Bunuh Diri dan Idola

 

led zeppelin stairway                                                (Led Zeppelin, Stairway to Heaven)

 

Sebuah ketidakmampuan untuk mengekspresikan emosi membuat manusia menjadi satu-satunya binatang yang bisa bunuh diri. (Alain de Botton)

20 Juli

Cahaya mentari mulai melemah di kawasan Medan Merdeka Barat, Jakarta. Setan-setan kecil pun bersiap mengadu nasib. Mencari teman yang bisa diajak melewati malam sunyi. Awan mendung nampak gelisah dan ragu apakah akan menumpahkan hujan atau menunggu hingga benar-benar matang.

Di depan layar komputer aku memilih menikmati lagu dari Led Zeppelin, band beraliran rock asal Inggris. Belakangan ini aku sedang keranjingan mendengarkan Led Zeppelin dari kanal YouTube. Di sadari atau tidak selera musik ku lebih condong ke era-era lampau. Masa 1960-1990-an merupakan musim semi terindah bagi penikmat musik rock.

Di tengah mendengarkan Black Dog, ku buka halaman baru di mesin pencari Google. Aku penasaran mencari tahu penyebab band sehebat Led Zeppelin bubar. Ternyata karena seorang John Bonham. Bonham merupakan drummer Led Zeppelin. Personil lainnya, Jimmy Page (gitaris), Robert Plant (vocal), John Paul Jones (bass, keyboard) sepakat mengubur Led Zeppelin bersama Bonham di tahun 1980.

Dari beragam pemberitaan, Bonham meninggal karena tersedak minuman keras saat tertidur di atas sofa. Sebelum menutup usia, sosok yang akrab disapa Bonzo itu seharian penuh menyibukkan diri dengan menenggak berliter-liter vodka. Ia tewas di usai 32 tahun pada akhir September 1980 di Windsor Berkshire, kediaman Page. Sulit untuk berspekulasi bila tindakan yang dilakukan Bonham adalah upaya untuk mencabut nyawanya sendiri.

Namun langkah membubarkan sebuah band usai ditinggal salah satu personilnya tidak hanya dilakukan oleh Led Zeppelin. Sekedar menyebut nama ada The Doors dan Nirvana yang memilih berhenti berkarya daripada mencari pengganti anggota band yang meninggal. Sementara ada banyak band yang justru berusaha menyesuaikan diri bertahan kendati salah satu anggotanya pergi.

Kematian yang tak wajar, seperti dalam bentuk bunuh diri, seolah lumrah terjadi dalam dunia hiburan. Upaya mencabut nyawa sendiri merupakan simbol sekaligus pesan kepada khalayak ihwal situasi subjek yang disebut De Botton ketidakmampuan mengekspresikan diri. Kita tidak tahu dengan pasti apa yang ingin disampaikan oleh mereka yang memilih menghabisi nyawanya sendiri.

Para penggemar hanya bisa menerka-nerka mulai dari depresi, kesepian, bosan dengan ketenaran atau masalah yang tak kunjung tuntas. Apapun itu asal bisa menjawab sifat dasar manusia, yaitu rasa ingin tahu, tak peduli apakah itu rasional atau tidak.

21 Juli

Vokalis band Linkin Park, Chester Bennington meninggal dunia. Media memberitakan kematian Bennington akibat bunuh diri. Ia pun resmi masuk daftar artis-artis yang meninggal karena bunuh diri. Bahkan hari di mana ia meregang nyawa bertepatan dengan hari lahir Chris Cornell, sahabatnya yang merupakan vokalis Soundgarden dan Audioslave.

Sehari penuh topik pembicaraan di sekeliling ku seputar Linkin Park dan Bennington. Lagu-lagu populer band asal California itu diputar di radio, Youtube. Beritanya berhamburan di media online. Tak lupa, artikel-artikel seputar bunuh diri naik lagi ke permukaan. Untuk sesaat aku berpikir orang-orang sedang melihat dirinya sendiri. Apa dunia begitu sempit ?

We came from the land of the ice and snow. From the midnight sun where the hot springs flow. Hammer of the gods will drive our ships to new land. To fight the hordes and sing,and cry. Valhalla, I am coming
(Immigrant Song, Led Zeppelin)

 

 

 

Spider-Man: Homecoming dan Rasa Yang Pernah Ada

IMG_20170713_083120

“Peter Parker. Brilliant but lazy,” Doctor Octavius

Lima belas tahun, enam film, tiga pemeran, dan tiga sutradara. Rasanya belum ada film superhero yang datang dan pergi secepat Spider-Man. Di luar apapun itu, dari mulai siapa aktor yang paling pas memainkan Peter Parker sampai bagaimana peran dia nanti di The Avengers berikutnya, kehadiran Spider-Man:Homecoming layak diapresiasi.

Harapan para penggemar yang ingin melihat jagoan dari Queens, New York, itu bertemu dengan tokoh Marvel lainnya setidaknya terpenuhi. Ya, namanya juga reuni masa enggak ketemuan sama teman lama.

Lucu memang, saking penasaran sama Spider-Man versi Jon Watts, saya sampai dua kali datang ke bioskop. Baru kali ini seumur hidup nonton film dua kali di bioskop. Kesan pertama yang didapat: Segar. Pedro, eh Peter (Tom Holland) bisa berdiri sendiri dari sosok Parker (Tobey Maguire) yang sukses bikin saya berkaca-kaca di sekuel kedua Spider-Man versi Sam Raimi.

Saya bukan penggemar berat tokoh-tokoh superhero Amerika Serikat, baik dari kutub Marvel atau pun DC. Masa kecil saya enggak diwarnai oleh komik-komik Spider-Man, Batman, atau Superman. Tapi siapa sih yang tidak kenal mereka. Sejak kehadiran trilogi Spider-Man, ironisnya justru Sony yang memulai, saya jadi penonton setia film-film superhero Marvel dan DC. Bisa dibilang secara historis saya tidak punya bekal cukup untuk membandingkan penampilan para superhero itu antara versi layar lebar dengan komik.

Seperti kebiasaan menonton film superhero, selain soal alur cerita, saya kerap tertarik dengan skenario (naskah) yang dibangun antartokoh dan tokoh antagonis.

Dari sisi naskah, sepertinya ada rasa kurang percaya diri di film ini. Lihat saja ada lima orang penulis naskah yang terlibat. Sulit melihat warna asli dari Spider-Man kali ini. Tak aneh kalau saya tidak menemukan kata-kata yang berkesan. Sulit bagi penonton untuk mencari kutipan mana yang menarik buat dipajang di timeline media sosial. Mungkin ini resiko dari film yang sengaja dibuat agar ada keterkaitan dengan film lainnya.

Berikutnya soal tokoh penjahat. Kehadiran Michael Keaton sebagai Adrian Toomes alias The Vulture amat baik karena tidak terlihat komikal. Sebagai aktor senior, Keaton begitu detail dan pas dalam pembawaannya. Dalam hati ia tidak punya niat jahat, tapi situasi yang memaksanya. Di situ Keaton begitu apik meraciknya.

Lantas bagaimana dengan aksinya? Well, ini yang saya sebut segar. Adegan perkelahian, kejar-kejaran dengan ditambah kelucuan di sana sini sudah menjadi ciri khas Spider-Man yang sulit dilepas. Di sini, saya masih bisa menemukan gen utama Peter sebagai superhero yang manusiawi. Masih takut ketinggian. Lugu dan bersahabat. Kikuk di depan perempuan. Namun ketika memasuki adegan puncak, kok saya merasa itu mirip dengan adegan Spider-Man melawan Doctor Octavius. Ya, beginilah resiko menggarap film yang sama dengan jeda waktu yang tidak terlalu jauh. Upss..

Terakhir, Jon Watts disadari atau tidak nampaknya tak mau melepaskan image Peter Parker yang selalu ketinggalan pelajaran karena lebih sibuk mengejar penjahat dibanding menuntaskan tugas sekolah. Saya pun jadi ingat kembali ucapan yang dilontarkan Doctor Octavius kepada Peter saat kedoknya terbongkar di Film Spider-Man 2. Ia mengatakan, “Peter Parker. Brilliant but lazy.”

Palmerah, 17 Juli 2017

Di Bawah Bayang-Bayang Gie dan Wahib

 

rumi

sunniphilosophy

Bagi saya tidak ada sesuatu yang baru dari tulisan Afi Nihaya Faradisa yang berjudul Warisan. Di mata saya, untuk remaja yang tengah beranjak menuju dewasa, Afi adalah seorang peracik kata-kata yang mengesankan. Gaya menulisnya segar dan tegas. Jujur serta berani.

Afi belakangan ini semakin menjadi sorotan. Bagi orang-orang yang sulit menerima kekalahan jagoannya di Pilkada tulisan Afi ini serasa jadi obat penawar. Ya, mungkin karena baru kali pertama terlibat di hiruk pikuk politik tanpa dibekali bahan bacaan yang cukup, mereka merasa dengan menyebarkan tulisan Afi bisa mengaku sebagai bagian dari barisan pengusung toleransi dan kebinekaan.

Padahal si empunya tulisan sendiri dengan tegas menyatakan kalau tulisannya tak ada kaitan dengan Pilkada atau peristiwa politik mana pun.

Saya sendiri tak punya motif apa apa dengan mengomentari atau membawa-bawa nama Afi di tulisan ini. Di sisi lain, saya bukan elit dan enggan berdebat atau ikut-ikutan klaim apapun seputaran Pilkada. Saya cuma miris melihat mereka yang gagal move on ketika melihat jagoannya keok. Sudah hadapi saja kekalahan itu. Namanya juga hidup.

Kembali ke Afi. Ketika saya membaca tulisan lain milik Afi, ingatan saya melompat ke sosok Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib. Saya tidak terlalu yakin nama Ahmad Wahid dikenal banyak kalangan sebaik sosok Gie.

Sebagai ilustrasi, saya menilai Gie merupakan seorang yang humanis dari buku catatan hariannya yang berjudul, Catatan Seorang Demonstran. Buku terbitan LP3ES itu saya temukan tak sengaja di Palasari, Bandung, tempat jualan buku sekitar satu dekade lalu.

Sedangkan Wahib, saya punya kesan kalau beliau ini anak muda yang gelisah. Di klaim sebagai seorang aktivis, saya hingga kini belum kesampaian membaca tulisan Wahib. Sekilas namanya disebut dalam kata pengantar di buku Catatan Seorang Demonstran, Gie.

Sebagai ilustrasi, jika Gie seorang yang sedang berjalan di bahu kiri jalan maka Wahib ada di seberangnya, ruas sebelah kanan. Tulisan-tulisan Wahib kental dengan keislaman. Saya agak terkejut ketika nama Ahmad Wahib tertulis di pintu masuk musolah kantor saya.

Karena penasaran saya pun mencari tahu tulisan Wahib. Tak banyak yang saya temukan. Tapi aroma yang tercium sosok dia agak mirip dengan Gie.

Baik Gie dan Wahib, dalam kaca mata saya, keduanya merupakan pemberontak. Sama-sama punya mental melawan. Keduanya punya gagasan segar tentang bagaimana mengusik mereka yang berpikiran mapan karena sudah terbiasa menjalani rutinitas dan melihat dunia dari kaca mata yang sama. Mereka gemar medefinisi ulang pemahaman yang sudah mapan berpuluh-puluh tahun.

Dan ada dua kesamaan yang nyata dari Gie dan Wahib. Pertama mereka dengan tekun menuliskan kegelisahannya. Sesuatu yang menurut saya tidak lumrah dilakukan oleh aktivis di masa mereka. Kedua, umur mereka tidak panjang. Hanya itu yang saya tahu dari Gie dan Wahib.

Malam kemarin, Ahad, 28 Mei 2017, tak sengaja saya melihat tayangan singkat tentang Afi. Saat lensa kamera menyorot sebuah rak buku ada dua buku yang saya kenali.

Pertama buku Virus Akal Budi karya Richard Brodie yang keluar 2005. Dari Brodie saya mengenal istilah meme kali pertama. Dari Brodie juga saya diajak berpikir skeptis. Dan kini, meme (dibaca mim) begitu populer di media sosial sebagai sarana mengirim pesan.

Buku kedua, berjudul Fihi ma Fihi. Salah satu karya pemikir Jalaluddin Rumi – Saya lebih suka menyebut Rumi sebagai pemikir dibanding seorang sufi- Sampai sekarang saya masih ingat alasan membaca buku itu. Saya muak dengan kemunafikan.

Palmerah

 

Pagi

Minggu pagi. Kegelisahan mengusik waktu istirahatku. Perlahan mentari menyala dan mengusir setan-setan yang pulang kesiangan. Kupaksa melangkahkan kaki ke arah kamar mandi. Tanpa interupsi, gemericik suara air seni memecah keheningan pagi. Ah, nikmatnya.

Segelas kopi panas biasanya ampuh meredam rasa gelisah yang akhir-akhir rutin datang di pagi hari. Rasa pahit di lidah sanggup menarik sisa-sisa ruh yang tertinggal di kasur. Tak ada lagu di hari Minggu. Ini hari di mana aku enggan mendengar rintihan dari radio atau kotak musik. Di sisi lain, aku tak mau memotong mimpi-mimpi yang sedang berjalan dari kamar sebelahku.

Hanya di hari Minggu alarm tidak berbunyi. Tapi kali aku terpaksa melanggarnya. Di saat seperti ini biasanya aku memikirkan masa-masa sekolah. Tak peduli hari libur, bapak selalu menyetel alarm. Suaranya serupa sirine kebakaran. Tegas, tak peduli, dan penuh ancaman. Alarm yang selalu membuat aku tepat waktu datang ke sekolah.

Kali ini beda. Aku tinggal sendiri di sebuah sarang berukuran 2×2 meter. Alarm ku pun berubah bentuk menjadi rentetan penugasan kantor. Kadang aku lebih merindukan bunyi alarm dari bapak. Meski mengintimidasi tapi tak pernah berlangsung lama. Aku mudah melupakannya.

Aku memilih berbaring lagi di atas kasur. Mencoba mengingat kembali peristiwa yang terjadi semalam. Ternyata dia tidak suka dengan Fyodor Dostoyevsky. Sambil berbisik dia berucap, “Kamu terlalu muram.”

Ingin

Dulu, waktu kali pertama bisa membaca, aku ingin menjadi pekerja kantoran. Mengenakan kameja lengan panjang dan celana satin hitam sungguh berwibawa. Aroma parfum bermerek jadi jejak yang ku tinggalkan.

Mimpi bekerja kantoran pudar begitu aku mencicipi sekolah menengah. Kala itu di layar televisi aku melihat sekelompok mahasiswa berteriak-teriak di hadapan sekompi aparat. Tak gentar nyali mereka berhadapan dengan tentara yang menggendong senjata api. Gagah rasanya menjadi seorang aktivis pejuang.

Ujian sekolah menengah atas, pekerjaan rumah, dan bisikan bapak mengikis cita-cita ku yang ingin menjadi seorang aktivis. Bapak bilang aku lebih cocok menjadi juru masak. Aku masih ingat sebelum bapak membuaiku dengan tingginya gaji seorang koki di hotel, selembar kertas hasil pencarian bakat menuliskan takdirku menjadi tukang kayu.

Rupanya Tuhan punya rencana lain. Jika boleh sekali lagi aku meminta. Cita-citaku satu saja. Mati dipelukanmu.
Palmerah, 31 Juli 2016.

Hal-Hal Yang Terlewat Selama Ramadan

Banyak hal yang ingin ditulis sepanjang Ramadan kemarin. Mulai dari persiapan Ramadan yang enggak matang, ulang tahun Ibu Rifna (Bu kost tercinta), Piala Eropa yang sedikit mengejutkan lewat penampilan Islandia, sampai kerja di hari raya Idul Fitri.

Menunda menulis rasanya sudah seperti menunda pekerjaan. Setiap hari saya menulis, setidaknya 5.000-6.000 karakter. Rasanya lelah bila harus kembali menulis dan mengisi blog. Walhasil, belakangan ini tidak ada tuntutan apapun untuk mengisi halaman blog. Saya mesti bersyukur masih diberi hasrat membaca. Walau gak setiap hari setidaknya masih punya gairah.

Biasanya ketika rasa malas menghampiri, yang justru sering sekali datang begitu sampai di kosan, saya iseng membaca blog orang lain. Sekedar memancing ide menulis.

Bicara soal Ramadan, tahun ini terasa lebih kering. Sekering nastar dan kastangel. Di awal penuh ketegangan, di tengah ramai dengan kesibukan, di akhir lelah oleh pekerjaan. Sia-sia saja bila harus meratapi. Di awal Syawal, saya memilih berharap semoga tahun depan masih bisa bertemu dengan Ramadan.

Tahun ini tidak ada acara mudik dan kumpul sekeluarga. Saya dibebani pekerjaan mesti meliput keluar kota di hari raya. Dua kakak saya memutuskan Lebaran di rumah masing-masing karena alasan tertentu. Namun dibalik beban kerjaan, saya bersyukur bisa mengalami Lebaran di Padang, Sumatera Barat.

Bagi saya itu pengalaman berharga. Berlebaran di kota orang. Di saat jutaan orang kumpul bersama keluarga dan bercengkerama, saya berada jauh ratusan kilometer dari rumah.

Padang kota yang unik. Selain menerapkan Peraturan Daerah Syariah, malam Takbiran di sana agak berbeda dengan kota-kota di Pulau Jawa. Di rumah saya, begitu selesai Solat Magrib, musola dan masjid langsung ramai dan riuh oleh suara takbir. Suara bedug dan botol kaca menerabas setiap gang-gang. Meski ramai dan gaduh tapi saya tidak merasa terganggu.

Di Padang, saya perlu waktu untuk mencari tahu gema takbir di sekitar hotel tempat menginap. Ada yang asing ketika toa masjid tak mengeluarkan suara takbir. Ada sepi yang mencekam.

Dari pengamatan saya, sepertinya tidak menjadi kebiasaan bagi masjid-masjid di Padang merayakan pembukaan bulan Syawal dengan gema takbir. Atau mungkin saya yang keliru.

Buat seorang yang introvert, saya tidak terlalu ambil pusing dengan rutinitas tahunan ketika memasuki Lebaran. Mudik, membeli baju baru; menyantap ketupat, opor ayam atau daging; mengucapkan maaf-maafan; bukan sesuatu yang mesti ada kala Idul Fitri datang. Kecuali tunjangan hari raya tentunya, hehehe….

Pada ceramah Solat Jumat terakhir di Ramadan kemarin, sang khotib mengkritisi kebiasaan yang dianggap sudah berlebihan ketika Lebaran datang. Ia menyoroti mudik. Prinsipnya sih khotib mengingatkan agar jamaah tidak berlebihan. Ia mengatakan Nabi Muhammad tidak pulang kampung usai Ramadan tuntas. Lantas buat apa kita ramai-ramai mudik alis pulang kampung.

Saya menilai di balik alasan silaturahim, budaya mudik sudah enggak relevan buat dijalani lagi. Masih ada waktu atau momen lain bila silaturahim atau kumpul keluarga dijadikan alasan utama buat mudik. Tapi yah itu sih terserah. Tidak ada paksaan dalam mudik Lebaran.

Di luar soal mudik, ada tradisi yang mesti dijaga terus menerus, yaitu saling memaafkan. Jadi, mohon maaf lahir batin. Semoga Allah ridho mempertemukan kita dengan Ramadan berikutnya.

Pikiran

Tantangan terberat bukan apa yang ada di depan kita, tapi yang ada dalam pikiran (Aristoteles)
Ada yang beranggapan pikiran mempunyai kekuatan yang lebih besar dari pada tindakan. Ungkapan itu bukan berarti sikap atau tingkah laku kalah bermakna dibanding akal. Dalam keadaan normal biasanya orang akan memilih berpikir dulu sebelum bertindak. Dari akal lahirlah pergerakan.

Saya membayangkan kekuatan pikiran ada pada sosok Professor Xavier dalam film X-Men. Meski tak punya kekuatan sehebat Wolverin yang bisa memulihkan diri dari berbagai luka fisik atau sekuat Magneto yang sanggup mengangkat jembatan, tapi Prof Xavier merupakan pemimpin bagi para mutan. Duduk di atas kursi roda, dia bisa menyatukan manusia mutan sekaligus membangun sekolah.

Itu baru satu kelebihannya, dalam hal ini adalah pikiran. Kelebihan utamanya ialah ia bisa mengetahui semua yang dirasa manusia di bumi lewat pikiran. Prof Xavier juga bisa mengendalikan lawan, situasi bahkan waktu dalam kondisi tertentu. Lebih jauh, ia bisa membaca masa depan.

Memang sih itu cuma film. Namun dalam kehidupan nyata kita pun mengerti kalau akal merupakan pembeda antara manusia dengan binatang. Akal yang disebut-sebut sebagai terminal pikiran manusia punya kedudukan lebih tinggi dibanding fungsi organ lainnya. Tanpa tangan, manusia masih bisa hidup normal. Tapi tanpa akal, kita menyebutnya gila.

think economist com

economist.com

Ungkapan Aristoteles di atas mengandung pesan yang jelas, buat saya sih khususnya. Kondisi psikologis, mental, kejernihan pikiran merupakan panglima dalam situasi tertentu. Filusuf Yunani itu seolah menyatakan kalau realitas yang kita hadapi bukan masalah besar bila kita bisa mengendalikan pikiran dengan baik.

Dalam banyak kasus bisa kita temui orang-orang yang salah bertindak biasanya sudah salah sejak dalam pikiran. Sehingga bukan solusi yang didapat malah justru masalah baru yang didapat. Tak sedikit pula masalah bisa selesai cukup dengan mengubah cara berpikir kita. Hal ini berbeda dengan konsep pasrah. Mengubah perspektif, cara pandang atau berpikir, ternyata bisa juga mengubah tantangan yang ada di depan mata.

Palmerah, 26 Mei 2016

 

Aroma

Rindu yang kurasakan kali ini benar-benar mencekam. Dia berhasil merampok semuanya. Semuanya. Luka-luka masa lalu. Kemurungan yang tersimpan bertahun-tahun. Kesalahan yang tak termaafkan. Aib yang memalukan. Caci maki yang sebelumnya hanya terekam dan sembunyi di tembok kamar. Keterasingan yang sudah menjadi keseharian. Semuanya raib tak bersisa.
Aku mengatakannya dengan ringan seolah semua orang di dunia mengalami pengalaman serupa. Entah setan dari kuburan mana yang mendorong lidah ku berceloteh tak henti bagai burung beo. Sementara dia, hanya mengangguk ringan. Berupaya tertarik dengan ceritaku sambil sesekali menyecap segelas cokelat hangat.
Sejak saat itu, setelah percakapan yang memakan waktu lima jam lebih, aku hanya membawa pulang aroma tubuhnya. Setiap kali ada kesempatan bertemu lagi, aroma itulah yang pertama kali menyapa. Benar-benar transaksi yang tidak adil.

Antara Rio Haryanto dan Joey Alexander

Sebuah tulisan yang sempat tertunda karena menunggu kepastian Rio tampil di Formula 1.

Saya ini tak ahli betul mengulas dunia balap mobil selevel Formula 1 meski sempat mampir jadi reporter olahraga. Tapi sosok Rio tidak terlalu asing bagi saya. Ukuran tidak asing terletak pada apakah saya pernah mewawancarai atau mengulas tentangnya atau tidak. Secara kebetulan saya pernah sekali bertemu Rio langsung dan mewawancarai dalam acara buka bersama sekitar dua tahun lalu. Saat itu Rio masih tampil di GP2 Series, satu kasta di bawah F1.

Di usia yang masih muda, 23 tahun, kehadiran Rio di pentas F1 amat mengejutkan. Bukan berarti F1 itu milik pembalap tua loh. Tapi maksud saya adalah begitu cepatnya Rio naik kelas ke level paling tinggi. Dari sisi skill saya kira Rio tidak kalah meski sempat beberapa kali menabrak pembatas jalan kala menjalani latihan kemarin. Mungkin grogi atau saking antusias kali.

Terlepas dari segala pro-kontra soal dukungan dana (sponsorship) sebagai salah satu syarat paling penting menembus jajaran tim elit F1, kehadiran Rio pantas dibanggakan. Pasalnya, belum tentu dalam beberapa dekade ke depan akan ada pembalap Indonesia yang bisa menyamai prestasi Rio.

Sudah lupakan soal prestasi tim Manor Racing di ajang F1. Musim lalu saja tidak ada satu poin pun yang dikoleksi tim asal Inggris itu. Namun yang menjadi catatan penting adalah kehadiran pembalap asal Indonesia yang berada di belakang kendali mobil F1. Setidaknya di layar teve nanti ada wajah Rio terpampang lengkap dengan bendera merah-putih, berderet bersama juara dunia Lewis Hamilton.

Berbeda dengan Rio yang mesti merogoh kocek dan banting tulang mencari dana demi mendapatkan satu kursi di F1, Joey Alexander sebaliknya. Bukan berarti bebas dari kerja keras dan latihan, tapi masuknya Joey dalam nominasi Grammy setara menggemparkannya dengan keberhasilan Rio menembus F1.

Tak tanggung-tanggung, Joey yang baru menginjak usia 12 tahun masuk dalam dua nominasi di kategori Instrumental Jazz Album dan Best Improvised Solo. Di antara deretan nominator, Joey tercatat yang paling muda. Rasa penasaran pun mengejar-ngejar saya.

ebsqart com

gambar: ebsqart.com

Minim pengetahuan soal sosok Joey, saya lantas mengunjungi Youtube. Ternyata ada banyak video penampilan dan wawancara Joey. Namun ketika melihat penampilannya saya hanya bisa terdiam. Diam karena tak memahami secuil pun soal jazz. Saya yang setiap hari dibombardir lagu Justin Bieber, hanya menatap kosong permainan Joey dan sesekali tersenyum ketika memasuki sesi wawancara.

Banyak kalangan yang menyebut Joey sebagai anak ajaib (prodigy). Yah, berapa persen sih di dunia ini musisi berusia 12 tahun yang bisa masuk nominasi Grammy, di kategori jazz pula. Menyaksikan begitu banyak orang terpukau dan melemparkan tepuk tangan usai Joey memijit-mijit tuts piano, bagi saya cukup menjelaskan arti kata prodigy.

Prestasi Rio dan Joey, meski tidak membawa pulang piala Grammy, merupakan bukti pengakuan orang-orang luar terhadap atlet atau musisi Indonesia. Di sisi lain, mereka seolah penghibur sekaligus motivator bagi saya yang setiap hari nyaris murung melihat isu-isu ekonomi dan pertengkaran seputar LGBT di media sosial dan grup whatsapp.

Review the Big Short: Runtuhnya Pasar Amerika

Truth is like poetry. And most people fucking hate poetry, a maxim overheard at a Washington, D.C., bar.

Dari ruang basement suara drum menghentak-hentak. Dengan raut wajah yang tegang, Michael Burry seolah ingin melepas semua beban pekerjaannya dengan cara memukul-mukul drum. Permainannya terhenti seketika oleh suara teriakan sang istri. Mendengarkan lagu band cadas Pantera sambil memukul drum rupanya tidak cukup sukses meredam kecemasan Burry yang reputasinya sebagai fund manager sedang dipertaruhkan.

Itulah sepenggal scene dari film the Big Short. Film yang disutradarai Adam McKay ini berkisah tentang runtuhnya ekonomi Amerika Serikat pada 2008. Michael Burry merupakan satu-satunya fund manajer yang menyadari kalau industri properti Amerika sedang mengalami bubble dan diprediksi bakal runtuh tidak lama lagi. Hanya dengan menganalisis data, sambil mendengarkan musik rock, ia membaca arah pergerakan pasar. Simpulannya, ekonomi Amerika sedang menuju jurang neraka.

Dengan sederet aktor keren macam Christian Bale (perankan Michael Burry), Ryan Gosling (Jared Vennett), Brad Pitt (Ben Rickert), dan Steve Carell (Mark Baum) punya modal besar untuk menarik penonton datang ke bioskop. Tapi saya ragu penonton bakal paham alur ceritanya. The Big Short sedikit mirip dengan the Wolf of Wall Street yang dimainkan Leonardo DiCaprio. Namun dari cerita Big Short punya materi yang lumayan berat untuk dicerna.

TheBigShort coomingsoon net

The Big Short (sumber coming soon.net)

Kisah berawal ketika Burry memprediksi industri properti Amerika bakal mengalami bubble (gelembung) dalam waktu dekat. Prediksi Burry sulit diterima oleh banyak kalangan. Namun ia bergeming. Sebagai seorang fund manager ia malah menaruh dana investasi para investor ke dalam instrumen Credit Default Swap (CDS) untuk melawan sektor perumahaan yang saat itu sedang digdaya dan mustahil mengalami keruntuhan.

Langkah Burry rupanya diketahui oleh Jared Vennet seorang bankir. Sudah sejak lama Jared mencium gelagat kecurangan orang-orang bank dalam menjual obligasi di sektor perumahaan. Enggan berjalan sendirian ia mengajak Mark Baum yang begitu benci dan muak dengan cara kerja sistem keuangan di Amerika. Berbeda dengan Burry, Mark mencari tahu dengan cara mendatangi satu persatu nasabah yang seret membayar kredit rumah (Subprime Mortgage).

Adam McKay cukup bijak dengan menampilkan sosok bintang tamu dalam filmnya. Perannya sederhana saja. Mereka menjelaskan istilah dan persoalan yang sedang terjadi di pasar keuangan Amerika dengan sebuah analogi sederhana. Lumayan menambah pengetahuan dan membantu menahan penonton agar tidak keluar dari studio. Di atas permukaan sebenarnya tidak ada yang baru dari film ini lantaran berangkat dari kisah nyata. Bagaimana proses ambruknya ekonomi Amerika pada 2008 diceritakan dengan lugas dan gaya yang unik dari masing-masing aktor.

Akibatnya, tidak ada aktor yang mendominasi dalam film ini. Semua pemain seperti pemain utama. Dibanding Christian Bale, yang masuk menjadi nomine aktor utama pria di ajang Oscar, peran Steve Carell malah tampak lebih dominan dan cukup menguras emosi.

Lupakan aktor yang bermain. Bagi Anda yang ingin tahu apa yang terjadi pada ekonomi Amerika pada 2008, the Big Short layak dijadikan referensi dan pembelajaran.