Mari Duduk Sejenak
Mari duduk sejenak untuk melihat sudah berapa jauh kaki ini melangkah, bibir ini berucap, mata ini melihat, telinga ini mendengar, hati ini merasa, jiwa ini berpetualang, akal ini menafsir. Setiap detik jutaan wacana mengalir terjun meluncur menderas diri kita. Mata kita tanpa kenal lelah meresap dan menangkapnya terus menerus. Setiap saat bibir ini terus mengucap kata-kata tanpa makna. Hambar dan jika pun matang itu karena sebongkah karbit memaksanya untuk segera matang.
Dunia ini telah lupa bagaimana menghela nafas, berkedip, dan merenung untuk sejenak melihat apa yang telah terjadi. saat saya mengajak duduk bukan berarti kita berhenti berfikir. Duduk berarti merenung, berkontemplasi, mengevaluasi kembali agar jangan sampai rutinitas membunuh kita. Duduk bukanlah istirahat, karena tidak ada kata istirahat saat ini. Karena Umar sang Singa Gurun berucap agama adalah action. Langkah kita akan betul-betul terhenti saat kita sudah menjejakkan kaki kita dihadapan Allah.
Duduk berarti melihat kembali, apakah niat kita sudah sesuai dan tidak melenceng. Apakah tabungan akhirat kita sudah cukup untuk mengantarkan kita bertatapan dengan Arrahman dan Arrahim. Saudaraku, saat ini jiwa-jiwa kita terlihat ringkih karena tidak cukup kuat dalam menyangga beban dunia. Kaki kita seolah-olah terus dibawa berjalan tanpa sejenak pun melihat apa yang sudah kita tinggalkan. Tanpa bertanya apakah kaki kita sudah tepat melangkah di atas sajadah syariah.
Duduk berarti memperbaiki diri. Memberi kesempatan kepada jiwa untuk meresap nutrisi-nutrisi yang penuh gizi. Janganlah memasukkan nutrisi kotor kepada jiwa kita karena itu hanya akan membuat infeksi dan semakin ringkih. Duduk bukan untuk meratapi diri, tapi mengingat hakikat diri. Biarkan hati kita bicara apa adanya.
6 April’09
Alquran dan Sastra Arab*
Bismillah….
Ya Allah, aku berlindung dari kata-kata yang tidak bermanfaat
Dan jika kamu meragukan Alquran yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya
dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah,
jika kamu orang-orang yang benar(2:23)
Sebagai seorang muslim, kita sudah tahu bahwa Alquran merupakan pedoman dan jalan hidup. Alquran merupakan penuntun ketika kita meniti jalan kehidupan yang penuh dengan tipu daya dan jebakan. Di sisi lain, Alquran merupakan mukjizat terbesar Rasulullah saw. Lalu, mengapa Alquran menjadi mukjizat terbesar Rasulullah?
Bila kita melihat mukjizat para nabi sebelum Rasulullah saw, umumnya adalah berupa hal-hal yang berdaya magis dan di luar nalar manusia. Tongkat Nabi Musa dapat berubah menjadi ular dan membelah lautan. Nabi Isa dapat menyembuhkan orang sakit bahkan menghidupkan kembali yang sudah mati. Pada dasarnya, mukjizat ditunjukkan untuk meruntuhkan ketidapercayaan kaum kafir atas kebesaran Allah.
Berbeda dengan Alquran. Secara kontekstual Alquran adalah kumpulan huruf, kata, atau kalimat dalam bentuk bahasa Arab. Alquran bukanlah suatu yang memiliki daya “magis”, semisal tongkat Nabi Musa. Kedudukan Alquran merupakan pelengkap dan penyempurna dari Zabur, Taurat, dan Injil. Lalu mengapa Rasulullah dituduh sebagai seorang penyair (21:5)? Mengapa pula Allah menantang kepada kaum kafir, bahkan jin sekalipun, untuk membuat satu ayat saja yang menyerupai Alquran (17:88)? Adakah kaitan antara Alquran dengan sastra (baca:syair) Arab? Bukankah Allah mengutus para Nabi dan berbicara dengan bahasa kaumnya?
Dalam perspektif bangsa Arab pada masa pra Islam, kedudukan sastra (dalam arti luas seperti, syair) memiliki arti yang sangat penting dan bahkan lebih bersifat transendental. Dengan kata lain, syair bisa dijadikan media untuk mendekatkan diri kepada zat yang maha kuasa. Syair juga merupakan representasi dari peradaban, budaya, tatanan sosial, politik, dan moral dari masyarakat Arab. Syair merupakan ekspresi dari nilai-nilai agung yang dianut oleh bangsa Arab. Para penyair tidak saja memiliki kedudukan yang terhormat, tapi juga simbol bagi kaum intelektual. Secara teknis, syair di masa pra Islam tersusun atas bahasa Arab yang tidak saja baik dan benar tapi juga indah dan menggugah. Oleh karena itu, masyarakat awam (bangsa Arab) sangat hormat terhadap syair-syair, bahkan cenderung mengagungkannya.
Kehadiran Islam direpresentasikan melalui Alquran yang tertuang dalam bahasa Arab. Inilah bukti bahwa rasul atau nabi diutus sesuai dengan bahasa kaumnya. Namun yang menjadi catatan adalah bahwa Alquran bukanlah syiar, sementara kita tahu bahwa syair menempati kedudukan yang sangat agung dan sakral di mata bangsa Arab. Syair begitu dekat dengan kehidupan bangsa Arab.
Dengan kata lain kehadiran Islam pada saat itu, melalui Alquran, merupakan tantangan sekaligus ancaman bagi bangsa Arab. Seluruh peradaban, tatanan sosial, budaya, moral, dan nilai-nilai di masa jahiliyah sedang diguncang oleh kehadiran Alquran. Alquran telah meluluhlantakan fondasi dan tatanan keyakinan bangsa Arab. Alquran telah menantang dan menyerang daerah paling sensitif, sakral, agung bagi bangsa Arab. Singkatnya untuk mengubah peradaban jahiliyah bangsa Arab dilakukan melalui Alquran
Alquran tidak saja menantang dan memporak-porandakan nilai-nilai yang ada dalam syair-syair bangsa Arab, tapi juga membangun suatu konstruksi kebahasaan yang baru dan lain dari karya sastra terbaik bangsa Arab sekalipun. Inilah yang menyebabkan Alquran tetap terjaga. Seorang penyair yang genius di masa Rasulullah akan mengatakan kalau Alquran bukanlah syair. Alquran tidak terdefinisi, sesuatu yang diluar akal manusia. Namun masyarakat awam akan melihat hal itu seperti syair, padahal Alquran dan syair jelas berbeda.
Mungkin tindakan para sahabat yang masuk Islam karena mendengarkan lantunan ayat suci Alquran cukup menjadi penjelasan bagi kita semua betapa Alquran merupakan mukjizat Rasulullah saw. Mukjizat yang bisa dirasakan hingga matahari terbit di ufuk barat. Umar, Musaib bin Umair dll
Wallahualam
Katakanlah “sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul, untuk membuat yang serupa dengan Alquran ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya,sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.” (17:88)
* catatan:
Tulisan ini merupakan alihbahasa/interpretasi dari perbincangan saya dengan sahabat saya, Bulky, dari sebuah artikel yang berjudul Alquran, Politik, dan Sastra dalam majalah Kalam.
Haji dan Ketaqwaan Sosial
Entah berapa kali saya hampir menitikan air mata dan merasakan bulu kuduk berdiri. Semua rasa rindu, sedih, haru, bahagia menyatu dalam nuansa kesederhanaan dan penuh cinta kasih. Adegan demi adegan seolah menghentak kesadaran saya. Seluruh cerita sangat mencerminkan perilaku masyarakat Indonesia. Di akhir cerita, semua penonton berusaha untuk menyembunyikan buliran air mata, termasuk saya.
Itulah kesan yang saya peroleh setelah menonton film Emak Ingin Naik Haji. Film yang diangkat dari cerpen karya Asma Nadia ini menceritakan seorang Ibu (Emak) yang rindu untuk naik haji. Realitas sepertinya tidak berpihak pada Emak, mengingat pendapatannya yang tak tentu sebagai penjual kue, belum lagi umur yang sudah menginjak kepala enam. Emak sadar bahwa mustahil baginya untuk pergi ke tanah suci, tapi bukan berarti niat dan ikhtiar harus berhenti. Emak tetap terus menanam niat dan ikhtiar meski pergi haji ibarat menegakkan benang basah.
Sementara itu, tetangga depan rumah Emak (diperankan Didi Petet) hampir tiap tahun pergi Haji. Dan bagi Pak Haji dan keluarga, pergi umrah tidak beda seperti melakukan perjalanan Jakarta-Bandung. Tokoh lainnya adalah seorang politikus yang mencalonkan diri menjadi walikota. Berhubungan daerah pemilihan sang calon dihuni oleh masyarakat yang kental nuansa religius, maka gelar haji sangat diperlukan untuk melangkapi gelar akademisnya yang kurang familiar di mata masyarakat. Bagi sang calon walikota, ibadah haji tidak berbeda jauh seperti menghadiri training management atau seminar sehari penuh. Gengsi dan gelar semata.
Bagi umat Islam, ibadah haji adalah sebuah perjalanan spritual menuju episentrum Ilahi. Haji adalah puncak ibadah dalam rukun Islam. Maka tidak heran jika hanya orang-orang yang terpilih (mampu) saja yang bisa menyambut panggilan Allah. Meski jutaan orang berkumpul di Padang Arafah dan bertawaf di Kabah, tapi hanya mereka yang berniat lurus dan betul-betul rindu kepada Allah-lah yang pantas menyandang haji mabrur.
Saya tidak tahu sejak kapan sebutan/panggilan Haji mulai bergulir di Indonesia. Rasulullah dan para sahabat pun pernah berhaji, tapi dalam hadits atau sirah saya belum menemukan sebutan Haji Umar bin Khatab atau Haji Abu Bakar Assiddiq dsb. Pokoknya bagi siapa saja yang pernah pergi haji, begitu kembali ke Indonesia maka secara otomatis orang disekelilingnya akan menyebut Haji/Hajah. Seperti suatu keharusan. Saya pun belum pernah bertanya, kepada Pak Haji atau Bu Hajah, apakah sebutan haji tersebut membuat beban psikologis bertambah bagi mereka.
Saya merasa bahwa orang yang telah berhaji adalah mereka yang telah beberapa langkah lebih dekat dengan sosok Nabi Ibrahim dan keluarga (dalam konteks kepribadian dan spirit). Setidaknya mereka memiliki ”pengalaman” yang hampir sama dengan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar.
Kita semua sudah tahu betapa rindunya Ibrahim as menanti kehadiran seorang anak. Allah baru menjawabnya saat Ibrahim menginjak usia 70 tahun. Kita pun tahu betapa Ibrahim harus berhadapan, tidak saja dengan pemimpin yang zhalim, tapi juga dengan sang ayah yang berprofesi sebagai pembuat patung (”tuhan”) sehingga menyebabkan Ibrahim dibakar hidup-hidup saat melawan tuhan mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Selanjutnya, ketika anak yang dinanti hadir (Ismail), Ibrahim justru mengasingkan anak dan istrinya di padang tandus dan kering (Mekah). Kita pun tahu, sekitar 7 tahun berselang Ibrahim baru bisa menemui mereka. Dan tahukah kau kawan setelah mereka bertemu, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih Ismail sang anak. Namun satu hal yang tidak saya ketahui adalah bagaimana cara Ibrahim mengkomunikasikan hal tersebut dengan anak dan istrinya. Itulah ujian Allah kepada hamba yang paling dicintai-Nya.
Sehingga saya berpikir, apakah ada beban psikologis kepada orang-orang yang telah menunaikan ibadah haji? Mengingat haji adalah suatu proses pengorbanan untuk memperoleh cinta atau ridho Allah. Seorang haji harus bisa menunjukkan jiwa dan rasa pengorbanan itu selepas kembali dari tanah suci. Ujian sebenarnya seorang haji adalah selepas dari berhaji. Proses ibadah haji di tanah suci secara tidak langsung adalah suatu rekonstruksi peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim dan keluarga. Jadi jelas, output dari berhaji, sang haji harus berani melawan pemimpin zhalim, rela mengorbankan harta, jiwa, anak, dan istri demi tegaknya syariat Islam. Jika hal itu tak terwujud, maka hanya ritual simbolisme semata yang didapat.
Mungkin terlampau jauh jika kita menuntut orang yang selesai berhaji harus seperti itu. Namun ada fakta yang menarik bahwa tiap tahun jamaah haji senantiasa naik, bahkan waiting list-nya (di Indonesia) mencapai tiga tahun. Jadi jika anda mau pergi haji, setidaknya harus menanti tiga tahun baru bisa pergi. Dari banyaknya penduduk Indonesia yang berhaji, saya pikir seharusnya saat ini kita sudah bisa merasakan indahnya nilai-nilai Islam di penjuru negeri. Sebab, secara tidak langsung, ibadah haji akan mendorong mereka yang berhaji semakin meningkat nilai-nilai sosialnya. Rajin bersedekah, rajin menolong, dan rajin mengingatkan (berdakwah).
Dan buat anda yang belum berhaji, bukan berarti tanggung jawab itu tidak ada. Pergi ke tanah suci bukanlah tolak ukur kesalehan. Yang terpenting bagi anda, juga saya, adalah tetap terus memelihara rasa rindu, ikhtiar, dan mempersiapkan diri untuk berhaji. Sampai saat itu tiba, seleraskan terus kesalehan spiritual dengan kesalehan sosial sehingga ”gelar” haji yang didapat bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Ya Rabb, aku berlindung dari sisa umur yang tidak bermanfaat. Berikanlah kami cahaya di depan, dibelakang, di kiri, di kanan, di atas, di bawah. Semoga dengan cahaya itu kami tidak tersesat dari jalan-Mu. Ya Rahman…berkahilah kedua orangtua kami dan berikanlah mereka tempat yang mulia di sisi-Mu dan pertemukan kami kelak di surga-Mu.
Wallahualam.
Sang Alkemis Dan Sang Pemimpi
Novel laris Sang Pemimpi karya Andrea Hirata melukiskan dengan jelas sekali sosok anak muda yang begitu bersemangat meraih impiannya. Di tengah beragamnya keterbatasan yang menghimpit sosok Ikal dan Arai, semangat meraka tidak padam. Justru kesempitan dan keterbatasan itulah yang membuat impian mereka semakin dekat dengan kenyataan. Seorang bijak mengatakan bahwa impian atau kesuksesan besar kita diawali dengan kesuksesan-kesuksesan kecil yang diraih setiap harinya.
Dalam realitas keseharian kita, manusia senantiasa memiliki harapan-harapan yang hendak dicapai. Kesuksesan dalam hal karir atau pekerjaan, kebahagiaan dalam keluarga, atau bahkan keinginan menjadi seorang pemimpin politik yang berpengaruh, menjadi penulis best seller merupakan contoh dari sekeping cita-cita kita. Setiap dari kita pasti memiliki rajutan impian yang ingin diraih, tidak peduli besar atau kecil impian tersebut. Namun seiring bertambahnya usia dan bergantinya hari beragam persoalan datang untuk menguji kekuatan mimpi-mimpi kita. Dalam perjalanannya, ada yang tetap terus bertahan dan berjuang meraih impiannya, tapi tidak sedikit pula yang tumbang dan memilih berhenti merangkai impian sejatinya.
Dalam cerita Sang Alkemis karya Paulo Coelho, dengan apik dan sederhana diceritakan sosok Santiago, bocah penggembala domba, yang mencari legenda pribadinya. Legenda Pribadi adalah apa yang selalu ingin kita tunaikan dan setiap orang memilikinya. Dalam salah satu fragmennya disebutkan, pada titik kehidupan mereka itulah semunya menjadi jelas dan segalanya mungkin terjadi. Setiap orang tidak takut untuk bermimpi dan mewujudkannya. Tapi selang berlalu waktu, suatu daya misterius hadir untuk membuat keraguan dan melemahkan keyakinan dalam mewujudkan Legenda Pribadi mereka.
Perjalanan untuk meraih Legenda Pribadi (baca:cita-cita) bukanlah suatu yang mustahil untuk diraih. Jalan yang ditempuh memang terjal dan berliku. Bahkan adakalanya orang-orang terdekat kita justru menjadi orang pertama yang meragukan harapan dan cita-cita kita. Proses meraih cita-cita tidak lepas dari beragam ujian dan cobaan.
Ada dua faktor penghambat mimpi-mimpi kita, yaitu faktor eksternal (lingkungan kita) dan internal (diri kita). Faktor eksternal biasanya meliputi tanggapan orang-orang di sekitar kita yang seringkali mengendurkan semangat kita. Sang alkemis menuturkan bahwa bila kita memiliki harta yang sangat bernilai dalam diri kita, yaitu impian, dan memberitahu orang lain tentang hal itu, jarang ada yang percaya. Sementara faktor internal meliputi hal –hal seperti adanya zona nyaman dalam diri kita, ketakutan akan perubahan, terjalnya ujian yang datang, merasa cukup dengan apa yang didapat, dan trauma akan kegagalan.
Setiap pencarian mimpi-mimpi kita adakalanya diawali dengan “kemujuran” pemula. Namun satu hal yang pasti adalah setiap dalam perwujudan mimpi kita akan berakhir dengan kemenangan yang telah melewati ujian yang berat. Sabar dalam menjalani proses merupakan syarat utama. Kita tahu bahwa emas dan intan menjadi bernilai dan mahal harganya karena telah mengalami proses dan perjalanan waktu yang sangat panjang dari yang semula hanyalah materi alam biasa.
Ada satu kebenaran di dunia ini, yaitu saat kita benar-benar menginginkan sesuatu, segenap alam semesta bersatu untuk membantumu meraihnya. Jadi, jangan takut dan berhenti mewujudkan impian-impian kita.**
Muda dan Resah
Akhir-akhir ini perbincangan seputar hari kebangkitan nasional sedang ramai-ramainya diangkat. Wajarlah karena bertepatan dengan momentum satu abad hari kebangkitan nasional yang ditandai dengan berdirinya sebuah organisasi modern pertama, yaitu Boedi Oetomo. Douwes Dekker, HOS Cokroaminoto, dan Suryadi Suryaningrat dan masih banyak lagi yang lainnya yang pada saat itu masih begitu muda sepertinya tidak akan pernah tahu kalau berdirinya Boedi Oetomo akan dijadikan sebagai hari kebangkitan nasional. Keinginan untuk merdeka, lepas dari genggaman penjajah, cita-cita untuk bersatu, harapan akan lahirnya masyarakat yang sejahtera dan madani merupakan impian mereka. Semua itu hadir karena adanya satu keresahan dalam benak mereka. Mereka adalah kaum muda yang resah. Resah akan kondisi bangsanya yang masih terbelenggu. Terbelenggu dengan kaum penjajah.
Dalam dunia sastra, pada awal tahun 1940-an lahir seorang penyair muda. Puisinya lahir dari sebuah keresahan. Walau mati muda, namun syairnya masing nyaring terdengar. Chairil Anwar kita menyebutnya. Merangkak sedikit ke tahun 1965 bersemi gerakan kaum muda yang kali ini mahasiswa menjadi motor geraknya. Muncul sebuah nama Soe Hok Gie yang, sekali lagi, tidak saja muda tapi juga resah. Ada ratusan bahkan ribuan mahasiswa pada saat itu yang resah akan kondisi negera yang ringkih dan pesakitan. Arif Rahman Hakim “hadir” dan “tenggelam” pada 1970-an. Malari adalah “persembahan” dari pemerintahan represif Soeharto kepada para mahasiswa yang saat itu tidak saja muda tapi juga resah.
Dan sekali lagi, pada 1998 kaum muda kembali, kali ini dengan keresahan yang tak terbendung. Gedung DPR yang dingin dan angkuh dipaksa untuk menurunkan Presiden Soeharto walau harus dibayar tak ternilai dengan tertembaknya rekan-rekan mahasiswa. Masih muda dan tetap resah pula.
Jadi apa yang kita dapatkan dari keresahan 1998? Keresahan yang dialami oleh kaum muda, sebut saja mahasiswa, hanya mengganti sosok seorang pemimpin negara dari yang otoriter menjadi seorang pemimpin yang lebih otoriter lagi. Mengganti pemerintahan yang korupsi menjadi pemerintahan yang lebih korup lagi. Kalau perlu, korupsi dengan peringkat terbaik di dunia.
Banyak kaum elit dan kaum reformis berteriak lantang bahwa tidak ada perubahan dalam reformasi. Reformasi telah gagal. Memangnya bisa jadi apa Indonesia dalam waktu 10 tahun? Ternyata kaum muda yang dulu pernah muda sedikit demi sedikit sudah agak luntur keresahannya. Walau tidak semua.
Generasi MTV yang Resah
Hari ini kita patut bangga bisa turun ke jalan tanpa harus takut akan kehilangan nyawa atau diculik oleh intel-intel aparat. Gerbang reformasi yang sudah terbuka lebar membawa angin transparansi yang lebih segar. Semua orang, baik muda dan yang mengaku muda, yang resah dan pura-pura resah bisa turun ke jalan dan berteriak lantang menodong pemerintah dan para pengambil kebijakan untuk melakukan ini dan itu. Terasa kurang afdol kalau tidak membonceng para kuli tinta alias wartawan dalam tiap kali aksi. Demikianlah sebuah perhelatan demonstrasi atau aksi yang berada diatas panggung drama yang penuh dengan babak-babak. Hari ini temanya kenaikan BBM. Besok turunkan presiden. Besoknya lagi singkirkan investor asing. Besok, besok, dan besoknya lagi turunkan harga sembako.
Turun ke jalan dengan ratusan simpatisan atau pengikut. Membawa poster-poster berisi tulisan menuntut ini dan itu. Berteriakan dan bernyanyi agar simpatisan kita tetap semangat dan terbakar. Setelah itu berhadapan dengan Pak Polisi. Nego ini itu. Mentok. Terakhir bentrok.
Jujur saja kawan. Terkadang kita sudah resisten dengan berbagai aksi-aksi yang turun ke jalan. Tapi rasa resah kami masih tertahan. Menggumpal dan akhirnya mengkristal. Namun tak bisa dipungkiri, kita pun ternyata masih seorang anak manusia yang masih gemar dengan lelucon dan guyonan. Masih suka baca komik Conan di waktu senggang. Masih suka nonton di twenty one (21). Masih suka alunan dari Raihan, U2, the Beatles, Coldplay. Karena kita generasi MTV. Generasi MTV yang masih tetap resah.
Turun ke jalan (baca: demontrasi), berkegiatan di lembaga kemahasiswaan adalah sedikit dari rutinitas kami di kampus. Jiwa-jiwa kami sebenarnya berkeliaran ke sana ke mari. Bagi sebagian orang mengatakan kita generasi yang tak punya pegangan, tapi bagiku itu petualangan. Dunia kampus adalah dunia terindah dalam hidup ini. Dunia yang tidak mengenal salah atau benar. Karena kita sedang menuntut ilmu. Tapi jangan pernah sekali-kali kalian berlaku culas dan tidak jujur. Sebab itu adalah perilaku nista dalam ilmu pengetahuan. Kan katanya kampus identik dengan ilmu pengetahuan. Jadi berlakulah jujur dalam setiap perilaku. Kalau tidak bisa, ya harus bisa, minimal niatkan untuk berlaku jujur dulu. Karena kata Rasul saw jujur itu membawa kebaikan, dan kebaikan itu membawa ke surga-Nya.
Seandainya Saya Seorang Aktivis
Aktivis adalah orang (terutama anggota organisasi politik, sosial, buruh, petani, pemuda, mahasiswa, wanita) yang bekerja aktif mendorong pelaksanaan sesuatu atau berbagai kegiatan dalam organisasinya. Bisa berarti juga, aktivis itu adalah seseorang yang menggerakkan (demonstrasi). Itu kata Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi III 2005. Jadi pada dasarnya semua mahasiswa adalah aktivis, tapi ternyata ada syaratnya, yaitu dia (aktivis) yang berkegiatan dalam organisasi dan bekerja aktif. Jadi jelas, kalau ada mahasiswa yang tidak berorganisasi dan bekerja aktif maka dia bukan aktivis.
Ini menarik, karena sepertinya makna aktivis telah bergeser menjadi monopoli sebuah lembaga kemahasiswa, khususnya di tingkat universitas, yaitu BEM atau BPM atau sejenisnya (pokoknya yang berbau politis). Entah siapa yang memulai, padahal ada lho sebutan aktivis lingkungan, aktivis HAM dsb. Pokoknya kalau ada mahasiswa yang demontrasi di jalan, itu berarti dia aktivis banget. Padahal kalau kita berpegangan pada KBBI maka tidak peduli saya tergabung dalam organisasi apa, yang penting saya berkontribusi dan bekerja aktif maka saya adalah aktivis. Jadi kalau ada tukang becak tergabung dalam sebuah karang taruna dan bekerja aktif maka dia adalah aktivis juga.
Pemaknaan atau persepsi yang berbeda akan melahirkan sikap atau perilaku yang berbeda pula. Setidaknya itu pelajaran yang saya dapatkan selama di bangku kuliah. Seorang anggota atau pengurus BEM/BPM yang memaknai kata aktivis sebagai sebuah sosok yang kritis dan peduli seperti tokoh Soe Hok Gie dalam film Gie pasti akan berapi-api tiap kali diajak aksi. Tapi buat saya, ukuran aktivis bukan dari banyaknya dia turun ke jalan. Hal utama yang di tuntut dari seorang aktivis di mana pun dia berada adalah terus berkontribusi dan bertanggung jawab terhadap organisasi yang dia lakoni sampai tuntas. wallahualam
Mahasiswa takut sama dosen
Dosen takut sama rektor
Rektor takut sama menteri
Menteri takut sama presiden
Presiden takut sama mahasiswa
(Taufik Ismail )
Jatinangor, 26 Mei 2008
Si Doel (Bukan) Anak Sekolahan
Semua orang mungkin tahu sosok seorang si Doel dalam sinetron atau film yang diperankan oleh Rano Karno (dalam sinetron) dan Benyamin Sueb (dalam film). Sosok seorang anak desa yang mencoba bersekolah sampai di perguruan tinggi untuk mendapat gelar seorang “tukang” insiyur. Si Doel merupakan anak kebanggaan keluarga, sang ayah dengan rela menjual tanah leluhurnya dengan harapan agar anaknya bisa bersekolah yang tinggi dan bisa membawa nama harum keluarga. Di sisi lain adiknya si Doel tidak diberi kesempatan untuk mencoba pendidikan yang lebih tinggi lagi.
Gambaran sosok keluarga si Doel bisa jadi merupakan representasi dari keluarga-keluarga di Indonesia pada umumnya. Orang tua Doel begitu sadar bahwa pendidikan merupakan elemen terpenting yang akan menjadi bekal dalam menjalani kehidupan. Bahkan ayah si Doel dengan rela menjual tanah agar kuliah anaknya lancar. Dia tahu betul bahwa biaya di perguruan tinggi begitu mahal.
Mengubah Paradigma Masyarakat
Pendidikan merupakan aspek terpenting dalam kehidupan. Karena itu Negara mengaturnya secara khusus dalam UUD’45. Negara mencoba membuka akses seluas-luasnya kepada masyarakat dengan mencantumkan bahwa pendidikan merupakan hak setiap warga negara. Namun pada kenyataannya apa yang tertulis dalam UUD’45 kontras dengan realitas yang ada.
Lain lagi yang terjadi di masyarakat kita pada umumnya. Masih banyak masyarakat di negeri ini yang belum sadar akan pentingnya pendidikan. Belum sadarnya masyarakat ini bisa jadi dikarenakan tingkat pendidikan mereka yang rendah. Mereka acapkali menjadikan tameng ekonomi sebagai dalih dari ketidakmampuan menyekolahkan anak-anak mereka. Bagi mereka yang terpenting adalah bisa membaca dan menulis. Padahal tidak sedikit orang tua yang tidak mampu dari segi ekonomi namun tetap bisa menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi.
Paradigma yang keliru ikut menimpa pihak-pihak yang justru yang diharapkan akan memberikan kontribusi yang besar bagi kemajuan dunia pendidikan. Pemerintah seringkali keliru dalam memandang hakikat dari sebuah pendidikan. Cara pemerintah dalam memandang apa itu pendidikan, apa kaitan pendidikan dengan hakikat manusia yang kodratnya harus mendidik dan menjadi terdidik, apa fungsi dan tujuan pendidikan dan pertanyaan filosofi lainnya.
Definisi dan cara pandang yang berbeda pada akhirnya akan melahirkan kebijakan yang berbeda-beda. Maka tidak mengherankan ketika kurikulum yang dipakai di negeri ini terkesan tidak konsisten, integral, dan komprehensif. Prinsipnya ganti pemerintah ganti kurikulum. Fenomena lain akibat dari salah dalam memandang pendidikan adalah dijadikannya dunia pendidikan sebagai barang dagangan. Pelajar dijadikan sebagai konsumen atau pembeli sementara pihak pemerintah atau swasta berposisi sebagai produsen atau penjual. Pendidikan dijadikan komoditi barang dagangan. Inilah cara pandang kapitalis. Parahnya lagi benih-benih pendidikan kapitalis yang membawa ruh liberalisme mulai menggerogoti dunia pendidikan kita.
Tiga Persoalan Utama
Ada persoalan pokok yang harus segera ditangani dalam dunia pendidikan kita, yaitu relevansi, mutu, dan pemerataan pendidikan. Dua hal pertama, yaitu relevansi dan mutu berkaitan dengan hakikat pendidikan dan pengajaran sedangkan hal yang terakhir, yaitu pemerataan berkaitan dengan ideologi negara tentang pendidikan.
Pendidikan disebut relevan apabila mampu memberikan kepada peserta didik bekal hidup yang sesuai, sehingga ia dapat menata kehidupan dan penghidupan secara mandiri di dalam lingkungan dan era tertentu. Bekal hidup yang dibutuhkan tiap manusia di abad ke-21 ini terdiri atas komponen-komponen utama, yaitu pengetahuan dan keterampilan, sikap keprofesian, dan sikap hidup yang berpedoman pada moralitas yang dianut. Agar pendidikan yang relevan dapat tercapai perlu didukung oleh aspek-aspek lain seperti:
1. Peta kebutuhan. Menyesuaikan peta kebutuhan akan pengetahuan dan keterampilan yang dituntut oleh keadaan di berbagai wilayah indonesia.
2. Lingkungan hidup yang berbeda. Perbedaan karakter wilayah akan melahirkan tuntutan yang berbeda pula.
3. Pendididkan kejuruan
4. Kurikulum
5. Dunia usaha dan sekolah. Dunia pendidikan pada akhirnya tidak akan lepas dari kebutuhan dunia usaha akan SDM-SDM yang berkualitas.
6. Pembinaan potensi di luar inteligensia.
7. Pengembangan sikap dan watak.
8. Pendidikan nilai.
9. Pendidikan di dalam keluarga.
Pendidikan yang bermutu harus ditunjang oleh mutu sarana dan prasarana, mutu proses pembelajaran, dan mutu tenaga kependidikan dan keguruan. Yang paling penting adalah mutu proses pembelajaran. Mutu proses pembelajaran ditentukan terutama oleh tiga hal, yaitu kurikulum, metode belajar dan mengajar, dan guru yang memanfaatkan kurikulum dan metode dalam berinteraksi dengan peserta didik.
Hal penting lainnya adalah membuka keran sebesar-besar bagi masyarakat untuk bisa mengakses pendidikan dengan mudah dan murah. Selama ini bisa kita rasakan bahwa perkembangan pendidikan hanya sebatas berada di Pulau Jawa saja. Bahkan di Pulau Jawa pun belum merata benar, apalagi bila kita berbicara di tingkat nasional atau daerah-daerah lainnya.
Realitas saat ini yang bisa kita rasakan dan lihat adalah tidak sedikit “keluarga-keluarga si Doel” yang secara psikologis kesadaran mereka sudah terbangun akan pentingnnya pendidikan namun ekonomi menjadi penghalang benteng kuat yang menghalangi langkah mereka. Sudah saatnya kita menuntut kepada pemerintah agar segera merealisasikan dan pendidikan sebesar 20% karena ini merupakan amanat dari UUD’45.
Majunya pendidikan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah atau negara tapi juga dibarengi oleh peran serta masyarakatnya.
Jurnalisme Pasar
Saat ini dunia telah memasuki era globalisasi, dimana arus informasi terus menerus mendera kita. Dunia menjadi obesitas terhadap arus informasi yang datang silih berganti. Dalam dunia bisnis mulai bermunculan perusahaan-perusahaan multinasional. Tidak ada lagi batas teritorial dan kewarganegaraan. Sisi lain dari semakin menggeliat arus informasi dalam era globalisasi adalah mulai munculnya keseragaman informasi. Keseragaman pemberitaan dalam media massa muncul karena semakin kukuhnya cengkeraman kapitalisme saat ini. Para kapital sudah mulai menyadari pentingnya peranan media massa dalam membentuk opini di masyarakat demi kepentingan mereka (para kapital).
Dari sinilah hari demi hari mulai lahir jurnalisme pasar. Jurnalisme yang tidak hanya berorientasi untuk mencari berita atau sebagai anjing penjaga, tapi justru lebih dari itu, yaitu jurnalisme yang lebih condong kepada laba atau keuntungan semata. Dengan mulai bergesernya peran pers dari yang semula pengontrol sosial menjadi sebuah lembaga yang mencari untung dan sebagai investasi kekuasaan bagi para pengusaha, justru akan mengurangi independensi mereka dalam mengelola berita di hadapan masyarakat.
Ada tiga kekuatan yang menyebabkan terjadinya pergeseran jurnalisme dari upaya pengembangan komunitas, yaitu sifat teknologi baru, globalisasi, dan konglomerasi (Bill Kovach & Tom Rosenstiel, Elemen-Elemen Jurnalisme). Ketiga kekuatan tersebut telah hadir dalam dunia pers. Dan konglomerasi telah nampak seperti sebuah keniscayaan dalam dunia jurnalisme, karena saat ini peran pers tidak hanya sebagai lembaga social tapi juga telah menjadi sebuah industri.
Efek dari munculnya konglomerasi di media massa, khususnya pers, adalah semakin beragamnya pemberitaan yang muncul atau diangkat kepermukaan dan pengaruh terhadap kinerja para wartawan.
Tidak bisa dipungkiri bahwa berita-berita yang hadir dan diberikan ke masyarakat menjadi sejenis atau homogen. Saat sedang hangat-hangat sebuah isu maka ibarat semut yang mengelilingi gula, pemberitaan media pun hanya menyoroti satu permasalahan itu saja. seolah-olah isu atau berita yang sedang diangkat merupakan sesuatu yang sangat penting. Masyarakat kesulitan untuk mendapatkan informasi yang menjadi kebutuhannya. Apa yang dianggap penting oleh sebuah media (baca:pers) belum tentu penting atau dibutuhkan oleh masyarakat.
Homogenitas terhadap pemberitaan menyebabkan ada kelompok-kelompok atau publik tertentu yang tidak diangkat permasalahannya ke permukaan. Padahal ,pada hakikatnya, tugas pers selain memantau kekuasaan juga menyuarakan kaum tak bersuara. Kesamaan pemberitaan menyebabkan kelompok-kelompok minoritas sulit untuk menyuarakan aspirasi mereka.
Berikutnya, efek dari konglomerasi adalah mudah goyahnya independensi seorang wartawan. Karena bertugas memantau kekuasaan maka sudah menjadi tuntutan bahwa pers harus bebas dari kelompok mana pun. Dan saat media melakukan konglomerasi maka independensi pers dapat memunculkan keraguan di mata publik. Contoh kongkrit adalah apa yang menimpa stasiun TV swasta di negeri ini. Walau dari segi pemberitaan bisa dikatakan sangat profesional, namun dalam hal independensi menjadi keraguan publik, karena memunculkan stereotip bahwa dibalik pemberitaannya mengandung unsur “pesanan”.
Teori Keterkaitan Publik
Teori keterkaitan publik terkait tentang bagaimana orang-orang berinteraksi dengan berita. Ada tiga jenis dari keterkaitan publik dalam setiap persoalan, yaitu ada publik yang terlibat, publik yang memiliki pemahaman kuat; publik yang berminat, yang tak punya peran langsung dalam persoalan tapi terpengaruh olehnya; dan publik yang tidak berminat, yang menaruh perhatian kecil saja dan cenderung akan bergabung.
Konglomerasi muncul bisa jadi karena adanya publik (baca:kelompok) tertentu yang berada di wilayah publik yang terlibat. Misal, jika ada seorang pengusaha atau elit politik dan kebetulan dia memiliki modal yang cukup besar untuk masuk dan terlibat dalam dunia pers maka bukan tidak mungkin dia akan menggunakan media massa sebagai kendaraan untuk mendapatkan kekuasaan.
Sekelompok orang yang sadar akan strategisnya kedudukan media massa saat ini dengan ditunjang oleh dana yang besar merupakan benih-benih lahirnya konglomerasi dalam media. Kelompok seperti ini hanya menggunakan media massa sebagai kendaraan untuk melanggengkan kekuasaan atau kepentingan mereka. Dan lambat laun, pers menjadi tumpul dalam mengawasi kekuasaan dan menyuarakan kaum minoritas.
Di sisi lain, inilah awal dari lahirnya jurnalisme pasar. Jurnalisme yang bergerak atas ke hendak dan kemauan pasar dan para pemilik modal. Antara komersialisme dan idealisme harus bisa berjalan beriringan. Mustahil bagi kedua hal ini untuk berjalan sendiri-sendiri. Komersialisme dan idealisme merupakan dua sisi mata uang yang saling memberi arti satu dengan lainnya.**
Tujuh Rasa Pohon Keimanan
Tidakkah kamu memperhatikan
Bagaimana Allah telah membuat perumpamaan
Kalimat yang baik seperti pohon yang baik,
Akarnya kuat, dan cabangnya (menjulang) ke langit
Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu
Dengan seizin Tuhannya.
Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia
Agar mereka selalu ingat
(Ibrahim 24-25).
Setiap pekan, di hari Jumat. Khatib senantiasa mengingatkan kepada kita untuk terus menerus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Setiap pekan, di hari Jumat juga, saat Khatib berucap kita sering kali lalai akan hal tersebut karena entah mengapa hembusan angin di siang hari begitu lembut dan membuai pelupuk mata kita. Dengan perlahan, kantuk pun mengikis lantunan surah Ali Imran ayat 102.
Entah berapa banyak Alquran memberikan perumpamaan. Tujuannya sederhana saja, karena manusia itu seringkali sombong, keras, dan pelupa sehingga mereka perlu diingatkan. Analogi, perumpamaan, cerita adalah sebuah media yang sangat tepat untuk mengingatkan dan bahkan menyindir. Karena biasanya kita tidak suka kalau dikritik dan disindir secara langsung (frontal). Maka digunakanlah cara yang halus dan santun untuk selalu mengingatkan kita (manusia). Analogi memainkan peran tersebut. Selain itu juga, analogi hadir agar manusia berfikir.
Melalui kepingan Surah Ibrahim di atas, Allah sekali lagi mengingatkan kepada manusia bahwa kalimat yang baik itu seperti pohon yang baik. Konteks kalimat yang baik dalam penjelasan di Alquran mengatakan bahwa kalimat baik ialah kalimat tauhid, yaitu segala ucapan yang menyeru kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran serta perbuatan baik. Kalimat tauhid, seperti La Ilaha Illallah. Secara tidak langsung hal ini merujuk kepada Pohon Keimanan.
Pohon, apapun itu jenisnya, dari yang primitif (sederhana) sampai yang kompleks, sangat mudah kita temukan. Bila coba kita hitung, saya yakin kalau populasi pohon jauh lebih banyak dibandingkan dengan manusia sehingga amat mudah bagi kita untuk melihat dan menemukan pohon.
Lalu bagaimana dengan Pohon Keimanan? Bisakah dengan mudah kita jumpai pohon keimanan di sekeliling kita? Seperti apakah karakter pohon keimanan itu ?
Bila kita berkunjung ke sebuah taman, akan kita lihat beragam tanaman dan pohon. Ada yang kecil dan besar. Ada yang berbuah. Ada yang rindang dan akarnya menghujam kuat ke bumi. Kehadiran pepohonan di sebuah taman memberikan ketentraman, keteduhan, dan kenyamanan bagi pengunjungnya. Tidak sedikit pula, ada pohon yang dimanfaatkan untuk memayungi sepasang kekasih yang sedang berteduh dari hujan dan terik matahari.
Pohon Keimanan serupa sekali dengan kepingan Surah Ibarahim di atas. Akarnya menancap kuat menuju perut bumi, daunnya rindang, cabangnya melesat menjulang ke langit, dan buahnya semanis madu. Namun yang utama, Pohon Keimanan terus melahirkan buah sepanjang musim. Tak mengenal waktu berbuah. Tahukah engkau bagaimana rasanya buah dari Pohon Keimanan? Ada tujuh rasa dari buah Pohon Keimanan. Rasa ini terejahwantahkan ke dalam perilaku orang-orang yang beriman. Rasa merupakan analogi, representasi dari sikap orang-orang yang beriman. Sudahkah kita memiliki tujuh rasa ini?
Rasa Pertama: Ketaatan yang Lurus
Orang yang berada dalam Pohon Keimanan jelas sekali merupakan orang-orang yang taat. Tidak sedikit pun melenceng dari jalan kebenaran. Jikalau melenceng, dia masih berada pada koridor kebaikan dan taubat menjadi jalan tempat kembali. Khatib pada solat Jumat tidak pernah lupa mengingatkan kepada kita akan hal itu (Al-Imran:102).
Rasa Kedua : Penyambutan yang Dinanti
Jika kita telusuri riwayat hidup Rasulullah saw, kelahiran beliau itu disambut dengan alam semesta. Semesta pun bertasbih akan kehadiran Rasulullah saw. Dinding di kerajaan Kisra bergetar. Api, simbol agama Majusi di Persia yang tak pernah padam seketika redup. Demikianlah kehadiran seorang yang beriman. Ketika hadir dia disambut. Ketika berkumpul dia diperhatikan. Dan ketika pergi, dia selalu dinanti dan dirindukan. Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kehadiran kita di rumah, kantor, kampus telah disambut? Atau justru kehadiran kita justru membawa malapetaka dan kerugian bagi orang lain.
Rasa Ketiga : Keteguhan yang Kuat
Definisi keteguhan ada pada Bilal bin Rabah saat sebongkah batu besar menghujam dadanya. Dan dia hanya berucap “Ahad, Ahad, dan Ahad”. Praktek keteguhan ada pada Salman Al Farisi ketika berjalan ratusan kilometer untuk mencari kebenaran (Islam). Contoh keteguhan ada pada Siti Masyitoh, seorang perempuan di masa Firaun yang direbus dalam kuali besar karena telah menyebut asma Allah. Suatu ketika saat Rasulullah saw melakukan Isra dan Miraj, Rasul mencium aroma yang wangi sekali.
“Wangi apakah ini wahai Jibril?,” Rasul bertanya.
“Ini adalah wangi dari Siti Masyitoh,” jawab Jibril.
Demikianlah kuatnya keteguhan orang yang beriman. Panas terasa bagai hembusan angin sejuk. Jauh terasa dekat. Dan kematian (baca:syahid) begitu dinanti.
Rasa Keempat: Kebahagiaan Tanpa Syarat
Kebahagiaan bukan terletak pada pakaian yang kita pakai, kendaraan yang kita naiki, rumah yang kita huni, dan pasangan yang kita cintai. Kebahagiaan hanya ada dalam hati. Kadang kita merasa bahagia sesaat setelah berhasil mencapai target cita-cita kita. Pun, kita selalu bahagia dengan kehendak Allah yang beraroma positif. Sudahkah kita juga bahagia dengan kehendak Allah yang menurut kita “buruk”? Para sahabat begitu bahagia saat panggilan perang bertalu-talu. Para sahabat begitu senang saat mengobral hartanya demi tegaknya Islam. Para sahabat begitu bahagia ketika mendengar anaknya, suaminya, pamannya, kakaknya, adiknya dihujam oleh panah dan pedang kaum kafir. Sebab, surga begitu dekat saat itu.
Rasa Kelima : Pemisah yang Jelas
Umar bin Khattab mendapat gelar Alfurqon karena bisa membedakan, memisahkan antara yang hak (benar) dan batil (salah). Buah pohon keimanan adalah filter untuk memisahkan kebenaran dan kebatilan. Ciri kebenaran amatlah sederhana, yaitu mudah diterima dan tidak bisa disembunyikan. Jadi pada dasarnya amatlah sederhana prinsip ini. Begitu jelasnya sehingga antara yang hak dan batil tidak mungkin disatukan.
Rasa Keenam : Zuhud
Zuhud adalah saat kita mampu membeli pakaian yang bertebaran di mal-mal Singapura dan Milan tapi kita lebih memilih Gedebage dan Pasar Baru. Zuhud adalah saat kita mampu memiliki sepuluh buah mobil, namun kita lebih memilih memiliki satu buah. Zuhud bukan mengubur dalam-dalam harta kita, tapi menggunakan sebaik mungkin sesuai kebutuhan. Buah dari pohon keimanan adalah tidak berlebih-lebihan walau sebenarnya kita mampu untuk itu. Kontrol atas hawa nafsu.
Rasa Ketujuh : Kesantunan Bertindak
Surah Al-Maun melukiskan dengan terang ciri-ciri orang yang mendustakan agama, yaitu suka menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. Surah Al-Maun juga menyebutkan celaka bagi orang yang shalat, yaitu yang lalai terhadap salatnya dan enggan memberi bantuan.
Buah dari pohon keimanan memberikan rasa kesantunan bagi orang disekelilingnya. Santun dalam berucap dan bersikap. Rasulullah saw suatu ketika tidak saja diolok-olok oleh anak-anak dari daerah Thaif tapi juga dilempari batu-batuan hingga menetes buliran darah dari kaki beliau. Saat Rasul beristirahat di bawah pohon, sesosok malaikat menawarkan kepada Rasul untuk menancapkan Gunung Uhud di kepala-kepala penduduk Thaif.
Dengan santun Rasulullah saw berucap, “Mungkin hari ini mereka menolak Islam, tapi belum tentu dengan keturunan-keturunan mereka. Aku berdoa suatu hari kelak keturunan-keturunan mereka akan berada di barisan Islam.”
Mungkin terlampau jauh bila penulis mengambil contoh diatas. Tapi setidaknya bukanlah pekerjaan berat memberikan seutas senyuman kepada pengamen di bis kota saat kita enggan memberikan uang receh dari kantong kita. Saat kita melempari pohon, seketika itu juga jika lemparan kita tepat, buah dari pohon tersebut akan jatuh. Sementara sang pohon tidak mengeluh jika ada batangnya patah. Berikanlah yang terbaik bagi orang disekeliling kita bila perlu orang yang menyakiti kita juga.
10 Mei 2009
Wajah Televisi Kita
Di televisi banyak orang-orang sok aksi
Artis, menteri dan politisi berlomba-lomba cari sensasi
Berita tak guna lagi, tidak trendi lagi
Buat apa punya teve?
(Televisi, Naif)
Televisi merupakan sebuah produk hasil dari kemajuan teknologi. Televisi dari mulai kehadirannya pada awal abad ke 20 hingga detik ini telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Pada mulanya kehadiran televisi dikhawatirkan akan menggusur radio yang telah lahir lebih dulu. Namun ternyata kedua media massa tersebut memiliki karakter dan fungsi yang berlainan, tapi tidak bisa dipungkiri kehadiran televisi telah membawa perubahan yang sangat besar terhadap diri kita dan lingkungan sekitar. Ironisnya kehadiran tayangan televisi kian hari justru kian mengkhawatirkan.
Dahulu dunia televisi kita marak dengan tayangan yang berbau mistik dan takhayul. Hampir setiap malam ruang keluarga kita dijejali oleh tayangan hantu yang (katanya) terekam oleh kamera. Namun masa mistik telah berganti menjadi sebuah tayangan reality show. Saat tayangan reality show mereda, muncullah sebuah ajang kontes-kontesan yang dapat membawa ketenaran seseorang menjadi begitu cepat bak sebuah meteor. Begitulah wajah televisi di negeri ini.
Belum lama ini Komisi Penyiaran Indonesia mengumumkan tayangan-tayangan (program) televisi yang tidak layak untuk ditonton. KPI menyebutkan tayangan tersebut banyak mengandung unsur penghinaan dan terlalu banyak mengumbar adegan yang seronok. Anjing menggonggong kafilah berlalu. Meski KPI telah mengumumkan tayangan tersebut, pihak stasiun televisi masih tetap menayangkannya.
Kehadiran sebuah media massa menurut Harold Lasswell dan Charles Wright setidaknya memiliki empat fungsi yaitu sebagai pengawasan lingkungan, korelasi bagian-bagian dalam masyarakat untuk merespon lingkungan, penyampaian warisan masyarakat, dan hiburan. Media massa sangat berperan sekali sebagai agen pembawa atau penyalur ide-ide dan pesan yang ditawarkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dan yang memiliki akses ke arah sana. Sehingga pada akhirnya media massa memiliki posisi yang sangat strategis sekali.
Bila kita saksikan tayangan-tayangan program acara di televisi terlalu kental aspek hiburannya bila dibandingkan aspek pendidikan (edukasi). Tayangan sinetron yang tidak rasional dan cenderung menjerumuskan begitu marak. Acara infotainment seperti tidak mengenal waktu jeda. Tayangan berita lebih mengedepankan unsur sensasional dibandingkan menjalankan perannya sebagai pengawas dan pereda konflik. Dan semuanya bermuara kepada bagaimana mendapatkan rating tertinggi.
Pemerintah kita sudah tidak memiliki wewenang yang mutlak untuk melarang atau meniadakan sebuah tayangan yang dinilai kurang baik. Tidak seperti di masa Orde Baru dimana peran pemerintah begitu besar dalam menentukan sebuah tayangan tertentu melalui Departemen Penerangan. Dengan tidak adanya kontrol terhadap berbagai tayangan acara di televisi maka secara tidak langsung masyarakat dituntut untuk lebih kritis dan peka dalam menilai dan memilih berbagai acara di televisi.
Saat masyarakat tidak memiliki pilihan akan sebuah tayangan yang mendidik dan bermanfaat maka televisi secara tidak langsung telah melakukan pembodohan massal. Anak-anaklah yang akan menjadi korban pertama terhadap tayangan televisi yang tidak mendidik. Patut kita renungi lirik dari grup band Naif, buat apa punya teve?**
Meraih Legenda Pribadi
Sang Alkemis Dan Sang Pemimpi
Novel laris Sang Pemimpi karya Andrea Hirata melukiskan dengan jelas sekali sosok anak muda yang begitu bersemangat meraih impiannya. Di tengah beragamnya keterbatasan yang menghimpit sosok Ikal dan Arai, semangat meraka tidak padam. Justru kesempitan dan keterbatasan itulah yang membuat impian mereka semakin dekat dengan kenyataan. Seorang bijak mengatakan bahwa impian atau kesuksesan besar kita diawali dengan kesuksesan-kesuksesan kecil yang diraih setiap harinya.
Dalam realitas keseharian kita, manusia senantiasa memiliki harapan-harapan yang hendak dicapai. Kesuksesan dalam hal karir atau pekerjaan, kebahagiaan dalam keluarga, atau bahkan keinginan menjadi seorang pemimpin politik yang berpengaruh, menjadi penulis best seller merupakan contoh dari sekeping cita-cita kita. Setiap dari kita pasti memiliki rajutan impian yang ingin diraih, tidak peduli besar atau kecil impian tersebut. Namun seiring bertambahnya usia dan bergantinya hari beragam persoalan datang untuk menguji kekuatan mimpi-mimpi kita. Dalam perjalanannya, ada yang tetap terus bertahan dan berjuang meraih impiannya, tapi tidak sedikit pula yang tumbang dan memilih berhenti merangkai impian sejatinya.
Dalam cerita Sang Alkemis karya Paulo Coelho, dengan apik dan sederhana diceritakan sosok Santiago, bocah penggembala domba, yang mencari legenda pribadinya. Legenda Pribadi adalah apa yang selalu ingin kita tunaikan dan setiap orang memilikinya. Dalam salah satu fragmennya disebutkan, pada titik kehidupan mereka itulah semunya menjadi jelas dan segalanya mungkin terjadi. Setiap orang tidak takut untuk bermimpi dan mewujudkannya. Tapi selang berlalu waktu, suatu daya misterius hadir untuk membuat keraguan dan melemahkan keyakinan dalam mewujudkan Legenda Pribadi mereka.
Perjalanan untuk meraih Legenda Pribadi (baca:cita-cita) bukanlah suatu yang mustahil untuk diraih. Jalan yang ditempuh memang terjal dan berliku. Bahkan adakalanya orang-orang terdekat kita justru menjadi orang pertama yang meragukan harapan dan cita-cita kita. Proses meraih cita-cita tidak lepas dari beragam ujian dan cobaan.
Ada dua faktor penghambat mimpi-mimpi kita, yaitu faktor eksternal (lingkungan kita) dan internal (diri kita). Faktor eksternal biasanya meliputi tanggapan orang-orang di sekitar kita yang seringkali mengendurkan semangat kita. Sang alkemis menuturkan bahwa bila kita memiliki harta yang sangat bernilai dalam diri kita, yaitu impian, dan memberitahu orang lain tentang hal itu, jarang ada yang percaya. Sementara faktor internal meliputi hal –hal seperti adanya zona nyaman dalam diri kita, ketakutan akan perubahan, terjalnya ujian yang datang, merasa cukup dengan apa yang didapat, dan trauma akan kegagalan.
Setiap pencarian mimpi-mimpi kita adakalanya diawali dengan “kemujuran” pemula. Namun satu hal yang pasti adalah setiap dalam perwujudan mimpi kita akan berakhir dengan kemenangan yang telah melewati ujian yang berat. Sabar dalam menjalani proses merupakan syarat utama. Kita tahu bahwa emas dan intan menjadi bernilai dan mahal harganya karena telah mengalami proses dan perjalanan waktu yang sangat panjang dari yang semula hanyalah materi alam biasa.
Ada satu kebenaran di dunia ini, yaitu saat kita benar-benar menginginkan sesuatu, segenap alam semesta bersatu untuk membantumu meraihnya. Jadi, jangan takut dan berhenti mewujudkan impian-impian kita.**
-
Arsip
- November 2009 (4)
- Mei 2009 (6)
- April 2009 (5)
- Februari 2009 (5)
- Januari 2009 (1)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS