Bunuh Diri dan Idola

 

led zeppelin stairway                                                (Led Zeppelin, Stairway to Heaven)

 

Sebuah ketidakmampuan untuk mengekspresikan emosi membuat manusia menjadi satu-satunya binatang yang bisa bunuh diri. (Alain de Botton)

20 Juli

Cahaya mentari mulai melemah di kawasan Medan Merdeka Barat, Jakarta. Setan-setan kecil pun bersiap mengadu nasib. Mencari teman yang bisa diajak melewati malam sunyi. Awan mendung nampak gelisah dan ragu apakah akan menumpahkan hujan atau menunggu hingga benar-benar matang.

Di depan layar komputer aku memilih menikmati lagu dari Led Zeppelin, band beraliran rock asal Inggris. Belakangan ini aku sedang keranjingan mendengarkan Led Zeppelin dari kanal YouTube. Di sadari atau tidak selera musik ku lebih condong ke era-era lampau. Masa 1960-1990-an merupakan musim semi terindah bagi penikmat musik rock.

Di tengah mendengarkan Black Dog, ku buka halaman baru di mesin pencari Google. Aku penasaran mencari tahu penyebab band sehebat Led Zeppelin bubar. Ternyata karena seorang John Bonham. Bonham merupakan drummer Led Zeppelin. Personil lainnya, Jimmy Page (gitaris), Robert Plant (vocal), John Paul Jones (bass, keyboard) sepakat mengubur Led Zeppelin bersama Bonham di tahun 1980.

Dari beragam pemberitaan, Bonham meninggal karena tersedak minuman keras saat tertidur di atas sofa. Sebelum menutup usia, sosok yang akrab disapa Bonzo itu seharian penuh menyibukkan diri dengan menenggak berliter-liter vodka. Ia tewas di usai 32 tahun pada akhir September 1980 di Windsor Berkshire, kediaman Page. Sulit untuk berspekulasi bila tindakan yang dilakukan Bonham adalah upaya untuk mencabut nyawanya sendiri.

Namun langkah membubarkan sebuah band usai ditinggal salah satu personilnya tidak hanya dilakukan oleh Led Zeppelin. Sekedar menyebut nama ada The Doors dan Nirvana yang memilih berhenti berkarya daripada mencari pengganti anggota band yang meninggal. Sementara ada banyak band yang justru berusaha menyesuaikan diri bertahan kendati salah satu anggotanya pergi.

Kematian yang tak wajar, seperti dalam bentuk bunuh diri, seolah lumrah terjadi dalam dunia hiburan. Upaya mencabut nyawa sendiri merupakan simbol sekaligus pesan kepada khalayak ihwal situasi subjek yang disebut De Botton ketidakmampuan mengekspresikan diri. Kita tidak tahu dengan pasti apa yang ingin disampaikan oleh mereka yang memilih menghabisi nyawanya sendiri.

Para penggemar hanya bisa menerka-nerka mulai dari depresi, kesepian, bosan dengan ketenaran atau masalah yang tak kunjung tuntas. Apapun itu asal bisa menjawab sifat dasar manusia, yaitu rasa ingin tahu, tak peduli apakah itu rasional atau tidak.

21 Juli

Vokalis band Linkin Park, Chester Bennington meninggal dunia. Media memberitakan kematian Bennington akibat bunuh diri. Ia pun resmi masuk daftar artis-artis yang meninggal karena bunuh diri. Bahkan hari di mana ia meregang nyawa bertepatan dengan hari lahir Chris Cornell, sahabatnya yang merupakan vokalis Soundgarden dan Audioslave.

Sehari penuh topik pembicaraan di sekeliling ku seputar Linkin Park dan Bennington. Lagu-lagu populer band asal California itu diputar di radio, Youtube. Beritanya berhamburan di media online. Tak lupa, artikel-artikel seputar bunuh diri naik lagi ke permukaan. Untuk sesaat aku berpikir orang-orang sedang melihat dirinya sendiri. Apa dunia begitu sempit ?

We came from the land of the ice and snow. From the midnight sun where the hot springs flow. Hammer of the gods will drive our ships to new land. To fight the hordes and sing,and cry. Valhalla, I am coming
(Immigrant Song, Led Zeppelin)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s