Spider-Man: Homecoming dan Rasa Yang Pernah Ada

IMG_20170713_083120

“Peter Parker. Brilliant but lazy,” Doctor Octavius

Lima belas tahun, enam film, tiga pemeran, dan tiga sutradara. Rasanya belum ada film superhero yang datang dan pergi secepat Spider-Man. Di luar apapun itu, dari mulai siapa aktor yang paling pas memainkan Peter Parker sampai bagaimana peran dia nanti di The Avengers berikutnya, kehadiran Spider-Man:Homecoming layak diapresiasi.

Harapan para penggemar yang ingin melihat jagoan dari Queens, New York, itu bertemu dengan tokoh Marvel lainnya setidaknya terpenuhi. Ya, namanya juga reuni masa enggak ketemuan sama teman lama.

Lucu memang, saking penasaran sama Spider-Man versi Jon Watts, saya sampai dua kali datang ke bioskop. Baru kali ini seumur hidup nonton film dua kali di bioskop. Kesan pertama yang didapat: Segar. Pedro, eh Peter (Tom Holland) bisa berdiri sendiri dari sosok Parker (Tobey Maguire) yang sukses bikin saya berkaca-kaca di sekuel kedua Spider-Man versi Sam Raimi.

Saya bukan penggemar berat tokoh-tokoh superhero Amerika Serikat, baik dari kutub Marvel atau pun DC. Masa kecil saya enggak diwarnai oleh komik-komik Spider-Man, Batman, atau Superman. Tapi siapa sih yang tidak kenal mereka. Sejak kehadiran trilogi Spider-Man, ironisnya justru Sony yang memulai, saya jadi penonton setia film-film superhero Marvel dan DC. Bisa dibilang secara historis saya tidak punya bekal cukup untuk membandingkan penampilan para superhero itu antara versi layar lebar dengan komik.

Seperti kebiasaan menonton film superhero, selain soal alur cerita, saya kerap tertarik dengan skenario (naskah) yang dibangun antartokoh dan tokoh antagonis.

Dari sisi naskah, sepertinya ada rasa kurang percaya diri di film ini. Lihat saja ada lima orang penulis naskah yang terlibat. Sulit melihat warna asli dari Spider-Man kali ini. Tak aneh kalau saya tidak menemukan kata-kata yang berkesan. Sulit bagi penonton untuk mencari kutipan mana yang menarik buat dipajang di timeline media sosial. Mungkin ini resiko dari film yang sengaja dibuat agar ada keterkaitan dengan film lainnya.

Berikutnya soal tokoh penjahat. Kehadiran Michael Keaton sebagai Adrian Toomes alias The Vulture amat baik karena tidak terlihat komikal. Sebagai aktor senior, Keaton begitu detail dan pas dalam pembawaannya. Dalam hati ia tidak punya niat jahat, tapi situasi yang memaksanya. Di situ Keaton begitu apik meraciknya.

Lantas bagaimana dengan aksinya? Well, ini yang saya sebut segar. Adegan perkelahian, kejar-kejaran dengan ditambah kelucuan di sana sini sudah menjadi ciri khas Spider-Man yang sulit dilepas. Di sini, saya masih bisa menemukan gen utama Peter sebagai superhero yang manusiawi. Masih takut ketinggian. Lugu dan bersahabat. Kikuk di depan perempuan. Namun ketika memasuki adegan puncak, kok saya merasa itu mirip dengan adegan Spider-Man melawan Doctor Octavius. Ya, beginilah resiko menggarap film yang sama dengan jeda waktu yang tidak terlalu jauh. Upss..

Terakhir, Jon Watts disadari atau tidak nampaknya tak mau melepaskan image Peter Parker yang selalu ketinggalan pelajaran karena lebih sibuk mengejar penjahat dibanding menuntaskan tugas sekolah. Saya pun jadi ingat kembali ucapan yang dilontarkan Doctor Octavius kepada Peter saat kedoknya terbongkar di Film Spider-Man 2. Ia mengatakan, “Peter Parker. Brilliant but lazy.”

Palmerah, 17 Juli 2017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s