Mahalnya Toleransi di Negeri Ini

“Kaum muslimin (baik Sunni maupun Syiah) bukanlah pengikut banyak agama. Mereka adalah pengikut satu agama, satu al-Quran, dan pokok-pokok agama yang sama. Ketika mereka berbeda, maka perbedaan itu hanya timbul dari perselisihan penalaran, riwayat hadis, dan metode. Tetapi, semuanya adalah pencari kebenaran dari al-Quran dan sunnah rasul. Kebijaksanaan ibarat harta kaum muslimin yang hilang dan hendaknya mereka mengambil kebijaksanaan tersebut dari mana saja. “ (Syaikh Mahmoud Syaltout, Guru Besar Universitas Al-Azhar)

Setelah beberapa kali berkeliling rak buku di Gramedia, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil sebuah buku karya Irwan Masduqi, Berislam Secara Toleran. Tema besarnya seputar bagaimana seharusnya kaum Muslimin bertoleransi, baik dengan non-muslim maupun dengan saudara se-iman.

Ada 13 tokoh dunia, baik muslim dan non-muslim, yang melontarkan konsep seputar toleransi. Toleransi dibahas dengan padat, ringkas dan langsung ke titik persoalan utama. Dari ke-13 tokoh tersebut diantaranya adalah Mohammed Arkoun, John Esposito, Yusuf al-Qaradawi, dan Abdurrahman Wahid. Mereka memiliki beragam pandangan seputar toleransi dalam konteks Islam. Semua gagasan yang dilontarkan setidaknya bisa memberikan secuplik arahan bagaimana seharusnya kaum muslimin bersikap terhadap perbedaan, utamanya di era globalisasi.

Sengaja saya mengutip ucapan seorang ulama sekaligus guru besar Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir sebagai prolog artikel singkat ini. Bukan suatu kebetulan jika beberapa hari setelah saya membeli buku tersebut, bentrokan antara Sunni dan Syiah menyeruak di Sampang, Madura.

Saya kira semua kaum muslimin tahu kalau pertikaan antara Sunni dan Syiah bukanlah barang baru. Sama halnya seperti Jemaat Ahmadiyah. Pertikaian, baik secara fisik maupun argumentasi antara Sunni dan Syiah sudah berlangsung pasca Rasulullah saw wafat. Hingga kini, belum ada tanda-tanda bakal ada ujung penyelesaian.

Bahkan upaya rekonsiliasi antara ulama dan mufti di Timur Tengah, kerap menghadapi tantangan. Anehnya tantangan tersebut justru datangnya dari kelompok Sunni dan Syiah. Di antara kelompok yang kontra dengan dialog antara Sunni dan Syiah menganggap kalau mereka sedang berusaha menyatukan Sunni dan Syiah.

Dalam pandangan Ragab El-Banna, koalisi antara Sunni dan Syiah merupakan utopia belaka. Tujuan paling realistis dari dialog adalah agar dua penganut itu saling memahami dan menghormati perbedaan sehingga dapat hidup berdampingan secara damai.

 

Yang terjadi justru sebaliknya, media kerap menangkap pertikaian terjadi lantaran adanya saling klaim kebenaran yang berujung pada pertikaian. Biasanya, ujung dari pertikaian tersebut adalah saling melempar hujatan, seperti klaim sesat bahkan teresktrem adalah mengkafirkan.

Kasus Sampang mungkin bisa dijadikan salah satu contoh dari banyak kasus yang ada. Media menangkap kalau pertikaian bermula dari debat di antara satu keluarga. Perdebatan tersebut merambat ke ruang publik dan berakhir ricuh dengan saling usir. Entah apa yang menjadi perdebatan, tapi yang menjadi perhatian kita adalah mengapa harus berakhir dengan pertengkaran?

Sementara di sudut lain ada ratusan teks, wacana, dan aksi dari kaum muslimin yang ingin memperteguh bahwa Islam itu cinta damai dan bukan agama teroris. Usaha seperti itu tampaknya runtuh dan menjadi sia-sia saat kita menyaksikan antarsesama muslim saling bertikai. Pihak luar (non-muslim) yang hanya belajar Islam dari judul suratkbar tanpa dari referensi otentik akan mudah memberi penilaian dan simpulan bahwa umat Islam jauh dari kata damai.

Menyuplik dari Yusuf Qaradawi, mayoritas pertikaian disebabkan pada hal-hal yang bersifat sekunder. Ini terjadi lantaran kita masih belum bisa membedakan mana “Pemikiran Islam dan “Islam”.  Konsep Pemikiran Islam dan Islam secara tidak langsung merujuk kepada persoalan bersifat statis dan dinamis (al-tsabit wa al-mutaghayyir). Perdebatan yang berujung kepada perkelahian umumnya terjadi pada hal-hal bersifat dinamis.

Konsep jihad misalnya.  Kalangan tertentu lebih suka mengangkat tema jihad sebagai sebuah perang suci yang bisa berujung pada surga Allah. Padahal tidak semua umat Islam berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk berperang mengangkat senjata. Sementara di sisi lain, jarang di antara kita memilih membahas bagaimana menjaga kedamaian di dunia.

Berbicara soal toleransi, ternyata tema ini menjadi bahasan hangat pasca kejadian World Trade Center 11 September silam. Saat itu, kaum muslimin seolah-olah menjadi aktor atas serangkaian aksi terorisme di Amerika Serikat. Beragam tudingan menyudutkan umat Islam dan Islam sebagai agama pedang mewarnai suratkabar. Umat Islam yang reaktif akan membalas tudingan tersebut dengan mengatakan bahwa Barat jauh lebih anarkis. Sementara lainnya memilih untuk menampakkan wajah Islam sebagai agama santun dan damai.

Ada juga kelompok lainnya yang memilih untuk berdialog dan mengedepankan soal pentingnya bertoleransi dibanding membuat benturan. Namun disayangkan, di kalangan internal kaum muslimin mereka yang membawa bendera toleransi dan kerukunan kerap di cap sebagai antek-antek Barat atau kaum liberal. Di mata saudaranya sendiri, kaum cendekiawan tersebut dianggap aneh dan menyimpang. Salah satunya adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Nurcholis Madjid.

Gagasan Gus Dur dan Nurcholis Madjid kerap ditentang di internal kelompok-kelompok Islam. Tidak sedikit fitnah dan isu miring mewarnai perjalanan kedua tokoh ini.  Sementara di mata dunia internasional hal kontras terjadi pada mereka. Dukungan dan penghargaan mengalir untuk kedua tokoh ini. Kebanyakan gagasan dari kedua tokoh ini sering disalahartikan. Padahal, dalam pandangan saya, gagasan mereka yang konsisten soal toleransi sangat baik dijadikan pembelajaran dan sebagai upaya kita dalam menyikapi kondisi Indonesia sebagai bangsa multikultur.

Dalam konteks lokal, Indonesia ibarat barang pecah belah. Beragam perbedaan bisa memicu konflik. Sementara di kalangan intelektual Islam, belum banyak mengajak dan memberi pelajaran ke masyarakat untuk mengutamakan dialog sebagai salah satu cara untuk mengurangi friksi. Fatwa-fatwa sering menjadi jawaban singkat atas perselisihan yang terjadi. Di sisi lain, masyarakat pun kerap terjebak dalam generalisasi dan figur kepemimpinan tertentu dibandingkan dengan melihat hasil dari produk kepemimpinan tersebut.

Pada akhirnya semua kembali kepada bagaimana kita menyikapi atau merespon. Kadar respon akan tergantung kepada pengalaman dan kapasitas pengetahuan. Satu hal yang tidak boleh dilepaskan adalah bahwa kita hidup di era globalisasi, dimana perbedaan dan keragaman menjadi semakin luas dan kompleks. Sikap toleransi merupakan modal penting untuk bersosialisasi dengan masyarakat yang heterogen. Sebab toleransi bukanlah satu sikap yang berdiri sendiri. Toleransi merupakan muara dari kerendahan hati, kesantunan, kesabaran.

Kita hidup di era dialog interreligis, lalu mengapa kita tidak berdialog intrareligius (Ragab el-Banna)

Wallahuallam bishawab

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s