Transformasi Aksi

Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta

Dalam serial novel Gajah Mada karya Langit Kresna Hadi, suatu ketika rakyat Majapahit melakukan Pepe sebagai bentuk protes karena telah terjadi kudeta oleh Ra Kuti dan kawan-kawannya. Kudeta terhadap raja Majapahit yang sah dibawah pimpinan Jayanegera atau Kalagemet. Pepe dilakukan sebagai sebuah bentuk protes atas ketidakadilan yang dilakukan oleh Ra Kuti. Dalam cerita tersebut digambarkan bahwa Pepe yang dilakukan oleh rakyat Majapahit mendapat perlawanan yang sengit oleh pasukan Ra Kuti. Orang-orang yang melakukan Pepe harus berhadapan dengan para prajurit yang membawa pedang dan busur panah. Pertumpahan darah pun tak terhindarkan.
Pepe adalah nama lain dari penjemuran. Pepe dapat diartikan sebagai bentuk protes atau demonstrasi yang ditujukan kepada penguasa atau raja. Disebut penjemuran karena dilakukan pada saat tengah hari di sebuah lapangan yang luas dan melibatkan ratusan orang. Tujuan dilakukannya pepe sendiri adalah sebagai bentuk protes atas ketidakadilan yang dilakukan penguasa atau raja. Orang yang melakukan pepe (para demonstran) akan diterima dihadapan raja dan ditanyai apa yang menjadi persoalan mereka, lalu raja akan mencari jalan keluarnya. Dalam konteks kekinian pepe bisa juga disebut demonstrasi atau akrab disapa unjuk rasa, aksi.
Dalam sebuah pergerakan mahasiswa, unjuk rasa atau demonstrasi sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Demonstrasi merupakan salah satu instrumen pernyataan sikap dari gerakan yang diusung oleh mahasiswa. Pun demonstrasi merupakan garis yang mempertegas bahwa gerakan mahasiswa telah banyak mengubah dan berkontribusi terhadap arah perubahan bangsa ini. Sejarah telah menunjukkan hal itu. Mulai pada 1966 1974, dan dipenghujung Orde Baru atau reformasi 1998.
Masyarakat dan mahasiswa pada khususnya, saat ini cenderung skeptis dalam melihat demonstrasi yang dilakukan mahasiswa. Bahkan dikalangan mereka yang mengaku atau tidak sebagai aktivis kampus, gerakan dan aksi mahasiswa saat ini telah kehilangan ruhnya. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa yang masih melihat aksi sebagai instrumen penting dalam sebuah gerakan mahasiswa.
Mahasiswa (baca: pendemo) perlu melakukan transformasi aksi. Mengkonstruksi ulang karena sudut pandang masyarakat telah berubah dalam melihat aksi yang diusung mahasiswa. Bisa jadi karena pandangan masyarakat yang melihat aksi-aksi mahasiswa yang berakhir bentrok. Namun dibalik itu semua, transformasi aksi penting jika aksi mahasiswa tidak ingin disebut sekedar aksi jalanan semata.
Perspektif Baru
Hakikatnya setiap aksi dan gerakan yang diusung oleh mahasiswa merupakan gerakan yang bersifat moral dan penekan. Sebuah peringatan sekaligus alarm bahwa telah terjadi penyimpangan dalam kebijakan pemerintah. Aksi merupakan sebuah puncak dari eskalasi gerakan yang dibangun oleh mahasiswa, bukan gerakan reaktif terhadap ketimpangan sosial yang terjadi di masyarakat. Dan lebih jauh lagi, aksi dan gerakan mahasiswa jauh dari kepentingan para elit politik.
Namun dibalik itu semua, ada satu hal yang perlu diperhatikan dari setiap aksi dan gerakan yang diusung oleh mahasiswa yaitu seputar mitos dan glorifikasi. Selain aksi berdasar kepada momentum atau peringatan terhadap hari besar.
Generasi muda (baca-mahasiswa) saat ini merupakan sebuah generasi yang berada pada suatu arus lalu lintas informasi yang padat. Generasi yang “dibesarkan” oleh tangan-tangan media massa sehingga mereka memiliki begitu banyak perspektif dan sudut pandang terhadap lingkungan sosial dimana mereka berada. Hal ini melahirkan rasa kebebasan mereka dalam menentukan pilihan terhadap persoalan yang terjadi. Pada titik tertentu mereka pada akhir merasa memiliki perspektif sendiri mengenai sejarah yang terjadi pada bangsanya.
Dalam konteks gerakan mahasiswa, generasi inilah yang seringkali mempertanyakan esensi dari sebuah aksi yang dibangun oleh rekan-rekannya. Mereka memiliki sebuah pandangan baru mengenai arti perjuangan dan bahkan perlawanan. Hal ini bukanlah sesuatu yang kurang patriotik.
Oleh karena itu, Rum Aly dalam Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966, menuturkan peran mahasiswa sebagai kekuatan penekan setelah 1998 ini tidak pernah mengkomunikasikan latar belakang konsep dan pemikiran yang diusungnya kepada masyarakat. Sehingga seolah-oleh mahasiswa seperti kekurangan ruh dalam gerakannya.
Disinilah peran pers selaku perantara sekaligus salah satu gerbong dalam eskalasi gerakan yang dibangun mahasiswa. Disamping itu, gerakan mahasiswa harus mencoba membuat suatu konsep dan sudut pandang yang baru dengan melihat sebuah pemahaman dan pemaknaan baru mengenai kekuasaan yang positif. Dengan tetap membuka cakrawala mengenai nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s