Di Bawah Bayang-Bayang Gie dan Wahib

 

rumi

sunniphilosophy

Bagi saya tidak ada sesuatu yang baru dari tulisan Afi Nihaya Faradisa yang berjudul Warisan. Di mata saya, untuk remaja yang tengah beranjak menuju dewasa, Afi adalah seorang peracik kata-kata yang mengesankan. Gaya menulisnya segar dan tegas. Jujur serta berani.

Afi belakangan ini semakin menjadi sorotan. Bagi orang-orang yang sulit menerima kekalahan jagoannya di Pilkada tulisan Afi ini serasa jadi obat penawar. Ya, mungkin karena baru kali pertama terlibat di hiruk pikuk politik tanpa dibekali bahan bacaan yang cukup, mereka merasa dengan menyebarkan tulisan Afi bisa mengaku sebagai bagian dari barisan pengusung toleransi dan kebinekaan.

Padahal si empunya tulisan sendiri dengan tegas menyatakan kalau tulisannya tak ada kaitan dengan Pilkada atau peristiwa politik mana pun.

Saya sendiri tak punya motif apa apa dengan mengomentari atau membawa-bawa nama Afi di tulisan ini. Di sisi lain, saya bukan elit dan enggan berdebat atau ikut-ikutan klaim apapun seputaran Pilkada. Saya cuma miris melihat mereka yang gagal move on ketika melihat jagoannya keok. Sudah hadapi saja kekalahan itu. Namanya juga hidup.

Kembali ke Afi. Ketika saya membaca tulisan lain milik Afi, ingatan saya melompat ke sosok Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib. Saya tidak terlalu yakin nama Ahmad Wahid dikenal banyak kalangan sebaik sosok Gie.

Sebagai ilustrasi, saya menilai Gie merupakan seorang yang humanis dari buku catatan hariannya yang berjudul, Catatan Seorang Demonstran. Buku terbitan LP3ES itu saya temukan tak sengaja di Palasari, Bandung, tempat jualan buku sekitar satu dekade lalu.

Sedangkan Wahib, saya punya kesan kalau beliau ini anak muda yang gelisah. Di klaim sebagai seorang aktivis, saya hingga kini belum kesampaian membaca tulisan Wahib. Sekilas namanya disebut dalam kata pengantar di buku Catatan Seorang Demonstran, Gie.

Sebagai ilustrasi, jika Gie seorang yang sedang berjalan di bahu kiri jalan maka Wahib ada di seberangnya, ruas sebelah kanan. Tulisan-tulisan Wahib kental dengan keislaman. Saya agak terkejut ketika nama Ahmad Wahib tertulis di pintu masuk musolah kantor saya.

Karena penasaran saya pun mencari tahu tulisan Wahib. Tak banyak yang saya temukan. Tapi aroma yang tercium sosok dia agak mirip dengan Gie.

Baik Gie dan Wahib, dalam kaca mata saya, keduanya merupakan pemberontak. Sama-sama punya mental melawan. Keduanya punya gagasan segar tentang bagaimana mengusik mereka yang berpikiran mapan karena sudah terbiasa menjalani rutinitas dan melihat dunia dari kaca mata yang sama. Mereka gemar medefinisi ulang pemahaman yang sudah mapan berpuluh-puluh tahun.

Dan ada dua kesamaan yang nyata dari Gie dan Wahib. Pertama mereka dengan tekun menuliskan kegelisahannya. Sesuatu yang menurut saya tidak lumrah dilakukan oleh aktivis di masa mereka. Kedua, umur mereka tidak panjang. Hanya itu yang saya tahu dari Gie dan Wahib.

Malam kemarin, Ahad, 28 Mei 2017, tak sengaja saya melihat tayangan singkat tentang Afi. Saat lensa kamera menyorot sebuah rak buku ada dua buku yang saya kenali.

Pertama buku Virus Akal Budi karya Richard Brodie yang keluar 2005. Dari Brodie saya mengenal istilah meme kali pertama. Dari Brodie juga saya diajak berpikir skeptis. Dan kini, meme (dibaca mim) begitu populer di media sosial sebagai sarana mengirim pesan.

Buku kedua, berjudul Fihi ma Fihi. Salah satu karya pemikir Jalaluddin Rumi – Saya lebih suka menyebut Rumi sebagai pemikir dibanding seorang sufi- Sampai sekarang saya masih ingat alasan membaca buku itu. Saya muak dengan kemunafikan.

Palmerah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s