Masa Depan Adalah Online ?

Media online yang berkembang sekarang rasa-rasanya lebih banyak membuat kesalahan dan keresahan dibanding dengan media cetak.

DEWASA ini media cetak sedang diuji oleh gelombang gempuran media berbasis online. Perlahan media pemberitaan berbasis kertas mulai tersisih dari ruang pembaca. Ada yang memilih mengurangi waktu terbit, memangkas jumlah halaman, bahkan menutup diri sepenuhnya.

Dari waktu ke waktu, perkembangan media tidak lepas dari kemajuan teknologi. Ketika seorang Johannes Gutenberg mengembangkan mesin cetak, dunia literasi berubah cepat. Karya pria asal Jerman itu tak sekedar mendorong lahirnya metode percetakan tapi juga menciptakan bisnis penerbitan yang baru. Selama berabad-abad kertas berjaya dan berperan penting menyajikan karya-karya literasi hebat dari para penulis besar. Penemuan Gutenberg tidak sekedar mengubah kinerja tapi juga kebudayaan dan pemikiran.

Gutenberg britannica com

britannica.com

Mengutip the Shallows dari Nicholas Carr, dua abad setelah mesin cetak berputar pertama kali, kira-kira pada 1445, jutaan buku lahir. Biaya produksi buku atau percetakan yang semula mahal menjadi murah meriah. Kelas bawah mempunyai akses untuk mendapatkan buku yang semula hanya didominasi kaum kelas atas. Namun rupanya banjirnya bahan bacaan mempunyai konsekuensi tersendiri. Seorang pemain drama kenamaan Spanyol, Lope de Vega, ketika menyatakan perasaan kalangan bangsawan tentang buku atau karya-karya literasi berbasis kertas yang membanjiri pasar. Dalam dramanya yang berjudul All Citizens Are Soldiers (1612), dia menulis:

Begitu banyak buku. Begitu banyak kebingungan. Lautan buku di kanan-kiri kita. Dan sebagian besarnya hanya berisi omong kosong.

Rasa-rasanya perasaan itu sedang kita hadapai di era digital. Media online menawarkan hal baru bagi kita. Kecepatan, efisiensi, efektifitas, kemudahan akses sampai murahnya ongkos penerbitan menjadi keunggulan media online. Sejumlah kemewahan itu sebelumnya pernah dimiliki oleh media cetak enam setengah abad yang lalu.

Namun seperti yang kita ketahui begitu luasnya dunia internet, selaku medium bagi media online atau digital, membawa kita kepada banyak pilihan. Tak sedikit media online yang menawarkan omong kosong dan kebohongan semata, seperti yang disebut Lope de Vega lima abad lalu. Di tengah lautan media online tidak sedikit pembaca yang menjadi kebingungan. Tak punya arah dan pijakan.

Para praktisi yang bergelut di media pun dipaksa memutar otak. Sambil bekerja, pemahaman dan kebiasaan cara kerja mereka di media berbasis kertas berupaya digeser. Tak mudah, terutama bagi mereka yang sudah terbiasa bergelut dengan “kertas” sehari-hari. Mungkin tuntutan penulis saat ini adalah berusaha tahu dan mengenal karakter pembacanya.

125-twitter-cartoon

Seiring dengan itu kebiasaan dan karakter pembaca pun ikut berubah. Audiens—sebut saja—yang mendapat beragam pilihan informasi umumnya akan membaca apa yang menarik dan diminati. Kendati kita mengklaim tahu karakter pembaca, faktanya hari ini media sulit memetakan pengguna produk mereka.

Saya melihat media online masih mencari bentuk. Sejak kelahirannya pertama kali pada era 1990-an media online harus terus diuji. Tantangannya ada pada sifatnya yang cair. Karakter ini membuat kita kesulitan menebak arahnya. Kita tidak tahu kalau internet atau media online hanyalah medium. Medium ada alat yang tidak bisa mengubah nilai-nilai kehidupan universal, seperti kejujuran, kebenaran, keadilan. Sifat-sifat itu tidak akan pernah berubah meski dunia dan seisinya sudah tak jelas lagi rupanya.

Namun ternyata justru medium itulah yang seolah jadi pusat perhatian. Berita dan informasi terlihat harus menyesuaikan dengan karakter media online. Persaingan merebut dan mempertahankan audiens menuntut para penulis untuk makin kreatif. Seiring jadi pusat perhatian tidak sedikit penulis yang tergoda untuk mengurangi atau menambahi fakta dan kenyataan. Kita jadi mudah berkompromi dengan kebenaran, bermain-main dengan kepercayaan, dan seolah tak peduli dengan kesalahan.

Menulis adalah pekerjaan dengan tanggung jawab yang berat. Tanpa sadar, pada saat menulis sebenarnya kita sedang membangun kredibilitas. Sialnya adalah ketika orang lain dalam sebuah institusi berbuat salah orang yang tak berperan ikut menanggungnya. Media cetak pun pernah mengalami fase seperti itu, sebut saja maraknya kelahiran koran-koran kuning. Tapi saya pikir, media online yang berkembang sekarang rasa-rasanya lebih banyak membuat kesalahan dan keresahan dibanding dengan media cetak.

2 thoughts on “Masa Depan Adalah Online ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s