Miskin di Kota, Kaya di Desa

Kaum muda pergi ke kota, ladang kosong di depan mata.

Tidak pernah sebelumnya saya memikirkan dapat harta warisan. Sungguh benar janji Allah kalau rezeki datang dari arah yang tidak disangka. Sama seperti jodoh dan ajal. Suatu hari, ketika saya pulang kampung, mama menceritakan harta peninggalan kakek. Singkat cerita, mama sebutkan siapa dapat apa, berapa banyak, dan di mana saja lokasinya. Tak disangka ternyata saya kebagian juga. Dalam hati sungguh saya tak pernah meminta. Kepikiran aja enggak pernah.

Hari itu dalam sekejap, tanpa bersusah payah dan kerja keras, saya diamanahi harta peninggalan kakek. Namun semua harta yang diberikan berjarak 250 kilometer dari kehidupan saya sehari-hari di Jakarta. Tanpa menafikan semua hal yang saya miliki saat ini dari hasil jerih payah bekerja, faktanya adalah saya merasa miskin di kota namun kaya di desa. Ironis. Ya mungkin kita bisa berdebat siang-malam soal apa itu kaya dan miskin. Saya jadi teringat ungkapan lucu yang bilang, kalau orang kaya itu mudah menyembunyikan kekayaan tapi orang miskin tidak bisa menyembunyikan kemiskinannya.

Lantas saya merasa semua peninggalan kakek itu tak berarti selama tidak dikelola dan hanya sekedar jadi penghias semata. Saat ini, bisa disebut aset turunan dari kakek itu idle. Diam tak bermanfaat. Praktis hanya ladang sawah yang berproduksi maksimal menghasilkan beras tiap empat bulan sekali.

20130812_062508

Sawah usai panen rampung. taken: aditya budiman

Saya coba pikir apa saja penyebab aset jadi diam. Pertama karena kami sudah punya pekerjaan tetap di kota. Lalu jarak yang jauh, cara bertani yang masih konvensional, dan infrastruktur di desa yang belum mumpuni. Belum lagi kalau bicara soal keilmuan pertanian, birokrasi atau dukungan pemerintah. Namun yang terpenting dari semuanya adalah sumber daya manusia dan keinginan mengembangkan warisan peninggalan kakek.

Tidak banyak anak muda yang mau terjun menjadi petani saat ini. Bahkan mahasiswa jurusan pertanian saja lebih suka bekerja di lembaga keuangan atau perusahaan-perusahaan dibanding memberdayakan petani atau berwirausaha. Saya amat mengapresiasi rencana pemerintah yang menambah anggaran dana desa tahun depan dan ingin disalurkan langsung ke desa tanpa ada perantara dan jalur birokrasi berbelit. Beresiko iya, tapi layak dicoba.

Pemerintah, setidaknya sudah mempunyai cara pandang berbeda tentang desa. Ke depan, desa didorong jadi pusat pertumbuhan. Memang seharusnya seperti itu. Dan cara pertama mengembangkan desa adalah dengan memperbaiki infrastruktur. Memperlancar arus barang. Ketika perpindahan barang sudah lancar maka biaya logistik bisa ditekan. Berhubung masih banyak infrastruktur desa yang buruk maka anggaran dan proses penyaluran dana desa mesti ditambah dan dipermudah.

Butuh proses panjang membayangkan desa bisa maju dan sejahtera. Tapi keseriusan pemerintah dalam hal dana desa membuat saya tertarik untuk hijrah ke desa. Mengolah lahan pertanian dan beternak, mengembangkan bisnis pertanian. Di kala pemerintah sedang berupaya serius memperbaiki infrastruktur, warga desa di saat bersamaan mesti mengembangkan pola pertanian yang lebih baik. Bukan lagi berpikir soal produksi semata tapi juga produk turunan dan nilai tambah.

4-cartoon-SHEEP-COWS-FOLK toperfect com

picture: toperfect.com

Wajah desa perlahan sudah berubah. Jika dulu petani nampak fokus menjaga produksi hasil pertaniannya tapi dari sisi kualitas hidup dan jaringan pengaman sosial kurang mendapat perhatian pemerintah. Sekarang situasinya sudah berubah. Akses terhadap dunia pendidikan dan kesehatan lebih terbuka.

Setidaknya petani sekarang tak terlampau memikirkan biaya pendidikan sekolah anak karena sudah ada subsidi. Begitu juga ketika sakit tak perlu repot mengeluarkan uang lantaran ada asuransi. Belum ideal memang, tapi sudah ada perubahan. Mestinya, dengan kualitas hidup yang perlahan meningkat kaum muda tak punya alasan meninggalkan desa.

Ini penting, sebab bukan tidak mungkin ketika infrastruktur sudah selesai dibangun dan diperbaiki tapi justru jumlah petani atau yang tertarik dengan pertanian makin menyusut. Kaum muda pergi ke kota, ladang kosong di depan mata begitu kalau kata band Efek Rumah Kaca. Jelas usia senja bukan waktu yang ideal untuk mengembangkan pertanian karena bertani adalah pekerjaan lapangan yang menuntut stamina.

Di saat kita menjerit dan teriak keras menolak buah dan produk pertanian impor tapi di sisi lain tidak banyak pekerja yang ingin terjun menjadi petani. Di saat lahan pertanian makin tergerus oleh perumahan di saat bersamaan kita juga melantangkan slogan sebagai negara agraris dan maritim. Layak dicatat prediksi National Geographic yang memprediksi jumlah penduduk bumi 50 tahun mendatang bakal meningkat dua kali lipat dari sekarang yang ditaksir sekitar 7 miliar orang. Itu artinya ada lebih banyak mulut yang membutuhkan makanan.

Yakinlah, ketika lapar bukan charger listrik atau jaringan telekomunikasi yang bakal memuaskan kita. Selama bernafas manusia pasti membutuhkan makanan. Setidaknya, untuk 50 tahun ke depan bumi masih akan menjadi tempat tinggal kita dan cara kita mendapatkan makanan masih tetap sama, yaitu tergantung kepada tanah. Sulitnya mengakhiri tulisan ini. Mungkin lewat sebuah pertanyaan saja. Bakal seperti apa kita di 50 tahun yang akan datang?

 

2 thoughts on “Miskin di Kota, Kaya di Desa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s