Sunyi

Suatu malam Ikal pernah berharap bisa menemukan lampu ajaib milik Aladin. Dalam benaknya ia berpikir Aladin lupa atau tak sengaja menjatuhkannya saat jalan-jalan di mal atau trotoar. Atau kalau pun ada Aladin di kehidupan nyata ini dan dia pastinya punya lampu jin itu, Ikal ingin sekali meminjamnya meski hanya sekejap. Ikal penasaran apakah dongeng tentang jin itu benar adanya dan nyata-nyata bisa mengabulkan segala keinginan seperti di Kisah 1001 Malam. Satu permintaan Ikal. Meyakinkan Mat Item dan Mak Ijah pemuda kurus itu mencintai anaknya yang bernama Dewi dan serius ingin menikahinya.

Tapi segera Ikal hapus keinginan meminjam lampu ajaib itu. Sebab itu cuma kisah dan khayalan semata. Faktanya adalah Ikal dan Dewi mesti kerja keras membuat Mat Item dan Mak Ijah percaya kalau anaknya akan baik-baik saja ketika berumah tangga nanti.

Baik-baik saja karena Ikal tidak akan mengandalkan harta agar bisa bahagia. Tidak akan nafsu rebutan jabatan buat menarik perhatian orang lain. Tidak akan memasang poster di jalan raya atau pohon kalau suaminya nanti diminta jadi calon anggota legislatif. Dan yang lebih penting lagi adalah tidak akan memaksa anak-anaknya menikah dengan orang yang tidak dicintainya.

Sementara itu, di ujung sebuah jalan protokol yang memuntahkan polutan beracun, sesosok pemuda lainnya duduk termenung. Wajahnya menunjukkan keletihan yang membuat dia tampak lebih tua dari usianya yang baru menginjak angka 26 tahun.

“Ah, sudahlah,” kata dia setengah berbisik. Dari pada dipikirkan terus lebih baik aku pulang dan tidur. Sosok Rahma masih tertinggal dalam kenangan Remi. Berkali-kali Remi berlatih bagaimana rasanya kehilangan Rahma. Tapi latihan berbeda dengan mengalaminya. Dulu, dengan ringan Remi akan mengatakan kepada sahabatnya yang sedang putus cinta agar bersabar. Tenang dan tetap riang. Tapi situasinya amat berbeda ketika rasa itu dialami sendiri.

Di secarik kertas Remi menulis,


Terima kasih udah dikasih makan kalau maen ke Bandung. Bandung yang pasti bakal makin bikin kangen kalo ke sana lagi. Terima kasih udah dikenalin sama abah dan ambu. Dan terima kasih- terima kasih lainnya yang belum keingetan sekarang.

Oia, terima kasih juga buat Daendels. Berkat idenya aku bisa lancar kalau jalan ke Bandung walau sopir bus lebih memilih lewat tol Cipularang. Salam buat Si Item. Bilang gak usah mikirin soal persalinan, yang penting jangan lupa nyusuin bayi-bayinya.  

Soal buku dan hal-hal lainnya. Sepenuhnya milik kamu. Terserah mau kamu simpen ato sumbangin. Terus soal si Mama, itu juga terserah kamu. Dia orangnya melankolis. Gampang terkesan. Kaya kebanyakan ibu-ibu, intuisinya lumayan tajam tapi masih gaptek kalau ambil uang dari ATM. Gak nyambung kan.

Yaudah, segitu aja deh
Wassalamualaikum

Pagi

Minggu pagi. Kegelisahan mengusik waktu istirahatku. Perlahan mentari menyala dan mengusir setan-setan yang pulang kesiangan. Kupaksa melangkahkan kaki ke arah kamar mandi. Tanpa interupsi, gemericik suara air seni memecah keheningan pagi. Ah, nikmatnya.

Segelas kopi panas biasanya ampuh meredam rasa gelisah yang akhir-akhir rutin datang di pagi hari. Rasa pahit di lidah sanggup menarik sisa-sisa ruh yang tertinggal di kasur. Tak ada lagu di hari Minggu. Ini hari di mana aku enggan mendengar rintihan dari radio atau kotak musik. Di sisi lain, aku tak mau memotong mimpi-mimpi yang sedang berjalan dari kamar sebelahku.

Hanya di hari Minggu alarm tidak berbunyi. Tapi kali aku terpaksa melanggarnya. Di saat seperti ini biasanya aku memikirkan masa-masa sekolah. Tak peduli hari libur, bapak selalu menyetel alarm. Suaranya serupa sirine kebakaran. Tegas, tak peduli, dan penuh ancaman. Alarm yang selalu membuat aku tepat waktu datang ke sekolah.

Kali ini beda. Aku tinggal sendiri di sebuah sarang berukuran 2×2 meter. Alarm ku pun berubah bentuk menjadi rentetan penugasan kantor. Kadang aku lebih merindukan bunyi alarm dari bapak. Meski mengintimidasi tapi tak pernah berlangsung lama. Aku mudah melupakannya.

Aku memilih berbaring lagi di atas kasur. Mencoba mengingat kembali peristiwa yang terjadi semalam. Ternyata dia tidak suka dengan Fyodor Dostoyevsky. Sambil berbisik dia berucap, “Kamu terlalu muram.”

Ingin

Dulu, waktu kali pertama bisa membaca, aku ingin menjadi pekerja kantoran. Mengenakan kameja lengan panjang dan celana satin hitam sungguh berwibawa. Aroma parfum bermerek jadi jejak yang ku tinggalkan.

Mimpi bekerja kantoran pudar begitu aku mencicipi sekolah menengah. Kala itu di layar televisi aku melihat sekelompok mahasiswa berteriak-teriak di hadapan sekompi aparat. Tak gentar nyali mereka berhadapan dengan tentara yang menggendong senjata api. Gagah rasanya menjadi seorang aktivis pejuang.

Ujian sekolah menengah atas, pekerjaan rumah, dan bisikan bapak mengikis cita-cita ku yang ingin menjadi seorang aktivis. Bapak bilang aku lebih cocok menjadi juru masak. Aku masih ingat sebelum bapak membuaiku dengan tingginya gaji seorang koki di hotel, selembar kertas hasil pencarian bakat menuliskan takdirku menjadi tukang kayu.

Rupanya Tuhan punya rencana lain. Jika boleh sekali lagi aku meminta. Cita-citaku satu saja. Mati dipelukanmu.
Palmerah, 31 Juli 2016.

Hal-Hal Yang Terlewat Selama Ramadan

Banyak hal yang ingin ditulis sepanjang Ramadan kemarin. Mulai dari persiapan Ramadan yang enggak matang, ulang tahun Ibu Rifna (Bu kost tercinta), Piala Eropa yang sedikit mengejutkan lewat penampilan Islandia, sampai kerja di hari raya Idul Fitri.

Menunda menulis rasanya sudah seperti menunda pekerjaan. Setiap hari saya menulis, setidaknya 5.000-6.000 karakter. Rasanya lelah bila harus kembali menulis dan mengisi blog. Walhasil, belakangan ini tidak ada tuntutan apapun untuk mengisi halaman blog. Saya mesti bersyukur masih diberi hasrat membaca. Walau gak setiap hari setidaknya masih punya gairah.

Biasanya ketika rasa malas menghampiri, yang justru sering sekali datang begitu sampai di kosan, saya iseng membaca blog orang lain. Sekedar memancing ide menulis.

Bicara soal Ramadan, tahun ini terasa lebih kering. Sekering nastar dan kastangel. Di awal penuh ketegangan, di tengah ramai dengan kesibukan, di akhir lelah oleh pekerjaan. Sia-sia saja bila harus meratapi. Di awal Syawal, saya memilih berharap semoga tahun depan masih bisa bertemu dengan Ramadan.

Tahun ini tidak ada acara mudik dan kumpul sekeluarga. Saya dibebani pekerjaan mesti meliput keluar kota di hari raya. Dua kakak saya memutuskan Lebaran di rumah masing-masing karena alasan tertentu. Namun dibalik beban kerjaan, saya bersyukur bisa mengalami Lebaran di Padang, Sumatera Barat.

Bagi saya itu pengalaman berharga. Berlebaran di kota orang. Di saat jutaan orang kumpul bersama keluarga dan bercengkerama, saya berada jauh ratusan kilometer dari rumah.

Padang kota yang unik. Selain menerapkan Peraturan Daerah Syariah, malam Takbiran di sana agak berbeda dengan kota-kota di Pulau Jawa. Di rumah saya, begitu selesai Solat Magrib, musola dan masjid langsung ramai dan riuh oleh suara takbir. Suara bedug dan botol kaca menerabas setiap gang-gang. Meski ramai dan gaduh tapi saya tidak merasa terganggu.

Di Padang, saya perlu waktu untuk mencari tahu gema takbir di sekitar hotel tempat menginap. Ada yang asing ketika toa masjid tak mengeluarkan suara takbir. Ada sepi yang mencekam.

Dari pengamatan saya, sepertinya tidak menjadi kebiasaan bagi masjid-masjid di Padang merayakan pembukaan bulan Syawal dengan gema takbir. Atau mungkin saya yang keliru.

Buat seorang yang introvert, saya tidak terlalu ambil pusing dengan rutinitas tahunan ketika memasuki Lebaran. Mudik, membeli baju baru; menyantap ketupat, opor ayam atau daging; mengucapkan maaf-maafan; bukan sesuatu yang mesti ada kala Idul Fitri datang. Kecuali tunjangan hari raya tentunya, hehehe….

Pada ceramah Solat Jumat terakhir di Ramadan kemarin, sang khotib mengkritisi kebiasaan yang dianggap sudah berlebihan ketika Lebaran datang. Ia menyoroti mudik. Prinsipnya sih khotib mengingatkan agar jamaah tidak berlebihan. Ia mengatakan Nabi Muhammad tidak pulang kampung usai Ramadan tuntas. Lantas buat apa kita ramai-ramai mudik alis pulang kampung.

Saya menilai di balik alasan silaturahim, budaya mudik sudah enggak relevan buat dijalani lagi. Masih ada waktu atau momen lain bila silaturahim atau kumpul keluarga dijadikan alasan utama buat mudik. Tapi yah itu sih terserah. Tidak ada paksaan dalam mudik Lebaran.

Di luar soal mudik, ada tradisi yang mesti dijaga terus menerus, yaitu saling memaafkan. Jadi, mohon maaf lahir batin. Semoga Allah ridho mempertemukan kita dengan Ramadan berikutnya.

Pikiran

Tantangan terberat bukan apa yang ada di depan kita, tapi yang ada dalam pikiran (Aristoteles)
Ada yang beranggapan pikiran mempunyai kekuatan yang lebih besar dari pada tindakan. Ungkapan itu bukan berarti sikap atau tingkah laku kalah bermakna dibanding akal. Dalam keadaan normal biasanya orang akan memilih berpikir dulu sebelum bertindak. Dari akal lahirlah pergerakan.

Saya membayangkan kekuatan pikiran ada pada sosok Professor Xavier dalam film X-Men. Meski tak punya kekuatan sehebat Wolverin yang bisa memulihkan diri dari berbagai luka fisik atau sekuat Magneto yang sanggup mengangkat jembatan, tapi Prof Xavier merupakan pemimpin bagi para mutan. Duduk di atas kursi roda, dia bisa menyatukan manusia mutan sekaligus membangun sekolah.

Itu baru satu kelebihannya, dalam hal ini adalah pikiran. Kelebihan utamanya ialah ia bisa mengetahui semua yang dirasa manusia di bumi lewat pikiran. Prof Xavier juga bisa mengendalikan lawan, situasi bahkan waktu dalam kondisi tertentu. Lebih jauh, ia bisa membaca masa depan.

Memang sih itu cuma film. Namun dalam kehidupan nyata kita pun mengerti kalau akal merupakan pembeda antara manusia dengan binatang. Akal yang disebut-sebut sebagai terminal pikiran manusia punya kedudukan lebih tinggi dibanding fungsi organ lainnya. Tanpa tangan, manusia masih bisa hidup normal. Tapi tanpa akal, kita menyebutnya gila.

think economist com

economist.com

Ungkapan Aristoteles di atas mengandung pesan yang jelas, buat saya sih khususnya. Kondisi psikologis, mental, kejernihan pikiran merupakan panglima dalam situasi tertentu. Filusuf Yunani itu seolah menyatakan kalau realitas yang kita hadapi bukan masalah besar bila kita bisa mengendalikan pikiran dengan baik.

Dalam banyak kasus bisa kita temui orang-orang yang salah bertindak biasanya sudah salah sejak dalam pikiran. Sehingga bukan solusi yang didapat malah justru masalah baru yang didapat. Tak sedikit pula masalah bisa selesai cukup dengan mengubah cara berpikir kita. Hal ini berbeda dengan konsep pasrah. Mengubah perspektif, cara pandang atau berpikir, ternyata bisa juga mengubah tantangan yang ada di depan mata.

Palmerah, 26 Mei 2016

 

Aroma

Rindu yang kurasakan kali ini benar-benar mencekam. Dia berhasil merampok semuanya. Semuanya. Luka-luka masa lalu. Kemurungan yang tersimpan bertahun-tahun. Kesalahan yang tak termaafkan. Aib yang memalukan. Caci maki yang sebelumnya hanya terekam dan sembunyi di tembok kamar. Keterasingan yang sudah menjadi keseharian. Semuanya raib tak bersisa.
Aku mengatakannya dengan ringan seolah semua orang di dunia mengalami pengalaman serupa. Entah setan dari kuburan mana yang mendorong lidah ku berceloteh tak henti bagai burung beo. Sementara dia, hanya mengangguk ringan. Berupaya tertarik dengan ceritaku sambil sesekali menyecap segelas cokelat hangat.
Sejak saat itu, setelah percakapan yang memakan waktu lima jam lebih, aku hanya membawa pulang aroma tubuhnya. Setiap kali ada kesempatan bertemu lagi, aroma itulah yang pertama kali menyapa. Benar-benar transaksi yang tidak adil.

Antara Rio Haryanto dan Joey Alexander

Sebuah tulisan yang sempat tertunda karena menunggu kepastian Rio tampil di Formula 1.

Saya ini tak ahli betul mengulas dunia balap mobil selevel Formula 1 meski sempat mampir jadi reporter olahraga. Tapi sosok Rio tidak terlalu asing bagi saya. Ukuran tidak asing terletak pada apakah saya pernah mewawancarai atau mengulas tentangnya atau tidak. Secara kebetulan saya pernah sekali bertemu Rio langsung dan mewawancarai dalam acara buka bersama sekitar dua tahun lalu. Saat itu Rio masih tampil di GP2 Series, satu kasta di bawah F1.

Di usia yang masih muda, 23 tahun, kehadiran Rio di pentas F1 amat mengejutkan. Bukan berarti F1 itu milik pembalap tua loh. Tapi maksud saya adalah begitu cepatnya Rio naik kelas ke level paling tinggi. Dari sisi skill saya kira Rio tidak kalah meski sempat beberapa kali menabrak pembatas jalan kala menjalani latihan kemarin. Mungkin grogi atau saking antusias kali.

Terlepas dari segala pro-kontra soal dukungan dana (sponsorship) sebagai salah satu syarat paling penting menembus jajaran tim elit F1, kehadiran Rio pantas dibanggakan. Pasalnya, belum tentu dalam beberapa dekade ke depan akan ada pembalap Indonesia yang bisa menyamai prestasi Rio.

Sudah lupakan soal prestasi tim Manor Racing di ajang F1. Musim lalu saja tidak ada satu poin pun yang dikoleksi tim asal Inggris itu. Namun yang menjadi catatan penting adalah kehadiran pembalap asal Indonesia yang berada di belakang kendali mobil F1. Setidaknya di layar teve nanti ada wajah Rio terpampang lengkap dengan bendera merah-putih, berderet bersama juara dunia Lewis Hamilton.

Berbeda dengan Rio yang mesti merogoh kocek dan banting tulang mencari dana demi mendapatkan satu kursi di F1, Joey Alexander sebaliknya. Bukan berarti bebas dari kerja keras dan latihan, tapi masuknya Joey dalam nominasi Grammy setara menggemparkannya dengan keberhasilan Rio menembus F1.

Tak tanggung-tanggung, Joey yang baru menginjak usia 12 tahun masuk dalam dua nominasi di kategori Instrumental Jazz Album dan Best Improvised Solo. Di antara deretan nominator, Joey tercatat yang paling muda. Rasa penasaran pun mengejar-ngejar saya.

ebsqart com

gambar: ebsqart.com

Minim pengetahuan soal sosok Joey, saya lantas mengunjungi Youtube. Ternyata ada banyak video penampilan dan wawancara Joey. Namun ketika melihat penampilannya saya hanya bisa terdiam. Diam karena tak memahami secuil pun soal jazz. Saya yang setiap hari dibombardir lagu Justin Bieber, hanya menatap kosong permainan Joey dan sesekali tersenyum ketika memasuki sesi wawancara.

Banyak kalangan yang menyebut Joey sebagai anak ajaib (prodigy). Yah, berapa persen sih di dunia ini musisi berusia 12 tahun yang bisa masuk nominasi Grammy, di kategori jazz pula. Menyaksikan begitu banyak orang terpukau dan melemparkan tepuk tangan usai Joey memijit-mijit tuts piano, bagi saya cukup menjelaskan arti kata prodigy.

Prestasi Rio dan Joey, meski tidak membawa pulang piala Grammy, merupakan bukti pengakuan orang-orang luar terhadap atlet atau musisi Indonesia. Di sisi lain, mereka seolah penghibur sekaligus motivator bagi saya yang setiap hari nyaris murung melihat isu-isu ekonomi dan pertengkaran seputar LGBT di media sosial dan grup whatsapp.

Review the Big Short: Runtuhnya Pasar Amerika

Truth is like poetry. And most people fucking hate poetry, a maxim overheard at a Washington, D.C., bar.

Dari ruang basement suara drum menghentak-hentak. Dengan raut wajah yang tegang, Michael Burry seolah ingin melepas semua beban pekerjaannya dengan cara memukul-mukul drum. Permainannya terhenti seketika oleh suara teriakan sang istri. Mendengarkan lagu band cadas Pantera sambil memukul drum rupanya tidak cukup sukses meredam kecemasan Burry yang reputasinya sebagai fund manager sedang dipertaruhkan.

Itulah sepenggal scene dari film the Big Short. Film yang disutradarai Adam McKay ini berkisah tentang runtuhnya ekonomi Amerika Serikat pada 2008. Michael Burry merupakan satu-satunya fund manajer yang menyadari kalau industri properti Amerika sedang mengalami bubble dan diprediksi bakal runtuh tidak lama lagi. Hanya dengan menganalisis data, sambil mendengarkan musik rock, ia membaca arah pergerakan pasar. Simpulannya, ekonomi Amerika sedang menuju jurang neraka.

Dengan sederet aktor keren macam Christian Bale (perankan Michael Burry), Ryan Gosling (Jared Vennett), Brad Pitt (Ben Rickert), dan Steve Carell (Mark Baum) punya modal besar untuk menarik penonton datang ke bioskop. Tapi saya ragu penonton bakal paham alur ceritanya. The Big Short sedikit mirip dengan the Wolf of Wall Street yang dimainkan Leonardo DiCaprio. Namun dari cerita Big Short punya materi yang lumayan berat untuk dicerna.

TheBigShort coomingsoon net

The Big Short (sumber coming soon.net)

Kisah berawal ketika Burry memprediksi industri properti Amerika bakal mengalami bubble (gelembung) dalam waktu dekat. Prediksi Burry sulit diterima oleh banyak kalangan. Namun ia bergeming. Sebagai seorang fund manager ia malah menaruh dana investasi para investor ke dalam instrumen Credit Default Swap (CDS) untuk melawan sektor perumahaan yang saat itu sedang digdaya dan mustahil mengalami keruntuhan.

Langkah Burry rupanya diketahui oleh Jared Vennet seorang bankir. Sudah sejak lama Jared mencium gelagat kecurangan orang-orang bank dalam menjual obligasi di sektor perumahaan. Enggan berjalan sendirian ia mengajak Mark Baum yang begitu benci dan muak dengan cara kerja sistem keuangan di Amerika. Berbeda dengan Burry, Mark mencari tahu dengan cara mendatangi satu persatu nasabah yang seret membayar kredit rumah (Subprime Mortgage).

Adam McKay cukup bijak dengan menampilkan sosok bintang tamu dalam filmnya. Perannya sederhana saja. Mereka menjelaskan istilah dan persoalan yang sedang terjadi di pasar keuangan Amerika dengan sebuah analogi sederhana. Lumayan menambah pengetahuan dan membantu menahan penonton agar tidak keluar dari studio. Di atas permukaan sebenarnya tidak ada yang baru dari film ini lantaran berangkat dari kisah nyata. Bagaimana proses ambruknya ekonomi Amerika pada 2008 diceritakan dengan lugas dan gaya yang unik dari masing-masing aktor.

Akibatnya, tidak ada aktor yang mendominasi dalam film ini. Semua pemain seperti pemain utama. Dibanding Christian Bale, yang masuk menjadi nomine aktor utama pria di ajang Oscar, peran Steve Carell malah tampak lebih dominan dan cukup menguras emosi.

Lupakan aktor yang bermain. Bagi Anda yang ingin tahu apa yang terjadi pada ekonomi Amerika pada 2008, the Big Short layak dijadikan referensi dan pembelajaran.

Tentang Dunia Yang Paradoks

Ada harga yang harus dibayar mahal dibalik ambisi mengejar target pertumbuhan ekonomi. Harus cermat mengambil kebijakan.

TENTU belum lepas dari ingatan kita tentang peristiwa kematian Salim Kancil. Seorang warga yang dengan berani menolak kehadiran tambang pasir ilegal di Desa Selok Awar-awar, Lumajang, Jawa Timur. Tidak banyak orang seperti Salim di negeri ini yang berani mempertaruhkan nyawa demi melawan ketidakadilan.

Tidak hanya Salim, warga yang berada di kawasan tebing karst Rembang dan Pati, Jawa Tengah pun tampak istiqomah melawan aksi korporasi perusahaan semen. Mereka menolak kehadiran pabrik semen lantaran berpotensi merusak sumber mata air. Di balik tebing-tebing karst yang merupakan bahan baku membuat semen tersembunyi cadangan air yang berlimpah.

Pekan ini, warga Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggualangin, Sidoarjo, Jawa Timur sedang gelisah dengan aksi PT Lapindo Brantas Inc. Perusahaan minyak dan gas itu berencana mengembangkan eksplorasi sumur gasnya. Jaraknya tak jauh dari semburan lumpur panas Lapindo. Enggan mengalami nasib serupa dengan desa sebelah, warga pun ramai-ramai menolak. Sejumlah pihak meradang dan mempertanyakan izin eksplorasi Lapindo.

Lantas apa yang paradoks dari ketiga peristiwa itu? Sebenarnya tak sulit-sulit amat sekedar menjawab. Apalagi selain soal pembangunan. Sialnya, saya justru berada di sisi arus perputaran peristiwa itu dan nyata-nyata punya peran yang cukup strategis. And it depress me.

Saya terkejut ketika seorang direktur perusahaan konstruksi menyebut kalau pasir yang berasal dari dusun Salim ternyata mengalir ke proyeknya. Dia bilang turut berduka cita atas tragedi kematian Salim. Untuk sementara kegiatan penggalian dan suplai pasir pun dihentikan. Belum jelas bagaimana kelanjutan proyek jalan tol yang tengah dikerjakan perusahaan pelat merah itu.

Selang beberapa pekan, bergeser ke Semarang, pengadilan menolak gugatan warga Rembang tentang pendirian pabrik semen yang dimotori Semen Indonesia. Nasib berbeda dialami warga Pati. Pengadilan malah mengabulkan permohonan warga yang menolak kehadiran pabrik semen yang bakal didirikan Indocement.

Di sektor infrastruktur, semen merupakan indikator pertama mengukur jalan atau tidaknya pembangunan. Tinggi-rendahnya konsumsi semen akan jadi tolak ukur apakah proyek seperti jalan, jembatan, waduk atau perumahan lancar atau tidak. Indonesia yang belum merata infrastrukturnya terbilang tertinggal jauh dengan negara lain dalam hal pembangunan jalan.

Berbeda dengan warga di Sidoarjo. Mereka sudah merasakan dan tahu betul betapa pahitnya kehilangan tempat tinggal dan tercerabutnya akar kehidupan setelah lumpur menenggelamkan tiga desa. Nada protes tidak hanya datang dari warga, tapi juga kalangan lain. Kementerian ESDM dan Lingkungan Hidup pun tengah mengkaji ulang aspek perizinan serta dampak lingkungannya.

musola lapindo grafis sosial wordpress

Hanya kubah musola yang sanggup bertahan di tengah semburan lumpur Lapindo. (Sumber: grafis sosial wordpress)

Kebutuhan manusia akan energi tidak bisa dihindari. Jelas kita tidak bisa kembali ke cara lama di mana jika ingin memasak meski menebang kayu-kayu di hutan. Beginilah resiko kehidupan modern. Minyak bumi, gas, dan batu bara sejauh ini jadi tumpuan utama penggunaan energi untuk menopang aktivitas orang Indonesia.

Ketiga unsur itu ada di Indonesia. Kita belum terlatih betul menerapkan alternatif energi lainnya, seperti matahari, angin, bahkan nuklir sekalipun. Kebijakan bauran energi belum mapan.

Nama Lapindo sudah terlanjut identik dengan semburan lumpur. Kalau operator berganti, saya tak yakin aksi korporasi bakal berjalan mulus. Namun kita harus apresiasi semakin tingginya kesadaran masyarakat akan lingkungan. Upaya pemerintah yang ingin mengejar pertumbuhan ekonomi tidak bisa serta merta ditunda. Tapi kesadaran melestarikan lingkungan pun mesti terus dibangun.

Kita perlu belajar banyak dari negara maju, di Eropa khususnya. Jerman sudah bergerak meninggalkan pembangkit listrik tenaga nuklir. Meski tergolong energi yang efisien tapi nuklir tak sebanding dengan resikonya. Jerman kini tengah mengembangkan pembangkit listrik tenaga angin. Sesuatu yang tidak sulit ditemukan di Indonesia mengingat ada jutaan kilometer garis pantai di negeri ini.

mesinunila org

Jerman sudah mengembangkan energi angin untuk memenuhi kebutuhan listriknya. Terdepan dalam pengembangan teknologi (sumber: mesinunila.org)

Rasa-rasanya langkah itu bisa menjadi pilihan bagi kita. Dibalik kontroversinya kebijakan Dana Ketahanan Energi, saya rasa kita perlu mendukung terus upaya pemerintah yang sedang menyiapkan energi terbarukan. Bisa jadi upaya itu merupakan jalan tengah agar tidak ada lagi kasus Salim Kancil, atau tenggelamnya desa di Sidoarjo. Sambil tentunya kita sama-sama menekan hasrat duniawi.