KUA 11-12

KATA orang menikah bukan semata-mata urusan mempelai pria dan wanita saja. Menikah dengan seseorang itu artinya kita “menikahi” semua anggota keluarganya. Semua budaya dan tradisinya. Semua masa lalu. Semua luka-lukanya. Ya, semuanya. Maka tak aneh jika ketika kedua mempelai berniat melangsungkan resepsi pernikahan maka hajat itu bukan urusan calon kedua mempelai semata, tapi menjadi urusan semua sanak keluarga.

Dari semua proses akad pernikahan yang pernah saya datangi, hanya ada satu, ya satu saja yang hingga kini masih berbekas dalam ingatan. Ketika kantor menugaskan saya untuk meliput fenomena menikah di tanggal 11 bulan 11 tahun 2011. Sehari sebelumnya saya sudah mendatangi salah satu Kantor Urusan Agama di wilayah Jakarta Barat untuk keperluan survei sekaligus berkenalan dengan petugas. Langkah kaki saya dengan mantap tertuju ke KUA Cengkareng. Saya pilih Cengkareng karena salah satu kecamatan terpadat di Jakarta Barat.

Tiba hari yang dinanti. Datang lebih awal saya diminta oleh petugas untuk masuk ke ruang ijab kabul yang berada di lantai dua. Setelah mendapatkan tempat yang nyaman, satu per satu pasangan pengantin mendatangi KUA. Memasuki ruang akad, pasangan muda yang saya taksir usianya jauh di bawah saya mengenakan pakaian sederhana. Sang pria berbalut setelan jas hitam sementara sang perempuan berselimut kebaya putih.

Aura ketegangan mengambang di dalam ruangan seukuran 4×5 meter. Sadar dengan situasi itu, penghulu sesekali melemparkan lelucon .”Kalau lupa mending baca aja. Gak apa-apa kok,” celetuk penghulu. Rupanya petugas KUA telah menyiapkan kalimat ijab kabul di atas meja. Mempelai pria cukup mengucapkan nama calon istrinya dan mahar yang diberikan. Si calon pengantin pria tak menjawabnya.

Ketika proses ijab kabul berjalan, saya terkejut. Dengan tegas dan jelas mempelai pria meminang perempuan pujaannya dengan mas kawin uang senilai Rp100 ribu. Ya selembar uang bergambar Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Dalam beberapa menit saya terdiam dan hilang arah. “Kok bisa,” ucap saya dalam hati. Saya perhatikan wajah si lelaki. Kini raut mukanya telah berubah. Dia lebih tenang. Ada kesyahduan yang disusul senyum bahagia. Jepretan foto dari kamera telepon genggam terus mengarah ke pengantin baru itu. Sementara saya masih duduk terdiam memperhatikan tingkah laku para keluarga yang mengiringi.

Hari itu saya menyaksikan peristiwa yang begitu sakral. Dengan kesederhanaannya mereka tidak takut dan ragu untuk melangkah ke pelaminan. Proses pernikahan mereka seperti adegan dalam film Hollywood. Begitu sederhana sampai-sampai hanya melibatkan tiga orang saja, si calon pengantin dan penghulu plus mas kawin yang biasanya berupa cincin.

Ya memang setiap perempuan punya hak untuk menentukan berapa besar mas kawin atau mahar yang diinginkan. Si pria pun tentunya tidak mau memberikan sesuatu alakadarnya kepada wanita yang dicintainya. Tapi hari itu saya belajar bahwa materi dan hal dunia tidak boleh menjadi hambatan dalam hal beribadah.

Tidak ada yang salah dengan pernikahan di gedung dengan harga sewa 30 juta untuk tiga jam jika memang hal itu mampu dilakoni. Ini hanya soal kemampuan. Semua pilihan kita yang tentukan, putuskan, dan jalankan. Toh ternyata pilihan menikah di kantor KUA pun ternyata tidak menghilangkan kesakralan dari ijab kabul itu sendiri.

Setahun berlalu. Kantor kembali menugaskan saya meliput pernikahan. Kali ini fenomena menikah di tanggal 12 bulan 12 tahun 2012. Saya memilih KUA Kebon Jeruk untuk mencari bahan cerita. Cerita yang sama masih saya temui. Dari sekian banyak pasangan ada satu yang mencuri perhatian saya. Seorang pria yang tampak lebih tua dari perempuan datang diiringi hanya oleh dua orang anak berusia sekitar 10 dan 16 tahun.

“Kurang massa nih kayanya,” kata saya dalam hati. Tiba-tiba jantung saya berdebar kencang. Jangan-jangan nih penghulu bakal minta saya jadi salah satu saksi. Pasalnya tidak banyak rombongan yang dibawa. Beruntung penghulu tidak menunjuk saya. Ternyata calon pengantin pria meminta salah satu anak untuk duduk menjadi saksi. Tak berapa lama, proses ijab kabul pun berlangsung dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Usai mendapat bahan untuk menulis, saya pun bernafas lega. Senang karena tahun berikutnya tidak akan ada lagi pasangan yang mengincar pernikahan berdasarkan deretan angka kalender. Rasa lega mungkin lebih banyak dirasakan oleh para penghulu yang bekerja ekstra keras karena permintaan menikah melonjak tajam.

Tapi ternyata kantor lagi-lagi meminta saya untuk mendatangi KUA. Namun kali ini episodenya jauh berbeda. Biaya menikah di luar KUA tengah menjadi sorotan. Soal ini tak perlu saya ceritakan. Tapi setelah itu saya berdoa agar diberi di kesempatan untuk kembali datang ke KUA. Tidak untuk urusan pekerjaan tapi soal pernikahan saya.

Palmerah, 19 Februari 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s