Paradigma

Suatu ketika ada seorang ayah beserta anaknya yang hendak pergi ke pasar. Seperti biasa, keledai menjadi satu-satunya kendaraan yang mereka gunakan. Tanpa berpikir panjang, sang anak langsung menaiki keledai. Tidak berapa lama, mereka berdua berpapasan dengan sekelompok khalifah. Dan salah seorang dari mereka berkomentar,

“Lihatlah, anak yang tak tahu diuntung. Tega-teganya dia naik keledai sedang ayahnya berjalan kaki.”
Tanpa sengaja sang anak mendengar percakapan mereka. Lalu secapat kilat bertukar posisilah mereka. Ayahnya yang naik keledai dan anaknya yang berjalan.
Berikutnya mereka berpapasan dengan seorang wanita, lalu wanita tersebut berkata, ”Hai orang tua, tega sekali kau membiarkan anakmu berjalan sementara engkau duduk diatas keledai itu, mana rasa kasih sayangmu?”
Mendengar komentar tersebut si ayah lalu mengajak anaknya untuk menaiki keledai. Dan akhirnya keledai tersebut dinaiki oleh mereka berdua. Tiba di sebuah perkampungan, mereka berpapasan dengan orang tua yang sudah renta.
”Tega sekali kalian berdua menyiksa keledai tersebut dengan menaikinya berdua. Kalian kira keledai itu tidak merasakan sakit apa?”
Lelah mendengar komentar orang yang mereka temui, akhirnya ayah dan anak tersebut memutuskan untuk tidak menaiki keledai. Sampai di pasar, tidak sedikit orang yang mengoceh dan berkata
”Lihat dua orang bodoh itu. Masa membawa keledai tapi tidak ditunggangi”.

Tidak sedikit dari kita yang tiap hari mendengar ocehan dari orang-orang sekeliling untuk berbuat ’begini’ dan ’begitu’. Mereka seolah-oleh tahu dan kenal siapa kita dan harus seperti apa kita. Di sisi lain kita sendiri seperti menikmati komentar dan ocehan mereka dengan cara ikut larut dengan mengikuti apa yang mereka katakan. Sampai akhirnya kita bingung apa yang harus kita lakukan.

Hidup saat ini seperti berlomba-lomba untuk merebut energi (pengaruh) orang lain agar bisa kita miliki. Apa yang Anda rasakan saat orang lain mengikuti atau sepakat dengan apa yang Anda ucapkan atau perintahkan? Mungkin senang, gembira, bangga. Ya, minimal ada rasa terpuaskan. Tanpa kita sadari hal seperti inilah yang kita lakukan sehari-hari, yaitu berusaha agar orang lain mengikuti atau minimal sepakat dengan apa yang ada dipikiran kita. Secara sederhana, saya menyebutnya dengan merebut energi orang tersebut. Percaya atau tidak, salah satu yang menyebabkan lahirnya konflik adalah perebutan energi seperti ini. Lalu mengapa hal ini bisa terjadi? Hal pertama yang harus kita lakukan adalah melihat paradigma.

Paradigma lahir dari bahasa Yunani. Secara luas kita bisa menggunakan kata ini (paradigma) sebagai cara kita “melihat” dunia. Lebih erat lagi, ini berkaitan dengan persepsi, mengerti, dan menafsirkan. Segala tindak tanduk baik itu sikap, perilaku, dan perkataan lahir dari rahim paradigma. Bagaimana Anda memutuskan sebuah persoalan tidak akan pernah lepas dari paradigma. Lalu kapan dan bagaimana paradigma ini muncul dalam diri kita?

Paradigma lahir melalui proses yang sangat panjang. Dia dibentuk oleh lingkungan disekitar kita, baik internal maupun eksternal (dalam arti luas). Lebih spesifik lagi, pada dasarnya saya berkesimpulan, paradigma merupakan akumulasi dari stimulus atau rangsangan-rangsangan yang hadir menyapa kita setiap harinya, apapun bentuk stimulus tersebut. Jadi, kenapa kita bersikap atau bertindak dikarenakan adaya stimulus. Dan tindakan atau penyikapan yang berbeda-beda itulah yang disebabkan oleh paradigma.

Apa pendapat Anda tentang aksi atau demontrasi? Bagi sebagian mahasiswa, aksi merupakan aktivitas yang paling dihindari, bikin cape, belum lagi kalau bentrok dengan polisi. Sementara bagi beberapa mahasiswa lainnya, aksi atau demo merupakan hal yang paling dinanti-nanti kehadirannya bak seorang wanita yang telah hamil tua yang sedang menunggu kehadiran sang buah hati. Tidak ada yang salah dengan cara pandang seperti itu.

Empat Unsur
Menurut Stephen Covey penulis buku The 7 Habits Of Highly Effective People ada empat unsur yang memengaruhi bagaimana kita merespon sesuatu yang pada ujungnya akan menentukan sikap atau perilaku kita, yaitu kesadaran diri, imajinasi, suara hati, dan kehendak bebas. Keempat unsur ini hadir saat rangsangan ditangkap indera kita. Bagaimana cara kita melihat dunia ditentukan oleh keempat unsur ini. Keempat unsur ini hadir dari teori Stimulus Respon (SR) yang cukup terkenal, setidaknya di dunia komunikasi.

Ilustrasi ayah dan anak yang naik keledai merupakan bagaimana stimulus (komentar-komentar orang) memengaruhi tindakan mereka berdua. Berbagai tindakan yang dilakukan oleh mereka berdua tidak lepas dari keempat unsur diatas. Sama halnya dengan kita. Kesadaran diri menunjukkan bahwa kita sepenuhnya sadar akan stimulus yang menyapa kita. Imajinasi adalah apa yang kita bayangkan, biasanya belum terwujud. Suara hati berkaitan dengan nilai yang kita anut (agama, sopan santun, etika dll). Kehendak bebas merupakan pilihan-pilihan kita. Saat sang anak turun dari kedelai merupakan bagian dari kehendak bebasnya. Pada dasarnya dia bebas memilih untuk turun atau tetap diatas keledai.

Dari sini kemudian lahirlah dua tipe kepribadian manusia. Pertama adalah mereka yang reaktif dan kedua adalah orang-orang proaktif. Sikap berubah-ubah yang ditunjukkan oleh ayah dan anak tersebut merupakan tipikal yang reaktif. Mereka menuruti apa kata orang yang mereka temui dan dengar komentarnya. Orang berkata hijau, dia bilang hijau. Saat orang lain merah, dia pun seirama. Orang reaktif bertindak sesuai dengan lingkungan sekitar. Tidak berbeda jauh dengan bunglon.

Orang proaktif adalah orang yang bergerak berdasarkan nilai. Mereka telah menyeleksi stimulus yang hadir dengan nilai-nilai dan kesadaran. Kondisi atau lingkungan tidak menjadi persoalan bagi mereka. Mereka bergerak berdasarkan nilai yang telah mereka anut. Bagi orang-orang proaktif, tidak ada yang bisa menyakiti mereka. Semua perasaan yang hadir yang bagi orang lain dapat bernilai negatif dan positif, bagi orang proaktif bernilai nol atau kosong. Karena yang memberi nilai adalah kesadaran mereka sendiri.

Jadi kalau suatu waktu anda punya kesempatan untuk naik keledai, jangan hiraukan apa kata orang lain. Nikmati saja. Selama itu tidak bertentangan dengan nilai yang Anda anut, lakukanlah apa yang ingin Anda lakukan. Seperti kata Rasulullah saw, Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan jika kamu tidak merasa malu. Karena ciri orang beriman adalah masih memiliki rasa malu.
Wallahu’alam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s