Pagi

Minggu pagi. Kegelisahan mengusik waktu istirahatku. Perlahan mentari menyala dan mengusir setan-setan yang pulang kesiangan. Kupaksa melangkahkan kaki ke arah kamar mandi. Tanpa interupsi, gemericik suara air seni memecah keheningan pagi. Ah, nikmatnya.

Segelas kopi panas biasanya ampuh meredam rasa gelisah yang akhir-akhir rutin datang di pagi hari. Rasa pahit di lidah sanggup menarik sisa-sisa ruh yang tertinggal di kasur. Tak ada lagu di hari Minggu. Ini hari di mana aku enggan mendengar rintihan dari radio atau kotak musik. Di sisi lain, aku tak mau memotong mimpi-mimpi yang sedang berjalan dari kamar sebelahku.

Hanya di hari Minggu alarm tidak berbunyi. Tapi kali aku terpaksa melanggarnya. Di saat seperti ini biasanya aku memikirkan masa-masa sekolah. Tak peduli hari libur, bapak selalu menyetel alarm. Suaranya serupa sirine kebakaran. Tegas, tak peduli, dan penuh ancaman. Alarm yang selalu membuat aku tepat waktu datang ke sekolah.

Kali ini beda. Aku tinggal sendiri di sebuah sarang berukuran 2×2 meter. Alarm ku pun berubah bentuk menjadi rentetan penugasan kantor. Kadang aku lebih merindukan bunyi alarm dari bapak. Meski mengintimidasi tapi tak pernah berlangsung lama. Aku mudah melupakannya.

Aku memilih berbaring lagi di atas kasur. Mencoba mengingat kembali peristiwa yang terjadi semalam. Ternyata dia tidak suka dengan Fyodor Dostoyevsky. Sambil berbisik dia berucap, “Kamu terlalu muram.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s