Kawah Ratu

Perjalanan saya menuju wisata alam Cidahu, Bogor tepatnya Gunung Bunder dimulai pada Jumat pagi di akhir Juni 2012. Enam unit truk tronton yang kami sewa dari kesatuan militer membawa lebih dari 150 orang dengan berbagai perlengkapan untuk berkemah tiga hari ke depan. Ini kali pertama saya pergi berkemah dengan banyak orang. Sempat ada keraguan dalam benak saya ketika akan berangkat. Mungkin rasa ragu yang saya rasakan juga dialami oleh rekan-rekan lainnya.

Keraguan kami sepertinya tercium oleh ketua rombongan. Nasehat pun terlontar dari mulutnya. Tak ada guna memelihara keraguan saat hendak berkemah dan mendaki. Itu hanya akan menambah beban ransel kami semakin berat. Yakinkan kepada diri sendiri dan serahkan pada Allah bahwa keluarga dan pekerjaan yang kami tinggalkan akan baik-baik saja.

Secara pribadi, saya merasa tidak tenang dengan acara perkemahan selama tiga hari ini. Jauh sebelum acara berjalan, sengaja saja memesan waktu libur selama dua hari di penghujung Juni. Alhamdulillah dikabulkan bahkan lebih dari itu saya bisa dapat libur selama tiga hari. Tapi tetap saja saya merasa masih ada rasa tidak tenang. Mengingat sewaktu-waktu kantor bisa menelepon dan menyuruh saya untuk masuk.

Selama satu hari penuh, saya masih merasa tidak tenang. Hati saya semakin kalut ketika ketua rombongan meminta seluruh peserta untuk mengumpulkan telepon genggam. Cih, kalau terus seperti ini saya tidak akan bisa merasakan sejuknya udara dan heningnya pegunungan. Akhirnya, saya pun mencoba berdamai.

Perkemahan kami berada tak jauh dari sebuah curug atau air terjun. Pohon cemara mendominasi tempat kami berkemah. Udara yang saya hirup masih segar dan bersih. Jauh sekali dari kualitas udara Kota Jakarta yang biasa masuk ke paru-paru saya. Di pagi hari suhu perkemahan berkisar 25 derajat celcius. Menurut penuturan rekan saya, di musim hujan, suhu bisa makin menusuk.

Ternyata suhu di malam hari jauh lebih parah. Saya taksir suhu di malam hari mencapai 16 derajat celcius. Suhu sebesar ini membuat tidur saya terganggu apalagi hanya bermodalkan sepasang kaos kaki dan jaket tipis. Walhasil, di malam pertama hanya dua jam waktu yang saya habis untuk merebahkan badan.

Faktanya, di malam berikutnya kejadian serupa terulang. Sulit bagi saya untuk memejamkan mata di bawah suhu dingin dan perlindungan kemah sederhana. Tapi ya sudah,toh kebanyakan dari kami pun tidak ada yang bisa tidur nyenyak lantaran banyaknya aktivitas.

Hari kedua kami habiskan untuk menguras semua keringat yang ada dalam tubuh kami. Pagi hari diawali dengan senam dan lari pagi naik-turun kaki pegunungan. Kendati ada banyak gerakan dan berlari,tapi tetap saja keringat yang keluar sedikit. Suhu di pagi hari masih terasa dingin.

Saat matahari melewati ubun-ubun kami, kegiatan outbond berupa permainan tim sudah menanti. Setiap tim saling bersaing untuk memenangkan lomba dimasing-masing pos. Dari lima pos, perolehan tim saya tidak terlalu memuaskan bila dibandingkan dengan pesaing. Namun bagi saya itu tidak masalah yang terpenting adalah saya bisa melepas penat dan menepi sejenak dari kesibukan pekerjaan.

Puncak acara adalah pada Ahad 1 Juli, yaitu menuju Kawah Putih. Dengan ransel seberat sekitar 10 kilogram, selangkah demi selangkah saya mendaki jalan setapak menuju Kawah Ratu. Perjalanan ini memberi banyak pelajaran. Semula saya gak yakin bisa menyelesaikan semua tahapan perkemahan. Alasannya sederhana, tidak ada persiapan khusus yang saya persiapkan. Bahkan sekedar jogging saja tidak saja jalankan beberapa hari sebelum pendakian. Pikir saya ini penting untuk mengurangi cidera dan menambah fisik.

Tapi ternyata mendaki tidak hanya soal fisik semata. Mental dan rasa optimis punya pengaruh besar ketika saya mendaki. Faktor lainya, mendaki itu tidak lepas dari kerja sama tim. Perjalanan yang ditempuh dengan bersama-sama lebih terasa ringan bila dilakukan sendirian. Lepas semua keraguan dan ketakutan, nikmati setiap helaan nafas yang tersengal saat menghadapi tanjakan. Dan jangan lupa menahan laju semangat begitu kaki melangkah menurun.

Kaki serasa mau copot. Berjalan mendaki dengan sepatu futsal bukan pilihan terbaik. Resiko cedera atau terjatuh akan lebih besar. Tapi jangan harap semua itu bisa menghambat perjalanan saya. Lagi pula kalau melihat track tidak terlampau sulit. Hewan lintah atau pacet pun tidak terlihat.

Semua kesulitan dan kelelahan yang saya rasakan pada akhirnya terbayar tuntas begitu tiba di puncak asmara, eh puncak gunung. Ada yang bilang kalau pemandangan di Kawah Ratu jelek. Wajar aja sih. Pemandangannya memang kontras dengan pegunungan disebelahnya. Pada bagian Kawah Ratu terlihat bongkahan batu belerang berwarna kuning abu-abu. Baunya pun menusuk hidung membuat kita enggan berlama-lama.

Tapi justru itulah keindahannya. Pemandangan batu-batu terjal dan asap yang masih keluar dari bibir kawah tampak menawan. Pemandangan kontras inilah yang membuat Kawah Ratu begitu istimewa dan layak untuk didaki.        

Well, dari kegiatan berkemah saya selama tiga hari dua malam mustahil tidak mendapatkan pelajaran. Selain menambah stamina saya, mendaki dan berkemah merupakan ajang saling mengenal karakter teman. Bagian inilah yang paling saya sukai, yaitu ketika karakter dan sifat asli dari teman seperjalanan kita terlihat. Sulit untuk menutupi pribadi masing-masing karena alam memang menuntun kita untuk jujur terhadap diri sendiri.  

Maka tidak heran bila usai berkemah dan naik gunung, persahabatan menjadi lebih kental. Kita pun jadi punya cerita menarik yang bisa dibagi kepada orang-orang. So, jangan ragu untuk mendaki dan mengenal alam lebih dekat. Dan rasakan perbedaannya usai turun mendaki gunung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s