Hal-Hal Yang Terlewat Selama Ramadan

Banyak hal yang ingin ditulis sepanjang Ramadan kemarin. Mulai dari persiapan Ramadan yang enggak matang, ulang tahun Ibu Rifna (Bu kost tercinta), Piala Eropa yang sedikit mengejutkan lewat penampilan Islandia, sampai kerja di hari raya Idul Fitri.

Menunda menulis rasanya sudah seperti menunda pekerjaan. Setiap hari saya menulis, setidaknya 5.000-6.000 karakter. Rasanya lelah bila harus kembali menulis dan mengisi blog. Walhasil, belakangan ini tidak ada tuntutan apapun untuk mengisi halaman blog. Saya mesti bersyukur masih diberi hasrat membaca. Walau gak setiap hari setidaknya masih punya gairah.

Biasanya ketika rasa malas menghampiri, yang justru sering sekali datang begitu sampai di kosan, saya iseng membaca blog orang lain. Sekedar memancing ide menulis.

Bicara soal Ramadan, tahun ini terasa lebih kering. Sekering nastar dan kastangel. Di awal penuh ketegangan, di tengah ramai dengan kesibukan, di akhir lelah oleh pekerjaan. Sia-sia saja bila harus meratapi. Di awal Syawal, saya memilih berharap semoga tahun depan masih bisa bertemu dengan Ramadan.

Tahun ini tidak ada acara mudik dan kumpul sekeluarga. Saya dibebani pekerjaan mesti meliput keluar kota di hari raya. Dua kakak saya memutuskan Lebaran di rumah masing-masing karena alasan tertentu. Namun dibalik beban kerjaan, saya bersyukur bisa mengalami Lebaran di Padang, Sumatera Barat.

Bagi saya itu pengalaman berharga. Berlebaran di kota orang. Di saat jutaan orang kumpul bersama keluarga dan bercengkerama, saya berada jauh ratusan kilometer dari rumah.

Padang kota yang unik. Selain menerapkan Peraturan Daerah Syariah, malam Takbiran di sana agak berbeda dengan kota-kota di Pulau Jawa. Di rumah saya, begitu selesai Solat Magrib, musola dan masjid langsung ramai dan riuh oleh suara takbir. Suara bedug dan botol kaca menerabas setiap gang-gang. Meski ramai dan gaduh tapi saya tidak merasa terganggu.

Di Padang, saya perlu waktu untuk mencari tahu gema takbir di sekitar hotel tempat menginap. Ada yang asing ketika toa masjid tak mengeluarkan suara takbir. Ada sepi yang mencekam.

Dari pengamatan saya, sepertinya tidak menjadi kebiasaan bagi masjid-masjid di Padang merayakan pembukaan bulan Syawal dengan gema takbir. Atau mungkin saya yang keliru.

Buat seorang yang introvert, saya tidak terlalu ambil pusing dengan rutinitas tahunan ketika memasuki Lebaran. Mudik, membeli baju baru; menyantap ketupat, opor ayam atau daging; mengucapkan maaf-maafan; bukan sesuatu yang mesti ada kala Idul Fitri datang. Kecuali tunjangan hari raya tentunya, hehehe….

Pada ceramah Solat Jumat terakhir di Ramadan kemarin, sang khotib mengkritisi kebiasaan yang dianggap sudah berlebihan ketika Lebaran datang. Ia menyoroti mudik. Prinsipnya sih khotib mengingatkan agar jamaah tidak berlebihan. Ia mengatakan Nabi Muhammad tidak pulang kampung usai Ramadan tuntas. Lantas buat apa kita ramai-ramai mudik alis pulang kampung.

Saya menilai di balik alasan silaturahim, budaya mudik sudah enggak relevan buat dijalani lagi. Masih ada waktu atau momen lain bila silaturahim atau kumpul keluarga dijadikan alasan utama buat mudik. Tapi yah itu sih terserah. Tidak ada paksaan dalam mudik Lebaran.

Di luar soal mudik, ada tradisi yang mesti dijaga terus menerus, yaitu saling memaafkan. Jadi, mohon maaf lahir batin. Semoga Allah ridho mempertemukan kita dengan Ramadan berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s