Asyiknya Baca Cerpen

Suatu waktu saya membaca sebuah resensi buku mengenai efek samping penggunaan internet. Kalau tidak salah bukunya berjudul Shallow karya Nicholas Carr. Singkat cerita, resensi itu bertutur soal dampak dari internet terhadap cara berpikir kita. Para pengguna internet cenderung tidak mampu membaca teks-teks yang panjang dan memakan waktu lama. Tak aneh, mengingat kalau kita sedang browsing kita kerap berganti-ganti topik. Bahkan ciri khas pengguna internet adalah membuka lebih dari dua bahkan tiga halaman website. Ini penyebab utama, orang yang gandrung dengan internet kesulitan fokus.

Ternyata hal itu terjadi pada saya. Seperti biasanya, tiap kali hari libur saya suka menghabiskan waktu untuk berkunjung ke toko buku. Biasanya kegiatan membeli atau melihat buku dibarengi dengan nonton film baru. Setiap kali saya datang ke toko buku, gairah untuk menulis dan membaca begitu menggebu-gebu. Tangan ini terasa gatel pengen segera membeli buku dan atau menulis untuk sekedar mengomentari buku-buku yang ada di rak-rak.

Tapi anehnya, gairah untuk membaca atau menulis sirna begitu sampai di rumah. Lenyap tak berbekas. Beberapa buku yang terlanjur dibeli pun masih menumpuk menanti untuk dihabisi. Sampai akhirnya, suatu ketika, saya kembali teringat oleh sebuah tulisan. Saya sendiri lupa siapa yang menulisnya. Samar-samar di memori saya tersebut nama Seno Gumira Adjidarma.

Soal apakah tulisan itu? Soal betapa sulitnya orang zaman sekarang untuk menyelesaikan membaca sebuah novel panjang. Panjang disini adalah ceritanya, sebagai contoh, panjang versi saya adalah seperti novel Dan Brown, Pramoedya. Yah, diatas 400 halaman lah. Mungkin ini hanya mendera saya pribadi. Tapi sejauh ini saya memang merasa malas membaca sebuah buku atau cerita panjang bila benar-benar tidak menarik.

Mungkin faktor inilah yang bikin para penerbit berlomba-lomba mengklaim kalau buku terbitnnya paling best seller. Atau setidak-tidaknya ada referensi dari seorang arti atau tokoh terkenal dalam buku terbitannya.

Tapi keinginan untuk membaca sudah menjadi sebuah kebutuhan. Rasanya aneh kalau dalam sebulan gak baca atau beli buku baru. Walhasil, rasa malas membaca buku tebal atau novel panjang terobati dengan penemuan sebuah buku antologi atau kumpulan-kumpulan cerita pendek dalam satu buku. Terakhir, saya membeli buku berjudul Fiksi Lotus.

Fiksi lotus ternyata sebuah situs yang dimotori oleh penulis Maggie Tiojakin. Kumpulan cerpen yang saya beli merupakan volume satu. Volume pertama ini berisi tentang cerpen-cerpen klasik. Hanya beberapa penulis lawas yang saya kenal, sisanya bikin dahi berkerut.

Pilihan saya untuk beralih sementara waktu ke cerpen cukup bisa mengobati rasa haus saya akan bacaan-bacaan tentang cerita. Selama ini saya berdalih kalau waktu luang tak banyak saya miliki untuk membaca novel-novel panjang. Selain itu, hingga sekarang belum ada novel keluaran baru yang punya cerita bagus dan berkualitas, sejenis Harry Potter. Untuk saat ini, saya sedang menikmati asyik berburu buku-buku antologi seputar cerpen-cerpen. Apa anda punya referensi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s