beberapa kali berkeliling rak buku di Gramedia, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil sebuah buku karya Irwan Masduqi, Berislam Secara Toleran. Tema besarnya seputar bagaimana seharusnya kaum Muslimin bertoleransi, baik dengan non-muslim maupun dengan saudara se-iman.

Ada 13 tokoh dunia, baik muslim dan non-muslim, yang melontarkan konsep seputar toleransi. Toleransi dibahas dengan padat, ringkas dan langsung ke titik persoalan utama. Dari ke-13 tokoh tersebut diantaranya adalah Mohammed Arkoun, John Esposito, Yusuf al-Qaradawi, dan Abdurrahman Wahid. Mereka memiliki beragam pandangan seputar toleransi dalam konteks Islam. Semua gagasan yang dilontarkan setidaknya bisa memberikan secuplik arahan bagaimana seharusnya kaum muslimin bersikap terhadap perbedaan, utamanya di era globalisasi.

Sengaja saya mengutip ucapan seorang ulama sekaligus guru besar Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir sebagai prolog artikel singkat ini. Bukan suatu kebetulan jika beberapa hari setelah saya membeli buku tersebut, bentrokan antara Sunni dan Syiah menyeruak di Sampang, Madura.

Saya kira semua kaum muslimin tahu kalau pertikaan antara Sunni dan Syiah bukanlah barang baru. Sama halnya seperti Jemaat Ahmadiyah. Pertikaian, baik secara fisik maupun argumentasi antara Sunni dan Syiah sudah berlangsung pasca Rasulullah saw wafat. Hingga kini, belum ada tanda-tanda bakal ada ujung penyelesaian.

Bahkan upaya rekonsiliasi antara ulama dan mufti di Timur Tengah, kerap menghadapi tantangan. Anehnya tantangan tersebut justru datangnya dari kelompok Sunni dan Syiah. Di antara kelompok yang kontra dengan dialog antara Sunni dan Syiah menganggap kalau mereka sedang berusaha menyatukan Sunni dan Syiah.

Dalam pandangan Ragab El-Banna, koalisi antara Sunni dan Syiah merupakan utopia belaka. Tujuan paling realistis dari dialog adalah agar dua penganut itu saling memahami dan menghormati perbedaan sehingga dapat hidup berdampingan secara damai.

 

Yang terjadi justru sebaliknya, media kerap menangkap pertikaian terjadi lantaran adanya saling klaim kebenaran yang berujung pada pertikaian. Biasanya, ujung dari pertikaian tersebut adalah saling melempar hujatan, seperti klaim sesat bahkan teresktrem adalah mengkafirkan.

Kasus Sampang mungkin bisa dijadikan salah satu contoh dari banyak kasus yang ada. Media menangkap kalau pertikaian bermula dari debat di antara satu keluarga. Perdebatan tersebut merambat ke ruang publik dan berakhir ricuh dengan saling usir. Entah apa yang menjadi perdebatan, tapi yang menjadi perhatian kita adalah mengapa harus berakhir dengan pertengkaran?

Sementara di sudut lain ada ratusan teks, wacana, dan aksi dari kaum muslimin yang ingin memperteguh bahwa Islam itu cinta damai dan bukan agama teroris. Usaha seperti itu tampaknya runtuh dan menjadi sia-sia saat kita menyaksikan antarsesama muslim saling bertikai. Pihak luar (non-muslim) yang hanya belajar Islam dari judul suratkbar tanpa dari referensi otentik akan mudah memberi penilaian dan simpulan bahwa umat Islam jauh dari kata damai.

Menyuplik dari Yusuf Qaradawi, mayoritas pertikaian disebabkan pada hal-hal yang bersifat sekunder. Ini terjadi lantaran kita masih belum bisa membedakan mana “Pemikiran Islam dan “Islam”.  Konsep Pemikiran Islam dan Islam secara tidak langsung merujuk kepada persoalan bersifat statis dan dinamis (al-tsabit wa al-mutaghayyir). Perdebatan yang berujung kepada perkelahian umumnya terjadi pada hal-hal bersifat dinamis.

Konsep jihad misalnya.  Kalangan tertentu lebih suka mengangkat tema jihad sebagai sebuah perang suci yang bisa berujung pada surga Allah. Padahal tidak semua umat Islam berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk berperang mengangkat senjata. Sementara di sisi lain, jarang di antara kita memilih membahas bagaimana menjaga kedamaian di dunia.

Berbicara soal toleransi, ternyata tema ini menjadi bahasan hangat pasca kejadian World Trade Center 11 September silam. Saat itu, kaum muslimin seolah-olah menjadi aktor atas serangkaian aksi terorisme di Amerika Serikat. Beragam tudingan menyudutkan umat Islam dan Islam sebagai agama pedang mewarnai suratkabar. Umat Islam yang reaktif akan membalas tudingan tersebut dengan mengatakan bahwa Barat jauh lebih anarkis. Sementara lainnya memilih untuk menampakkan wajah Islam sebagai agama santun dan damai.

Ada juga kelompok lainnya yang memilih untuk berdialog dan mengedepankan soal pentingnya bertoleransi dibanding membuat benturan. Namun disayangkan, di kalangan internal kaum muslimin mereka yang membawa bendera toleransi dan kerukunan kerap di cap sebagai antek-antek Barat atau kaum liberal. Di mata saudaranya sendiri, kaum cendekiawan tersebut dianggap aneh dan menyimpang. Salah satunya adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Nurcholis Madjid.

Gagasan Gus Dur dan Nurcholis Madjid kerap ditentang di internal kelompok-kelompok Islam. Tidak sedikit fitnah dan isu miring mewarnai perjalanan kedua tokoh ini.  Sementara di mata dunia internasional hal kontras terjadi pada mereka. Dukungan dan penghargaan mengalir untuk kedua tokoh ini. Kebanyakan gagasan dari kedua tokoh ini sering disalahartikan. Padahal, dalam pandangan saya, gagasan mereka yang konsisten soal toleransi sangat baik dijadikan pembelajaran dan sebagai upaya kita dalam menyikapi kondisi Indonesia sebagai bangsa multikultur.

Dalam konteks lokal, Indonesia ibarat barang pecah belah. Beragam perbedaan bisa memicu konflik. Sementara di kalangan intelektual Islam, belum banyak mengajak dan memberi pelajaran ke masyarakat untuk mengutamakan dialog sebagai salah satu cara untuk mengurangi friksi. Fatwa-fatwa sering menjadi jawaban singkat atas perselisihan yang terjadi. Di sisi lain, masyarakat pun kerap terjebak dalam generalisasi dan figur kepemimpinan tertentu dibandingkan dengan melihat hasil dari produk kepemimpinan tersebut.

Pada akhirnya semua kembali kepada bagaimana kita menyikapi atau merespon. Kadar respon akan tergantung kepada pengalaman dan kapasitas pengetahuan. Satu hal yang tidak boleh dilepaskan adalah bahwa kita hidup di era globalisasi, dimana perbedaan dan keragaman menjadi semakin luas dan kompleks. Sikap toleransi merupakan modal penting untuk bersosialisasi dengan masyarakat yang heterogen. Sebab toleransi bukanlah satu sikap yang berdiri sendiri. Toleransi merupakan muara dari kerendahan hati, kesantunan, kesabaran.

Kita hidup di era dialog interreligis, lalu mengapa kita tidak berdialog intrareligius (Ragab el-Banna)

Wallahuallam bishawab

 

I Write Sins and Tragedies

Terkirim 10/04/2012 oleh aadityabudiman
Kategori: Uncategorized

Tepat satu semester saya berada di desk metro. Ada begitu banyak cerita dan pengalaman yang saya dapat.  Rasanya gak berlebihan kalau saya mendapatkan pengalaman selama enam bulan di desk metro melebihi jenjang masa kuliah lima tahun di Unpad.  Bagi sebagian wartawan, desk metro biasa disebut desk berdarah-darah. Wajar aja sih, secara saya dan teman-teman hampir tiap hari meliput soal kriminalitas. Mulai dari jambret tas, perkosaan, perampokan sampai pembunuhan. Setidaknya, menurut saya, desk metro jauh lebih realistis dibandingkan harus meliput soal politik yang semua hal cuma wacana.

Tapi desk metro di kantor saya gak sepenuhnya menulis tentang hal berdarah-darah. Kami juga nulis soal perkotaan. Seperti bagaimana pelayanan kereta api dan angkutan umum seharusnya berjalan. Mengapa Jakarta belum bebas dari kutukan banjir dan macet, persoalan kependudukan dan sebagainya.  Khusus tulisan ini, saya bakal bicara soal kriminalitas saja.

Nah, seperti judul tulisan diatas, secara singkat saya mau mengatakan kalau setiap hari menulis berita soal dosa dan tragedi. Jelas bukan hal yang menarik karena saya jadi jarang liputan ke hotel seperti dulu waktu di desk ekonomi. Bicara soal kasus, terakhir saya ikuti kasus mahasiswa Binus yang dirampok, dibunuh terus diperkosa di dalam angkot. Sebagai catatan, sebelum kejadian almarhum baru saja selesai sidang skripsi. Saat ini kasusnya sudah memasuki proses persidangan. Agenda 6 Maret nanti jaksa bakal membacakan tuntutannya. Sejauh ini sih keempat pelaku bakal kena hukuman seumur hidup. Tapi kalau terbukti ada perencanaan pembunuhan, hukuman bisa naik jadi hukuman mati.

Lebih lanjut, sebagai jurnalis bahkan waktu saya masih kuliah dulu sudah diajarkan untuk bersikap objektif. Objektif dalam arti luas bisa berarti menjaga jarak dengan perkara yang saya tulis. Semenjak di metro saya udah belajar untuk menghiraukan bau amis darah yang keluar dari korban tabrakan. Saya  pun harus berani melihat tubuh mayat yang jatuh tertimpa bangunan atau kena tusuk dan sebagainya. Meski atasan gak maksa untuk melihat setiap mayat. Well, sejauh ini sih saya udah terbiasa akan hal itu tapi efeknya saya jadi sering bangun malam. Bangun malam untuk sesuatu yang gak jelas.

Efek lainnya adalah semua perkara kriminalitas menjadi hal biasa. Terkadang menjadi hal yang dinanti.  Sebenarnya menjadi sebuah pertanyaan, mungkin lebih tepatnya satire. “Bro, tumben nih landai amat hari ini,” begitu celetukan yang terlontar. Landai sebutan kalau tidak ada taruna sama sekali. Sepi.  Sedangkan taruna sebutan untuk semua peristiwa, baik kriminalitas maupun kecelakaan.

Nah, berkaitan dengan tulisan, saya yakin pasti ada mispersepsi antara berita dengan pembaca. Pembaca seringkali berkeluh kesah bahwa berita kriminal terlalu menekankan kesadisan. Sementara sang wartawan tak lebih dari sekedar pekerja. Sama seperti seorang sales yang menawarkan barang ke konsumen. Kadang ada konsumen yang memandang sinis sales. Baru jalan mendekat aja udah ditolak, buru-buru kabur and sok sibuk.

Padahal tujuan pemberitaan kriminal adalah sebagai bentuk peringatan ke warga. Kadang warga suka terbuai dan asyik dengan kesibukannya. Mereka melihat dunia begitu indah dan aman. Sampai pada suatu hari mereka menjadi salah satu korban kriminalitas. Dan berpikir bahwa dialah makhluk paling menderita sedunia. Padahal bisa jadi media sudah memberi peringatan akan hal itu. Berita kriminal dalam batasan tertentu hanya ingin menunjukkan kalau modus kejahatan senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Kejahatan dimana-mana sama saja yang membedakan adalah cara melakukannya dan alasan kejahatan tersebut. Contohnya, dulu pelaku perampokan hanya mengincar rumah di malam hari, tapi sekarang mereka sudah nekat merampok di tengah hari bolong dan di keramaian.

Jakarta dan Kriminalitas

Jakarta sama seperti New York, Tokyo, London, Bangkok, dan kota-kota besar lainnya di dunia. Sama dari perspektif kriminalitas. Bagi turis, Tokyo, New York, Bangkok, London adalah kota yang jauh lebih baik dari Jakarta. Itu berlaku sebelum sang turis menjadi korban kriminalitas. Semua kota-kota besar pasti ada peristiwa kejahatan atau aksi kriminalitas. Coba lihat, siapa mengira kalau pembunuh berdarah dingin, udah gitu gay lagi, muncul di kabupaten bernama Nganjuk, Jawa Timur. Mujianto sang gay berhasil membunuh sedikitnya empat pria. Motifnya sederhana yaitu cemburu lantaran korban-korbannya pernah tidur sama pasangan Mujianto. Itu baru satu kabupaten  di Indonesia.

Jadi, kejahatan bisa terjadi dimana pun, kapan pun dan menimpa siapa pun. Perbedaannya terletak pada bagaimana kita bereaksi terhadap tindak kriminalitas. Seseorang yang sudah terbiasa terlibat atau bahkan pernah menjadi korban kriminalitas akan jauh lebih waspada dibanding mereka yang membaca berita kriminal saja ogah.

Ada fenomena menarik bila berbicara soal kejahatan. Para korban umumnya enggan untuk melapor polisi. Pesan saya sih jangan ragu untuk melapor polisi jika memang anda menjadi korban kejahatan. Pencurian di angkot misalnya, meski uang anda yang hilang kecil jangan segan untuk melapor polisi. Apalagi jika pelaku mencurinya dengan pistol. Nah, seringkali masyarakat enggan berurusan dengan polisi. Alasannya malas lah dan sebagainya. Saya menilai kemalasan berurusan dengan polisi sebenarnya lebih disebabkan karena masyarakat atau korban tidak mengerti prosedur.

Ini ada secuplik kejadian pembajakan metromini di Jakarta Barat beberapa waktu lalu.  Sekedar contoh kasus aja. Waktu itu ada dua orang yang membajak metromini. Semua barang berharga penumpang, seperti telepon genggam dan dompet ludes disikat. Singkat cerita salah satu korban melapor ke polisi. Dia hanya melaporkan kalau dompetnya hilang, tapi tidak melaporkan kalau dompet dan teleponnya hilang karena dirampok di metromini.

Kebetulan salah satu kerabat tuh korban dekat dengan wartawan. Lantas ceritalah tuh korban ke wartawan. Lalu dimuatlah berita pembajakan di metromini. Untuk kelengkapan berita, saya harus minta konfirmasi dari polisi. Nah, ternyata polisi tidak menerima laporan perihal pembajakan metromini. Polisi cuma menerima laporan kehilangan barang.

Di sisi lain, tuh korban udah berkoar di media kalau doi dibajak bersama dengan sekitar sebelas penumpang. Kontan polisi kalang kabut pas membaca berita itu. Secara tidak langsung, polisi merasa dibohongi oleh korban. Korban sih gak salah. Dia berhak melaporkan apa yang dialaminya. Tapi kesalahan terbesarnya adalah dia tidak bercerita perihal kejahatan di metromini. Buat polisi dan media ini peristiwa yang serius. Persoalannya adalah pada waktu itu kejahatan di angkot sedang marak.

Walhasil, karena berita belum sempurna saya pun menunda dulu tuh tulisan. Yang ada malah itu bisa jadi pemberitaan gosip. Keesokan harinya kami, wartawan di Jakarta Barat, dikejutkan oleh kabar kalau pelaku pembajakan udah ke tangkap. Polisi sampai harus mengerahkan intel dari tingkat Polda untuk melacak pelaku. Berita pun akhirnya sempurna. Tapi yang menjadi pertanyaan sampai sekarang, kami belum melihat paras tuh pelaku. Well, ini terkait wilayah liputan. Karena tuh pelaku yang nangkep Polda. Sedangkan wilayah saya cuma sampe Polres aja.

Dari sini saya dapat pelajaran menarik dan berharga. Pertama, tentang korban yang hanya melaporkan perihal kehilangan barang saja. Ada banyak asumsi soal ini. Namun langkah dia untuk melaporkan patut diacungi jempol. Asumsi paling menarik adalah korban menilai kalau peristiwa perampokan adalah hal biasa, jadi dia pun melapor hanya untuk mendapatkan surat keterangan kehilangan agar mudah mengurus kartu kredit, SIM dll. Asumsi lainnya, dia gak percaya sama polisi makanya dia lebih memilih media sebagai  tempat curhat. Ini yang berbahaya. Saat media menyiarkan ada kriminalitas tapi polisi tidak menerima laporan itu, artinya berita itu bisa hanya gosip belaka, kecuali kriminalitas yang tidak berkaitan dengan delik aduan, seperti pembunuhan. Lebih baik, doi cerita di blog atau kaskus aja.

Pelajaran lainnya, ternyata masih sedikit kesadaran warga yang berniat melapor jika berposisi menjadi korban. Secara tidak langsung, orang tersebut mendukung aksi kejahatan yang terjadi. Dia tahu ada kriminalitas dan menjadi korban tapi tidak melapor. Persis seperti yang diharapkan oleh pelaku kejahatan. Walhasil, para penjahat makin bersuka cita.

Yah, ini sih seupil kriminalitas di kota Jakarta. Masih ada kriminalitas besar lainnya. Jaringan narkoba, prostitusi, sindikat pencurian kendaraan bermotor, sampai tawuran pelajar. Kejadian ini hampir tak beda jauh dengan tayangan film-film Hollywood. Bedanya, jika anda sedang di rampok atau menjadi sasaran kejahatan tidak akan ada Superman, Spiderman, Batman atau pria tampan kekar dan bertopeng yang mendengar teriakan atau rintihan kesakitan anda. Respon atas kejadian itu tergantung kepada seberapa besar nyali anda untuk melawan.

Namun jangan berkecil hati. Faktanya ada tiga orang perempuan yang berhasil melawan dan menggagalkan aksi pencurian di angkot. Hebatnya mereka bisa membekuk satu pelaku dan membawanya ke polisi. Tapi ada baiknya anda mempertimbangkan segala resiko yang ada mengingat sudah banyak kasus penjahat berlagak membawa senjata api. Seperti kata Bang Napi, waspadalah.

Bukan Musik Asyik

Terkirim 10/04/2012 oleh aadityabudiman
Kategori: Uncategorized

Saya suka musik. Hampir semua jenis musik saya minati. Sebut saja saya itu penikmat musik. Rock, blues, pop, jazz, klasik, punk, maupun yang sudah berevolusi seperti alternative, rock and blues bahkan dangdut hingga lagu daerah pun saya minati. Sederhananya saya suka alunan nada. Setiap jenis musik memberikan sensasi berbeda. Tapi pada intinya sama saja.  Ada sebuah keteraturan, meski dalam sebuah lagu metal sekalipun.

Bisa dibilang, hampir setiap hari saya mendengarkan musik, baik itu di sengaja maupun sekedar mendengar lantunan ringtone dari seluler orang lain. Awal bulan ini, media di mana saya bekerja melansir tokoh seni 2011. Saya cukil satu tokoh (group) dari sisi musik. Media saya memilih Tohpati bertiga sebagai tokoh di bidang musik 2011.

Majalah Tempo, tidak menyebut mereka (Tohpati, Indro  Hardjodikoro, dan Adityo Wibowo) sebagai pemilik album terbaik di tahun 2011. Tempo memiliki nominasi. Dan ada sembilan nominasi album terbaik lainnya di 2011 yang kesemuanya bikin kepala saya gatal dan dahi berkerut. Tidak ada satu pun dari kesepuluh album tersebut saya kenal dan dengarkan.

Nah, berikut ini album terbaik di 2011 versi Majalah Tempo. Tohpati Bertiga (album Riot), Lesmana-Likumahua-Winarta (Love Live Wisdom), Hiphopdiningrat-Java Hip Hop (the Soundtrack), Angsa dan Serigala (Angsa dan Serigala), Morfem (Indonesia), Luky Annash (180 derajat), BRNDLS (DGN8), Polyester Embassy (Fake/Faker), Dialog Dini Hari (Lirih Penyair Murung), Burgerkill (Venomous).

Ini soal selera. Mungkin inilah selera musik dari Majalah Tempo. Tapi di luar persoalan pemilihan dan selera, adakah satu group atau album yang anda kenal? Jujur saya tidak ada yang tahu, kecuali Burgerkill. Group metal ini memang sudah pernah mampir ke telinga saya sudah lama. Saya kurang mengenal track Burgerkill begitu juga dengan album mereka yang satu ini.

Saya tidak akan membahas soal isi dari kesepuluh album ataupun track di atas sebab saya bukan pengamat musik. Pengetahuan saya soal musik masih dangkal. Ibarat setetes air di lautan. Saya cuma mau bilang kalau musik mereka “Bukan Musik Asyik”. Mengapa saya sebut Bukan Musik Asyik dengan tanda petik? Jawaban versi saya sebab tak satu pun track mereka saya dengar di media elektronik.

Lalu track atau lagu seperti apa yang saya sering dengar? Tak bisa dipungkiri, saya biasa mengizinkan musik “asyik” masuk ke gendang telinga tanpa permisi dahulu. Pada titik ekstrem saya biarkan musik berpolusi menjajah telinga saya. Ini diluar lagu-lagu kegemaran saya seperti  The Beatles dan beberapa musisi asal luar negeri lainnya.

Perlu ditekankan bahwa yang saya maksud adalah musik sekaligus musisi lokal. Dewasa ini, musisi, grup band lokal, diluar kesepuluh di atas terlihat mati suri.  Sesekali saya mendendangkan lagu dari Dewa, tapi bukan Dewa sekarang. Iwan Fals terlihat maskulin hanya lewat lawas-lawas saat dia muda dan membara.  Padi seperti kehilangan arah selepas Yoyo cerai dari istrinya dan terjerat kasus narkoba. Sheila on 7 tak mampu melawan arus band-band melayu. Sejauh pengamatan saya, hanya Gigi yang masih punya taji.

Boy/Girl Band

Kelahiran teknologi digital, khususnya penerapan ringtone dalam penggunaan telepon seluler menjadi momen pertaruhan bagi musisi Indonesia. Masa itu merupakan pergulatan antara industri dengan musisi. Musisi seperti Glenn Fredly enggan karyanya hanya didendangkan secuil pada bagian reff atau intro saja. Bagi Glenn, karya musik adalah utuh tak bisa dipotong. Yang lainnya lebih memilih bernegosiasi agar mampu bertahan dan terus berkarya. Di sudut lain, musisi kita berhadapan dengan konsep album dan single. Musisi Barat sudah mengalaminya lebih dulu.

Pilihan membuat album atau menyicil satu per satu dengan mengeluarkan single dijadikan alasan untuk menahan laju pembajakan. Padahal pembajakan adalah keniscayaan, bagi saya. Perkembangan tersebut secara tidak langsung, melahirkan band-band dengan aliran musik agak berani. Tak jelas apakah kemunculan ini memang karena band-band lawas seperti Padi, Slank, Dewa, Sheila on 7, dan sebagainya sudah “tidak” melahirkan karya baru.

Tapi setidaknya dalam dua tahun tahun terakhir, band dengan aliran musik melayu membabi buta mendominasi televisi dan radio lokal. Musisi dan band tampil bukan untuk menunjukkan sebuah karya musik berkelas. Kebanyakan bergerak atas dasar rating atau pasar. Fakta menariknya adalah meski banyak band baru tapi mereka mendendangkan lagu-lagu lawas. Mayoritas dari penyanyi baru menggubah instrumen dari lagu asli. Terutama jika melihat perilaku para boyband atau girlband baru.

Mohon maaf saja. Boyband dan girlband Indonesia yang menjadikan Korea sebagai kiblat baru tak lebih dari penghibur mata saja. Saya melihat mereka sebagai sebuah produk. Tubuh modal utamanya. Terdengar sadis? Biar saja. Seharusnya pendengar kita harus tahu kapan waktunya untuk berhenti dan berkata “cukup, saya sudah bosan.” Faktanya tidak. Sepanjang 2012 ini masih akan bermunculan boyband dan girlband.

Pada akhirnya ini soal selera. Sebenarnya saya tidak bisa menghakimi selera orang lain. Mungkin ini hanya romantisme atau sekedar kerinduan saya akan karya-karya dari musisi lama seperti Padi, Potret, Kla Project.

Sudut Pandang

Terkirim 10/04/2012 oleh aadityabudiman
Kategori: Uncategorized

Terkadang perputaran bumi selama sehari penuh terasa begitu lama. Kalau sudah begitu biasanya semua yang ada di sekeliling menjadi terasa membosankan. Candaan dan guyon menjadi obat paling mujarab untuk membunuh rasa bosan. Begitu juga dengan saya dan teman-teman sesama wartawan di Jakarta Barat. Ada kalanya berita datang bertubi-tubi bagai hujan deras. Lain waktu berita terasa begitu kering.  Dan jika kebuntuan telah mencapai ujungya saat itulah kami menulis berita dengan begitu riang gembira. Seperti saat warga melaporkan penemuan sesosok bayi.

Hari itu Senin 23 Januari 2012. Saya mendapatkan kabar telah ditemukan sesosok bayi perempuan di kawasan Kalideres. Penemuan bayi oleh Ratman (25) ini merupakan kali kedua setelah empat hari sebelumnya, Daswati (42) warga Kebon Jeruk mengalami hal serupa. Dari pengakuan Ratman, bayi perempuan dengan berat 2,7 kg dan panjang 48 cm ini ditemukan di depan rumahnya dan tersimpan rapi dalam kardus mie instan.

Sementara Daswati, memiliki cerita berbeda. Anaknya Rizki yang menemukan kali pertama bayi perempuan dengan berat 2,4 kg dan panjang 46 cm. Daswati mengaku ari-ari masih menyatu dengan pusar sang bayi. Kehadiran bayi ini tidak sendiri, ada secarik kertas disisinya. Pesannya, agar orang yang menemukan merawatnya dengan baik.

Lantas, saya pun langsung membuat berita tentang penemuan bayi yang pertama oleh Daswati. Sebetulnya tidak ada hal istimewa dengan penemuan bayi ini. Perkiraan saya, seseorang sengaja membuang bayi karena kehadirannya tidak diharapkan. Motifnya beragam, bisa karena faktor ekonomi atau hubungan gelap antar dua kekasih.

Lantaran belum ada laporan berita untuk pagi itu, saya pun putuskan untuk membuatnya. Beberapa hari kemudian, saya tidak menemukan laporan tentang penemuan bayi dimuat oleh kantor. Saya pun ragu untuk membuat kembali berita penemuan bayi di Kalideres. Pasti tak akan dimuat kantor, begitu pikir saya.

Tapi agar tidak sia-sia, saya coba membantu teman menentukan judul berita yang menarik dan menggigit. “Men, kasih ada judul : Jakarta Barat Jadi Tempat Pembuangan Bayi, ” usul saya.  Kontan, kami pun langsung tertawa. Sejurus kemudian saya membantahnya. “Tapi brow baru dua bayi yang dibuang. Kalau mau pake frase tempat pembuangan harus ada frekuensi atau jumlah,” terang saya.

Percakapan kami pun berakhir. Dan saya tidak tahu apakah teman saya menulis judul berita tersebut seperti yang saya usulkan.

Batas Neraka dan Surga

Suatu ketika saya berpikir, apakah ada ruang atau batas pemisah antara surga dan neraka di akhirat nanti. Sebenarnya ini hanya pikiran selintas dan sekedar keisengan belaka. Jawabannya sudah pasti tidak ada. Di akhirat nanti, ketika belum ada ketetapan seorang hamba masuk ke neraka atau surge, pastinya Tuhan sedang mengadili hamba tersebut. Jadi, mungkin, batas antara neraka dan surga adalah sebuah penantian. Padang Mahsyar adalah batasnya.

Lalu kalau ditarik dalam realitas dunia, apa jadi relevan jika saya menanyakan apa batasan antara kebaikan dan kejahatan.  Tidak mudah menjawabnya, tapi menurut saya semakin kita mengalami dan melihat banyak hal semuanya tampak menjadi bias. Ibarat meletakan sebatang pensil kedalam air. Dari luar permukaan air kita akan melihat batang pensil menjadi bengkok. Sementara kalau kita tenggelam, tidak ada perubahan dengan batang pensil tersebut.

Jadi ini persoalan sudut pandang. Di dunia kita akan menghadapi banyak sudut pandang. Suku, agama, hukum, adat istiadat, jenis kelamin dan sebagainya semua itu adalah sudut pandang. Agar tidak ada bias maka perlu ada kompromi untuk menentukan sudut pandangan apa yang bakal kita pakai. Kalau tidak ada titik temu dan kompromi maka jangan memaksakan membuat penilaian atau apapun itu namanya.

Satu tahun saya menjalani pekerjaan sebagai wartawan. Setiap hari saya selalu berpikir tentang sudut pandang, dalam hal ini saya menyebutnya angle. Satu peristiwa bisa menghasilkan pemberitaan berbeda jika sudut pandangnya berbeda. Itu pasti. Sudah tiga kali saya mengalami perpindahan departemen atau desk. Ketiga desk tersebut memiliki garis sama. Saya menuliskan tentang nilai kebaikan dan keburukan. Tidak ada warna kebaikan dan keburukan sekuat di departemen Metro.

Lima bulan lebih saya berada di departemen metro. Desk yang berisi isu perkotaan dan kriminalitas. Tak ada pertentangan kebaikan dan keburukan selain di isu kriminalitas. Orang tua tega membuang bayi, sementara di sudut kota lainnya ada pasangan muda yang menantikan kehadiran sesosok bayi. Seorang pria tega membunuh hanya karena disenggol saat berjoget. Sekawanan begundal berani mencuri, membunuh dan kemudian memperkosa mahasiswa yang baru saja selesai sidang skripsi karena dibawah pengaruh minuman keras.

 

Kyai Pun Berkicau

Terkirim 29/06/2011 oleh aadityabudiman
Kategori: Uncategorized

Majelis Ulama Indonesia sedang membahas persoalan penyelewengan bahan bakar minyak bersubsidi. Saya tidak tahu apa ini sebuah langkah maju atau mundur. Sejauh inikah para ulama kita harus melangkah, sampai-sampai urusan pengunaan bahan bakar harus difatwakan juga. Ikut campurnya ulama dalam hal pengaturan BBM memberikan indikasi bahwa pemerintah sudah tidak sanggup lagi mengurus persoalan energi di negeri yang justru kaya dengan energi.

Ada satu pertanyaan yang menggelitik, pernahkah kita mencoba menanyakan ke MUI untuk mengeluarkan fatwa terhadap kebijakan pemerintah yang terindikasi menyusahkan rakyat? Jadi sederhananya, MUI berinisiatif menilai sebuah kebijakan pemerintah yang akan ditetapkan, apakah halal atau haram. Seperti misalnya, haram atau halalkah menaikkan harga premium? Lalu, haram atau halal kah jika negara tidak mengoptimalkan sumber daya gas yang melimpah di negeri ini? Yang baru-baru ini, apa hukumnya membiarkan rakyat sendiri dipancung di negeri orang? Dan masih banyak pertanyaan halal dan haram yang seharusnya bisa ditanyakan terhadap kebijakan pemerintah. Selama ini kan pemerintah selalu minta persetujuan parlemen, coba ya sekali-kali gitu minta persetujuan MUI.

Saya kira para kyai akan bimbang untuk menilai apakah kebijakan SBY yang dikeluarkan itu halal atau haram. Padahal dalam sebuah hadits cukup terang dijelaskan bahwa salah satu jihad terbesar adalah mengingatkan pemerintahan yang melenceng, kalau ogah disebut pemerintah yang dzholim.

Kalau kita melihat fatwa yang kerap dikeluarkan oleh MUI, saya melihat produk MUI yang berupa fatwa ini kerap menuai protes di masyarakat. Secara logika seharusnya hal ini tidak perlu terjadi, mengingat mayoritas penduduk Indonesia itu ya orang Islam. Penolakan atas produk MUI menunjukkan ada kesenjangan antara produsen fatwa dengan konsumen fatwa. Kesenjangan itu bisa berupa kapasitas keilmuan, pemahaman, mahzab, pengalaman, belum lagi dalil-dalil bisa menjadi alasan kuat bagi seseorang untuk menerima atau menolak fatwa.

Lalu bagaimana dengan rencana fatwa MUI yang akan mengharamkan bahan bakar bersubsidi seperti premium dan solar haram bagi orang kaya? Layak kah MUI memberi fatwa perihal ini? Lalu apa indikator orang kaya di mata para ulama Indonesia ini?

Saya sendiri tidak mengikuti perihal pemberitaan mengenai fatwa MUI soal BBM ini. Konon katanya Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia meminta MUI untuk mengeluarkan fatwa mengenai larangan memakai bahan bakar bersubsidi bagi orang-orang kaya. Kalau MUI sudah menuruti kemauan Menteri ESDM dengan menyatakan premium haram bagi orang kaya, lalu apa tindakan pemerintah? Premium haram bagi orang kaya? So what gitu lho?

Saya tidak terlalu yakin dengan keluarnya fatwa BBM ini kas negara akan menjadi aman sampai Desember nanti. Sebelum kita memahami fatwa MUI mengenai BBM, saya pikir kita perlu tahu kondisi pemerintah/negara di sektor energi, khususnya BBM. Hal ini perlu agar MUI tidak menjadi bulan-bulanan kejengkelan masyarakat yang sudah apatis dengan fatwa MUI. Ini juga penting untuk menjaga wibawa para ulama yang berada di MUI agar tidak terjebak oleh kepentingan para elit pemerintah yang gak becus memimpin departemen atau lembaganya. Selain itu juga jangan sampai fatwa BBM ini justru jadi bumerang bagi para ulama yang menurut pandangan orang lain tergolong kaya tapi mobilnya masih minum premium. Kan gawat, bisa-bisa dituduh munafik.

Dalam APBN 2011, parlemen sudah mengetok palu perihal BBM bahwa pemerintah hanya diberi jatah mensubsidi premium sebanyak 38,6 juta liter. Jumlah uang yang digelontorkan untuk mensubsidi premium dari APBN memakan lebih dari 80 persen dari total subsidi untuk energi yang berjumlah sekitar Rp187 triliun. Dengan kata lain, sekitar Rp 150 triliun pemerintah mensubsidi premium, termasuk solar.

Apa itu subsidi energi? Subsidi energi adalah bantuan pemerintah di sektor energi yang meliputi listrik dan BBM. Dua elemen ini yang paling banyak menguras APBN pemerintah. Nah, fakta di lapangan menunjukkan ada migrasi penggunaan pertamax ke premium, saya termasuk salah satu pelakunya he..he..he… Ternyata orang yang diduga kaya juga ikut pindah dari yang semula minum BBM tidak bersubsidi (pertamax) ke premium (BBM bersubsidi).

Kontan, pemerintah galau karena ada kenaikan permintaan premium dari yang semula cuma dijatah 38 juta liter bergerak naik ke 41 juta liter. Artinya pemerintah harus merogoh kocek lagi untuk menutupi kenaikan yang 3 juta liter ini. Dengan kata lain, permintaan premium sudah melebihi jatah seharusnya. Pemerintah sendiri sudah tidak bisa menutupi kegalauan kalau angka 41 juta liter akan bertambah. Kenapa bisa bertambah, karena mobil dan motor di jalanan juga bertambah setiap harinya sementara jatah subsidi gak berubah.

Ada beberapa solusi yang ditawarkan pemerintah, yaitu melakukan pengetatan BBM, ngutang, atau naikin harga premium. Jadi bagi saya sulit masuk logika jika fatwa MUI menjadi bagian dari solusi pemerintah ini. Karena tidak mungkin bagi petugas pom bensin untuk menanyakan perihal agama dari pengguna BBM. Bisa-bisa galau petugas pom bensinnya. Berikut ini sedikit deskripsinya dan ini murni imajinasi saya.

Petugas pom bensin : “Maaf Pak, apa bapak muslim?”

Budi : “Iya, emang kenapa?”

Petugas pom bensin : ”Oh maaf pak, menurut MUI haram hukumnya membeli premium karena ini bersubsidi. Sedang saya lihat bapak termasuk orang kaya”. ( Petugas melihat Budi pakai Toyota Alphard seharga Rp1 miliar)

Budi : “Situ jangan fitnah saya dong. Saya ini orang miskin, yang kaya itu bos saya. Bos saya bilang harus isi premium kalau gak saya di pecat. Situ mau tanggung jawab kalau saya dipecat. Anak saya tiga, bulan depan mau masuk sekolah semua.”

Petugas pom bensin : “Saya juga diperintah atasan Pak, kalau gak dilaksanakan bisa kena SP saya”

Jika percakapan ini ada di setiap pom bensin tentu akan ramai sekali pom bensin. Lalu apa opsi yang diambil pemerintah? Jawabannya tidak mudah. Kalau naikin harga premium bisa kelabakan SBY. Tiap hari jalanan macet karena mahasiswa pada demo (mahasiswa ramenya kalo demo BBM doang). Tukang angkot menjerit. Penumpang berteriak transport nambah tapi gaji teuteup. Pokoknya semua orang pusinglah kalau BBM naik lagi. Yang paling praktis sih ya ngutang lagi, kalau gak ke IMF, Paris Club, Bank Dunia. Atau kalau mau yang lebih elegan ya buat Surat Utang Negara.

Tapi saya acungkan jempol buat Pak Agus Martowardojo, Menteri Keuangan yang gokil abis ini. Nampaknya doi gak kekurangan akal buat ngutak-ngatik kas negara yang udah mentok ini. Wacana lama yang sudah bergulir sebenarnya, yaitu di masa Sri Mulyani. Opsi tersebut adalah perampingan dan pensiun dini bagi Pegawai Negeri Sipil. Hayoh siapa di sini yang PNS? Anda niat jadi PNS untuk kejar uang pensiun atau apa? Apa anda mengeluh sudah 10 tahun gaji gak naik? Atau anda jadi PNS agar lancar dan lebih pede meminang doi di depan mertua? Hanya anda yang tahu jawabannya. Tapi dari penerawangan saya, sekelas departemen yang ada di pusat atau Jakarta saja, kinerja PNS terlihat kurang gereget. Ini tidak semua lho. Ke kantor jam 9, abis Ashar langsung pulang. Di beberapa departemen tampak para petugasnya melayani masyarakat hanya dengan menggunakan sandal jepit. Entahlah. Tapi kalau kita mau realistis, hampir 60 persen APBN habis hanya untuk bayar PNS. Bahkan di daerah 90 persen APBD-nya hanya untuk bayar gaji PNS. Terus kapan bangun jembatan sama jalannya? Jadi, saya pikir wajar kalau masyarakat biasa yang paling banyak bayar pajak mempertanyakan evaluasi atas kinerja PNS. Jangan tersinggung yah…

Di zaman twitter kaya gini, seharusnya kinerja departemen sudah bisa lebih efektif dan fleksibel. Segala data saat ini sudah memasuki masa soft file dengan kata lain sedikit campur tangan manusianya. Biarkan sistem informasi dan teknologi yang bekerja. Selain akan hemat tenaga, teknologi ternyata cukup efektif memangkas birokratis dan bisa mengurangi korupsi pula, selain menghemat APBN juga. Jadi wacana perampingan dan pensiun dini PNS ini jangan ditunda lagi. Sudah saatnya kita melihat PNS pulang berdesak-desakan di busway jam 20.00 dengan pegawai berdasi kantoran. Menarik kan jika di departemen pemerintah juga diterapkan 2 waktu shift kerja.

Jadi menurut hemat saya, sebelum MUI mengeluarkan fatwa halal atau haram mengenai suatu hal, ada baiknya para kyai ini melihat realitas sosial di masyarakat dan mendalami kondisi pemerintah yang sebenarnya. Ini demi wibawa para ulama yang mengeluarkan fatwa agar fatwa yang dihasilkan murni datang dari kegalauan pribadi sang ustadz karena melihat kondisi masyarakat yang makin pontang-panting mengejar rezeki. Saya pribadi tidak tega melihat ulama-ulama kita dipojokkan setiap kali fatwa dikeluarkan. Di sisi lain, tidak ada keraguan dalam diri saya terhadap para ulama dalam melakukan proses ijtihad karena di tangan merekalah warisan luhur Rasulullah saw di jaga. Hah, pusing ya ngurus negara? Tapi kok anehnya orang-orang pada ngantri pengen jadi presiden.

Wallahualam Tangerang, 29 Juni 2011

Little Wonder

Terkirim 01/06/2011 oleh aadityabudiman
Kategori: Bingkai Cinta

 
Manusia tidak hidup di masa lalu. Manusia juga tidak bisa melangkahi takdirnya di masa depan. Namun manusia akan terus bergerak. Arah dan jalannya saja yang berbeda. Kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan, pembangunan yang mampu diraih hari ini dikarenakan manusia terbuka akan ruang-ruang perubahan. Manusia senantiasa menjelajah untuk membuka pintu-pintu rahasia yang selama ini terkunci rapat. Rasa ingin tahu manusia membawanya menuju sayap-sayap baru penjelajahan.

 

Fortuna Favi Fortus

 

Sebagai seorang yang lahir dan menetap di Indonesia, sungguh sangat banyak potensi di negeri ini. Di lihat dari segala aspek, tidak ada negara yang sekaya dan selengkap Indonesia. Hampir segala hal bisa dipenuhi di negeri ini. Kemajuan ilmu pengetahuan dengan teknologi informasi yang mengikutinya, tidak perlu banyak waktu bagi kita untuk tahu segala potensi yang tersembunyi di Indonesia.

 

Namun ada kalanya sesuatu yang indah menyimpan sejuta misteri. Diperlukan sejuta usaha pula untuk mengungkap kemisterian tersebut. Mereka yang berasal dari Barat, memiliki satu kata untuk merangkum segala kemisterian yang ada pada negeri-negeri Timur, entah itu negeri di Timur Tengah, Afrika, dan Asia, termasuk Indonesia. Eksotik.

 

Keeksotikan Timur hari ini sepertinya sedang meredup. Percikan api revolusi yang diawali di Tunisia lambat laun merambat ke Mesir dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Hingga detik ini sebenarnya Barat masih merasa gundah akan kondisi ini mengingat Timur Tengah adalah produsen terbesar minyak bumi. Energi kehidupan bagi beberapa negara di Eropa.

 

Demokrasi atau kita bisa menyebutnya dengan kebebasan berekspresi menjadi barang mahal di negara-negara yang masih menganut kerajaan sebagai kiblat pemerintahannya. Yaman, Yordania, Arab Saudi pantas merasa galau dengan percikan api demokrasi ini. Tapi Timur tidak melulu berbicara soal negara-negara Timur Tengah.

 

Hari ini masyarakat dunia tampak terkejut dengan kemajuan Cina dan India. Dalam konteks sejarah, Cina dan India adalah pemberi warna utama bagi perkembangan budaya-budaya di Timur. Cina dan India hari ini seperti mengerti bahwa mereka tidak bisa hidup di masa lalu yang menurut buku-buku sejarah begitu cemerlang dan aduhai. Mereka juga sadar bahwa mustahil bisa mendahului takdir Tuhan. Tuhan hanya memberikan janji masa depan yang manis kepada mereka yang mau berusaha dan mengubah dirinya sendiri bukan kepada mereka yang berpangku tangan dan duduk manis.

 

Cina dan India bergerak. Saya yakin bahwa budaya lokal dan sejarah bangsa mereka yang besar menjadikan masyarakat kedua negara ini mampu bersaing dengan Barat. Cina dan India bergerak atas dasar sejarah bangsa mereka yang besar tapi mereka tidak hidup didalamnya. Dahulu Cina dan India berbasis kerajaan dan hari ini Cina berkiblat kepada sosialis dan India mengarah ke demokrasi.

 

Kedua negara ini perlahan tapi pasti sudah membuat geregetan para pelaku ekonomi. Lihat saja sekitarmu, hampir semua barang di rumah kita dihiasi oleh produk Cina. Dari kosmetika sampai mainan anak. Lain hal dengan India. India mencoba fokus dari sisi sumber daya manusia dan teknologi informasi. India adalah negara pengekspor doktor dan sarjana. Di Indonesia, pelaku bisnis dari negeri para dewa ini sedang berekspansi di sektor perbankan. Raganya tampak seperti Tom Cruise tapi jiwanya Shahruk Khan.

 

Suatu hari saya berpikir bahwa antara Cina, India, dan Indonesia memiliki nasib sejarah yang sama, tapi yang mendasar adalah bahwa ketiga negara ini memiliki takdir yang berbeda, khususnya Indonesia diantara Cina dan India. Cina dan India hari ini mampu berdiri tegap dihadapan negara Barat kontras dengan Indonesia. Cina dan India memiliki arah yang jelas untuk menjemput takdirnya, namun Indonesia terlihat masih gamang.

 

Ada sebuah catatan prediksi yang menarik dari sebuah lembaga keuangan internasional, yaitu Bank Dunia (World Bank). Pada 2025 nanti India, Cina, Brazil, Korea, Indonesia akan menguasai lebih dari 50 persen kegiatan ekonomi global. Empat negara diawal sudah menjemput setengah dari takdir (baca: prediksi) itu pada hari ini, 2011. Bagaimana dengan Indonesia ?

 

Ya, bagaimana dengan Indonesia? Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan ini. Bagi mereka (praktisi, pengamat dll) yang bergelut di dunia ekonomi, bisa jadi lebih dari setengahnya akan mengatakan suram dan tidak jelas. Selebihnya pragmatis dan sedikit yang mencoba untuk sekedar berpikir positif atau optimis.

 

Saya sendiri beranggapan yang dibutuhkan oleh Indonesia adalah sedikit keajaiban. Saya tidak tahu takaran dari kata ’sedikit’ tapi kuncinya adalah keajaiban. Fortuna favi fortus,  keberuntungan (keajaiban) memihak kepada mereka yang berani. Mereka itulah para pemimpin, pengambil kebijakan negeri ini. Pemimpin Indonesia yang merupakan kunci utama dari keajaiban ini jelas terlihat kurang berani. Jadi yang Indonesia butuhkan untuk mengejar Cina dan India adalah sedikit keberanian.

 

Sedikit keberanian untuk menggantung para koruptor. Sedikit keberanian untuk memecat kader partai yang bertopeng arjuna tapi berwajah rahwana. Sedikit keberanian untuk melakukan kontrak ulang dengan Freeport dan korporasi internasional. Sedikit keberanian dari bawahan untuk mengkritik atasannya yang menyimpang.

 

Sedikit keberanian untuk menguras semua aset para pengemplang pajak. Sedikit keberanian untuk memberi akses kesehatan dan pendidikan yang luas kepada orang miskin. Dan masih banyak sedikit keberanian lainnya yang jika di kalkulasi tidak menjadi sedikit lagi karena sudah menjadi keberanian yang bersifat nasional.

 

Saya sendiri sebenarnya sedang mempraktekkan sedikit keberanian ini, yaitu dengan cara menulis sesuatu yang sebenarnya tidak sepenuhnya saya kuasai. Beresiko memang dan besar kemungkinan kamu akan langsung menghapusnya. Berhubung menulis sudah menjadi salah satu misi saya hal itu menjadi sesuatu yang tidak penting, yang terpenting adalah bagaimana memupuk terus rasa keberanian itu dan membuka ruang diskusi. Esok saya akan kembali lagi dengan tulisan yang sedikit lebih baik.

 

Around here, however, we don’t look backwards for very long. We keep moving forward, opening up new doors and doing new things, because we are curious and curiosity keeps leading us down new paths.

Walt Disney  

 

Tangerang, Rabu 1 Juni 2011

 

* Welcome June and please remember this carefully: I won’t go home without write because I am a journalist.

 

 

Nasi Padang dan Catatan Pinggir

Terkirim 01/06/2011 oleh aadityabudiman
Kategori: Bingkai Cinta

”Sial, lama sekali hanya untuk menilai kinerja sebuah organisasi yang bekerja setahun penuh,” pikirku.

Mahasiswa-mahasiswa yang berjas almamater biru tua sedang sibuk berlobi ria untuk memutuskan apakah menerima atau menolak hasil LPJ organisasi yang usai dibacakan. Di lantai dasar, para pengurus terdengar riuh, penuh tawa. Kilatan kamera tampak bersahutan. Sesekali suara mereka merendah. Aku sendiri lebih memilih duduk di lantai atas, sambil berbincang keadaan kampus tempat saya menghabiskan dua tahun lebih untuk merajut pendidikan. Padahal sebenarnya hanya untuk merenggut secarik ijazah yang bertuliskan S,Ikom. Jarang-jarang kami berbincang soal kondisi politik kampus di fakultas kami. Maklum, lagi musim pemilihan presiden mahasiswa. Ya, lumayanlah, hitung-hitung membunuh kebosanan.

 

Pergantian hari terjadi. Jarum jam terus bergerak. Tidak ada satu pun mahkluk yang bisa menghentikan pergeseran jarum jam. Sehebat, sekuat, setajir apa pun dia. Yang pendek menunjuk ke arah satu, yang panjang ke arah lima. Dan ini pagi buta. Saat yang benderang bagi sang malam. Menunggu memang pekerjaan yang amat membosankan. Alhamdulillah, Allah itu Maha Adil, kebosananku selama satu jam lebih ini dihiasi oleh tingkah laku dia yang rada kekanak-kanakan yang tak pernah bosan saat kupandangi.

 

Tidak ada obat yang paling mujarab dan ampuh untuk membasmi penyakit kebosanan selain buku. Kalau Anda tinggal di Indonesia dan sedang membuat janji dengan seseorang atau ikut dalam acara apapun, saranku bawalah sesuatu yang bisa menghibur  untuk membunuh kebosanan akibat lama menunggu. Dan malam itu Caping (Catatan Pinggir) Goenawan Mohamad (GM) menjadi obat penolongku saat perbincangan politik kampus sudah usang dan kami sama-sama bosan membahasnya.

 

”Baca apa?”, sahut temanku. Aku hanya menyodorkan buku GM. Hanya butuh sekejap bagi kami untuk berbincang soal GM.

”Punya temen kosan, beli di Senen. Edisi lama sih.” sambung aku.

”Dia itu (GM), kalau kata Ignas Kleden, skeptis dan gak ngasih solusi.” sahut temanku.

Pada percakapan selanjutnya temanku bilang, GM itu cuma main di permukaan saja.

”Tapi saya kalau baca dia selalu ada inspirasi baru” sambut temanku.

”Satu hal yang disuka temen saya soal GM, tulisannya bagus, tapi tingkah nanti dulu.” celetuk aku.

”Iya,” dengan senyum yang merekah di bibir temanku.

 

Di malam yang biasa, semestinya aku sudah berada di atas kasur yang empuk dengan selimut yang menghangatkan tubuhku walau agak tengik.

 

”Dunia modern sudah berhasil membuat kita lupa. Akibatnya kita nyaman tinggal di dunia. Coba lihat Rasullah saw. Dia cuma tidur di atas pelepah daun kurma padahal tidak sulit bagi Rasul untuk tidur diatas kasur dengan rajutan emas. Kita sendiri, begitu nyaman dengan kasur empuk, peralatan kebersihan dan tetek bengek. Sebenarnya akar permasalahan kita adalah kita lupa akan hakikat kita yang sebenarnya. Kita itu mau ngapain, dari mana mau ke mana? Dan dunia yang modern udah bikin kita nyaman. Kenyamanan itu yang bikin kita lupa akan hakikat kita sebenarnya,” begitu komentar temanku.

 

Aku merasa kita berdua begitu klop, langsung nyambung kalau ngomong, gak peduli mau memulai dari tema apa. Maksudku aku dengan temanku.

Pembicaraan kami terhenti dengan pengumuman Laporan Pertanggung Jawaban oraganisasi yang diterima atau ditolak. Singkat aja, LPJ-nya diterima, titik.

”Udah tidur dikosan saya aja,”kataku.

 

Di perjalanan, perbincangan kami berlanjut.

”Saya sebenernya belum nemuin temen yang bisa diajak bicara kaya ginian,” sahut temanku.

Dalam hati aku pun senada dengannya. Ternyata latar belakang pengalaman kami bisa dibilang sama, serupa. Di mulai dari sastra, lalu Islam, dan berlanjut ke ranah filsafat. Tiga hal itu yang membuat irisan kesamaan di hati kami. Aku tidak memungkiri kalau kami juga seorang yang introvert. Pikir kami, kalau kalian ingin masalah kalian tuntas dan pengetahuan kalian gak bodoh-bodoh amat, peganglah tiga hal itu:Islam, sastra, dan filsafat.

 

Posmodernisme, penggiat Islam yang takut mempelajari filsafat, strukturalis, GM, Lekra, Manikebu, menjadi pengiring perjalanan kami ke dari kampus menuju kosan. Dan inilah puncak ke kegalauan kami berdua.

 

”Ini nasi kalau gak dimakan sekarang bisa basi,” sahutku.

Betul juga, rasa asam sudah terasa di sambal. Tapi bumbu rendang masih kuat terasa. Pukul dua kami lumat nasi padang itu.

“Gak ada matinya nih nasi, biar udah jam dua pagi masih aja enak. Kayanya enak kalau punya isteri dari orang Minang, atau setidaknya dia bisa masak khas Minang-lah,” celetukku.

 

”Menurut saya kafir itu adalah orang yang tahu kebenaran tapi dia gak mau melaksanakan kebenaranya itu. Itu kafir. Abu Jahal sangat pas disebut demikian. Permasalahan kita adalah kita kesulitan membuat orang atheis untuk percaya sama Tuhan. Saya juga bingung. Buku-buku yang dibuat, ucapan ulama untuk meyakinkan mereka gampang dibantahkan oleh orang-orang atheis. Mungkin pertama kali yang harus dilakukan orang atheis adalah dia harus percaya dulu sama Tuhan, janganlah mengumpulkan, mencari pembuktian argumen, seputar Tuhan dulu. Tapi berangkat dulu dari nol (0). Coba baca buku Dan Malaikat Pun Bertanya, Jeffry Lang. Argumen orang Islam mentah, buntu. Tak berarti apa-apa di hadapan sang atheis. Siapa sebenarnya yang salah. Apa karena jawabannya yang tidak memuaskan? Atau jangan-jangan pertanyaannya yang salah,” komentar temanku menghiasi ruang kamar.

 

Sedikit demi sedikit, nasi padang dan lalapan singkong kami makan dengan lahap. Ternyata nafsu makanku belum redup. Serasa makan sahur di bulan Ramadhan.

 

Pasrah dulu. Bukankah memang demikian salah satu definisi Islam, pasrah, berserah diri kepada Allah, pikirku.

 

”Kalau berbicara agama jangan melulu pakai akal. Pakailah hati,” dia menambahkan.

”Itu….itu…bingung saya,” lanjut temanku diiringi gigitan daging.

”Coba bayangkan, saat seorang yang tidak memeluk agama dan dia dihadirkan ke dunia dalam keadaan menderita, kelaparan, dan kekeringan. Setelah itu dia mendapat kabar bahwa kalau dia tidak memeluk agama maka dia akan disiksa selamanya di nereka.

Kenapa, kenapa? Yang gak habis pikir itu disiksa selamanya di akhirat setelah dia juga menderita di dunia.”

(Astagfirullah,ampuni aku dan temanku ya Rabb, jika kami berlebihan dengan ucapan kami malam ini!)

 

Teman, aku tahu sebenarnya kamu pintar. Terimakasih, kamu sudah memperlihatkan kepintaran plus kegalauanmu kepadaku. Kurasakan, kau sebenarnya cerdas, tapi kecerdasan itu kau tutup rapat-rapat ketika berhadapan dengan orang lain. Mungkin ini ciri orang cerdas, dia agak sulit menyusun ucapannya secara sistematis. Acak-acakan. Tapi beruntung aku bisa memahaminya. Aku pun ketularan sulitnya dalam membuat tulisan ini.

 

Jarum jam menyentuh angka tiga.

”Socrates bilang, saat kita memikirkan sesuatu, sesuatu itu pasti memiliki makna,” kata temanku.

 

Pikiranku langsung tertuju pada kembang malamku. Hampir setiap hari aku memikirkan dia. Sedang apa dia? Apa dia memang cukup bermakna bagiku?

Jangan berhenti berpikir teman. Semakin kau berpikir kau akan menemukan kegundahan. Semakin gundah dirimu, semakin bagus.

 

Kita jangan egois untuk menghakimi seorang atheis, karena mereka sedang mencari sinar kemuliaan Tuhan. Kita harus bisa menghargai proses dia mencari sinar Kemuliaan itu, bukan berdebat meyakinkan dia untuk percaya Tuhan. Itulah sari pati kegundahan sahabatku.

 

Ya Allah yang menggenggam hati ini. Sangat mudah bagi-Mu untuk membalikkan hati kami. Lindungilah kami dari ilmu yang tidak bermanfaat. Selimuti jiwa kami dengan  ketenangan dan cukupi kami dengan pemberian-Mu. Buat kami ridho dengan ketentuan-Mu.    

Jatinangor, 12 Mei 2007

 

* Rewrite: Tangerang, 1 Juni 2011

 

Is That True, Bad News Is a Good News ?

Terkirim 29/05/2011 oleh aadityabudiman
Kategori: Uncategorized

Tiga bulan bukanlah rentang waktu yang cukup untuk menyimpulkan benar atau tidaknya pameo di atas. Perjalanan empat tahun di kursi perkuliahan pun tidak memberikan jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan diatas. Dari pengamatan dan sedikit pengalaman di lapangan, saya mencoba memberi batasan antara berita baik dan berita buruk. Harapannya agar ada secercah jawaban meski masih terasa samar-samar. Batasan tersebut berupa konteks dan besarnya efek dari berita yang akan dibuat.

 

Hingga detik ini, saya pribadi masih awam dengan dunia jurnalisme. Menurut penuturan mentor saya, jurnalis bukanlah sebuah pekerjaan atau pun jenjang karir, tapi suatu proses belajar yang panjang. Setiap hari adalah sesuatu yang baru dan jurnalis selalu dan akan selalu dituntut untuk belajar sepanjang hidupnya jika dia sudah memutuskan akan menjadi seorang jurnalis.

 

Dalam kasus saya, misalnya. Tiga bulan ke belakang isu-isu politik dan hukum menjadi makanan sehari-hari. Pos pantau saya di sekitar DPR, Kemendagri, Kemenlu, Kemenhan, dan Mabes TNI. Pos-pos yang basah dengan berita dan penuh dengan konflik kepentingan. Fakta di lapangan, sebelum memutuskan akan mengambil sebuah peristiwa, saya dibenturkan oleh sebuah pertanyaan soal, seberapa pentingkah peristiwa tersebut untuk diliput ? Jawaban yang muncul adalah seberapa besar masalah dan efek yang ditimbulkan dari peristiwa tersebut.

 

Sebagai contoh ketika kasus penyanderaan awak kapal Sinar Kudus di perairan Somalia beberapa waktu lalu. Dalam konteks hak asasi manusia negara memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan warganya. Dari sisi militer sebuah strategi pembebasan tidak bisa menjadi konsumsi publik. Ironisnya, seorang jurnalis berdiri di belakang kepentingan publik dan publik sangat menginginkan informasi mengenai kabar para awak kapal. Maka jalan tengahnya adalah mendesak pemangku kepentingan untuk bertindak cepat dan efektif. Dalam hal ini bukan berita “buruk” yang dicari, tapi upaya untuk terus menerus menekan para pemangku kepentingan agar melakukan segala cara untuk membebaskan para awak.

 

Berikutnya bergeser ke kasus anggota DPR Arifinto yang kepergok melihat video mesum saat sidang paripurna. Peristiwa ini hampir mendekati ke arah bad news is a good news. Sebenarnya bukanlah hal baru saat anggota DPR melakukan aktivitas lain ketika sidang biasa atau sekelas paripurna. Namun tema seperti seks masih menjadi sesuatu yang primadona apalagi subjeknya adalah pejabat atau orang terkenal. Masih ingat kasus Ariel, Luna Maya, Cut Tari?

 

Sebenarnya masih banyak contoh lain namun yang terpenting adalah bahwa dalam isu politik dan hukum batas antara berita baik dan buruk sangatlah tipis, layaknya angka 11 dan 12.

 

Masih seputar pengalaman saya. Sekarang kita bergeser ke isu ekonomi. Sudah seminggu ini saya bergeser untuk meliput isu ekonomi. Sepintas saya menilai, tema ekonomi adalah seputar prediksi, optimisme, ekspansi, dan stabilitas neraca keuangan, baik perusahaan maupun negara. Di sini saya bisa melihat lebih dekat arah kebijakan ekonomi di negara kita. Saya pun menemukan hal yang tidak jauh berbeda, yaitu ketika saya harus memutuskan peristiwa apa yang layak untuk diketahui oleh publik. Pertanyaan paling mendasar adalah masih mengenai seberapa penting peristiwa tersebut dan seberapa besar efeknya bagi publik.

 

Ketika pemerintah mengaku sudah tidak kuat lagi untuk memberikan subsidi bagi rakyatnya, publik harus benar-benar tahu dan paham kondisi keuangan (ekonomi) negara. Jika pemerintah tidak memiliki alasan yang kuat untuk pencabutan subsidi maka kita harus mendesak agar negara harus lebih giat dan keras lagi bekerja untuk menambah digit APBN.

 

Sebagai contoh, pengusaha dan petani di daerah mengeluh kepada pemerintah karena tidak ada perkembangan dalam aspek energi dan infrastruktur, seperti jalan dan jembatan. Bagaimana mau mengirim hasil bumi kalau akses jalan dan jembatan tidak ada.  Sementara di sisi lain, pemerintah berteriak APBN kita yang sekitar Rp1200 triliun habis terserap hanya untuk gaji PNS, remunerasi, subsidi BBM, listrik, kesehatan, dan pendidikan.

 

Nah, aspek berita “buruk” tampak lebih bersinar jika kita memakai kacamata ekonomi mikro (lokal) dibandingkan dengan ekonomi makro (nasional/global). Sebenarnya masih banyak contoh kasus dalam dunia ekonomi yang bisa diangkat. Tapi saya khawatir anda akan menjadi galau, seperti saya, jika mengetahuinya. Itu pun kalau masih ada ruang kesadaran dalam diri kita.

 

So, it that true bad news is a good news? Dari pengalaman singkat saya jawabannya adalah sometimes bad news is a good news. Namun pada akhirnya kita tidak akan berbicara soal baik dan buruk karena jurnalisme berbicara soal kebenaran. Aspek baik dan buruk berkelindan dalam ruang etika dan kepantasan yang multitafsir. Sementara aspek kebenaran bergerak dalam segala ruang.

 

Namun, seperti yang diutarakan oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, kebenaran adalah sebuah konsep yang paling membingungkan dalam dunia jurnalisme. Maka dari itu Goenawan Mohamad berujar tugas seorang jurnalis hanya mengetuk pintu kebenaran dan sisanya biarkan publik yang masuk ke ruang kebenaran. Tujuan utama dari jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan publik agar mereka bisa hidup merdeka dan mampu mengatur diri sendiri1.

 

Tangerang, Sabtu 28 Mei 2011

 

Sumber:

1.  Kovach, Bill. Tom Rosenstiel. Elemen-Elemen Jurnalisme, ISAI, 2003. Jakarta

 

Tongkat Sihir Ayah

Terkirim 29/05/2011 oleh aadityabudiman
Kategori: Uncategorized

Semburat sinar mentari menabrak dinding kamar Gun. Tidak seperti biasanya, pagi ini Gun terasa berat untuk sekedar membuka kedua kelopak matanya. Sudah dua hari terakhir ini dengan gencar deadline tulisan mengejarnya. Bulan ini majalah dimana Gun bekerja akan meluncurkan edisi spesial dan Gun ditunjuk menjadi salah satu koordinator.

 

Suara ketukan pintu berkali-kali merongrong aktivitas tidur Gun.”Gun, bangun. Kamu belum subuh Nak. Jangan sampai ayah yang mengetuk pintu kamarmu,” ucap Ibu.

Irama keluhan yang keluar dari hidung Gun terdengar oleh Ibu yang berada di balik pintu. Untuk memastikan kalau Gun sudah benar-benar bangun, Ibu kembali mengetuk pintu. Kali ini dengan nada lebih tinggi dan frekuensi yang cepat.

”Iya Bu, Gun udah bangun kok,” jawab Gun.

 

Begitu membuka pintu kamar, Gun disambut oleh sorot mata Ibu yang tidak seperti biasanya. ”Yang benar saja Gun, masa sudah jam segini kamu belum Subuh,” ujar Ibu. Ibu sebenarnya tahu kalau Gun baru dua jam memejamkan mata dan merebahkan tubuhnya di ranjang.

 

Ibu dan Ayah tidak hanya tegas dalam mendidik anak-anaknya tapi juga mereka adalah tim yang kompak. Terutama ayah, pernah suatu sore Gun dan Ipul, si bungsu, terlambat pulang ke rumah. Semua anggota keluarga sudah selesai solat Magrib berjamaah kecuali mereka berdua. Dan sudah menjadi aturan bersama kalau sehabis Magrib, Ayah  selalu memberikan sedikit ceramah dan seluruh anggota keluarga wajib ikut. Walhasil, akibat keterlambatan Gun dan Ipul yang sore itu beralasan habis bertanding sepakbola, ayah memainkan tongkat sihirnya kepada mereka berdua. Ayah memang disiplin dalam mendidik anak-anaknya, tapi ayah juga cukup demokratis untuk menerima setiap argumentasi dan kritikan yang dirasa masuk akal.

 

Aku sendiri pernah menerima lecutan tongkat sihir dari ayah. Waktu itu aku ketahuan membolos tidak mengaji selama tiga malam berturut-turut. Wak Haji pikir, guru mengajiku, aku sedang sakit tapi ternyata ketika hal itu di konfirmasi ke ayah keadaanku baik-baik saja. Kontan akibat ulah nekatku, 50 pecutan tongkat sihir ayah bolak-balik mendarat di bagian bokong, punggung, dan kedua kaki dan tanganku. Seminggu aku tidak masuk sekolah akibat tongkat sihir ayah.

 

Kami berlima, Agam, Sarah, Wiguna, aku, dan Saiful, biasa menyebut rotan yang digunakan ayah untuk menghukum kami dengan sebutan tongkat sihir ayah. Aku yang pertama kali menyebutnya demikian. Tongkat itu sendiri sebenarnya adalah sebuah rotan.  Ukuran tidak besar, hanya satu centi diameternya. Panjangnya sendiri 60 centimeter. Rotan sangat pas digunakan untuk mencambuk mengingat karakteristik rotan yang lentur dan tidak mudah patah. Soal rasa, jangan tanya bagaimana perihnya dipukul oleh tongkat sihir ayah. Sekali kena pukul, segaris warna merah akan segera terukir di atas kulit kami.

 

Gun segera bergegas menuju kamar mandi. Dengan tertunduk Gun mencoba menghindari tatapan ayah yang sedang sibuk membolak-balik koran pagi.

”Kalau setiap hari kamu kesiangan, lebih baik cari pekerjaan yang lain Gun,” ucap ayah. Tanpa berkata apa-apa Gun bergegas masuk kamar. Aku yang masih mengeringkan diri sehabis lagi pagi, agak kikuk mendengar lontaran ayah. Tanpa pikir panjang, aku segera pergi mandi.

 

Sekarang rumah kami hanya dihuni oleh empat orang saja. Ayah, ibu, aku dan Wiguna. Agam dan Sarah sudah berkeluarga dan mereka berdua lebih memilih berpisah dari kami. Semula ayah sempat menawarkan kepada Sarah dan suaminya agar tinggal saja bersama kami. Tapi setelah mengetahui Kak Rendra, suami Sarah, dipindahtugaskan ke luar pulau, tidak ada pilihan lain bagi Sarah untuk berpisah dengan kami. Sementara Saiful si bungsu, sedang menjalani masa-masa kuliahnya di Yogyakarta.

 

“Mati gua. Pagi-pagi udah kena semprot ayah. Padahal mata masih sepet gini lagi,” celetuk Gun. “Salman, Wiguna cepet turun. Sarapan sudah siap nih,” teriak ibu dari lantai bawah. Aku yang sudah selesai merapihkan diri segera bergerak menuju ruang makan.

“Ayo cepat sarapannya. Mana si Wiguna, kok belum turun tuh anak,” tanya ibu.

“Tidur lagi kali Bu. Lagian kalau ngantuk sama lapar, aku pasti lebih pilih tidur aja Bu,” jawabku sekenanya.

“Nanti kalau sudah selesai makan, tolong kasih roti sama susu ini ke kakakmu yah,” ujar Ibu.

“Hmm…,” jawabku.

Beberapa menit kemudian aku segera naik ke lantai atas. Membawa semua pesanan ibu untuk Wiguna. “Eh Gundul. Cepet buka pintu. Makanan dari ibu nih. Aku udah telat,” kataku. Lebih dari dua menit aku menunggu jawaban dari Gun. Sudah empat kali ku ketuk pintu kamarnya.

 

Lelah menunggu ketidakpastian, aku menaruh dengan sembarang sarapan Gun di depan pintu kamarnya. Aku lalu bergegas menuju taman belakang. Memanaskan sepeda motorku. Penasaran dengan lagak Gun yang tidak biasa, aku kembali memeriksa sarapan yang kutaruh di depan kamarnya. Aku langsung terperanjat saat dua lapis roti bakar dan segelas susu tuntas tak berbekas. Yang bersisa hanya gelas kosong dengan remah-remah roti diatas piring kecil.

 

“Huh..dasar gundul. Lapar apa kesetanan kau,” teriakku.

“Eehh…makin hari makin berani yah lawan kakakmu ini,” balas Gun yang langsung menampakkan diri. Aku terkejut. Tak kusangka celetukanku akan segera dibalas.

“Eh, udah bangun bos?”

“Man, ayah udah berangkat kerja?” tanya Gun. “Belum bos. Situ sudah lupa yah kalau ayah biasa berangkat jam 7.30. Ada apa emang, takut disemprot ayah lagi yah. Makanya bos jangan kesiangan. Rasain tuh. Beruntunglah kau, tongkat sihir ayah sudah musnah. Kalau tidak habislah kau,” balasku.

“Tutup mulutmu. Eh, ada yang mau aku obrolin sama kamu. Balik jam berapa hari ini?” tanya Gun.

“Agak malem kayanya. Ada apa sih?” tanyaku penasaran.

“Sudahlah nanti saja,” ujar Gun sambil menutup kembali pintu kamarnya.

Aku menuruni dua anak tangga sekaligus dengan dipenuhi rasa penasaran.

“Yah, Bu berangkat dulu. Assalamualaikum,” teriakku.

“Waalaikumsalam. Dasar bocah tengil. Umur gak mengubah kebiasaan buruk sejak kecilnya. Kayanya aku harus mencari rotan yang lebih besar dan panjang nih,” jawab ayah.

“Sudahlah, ayah sendiri tahu kan Salman itu anaknya emang begitu,” bela ibu.

Aku hanya tersenyum saat mendengar bisikan ayah dan ibu. Tanpa pikir panjang aku langsung membawa lari sepeda motorku.

 

Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiranku mundur ke masa ketika aku dan keempat saudaraku masih tinggal bersama dalam satu atap. Masa-masa yang tidak pernah akan kami lupakan.

 

Semua tetangga kami tahu kalau ayah adalah seorang yang dikenal disiplin dan tegas. Pak Wira tetangga sebelah kami yang seorang anggota Angkatan Darat saja sampai geleng-geleng kepala melihat bagaimana cara ayah mendidik kelima anaknya. Suatu senja, selepas Magrib berjamaah ayah melontarkan kalimat pamungkas yang membuat aku merinding dibuatnya.

 

“Usiamu sudah 9 tahun Man. Itu artinya, mulai hari ini hingga usiamu 17 tahun, kamu harus lebih displin dalam soal waktu. Seperti yang sudah-sudah, jika ada yang melanggar tiga aturan yang sudah ayah dan ibu sepakati, sanksi akan ayah jatuhkan. Tiga aturan itu adalah wajib mengaji, tidak berkelahi, dan berbohong,” terang ayah. Aku hanya menunduk lesu ketika ayah mengumumkan hal itu tepat di hari ulang tahunku. Menurut penuturan Wiguna, sehabis ayah mengumumkan peraturan itu, semalaman aku mengigau berteriak-teriak kalau aku tidak mau dicambuk.

 

Kami tidak bisa memilih hukuman jenis lain, selain yang ayah tawarkan. Jika kami tidak sepakat dengan cara mendidik ayah dan hukuman yang diberikan, kami dipersilahkan untuk pergi bersekolah di pondok pesantren. Bagi kami lebih baik di cambuk tongkat sihir ayah daripada harus terkungkung bertahun-tahun bersama kaum sarungan.

 

Aku masih ingat malam ketika peraturan hukuman bagi Wiguna mulai diberlakukan, Wigunalah satu-satu orang yang memprotes keras.

“Hari gini main cambuk-cambukan,” teriak Wiguna.

“Tadi ibu juga sempet bilang ke aku kalau dulu sebetulnya ibu gak setuju sama hukuman ayah ini,” ujar Sarah.

“Ini gak adil,” kata si bungsu tidak mau kalah.

“Ngomong apa sih kamu Pul. Sok adil kamu,” ejekku.

“Hus…Sudahlah. Kita jalanin aja. Kakak yakin ayah gak akan tega nyakitin anaknya sendiri. Kita liat aja nanti. Toh sampai sekarang kakak belum pernah kena hukum dari ayah. Itu artinya kalian juga bisa,” tutur Agam.

 

Aku memikirkan lontar Ipul. Memang terdengar tidak adil. Aku sendiri kadang merasa iri melihat perlakuan teman-teman kami yang tidak terlalu ketat dalam hal peraturan di rumah. Saat aku bertanya ke teman-teman di rumah dan sekolah, hanya di keluarga kami saja yang ada piket rumah di hari libur. Pukul 21.00 malam televisi harus sudah padam dan kami harus sudah berada di ranjang pada pukul 22.00 . Pukul 4 pagi kami harus bangun. Terus menerus seperti itu hingga kami menginjak usia 17 tahun. Kami merasa segala aturan ayah yang mengatasnamakan disiplin merupakan cara halus untuk merebut masa anak-anak dan remaja kami. Tidak aneh jika kami menganggap angka 17 sebagai angka keramat. Angka 17 juga bermakna kebebasan bagi kami berlima.

 

Sepeda motorku terhenti tepat di bawah lampu lalu lintas yang saat itu sedang berwarna merah. Angka lalu lintas perlahan tapi pasti berjalan mundur. Tepat ketika angka lampu bergerak menuju angka 20 kendaraaan dibelakangku mendesak membunyikan klakson. Kendaraan lainnya melakukan hal yang sama.

“Santai dong bos, masih 20 tuh angkanya,” teriakku.

“Jangan banyak cingcong lo. Udah jalan aja. Depan lo kan kosong gak ada mobil,” teriak seorang pria dibelakangku.

“Yeh…maksa. Makanya kalau mau lebih awal bangun pagi dong,” balasku.

 

Pikiranku kembali terlempar pada suatu senja ketika aku ketahuan berbohong bolos mengaji selama tiga malam. Jalu, kucing pejantan kami satu-satu saksi yang melihat langsung bagaimana tongkat sihir ayah mondar-mandir dari kulitku. Dengan gemetar ayah mendaratkan rotan dibetisku. Cambukan itu sudah memasuki hitungan yang ke-40. Sepuluh cambukan terakhir. Lima mendarat di tangan kananku, sisanya di sebelah kiri. Sesekali si Jalu mengibas-ngibaskan ekornya tanda dia sudah merasa bosan dengan apa yang dilihatnya. Aku sendiri berusaha tersenyum getir. Menahan rasa panas yang menyebar di seluruh tubuhku.

 

Malam harinya aku tertidur dengan posisi tengkurap. Seluruh punggung, betis, dan tanganku berubah menjadi garis-garis simetris berwarna merah.

Tak disangka keesokan harinya aku demam. Ayah pikir aku demam biasa, tapi ternyata makin siang demamku semakin tinggi. Tanpa pikir panjang ibu segera melarikanku ke rumah sakit. Akhirnya aku terkapar selama lima hari di rumah sakit. Dokter yang memeriksaku hampir-hampir tidak percaya melihat guratan merah di sekujur tubuhku. Menurut dokter, aku bisa saja kehilangan nyawa jika terlambat dibawa ke rumah sakit. Ternyata cambukan ayah tidak sengaja mengenai titik saraf di punggung. Menurut dokter itu berbahaya untuk anak seusiaku.

 

Aku sendiri sempat mendengar sayup-sayup dari suara Kak Sarah yang pada saat itu sedang membesukku. Dia mengatakan kalau ayah langsung menangis seketika usai memberikan cambukan kepadaku. Menurut pengakuan Kak Sarah, ayah menangis cukup lama di dalam kamar. Ketika aku menerima hukuman cambuk tersebut, di rumah hanya ada aku, ayah, Sarah dan si Jalu. Kebetulan ibu sedang pergi.

 

Aku memarkirkan sepeda motorku tepat di bawah pohon beringin di belakang kantor. “Masih bersisa 30 menit, cukup untuk mempersiapkan bahan presentasi,” gumamku. Aku langsung berlari menuju ruang rapat besar. Semua peralatan sudah siap, aku hanya perlu mengeceknya saja. Pagi ini adalah giliran aku mempresentasikan rancangan bangunan untuk gedung pemerintahan. Tanpa terasa waktu satu jam yang dialokasikan panitia untuk mempresentasikan usulanku berlalu. Aku diminta menunggu hasilnya.

 

Hari kedua di rumah sakit ketika aku terkapar lemah akibat cambukan ayah, kami sekeluarga berkumpul. Hari itu ayah memutuskan untuk menghentikan hukuman cambuk kepada kami. Aku bertanya, “Kenapa harus dihentikan yah, aku ikhlas kok menerima hukuman ayah,” terangku.

Ayah tidak menjawab pertanyaanku. Sejak hari itu, kami berlima sudah tidak melihat tongkat sihir ayah lagi. Ibu bilang, ayah sudah membakarnya. Sejak hari itu pula ayah menjadi agak pendiam dan hanya bicara seperlunya saja.

 

Pukul 20.30 aku tiba di rumah. Dentuman irama musik berdesakan keluar dari kamar Gun. Rasa penasaranku terhadap Gun masih tersimpan rapi. Selepas makan malam aku langsung menuju kamar Gun.

“Ada apa sih, kok keliatan galau banget bos?” tanyaku

Pertanyaanku dibalas dengan pertanyaan oleh Gun. “Kalau aku resign gimana menurutmu?” tanya Gun sambil mengurangi volume musik di komputernya. Aku mencari posisi duduk yang nyaman untuk mencerna maksud dari pertanyaan Gun. Cukup lama kami terdiam.

“Woi, menurutmu kalau aku resign gimana?” tanya Gun.

“Kenapa emang? Aku pikir kamu sudah menikmati kerjaanmu. Lagian pekerjaan ini bukannya cita-citamu sedari dulu Gun? Sudahlah. Istiqoroh saja seminggu ini. Kalau masih mentok, bicara langsung sama ibu. Kamu masih inget pesen ayah, kan?”

“Jadikan sabar dan solat sebagai senjatamu,” jawab Gun.

 

Malam semakin pekat, aku dan Gun semakin asyik mengobrol. Tentang masa kecil, pekerjaan, hingga soal jodoh. Saking asyiknya kami mengobrol, tanpa sadar suara kami merambat hingga kamar ibu. Beberapa saat kemudian ibu menghampiri kami berdua.

“Belum tidur kalian?”

“Belum Bu. Ini Bu, Wiguna lagi curhat katanya dia mau kawin minggu depan,” celotehku. Mendengar kata kawin, ibu langsung tersengat. Malam itu kami bertiga akhirnya mengobrol ngalor-ngidul. Obrolan kami dihentikan oleh suara kentongan petugas ronda malam.

“Sudah lama yah kita gak ngobrol kaya gini,” ujar ibu.

“Iya juga yah. Terakhir kali waktu Kak Sarah lebaran di rumah ini,” sautku.

“Sudah tidur sana. Oya, jangan sampai Subuhmu telat lagi Gun”.

“Siap Bu,”

“Bu. Aku sayang ibu,” ucapku. “Aku juga deng,” lontar Gun.

Ibu hanya tersenyum menatap kami berdua. Suara kentongan terdengar satu kali pertanda kalau waktu menunjukkan pukul 01.00. Kami pun terlelap. Berharap mimpi indah menjadi penghias aktivitas tidur kami.

 

Tangerang, 14 Mei 2011.

 

 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.