Dosakah Aku Mencintaimu ?

Dalam hiruk pikuk suasana kota terlihat seorang pemuda berjalan gontai tak menentu arah. Matanya kuyu menatap sekeliling jalan namun tampaknya tak ada satupun yang berhasil menarik perhatiannya. Tanpa pikir panjang tangannya melambai tertuju kepada salah satu bus kota yang berjalan merayap. Seorang pengendara motor menerjang genangan air yang menyebabkan air terhempas mendarat di bagian kaki pemuda itu. Sekilas pemuda itu hanya bisa menatap kosong ke arah pengendara motor. Satu helaan nafas keluar.

Pemuda itu berusia 23 tahun. Sebagai seseorang yang berasal dari sebuah kaki gunung, alam telah mengajarkan semua hal kepadanya. Keheningan telah menemani sepanjang usianya. Sebenarnya dia tidak terbiasa dengan hentakan irama kota besar. Telinganya lebih akrab dengan kicauan burung jantan yang sedang menggoda sang betina, bukan oleh deru mesin kereta atau bus kota. Matanya terbiasa melihat sekuntum bunga yang sedang diiris embun pagi bukan oleh lalu lalang orang-orang yang merayap seperti semut pekerja.

Hari ini dia beruntung mendapatkan kursi kosong di tempat favoritnya, kursi paling belakang. Dari belakang seluruh ruang bus terlihat menghampar tak terhalangi. Pemuda itu pun bisa tenang menulis atau membaca tanpa harus menarik perhatian orang banyak. Pemuda itu membuka sebuah buku. Buku yang tampak seperti buku harian. Pemuda itu menuliskan beberapa kata, tepatnya sebuah pertanyaan.

”Salwa, Dosakah Aku Mencintaimu?”

Pemuda itu lalu menutup rapat-rapat buku harian tersebut dan memasukkan ke dalam sebuah tas cangklong. Air mata membelah wajah pemuda itu. Pemuda itu berucap:

”Hari ini adalah hari yang tidak tercatat dalam sejarah. Usai sudah masa-masa dimana aku merangkai cinta dengan kata-kata merdu. Hari ini adalah hari dimana cinta menghempaskanku sejadi-jadinya ke dasar penderitaan. Cinta telah merampok satu-satunya harapan yang tersisa dalam diriku. Oh, cinta beginikah rupamu setelah sekian lama aku menyanjung. Tahukah kau bahwa engkau adalah kata yang ingin kuucap tapi tak bisa terucap? Engkau adalah bibir yang inginku hisap tapi tak bisa kuhisap?”

Pemuda itu memperbaiki posisi duduknya. ”Hari ini aku sangat menyesali perjumpaan kita setahun lalu. Hari itu adalah ketika aku menjadi seekor lebah yang telah terbang berjuta-juta meter untuk mencari sekuntum bunga mawar. Dan engkau adalah mawar itu yang telah memberikan harapan dan masa depan yang cerah. Hari itu adalah hari dimana benih-benih cinta bertaburan. Setahun lalu, matamu serupa mentari pagi yang datang memberikan kehangatan.”

”Tahukah engkau cinta, seharusnya pagi ini aku dan engkau sedang berada dalam satu selimut yang sama. Pagi ini seharusnya aku menggenggam tanganmu erat-erat dan menuntunmu bermandikan air laut. Dan siang ini, seharusnya aku tidak berada di dalam bus kota ini, menatap kosong jalan-jalan dan melihat sehelai demi sehelai jiwaku pergi. Ya, seharusnya siang ini aku menyuapimu, membuatkan segelas teh dingin minuman kesukaanmu. Seharusnya…..”

Untuk waktu yang cukup lama aku tidak mendengar jeritan hati pemuda itu. Pemuda itu bersiap hendak turun. Seperti seorang anak kecil, aku mengikuti dibelakangnya. Langkah pemuda itu terhenti di sebuah taman dengan pohon-pohonnya yang rindang.

“Kau tahu cinta, seharusnya sore ini engkau bersandar dibahuku dan kita berkisah tentang pertemuan kita pertama kali. Ya, seharusnya sore ini kita bermandikan mentari sore dan aku dengan manja akan memelukmu erat sambil bertutur tentang rencana-rencana kita akan hari esok.”

“Hari ini adalah hari yang tidak akan tercatat dalam sejarah. Dan hari ini aku sadar bahwa kehormatanmu yang membuat aku berdosa mencintaimu.”

Hujan kembali turun. Aku bergegas mencari naungan. Di bawah atap reot aku menatap pemuda itu hanya termangu menatap langit yang tanpa henti menumpahkan butiran-butiran air. Sejenak ku termangu. Oh Tuhan lindungi aku dari cinta yang berlebih…

14 September 2010

Sampai saat ini aku tidak punya pilihan lain kecuali berjuang setiap hari sampai kutemukan harta yang layak kupersembahkan padamu. Harta yang akan membantu perjalanan panjang kita…

*Hari ini adalah hari yang tidak tercatat dalam sejarah, dikutip dari syair Khalil Gibran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s