Jenderal

pinterest blackbird

pinterest.com 

“Jadi dari mana Anda mendapatkan senjata itu?” tanya sang Jenderal.

“Sudah saya jelaskan berkali-kali. Saya tidak tahu dan tidak pernah punya senjata. Bapak ini orang kelima yang melontarkan pertanyaan serupa,” jawabku.

“Jangan berkelit Anda?” ucapnya, kali ini dengan nada yang agak tinggi.

“Buat apa saya berbohong. Tapi baiklah, jika bapak masih bersikeras menanyakan hal yang sama saya juga akan katakan hal yang serupa. Senjata yang bapak maksud itu tiba-tiba saja ada di bawah kasur saya. Saya tidak tahu bagaimana benda itu bisa ada di sana.”

“Bagaimana bisa ada senjata di kamar sendiri dan Anda tidak tahu dari mana asalnya?” tanyanya lagi.

Aku tak mau terpancing. “Persis. Itu pertanyaan yang ada dibenak saya kali pertama menemukannya, Pak.”

“Loh, gimana sih Anda ini?” kata sang jenderal sambil berupaya menjaga nada bicaranya.

“Faktanya, begitu memegang senjata itu, tiba-tiba saja lima orang berpakaian serba hitam yang perawakannya mirip seperti Bapak merangsek ke kediaman saya. Mereka membawa saya ke kantor sebelum akhirnya saya ada di gubuk ini. Seharusnya saya yang lebih banyak bertanya, bukan bapak.”

“Jangan ngatur-ngatur saya. Saya pimpinan di sini. Ingat anak muda, informasi yang kami dapat sangat akurat dan tidak mungkin meleset. Jadi sekali lagi saya bertanya, dari mana Anda mendapatkan senjata itu?”

Dasar otak batu, pikir ku. “Bagaimana saya menjawab sesuatu yang saya tidak tahu. Sementara bapak sepertinya yang lebih banyak tahu.”

“Baiklah anak muda. Mungkin segelas kopi akan mengembalikan ingatanmu.”

 

Sepanjang aku bisa mengingat hanya ada satu keputusan paling penting yang tanpa kusadari telah memengaruhi seluruh hidupku. Hari ketika ibu membelikan seragam pramuka menjadi titik awal aku mengenal siapa dan apa minatku. Aku yang bermata sipit, bungsu dari empat bersaudara yang kerap diremehkan dan disisihkan dalam urusan apapun di keluarga, mulai berani bersikap ketika terjun ke pramuka. Lucu memang kalau dipikir-pikir lagi.

Seragam berwarna coklat, baret dengan dasi merah-putih terlilit di leher menambah rasa percaya diriku. Pramuka, menurut ku, jalan tengah antara kedisiplinan khas militer dan kesenangan bermain-main di alam terbuka. Aku yang ketika berada di dalam kelas memilih diam dan duduk di kursi paling belakang seketika berubah saat di bawah matahari.

 

Aku menyukai alam terbuka dan segala tantangan serta atraksi lapangan selama mengikuti kepramukaan. Panggilan kakak untuk guru atau pelatih semakin membuatku menaruh hormat pada kegiatan ini. Sebab tidak ada jenjang senioritas ala militer. Aku tidak takut berbuat salah karena ada seorang kakak yang akan membimbing bukan menghakimi benar atau salah.

Hingga pada akhirnya, ketika berseragam sekolah menengah pertama, kawan-kawan memberi kepercayaan kepadaku untuk memimpin di tingkat pramuka penggalang. Menjadi pemimpin upacara setiap senin dengan santai aku lakoni bila ada petugas utama yang absen. Ragam kegiatan lapangan yang menuntut kedisplinan dan kerja sama rupanya lambat laun membangun karakter kepemimpinanku. Keras. Enggan mengalah. Tak mudah terprovokasi.

Jadi ketika diinterogasi seorang jenderal bintang satu yang terlihat belum pernah terjun ke medan perang aku merasa biasa saja. Dengan santai aku ladeni pertanyaan yang itu-itu saja. Aku bukan tipe orang yang bisa digertak atau ditakuti. Apalagi aku tidak mempunyai tanggungan apa pun. Dan sepertinya jenderal muda itu tahu.

Sudah lebih dari tiga hari aku ditahan tanpa kejelasan. Aku tidak tahu persis sedang berada di mana. Tapi kalau ku taksir berkendara dengan kecepatan normal selama delapan jam, setidaknya aku sedang berada di Bukit Anabis kalau bergerak ke timur. Tidak mungkin aku di bawa ke selatan, barat, atau utara karena posisi terakhir ku ada di ujung pulau. Dengan hawa udara yang sejuk perkiraan ku tidak akan terlalu meleset. Para bedebah sialan ini sepertinya tidak mau ambil resiko. Mereka sepertinya menganggap aku pantas disamakan dengan kaum pemberontak.

Aku terus mencoba memeras ingatan dari mana senjata sialan itu bisa ada di kamarku. Dengan kondisi yang masih bugar dan tanpa menerima kekerasan fisik aku masih bisa berpikir jernih. Tetap aku tak menemukan jawaban. Dengan berat hati aku harus berpikir ulang tentang orang-orang yang pernah singgah ke tempatku. Hanya ada dua orang saja. Darma dan Abri. Hanya mereka berdua yang pernah berkunjung ke kamarku. Iya, hanya Darma dan Abri saja, tak ada yang lain.

Tiba-tiba kepala ku pening. Sakit luar biasa begitu mengingat dua nama itu. Aku tidak bisa menerima kalau salah satu dari mereka ternyata yang menyimpan senjata di bawah kasur dan penyebab semua ini. Hubungan ku dengan Darma dan Abri tak dibangun dalam sehari. Kami bukan sekedar kawan, tapi sudah seperti saudara.

Darma bagiku sudah seperti adik. Suatu ketika aku pernah memaksakan kehendakku kepada Darma. Ke hendak yang berdampak mengubah jalan hidupnya. Aku dengan gigih mendesak Darma agar tak melepaskan kekasihnya yang posesif dan cemburuan. Dua sifat itu yang kerap membuat susah Darma. Ku bilang, biasanya perempuan dengan dua sifat itu amat setia. Sulit mendapatkan perempuan seperti itu. Sampai jelang hari pernikahan mereka, Darma memberi kepercayaan kepadaku untuk jadi saksi pernikahan mereka. “Biar kamu ikut bertanggung jawab kalau ada masalah dengan rumah tangga kami,” begitu alasan Darma. Aneh betul kataku.

Aku dan Darma sama-sama pernah merasakan bagaimana kehilangan kedua orang tua. Bertahun-tahun kami selalu berbagi kesepian yang kerap mengintimidasi. Tapi sejak kedatangan perempuan itu rasanya sudah tak ada yang menekan Darma lagi di saat malam menggeser siang.

Pekan lalu seingatku Darma berkunjung ke kamarku. Intensitas pertemun kami menurun seiring semakin besarnya isi rahim istri Darma. Aku tak mempersoalkan itu tapi rupanya Darma tak senang melihat ku bekerja sendirian. Aku bilang tak perlu risau karena ada tanggung jawab lain sebagai calon ayah. Suatu hari aku pun bakal menghadapi persoalan yang sama.

Malam itu tak ada soal kerjaan yang kami bicarakan. Kami hanya tertawa sambil diiringi bergelas-gelas kopi, rokok, dan kacang rebus. Semalam suntuk aku dan Darma bicara ngalor ngidul tak ada ujung. Membongkar segala cela dan kebodohan semasa kuliah. Mengutuk nafsu pembesar-pembesar kota yang tak pernah puas merebut tanah-tanah milik warga dan petani. Aku tidak tahu kalau itu jadi malam terakhir bertemu dengan Darma. Tidak ada yang tahu juga sih kalau aku dibawa oleh segerombolan setan licik ini.

Ah, aku jadi ingat sekarang. Samar-samar Darma pernah mengingatkan ku soal Abri. Iya, aku ingat betul. Suatu hari Darma pernah memergoki Abri bertemu dengan lawan kami di pengadilan di suatu kafe. Walau dia mengaku hanya sekedar bertemu dengan kawan lama saat di kampus, tetapi Darma terus menaruh curiga sejak pertemuan itu. Aku sebenarnya tak mau ambil pusing dengan omongan Darma saat itu. Tapi rupanya di saat maut terasa terlihat jelas malam ini, informasi Darma membuat ku sedikit puas dan tenang.

Dua hari setelah kedatangan Darma, Abri menginap di kamarku. Semalam suntuk kami menyusun strategi dan mencari cara agar bukti yang dikumpulkan bisa diterima hakim. Aku dan Abri cukup yakin kalau kali ini warga pasti menang. Setelah dua kekalahan sebelumnya, kami percaya bukti baru yang disiapkan bisa membuat hakim mengabulkan tuntutan warga.

Tak ada percakapan pribadi ketika Abri singgah ke kamarku. Hubungan ku dengan dia tak bisa dibilang sekedar urusan pekerjaan saja. Aku baru mengenal Abri tiga tahun ke belakang. Kami terpaksa melibatkan orang lain karena studi Arif tak bisa ditunda. Jadilah Abri menggantikan Arif yang sudah sejak awal mengikuti perkara-perkara kami. Sejauh pengamatan ku, Abri bekerja profesional dan amat serius. Selalu ada jeda panjang saat membangun percakapan dengan Abri. Ia begitu memperhatikan penampilan. Meski tak mengenakan pakaian bermerek, tapi Abri tahu bagaimana caranya bergaya di depan orang lain.

Ada jarak yang agak besar antara aku dengan Abri. Dia selalu sembunyi ketika sudah bicara urusan pribadi. Sementara aku sebaliknya. Aku tak ragu menceritakan masalah. Ya, walau tidak semua masalah juga patut diumbar. Abri yang ku tahu adalah seorang yang bisa menjaga rahasia.

Kalau pun benar Abri yang menjebakku, apa yang sedang dia incar. Aku tak berhasil menemukan jawabannya. Pikiranku menerawang, terus berupaya memanggil ingatan atau mencari-cari peristiwa apa yang membuat ku jadi pesakitan seperti sekarang. Buntu. Aku sama sekali tidak tahu bagaimana bisa senjata sialan itu bisa ada di bawah kasurku.

 

Dua jam berlalu, menurut perkiraanku. Tak setetes pun kopi hitam yang disediakan aku sesap. Dari dalam gubuk seluas 20 meter persegi yang nyaris roboh ku dengar samar-samar suara orang bicara. Setidaknya ada enam orang di luar sana.

“Gimana?” kata seseorang.

“Udah, sekolahkan (tembak) sajalah,” sebut seorang lagi. “Tanggung. Udah terlalu jauh,” ucapnya.

Satu jam terakhir pikiran ku menerawang dengan cara apa mereka akan mencabut nyawa ku. Berada di tengah hutan di sekitar kawasan Bukit Anabis, kalau prediksi ku tak meleset, tak akan ada orang yang tahu keberadaanku. Jadi suara tembakan, bahkan meriam sekali pun tidak akan menarik perhatian orang. Paling-paling hanya tikus hutan yang lari kocar kacir. Tapi setidaknya kalau pun aku mati hari ini, aku bakal menemani setidaknya ratusan orang yang dibantai 10 tahun lalu. Ya, setidaknya arwah ku tak sendirian di hutan ini.

Suara gesekan pintu dengan tanah memecah kesunyian. Sang Jenderal kembali duduk di hadapanku dan kembali melontarkan pertanyaan yang sama.

“Bagaimana, sudah ingat sekarang?” tanyanya.

“Terserah apa yang mau Anda lakukan jenderal. Tapi kalau pun saya mati malam ini, Anda hanya mendengar jawaban yang sama.

“Wah, wah, sudah siap mati sepertinya,” ucap sang jenderal, kali ini nada bicaranya terasa puas. “Baiklah kalau begitu, ada pesan terakhir, anak muda?

“Jangan salah paham jenderal. Justru mestinya saya yang bertanya soal itu. Adakah pesan dari Anda Jenderal? Pesan untuk senior-senior Anda yang mati dimakan usia tanpa pernah merasakan panasnya peluru senjata,” kataku.

“Baiklah, kita percepat saja proses ini. Saya masih banyak urusan, anak muda,” seru sang Jenderal. “Prajurit, bawa satu lagi anak muda yang di luar.”

Jantung ku terlonjak. Seluruh badanku terasa panas, seperti terbakar. Mataku hanya bisa menatap kosong saat seorang prajurit berambut panjang menyeret Darma.

“Nah, anak muda. Permainannya sederhana saja. Hanya ada satu peluru di senjata ini. Kita akan lihat di kepala siapa peluru ini akan bersarang lebih dulu,” ucap sang Jenderal.

“Bajingan kau Jenderal,” teriakku.

 

Palmerah, 20 Oktober 2017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s