Menikmati Sekeping Kepulauan Seribu (Bagian II)

Pada kenyataannya bukan sekeping pulau yang saya kunjungi. Di sisa hari Sabtu yang meluap dengan siraman cahaya matahari, saya mengunjungi tiga pulau di sekitar Pulau Harapan. Selepas merebahkan tubuh di tempat kami menginap dan menyantap menu makan siang, kami bergegas menuju dermaga.

Belasan perahu kayu berkapasitas 15 penumpang berbaris rapi menunggu para wisatawan. Kami pun bergerak merayap menuju perairan dangkal yang berjarak sekitar 20 menit perjalanan. Suara raungan mesin perahu menjadi latar suara pengiring. Anehnya, meski suara mesin begitu memekakkan telinga tapi kami tidak sedikit pun merasa terganggu.

Gradasi warna laut yang membentang sejauh mata memandang membuat suara bising mesin menjadi tak terdengar. Di tengah teriknya sinar matahari, hembusan angin laut yang meraba setiap jengkal tubuh saya membawa suasana makin tenang.

Seluruh anggota tubuh saya seperti berontak ingin segera merasakan segarnya air laut. Tenangnya ombak laut seolah memanggil-manggil para penumpang untuk segera terjun ke dalam air laut. Tiba di titik snorkeling, pemandu kami segera mengeluarkan peralatan berenang, seperti kacamata, pelampung, dan sirip selam. Setelah mendapatkan ukuran yang pas, tanpa menunggu lama saya pun langsung terjun ke tengah perairan tanpa menggunakan pelampung.

Sesuai perkiraan, air laut tidak menelan saya. Seluruh badan saya melayang di permukaan air. Hukum Archimedes bekerja dengan sempurna. Kacamata dan alat bantu pernapasan membuat saya merasa lebih tenang dan mudah menentukan arah gerak. Saya lebih terkejut lagi dengan cara kerja sirip selam. Sepatu menyelam yang menyerupai bentuk kaki bebek ini amat membantu kinerja saya di dalam air. Tanpa perlu bersusah payah menggerakkan tangan, kecepatan berenang saya meningkat hampir dua kali lipat dengan sirip selam yang menempel di kaki.

Pemandangan terumbu karang dan biota laut di kepulauan sekitar Pulau Harapan saya pikir meleset dari yang diharapkan. Semula saya berharap bisa melihat berbagai terumbu karang penuh warna dan ratusan ikan yang berenang beriringan. Namun yang ada hanya beberapa jenis terumbu karang yang sunyi dan sepi dari lalu lalang ikan. Kami harus berbekal roti dan biskuit untuk memancing kedatangan ikan-ikan. Cukup berhasil tapi justru kondisi air malah menjadi terlihat keruh dengan roti dan biskuit yang meleleh begitu bercampur dengan air laut.

Tuntas melihat pemandangan bawah air dan mengabadikan berbagai gaya menyelam dengan kamera saku, kami beranjak ke Pulau Perak. Pasir putih menyambut kedatangan kami yang tanpa menunggu aba-aba langsung mengambil jurus seribu untuk bergaya di depan kamera. Matahari masih terlalu tinggi, jepretan foto belum terlalu bagus untuk menangkap momen sunset. Kami pun segera beranjak ke pulau berikutnya.

Pemandu kami menuturkan kalau pulau berikutnya merupakan milik mantan Presiden Indonesia, Soeharto. Ibarat memasuki benteng, sekeliling pulau dilindungi oleh tumpukan batu-batu karang penahan ombak. Ketika saya mencoba untuk berenang, puluhan bulu babi terlihat berkumpul membentuk kelompok di sisi-sisi pulau. Walhasil, saya akhirnya memilih menikmati sisa sore dengan menyeruput kopi di pinggir pantai.

Image

Pulau Bira, salah satu tempat yang kami kunjungi

Sebuah rumah yang konon menjadi tempat peristirahatan Presiden Soeharto tampak tak terurus. Beberapa mesin pendingin udara terlihat karatan dan kayu-kayu yang menjadi penghias rumah mencoba bertahan dengan susah payah dari serangan waktu. Meski terkesan tak terurus namun kondisi pulau cukup bersih dari sampah-sampah plastik. Suasana Pulau Bulat amat kontras dibandingkan dengan Kota Jakarta yang hanya memakan waktu tiga jam dari Pulau Harapan. Udara hangat di sore hari menjadi pasangan sempurna menemani suasana pulau yang sunyi.

Kondisi seperti itu memang amat mahal didapat di tengah hiruk pikuk Kota Jakarta yang ramai oleh bunyi klakson mobil dan kondisi jalan yang semerawut. Kebanyakan orang mungkin tak akan menyangka kalau ada sudut lain dari Jakarta yang menawarkan suasana tenang dan tentram seperti di Pulau Bulat atau Pulau Perak.

Jelang Magrib, kami pun segera putar arah menuju tempat peraduan. Tiba di tempat menginap, sang empunya rumah menyambut kami dengan ikan kakap putih bakar. Aroma ikan yang berasal dari asap pembakaran membuat perut saya berteriak. Sambil menunggu ikan matang dari perapian, sang pemilik penginapan yang akrab disapa Pak Rambo bercerita banyak hal kepada kami. Mulai dari merintis bisnis wisata bahari di Kepulauan Seribu hingga kepemilikan pulau-pulau pribadi.

Cerita Pak Rambo cukup meredakan perut saya yang keroncongan sementara waktu. Begitu ikan matang, tanpa menunggu lama usai membilas badan kami langsung menyantapnya. Ada rasa berbeda dari ikan yang saya konsumsi. Sang koki mengaku tidak menambahkan bumbu apapun tapi daging terasa manis begitu menyentuh lidah.

Teksturnya pun lembut dan sedikit berair. Dari luar ikan tampak gosong tapi begitu merobek kulitnya warna dagin yang putih memanggil-manggil memohon untuk di santap. Rasa manis-pedas ikan hingga kini masih menempel erat dalam ingatan saya. Membuat saya ingin kembali mengunjungi Pulau Harapan.

Satu malam dua hari rasanya belum cukup untuk mengusir kejenuhan. Tapi kepingan pulau seribu amat sukses melahirkan rasa rindu saya akan suasana pantai.

Image

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s