Asmarandana

Gegaraning wong akrami
Dudu bondo dudu rupo
Amung ati piwatane
Luput pisan keno pisan
Yen gampang luwih gampang
Yen angel-angel kelangkung
Tan keno tinumbas arto

Pedoman untuk berumah tangga bukan bermodalkan harta atau rupa
Akan tetapi bermodalkan kemantapan hati
Jodoh telah digariskan. Bila telah takdirnya, semua terasa mudah dan lancar.
Namun jika belum ditakdirkan maka akan sulit terlaksana
Bahkan tak terbeli oleh harta

Saya agak terkejut ketika membaca penggalan prosa diatas. Penggalan prosa (begitu saya menyebut) itu tertera di selembar kartu undangan pernikahan seorang sahabat. Dari sekian banyak undangan resepsi pernikahan yang saya peroleh, baik di ruang maya dan selembar kertas selama dua bulan terakhir ini, kartu undangan diakhir Juli ini yang memberi kesan tersendiri bagi saya. Tidak ada penggalan ayat Alquran atau doa pernikahan Rasulullah saw untuk Ali dan Fatimah yang biasanya menghiasi. Hanya sebuah prosa dengan hiasan berupa sepasang gambar wayang yang menurut saya mewakili sosok Arjuna dan Shinta.

Pikiran saya melayang berusaha untuk membangkitkan ingatan masa lalu. Sambil dengan fokus merenungi susunan kalimat dalam bahasa Indonesia yang menurut saya tidak lain adalah terjemahan dari prosa berbahasa Jawa tersebut. Kemudian saya teringat akan pelajaran mulok (muatan lokal) waktu SMP. Pada saat itu saya belajar Bahasa Sunda dan kami sempat membahas tentang materi pupuh, yaitu sejenis prosa.

Mata saya kembali tertuju kepada prosa Jawa itu. Dari tujuh baris yang tersusun hanya kata pertama yang saya tahu, yaitu asmarandana. Sudah bukan rahasia lagi bahwa antara bahasa Sunda dengan Jawa ada kesamaan dan yang membedakan hanya maknanya saja. Ini salah satu jenis pupuh (dalam B.Sunda), pikir saya. Setahu saya ada beragam jenis pupuh. Saya sendiri hanya mampu mengingat dua jenis, yaitu pupuh kinanti dan asmarandana. Bila berbicara tentang pupuh, masing-masing pupuh berisikan tema-tema tertentu. Ada yang berisi tentang cinta, perjuangan, kekaguman dan sebagainya. Tapi di sini saya tidak akan berbicara tentang pupuh atau sejenis. Saya hanya terkesan dengan isi pesan dari prosa diatas.

Sebenarnya agak malu jika harus bicara tentang cinta atau c.i.n.t.a. Selain karena rumit, setiap orang sepertinya merasa menjadi ahli dan bijak jika berbicara tentang cinta. Sudahlah. Anyway, akhir-akhir ini, kata ‘cinta’ begitu ramai menghiasi keseharian kita. Mulai dari musik, film, buku, kaos, facebook, twitter sampai kartu undangan pernikahan. Tapi tidak ada yang sanggup mengalahkan derasnya arus cinta yang lahir dari musik dan film. Saya menaksir delapan dari sepuluh lagu yang biasa kita temui dalam keseharian pasti bersuasana cinta. Simpulannya sederhana saja bahwa makna cinta yang diwakili lewat media massa dewasa ini telah terdegradasi hingga jurang yang terdalam. Membosankan, hanya bicara seputar tubuh dan air mata.

Hal menarik saya temukan justru ketika Islam membahas mengenai tema cinta. Saya kira Islam memiliki cara yang elegan dan proporsional saat menyinggung tema-tema cinta. Cara bagaimana Islam memandang cinta dapat kita temui melalui Alquran dan hadist. Dari penglihatan saya yang terbatas ini, Islam senantiasa konsisten mengangkat tema-tema cinta yang sifatnya transendental dan humanis. Menyangkut hal-hal detail, Islam lebih tertarik mengangkat tema cinta dalam hubungan pernikahan/keluarga, yaitu ketika cinta telah diikat oleh tali pernikahan yang suci.

marriage meme

Maka tidak heran jika perkembangan sastra Islam selalu kental akan suasana transendental dan atau humanis. Saya coba ambil satu contoh kisah cinta yang sangat fenomenal, yaitu percintaan antara Laila dengan Qais atau populer disebut Laila&Majnun. Dari salah satu terjemahan, kisah cinta Qais dan Laila terjadi dalam sebuah kultur masyarakat Arab yang masih kental dengan kehidupan nomaden, termasuk dengan segala tradisi sosialnya yang keras. Dalam buku tersebut, kisah Qais dan Laila menceritakan tentang keagungan, pengorbanan, akhlak, dan ide murni, yaitu tempat dimana ruh berpelukan tanpa hijab.

Ibarat makhluk hidup yang berevolusi, cerita Laila&Majnun semakin berkembang keluar batas teritorinya, yaitu masyarakat Arab. Setiap orang yang sempat membacanya seolah-olah memiliki legitimasi untuk menterjemahkan kisah cinta Laila&Majnun. Mereka tanpa tedeng aling menyeret kisah cinta Laila&Majnun ke dalam “muatan lokal”. Anda pun mungkin memiliki kesan tersendiri terhadap kisah Laila&Majnun. Saya sendiri, terus terang, merasa otak saya tidak mampu menilai kisah Laila Majnun. Bagi saya kisah Laila Majnun hanya sebuah pergumulan cinta sederhana antara sang Pencipta dengan yang diciptakan. Sederhananya cinta seorang hamba kepada Tuhan-nya. Laila adalah kependekan dari Lailahaillah dan Qais (Majnun) mewakili sosok hamba yang “gila” akan keagungan Tuhannya. Satu yang menjadi catatan adalah bahwa orang gila hanya peduli kepada satu hal, yaitu ketidakpedulian.

Setelah hilir mudik kesana kemari, akhirnya saya kembali membaca helai demi helai pesan pupuh asmarandana. Kesan saya, lagi-lagi, sederhana saja. Tak perlu repot untuk segera memutuskan berumah tangga. Modalnya mudah saja, yaitu hanya berpedoman kepada kemantapan hati.

“Ah, tapi kan gak semudah itu, emangnya kawin cuma modal cinta/hati doang?” seru banyak orang. Kadang saya tidak mengerti cara berpikir orang dewasa, ada banyak jalan yang mudah dan murah tapi tetap saja yang dicari yang sulit dan mahal.

Lalu saya terpekur mencoba memahami kembali. Mungkinkah di zaman seperti ini, ada seorang pria yang memberikan mahar kepada sang perempuan dengan baju jirah perang (baca:sederhana) seperti yang dilakukan Ali? Sang perempuan pun dengan senang hati menerima (karena hatinya sudah mantap). Sementara resepsi pernikahannya sendiri hanya berlangsung dengan memotong seekor kambing tanpa perlu repot-repot memikirkan gedung, makanan pelengkap, gaun pengantin, foto prawedding dll? Dan sekali lagi orang-orang mungkin akan berteriak,” Ini kan momen sekali seumur hidup!” Hah, repotnya jadi orang dewasa.

Saya jadi teringat akan Jalaluddin Rumi yang mengatakan bahwa percintaan terlalu banyak dihiasi oleh hal-hal informal sementara sang hakikat menguap entah kemana. Beratus tahun jarak antara saya dan Rumi, tapi mengapa saya masih menemukan relevansinya?

13 Maret 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s