Gunung Lawu, Mbok Yem, dan Jalak

Puncak Gunung Lawu adalah sebuah mesin pendingin terbesar yang pernah saya temui. Berada di puncak Lawu yang memiliki ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut membuat tubuh saya menggigil tanpa henti meski jaket tebal sudah membungkus rapat tubuh saya. Sayang saya tidak memiliki alat pengukur suhu atau sejenisnya, tapi menurut perkiraan suhu udara di puncak Lawu pada malam hari berkisar lima hingga sepuluh derajat celsius, padahal saat itu masih pukul 19.00.

Satu-satunya yang membuat saya bisa bertahan menahan udara dingin ialah pemandangan dari atas puncak. Langit malam terlihat jernih pada Sabtu, 10 Mei 2014, membuat bintang dan sinar rembulan dengan leluasa menunjukkan dirinya. Tak bosan saya menatap langit sambil memeluk erat tubuh sendiri. Saya pun terhibur dengan pemandangan langit di malam hari.

Bersama beberapa teman, kami mencoba melawan hawa dingin dengan menyantap makanan dan minuman panas. Selain menggerak-gerakkan badan, banyak makan menjadi cara cukup efektif membuat tubuh saya bertahan di tengah kepungan angin malam. Hentakan musik menjadi pengiring makan malam kami yang terdiri dari teh panas, nugget, dan mie instan. Berada di daerah dingin selalu membuat perut saya lebih cepat lapar dari biasanya.

Gunung Lawu menjadi pendakian saya yang kedua memasuki pertengahan tahun 2014. Sepekan sebelumnya, saya bersama 29 rekan menuntaskan pendakian di Gunung Gede, Bogor. Berada di tengah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, kami menapaki jalur menuju puncak Lawu dari Cemoro Sewu.

Gerbang menuju Gunung Lawu melalui Cemoro Sewu.

Gerbang menuju Gunung Lawu melalui Cemoro Sewu.

Kalau Anda pernah melakukan pendakian ke Gunung Gede atau Pangrango melalui jalur Cibodas, jalur pendakian ke Gunung Lawu memiliki karakter yang relatif sama. Sepanjang jalan menuju puncak, beragam bentuk batu cadas menjadi pengiring para pendaki. Semakin ke atas, ukuran batu gunung makin bervariasi.

Setiap gunung selalu punya cerita menarik untuk dijadikan bahan pembicaraan, tak terkecuali dengan Gunung Lawu. Bagi sejumlah orang, puncak Lawu amat akrab untuk ritual-ritual tertentu. Ketika dalam perjalanan mendaki saya sempat berpapasan dengan seorang pria yang tanpa berbekal apa pun sedang berjalan turun. Begitu juga ketika dalam perjalanan turun gunung, kali ini saya berpapasan dengan sekelompok orang tua. Pemandangan itu amat kontras dengan kami para pendaki yang menggendong ransel berkilo-kilo lengkap dengan peralatan dan perbekalan mendaki.

Namun ada dua hal yang membuat saya berkesan selama pendakian ke Gunung Lawu. Pertama adalah penampakan burung Jalak. Setidaknya ada dua jenis Jalak yang menghuni kawasan Lawu. Pertama Jalak berwarna abu-abu yang memiliki paruh kuning dan Jalak berwarna hitam polos. Kehadiran Jalak yang menemani perjalanan para pendaki akan mudah ditemui memasuki pos pendakian tiga.

Pendakian terasa makin berat usai melepas lelah di pos tiga. Kehadiran dan kicauan Jalak sedikit membantu usaha kami mendaki jalur yang makin curam. Jalak-jalak ini seolah-olah ingin mengatakan kalau puncak Lawu semakin dekat dan pemandangan di atas semakin menawan.

Sepenggal pemandangan dari punggung Gunung Lawu.

Sepenggal pemandangan dari punggung Gunung Lawu.

Hal berikutnya yang membuat saya berkesan adalah kehadiran warung di puncak Lawu. Sebelum menempuh pendakian, saya sudah mendengar ihwal warung makan di atas Gunung Lawu yang bernama Mbok Yem. Tapi saya tak menyangka jika di dalam sebuah warung, sang pemilik menyediakan tempat menginap pula bagi para pendaki. Sebenarnya ada dua warung, namun satu warung lainnya tak terlalu familiar. Saya pikir mungkin karena tidak mencantumkan nama sang pemilik di depan warungnya.

Demi efektivitas, akhirnya kami memutuskan tidak mendirikan tenda dan memilih beristirahat di warung milik Mbok Yem. Di ruangan berukuran sekitar 9×4 meter, kami tidur beralaskan terpal yang dilapisi kardus. Lantai warung sesungguhnya berlapiskan pasir berwarna kuning pastel dengan beratapan seng. Saya menaksir penginapan sederhana ini mampu menampung 70 orang. Tak berbeda seperti mendirikan tenda, warung Mbok Yem cukup efektif meredam suhu dingin yang mengigit.

Momen yang dinanti pun tiba. Pagi. Bersama serombongan anak sekolah, kami bergegas mendaki menuju puncak teratas, Hargo Dumilah. Enggan ketinggalan matahari pagi, langkah kaki kami percepat. Tanpa ransel di bahu, perjalanan sedikit lebih mudah. Menapaki jalur berbatu yang bercampur tanah dengan kemiringan sekitar 50 derajat, bunga-bunga edelweis menjadi pembatas di sisi jalur. Saya kurang beruntung karena edelweiss belum mekar merekah.

Puncak Gunung Lawu, Hargo Dumilah. Setinggi 3.265 mdpl

Puncak Gunung Lawu, Hargo Dumilah. Setinggi 3.265 mdpl

Jujur bukan sunrise yang menjadi tujuan saya mendaki. Menikmati mentari pagi di puncak gunung, bagi saya, hanyalah sepenggal bonus. Lebih dari itu, saya penasaran sekaligus haus mencari nuansa mistis. Kala mencapai puncak Gunung Gede, sepekan sebelum mendaki ke Gunung Lawu, suasana mistis yang saya cari buyar oleh deretan pedagang makanan dan minuman.

Hal serupa terulang ketika mencapai puncak Lawu. Orang-orang terlalu sibuk berpose di depan kamera dan mencari angle tepat. Tak ada ketenangan. Orang-orang seperti tergesa-gesa, berlomba-lomba mengabadikan momen dengan latar mentari pagi. Mungkin anda tidak setuju atau bahkan bertanya-tanya apa suasana mistis itu. Sulit mengukurnya. Tapi ketika semua rasa lelah sehabis mendaki seharian sirna dan Anda betah berlama-lama berada di gunung. Satu rasa kalau kita terlalu kecil untuk bersikap sombong di hadapan Allah. Mungkin itu yang disebut dengan mistis.

 

Bersama Filosantara

Bersama Filosantara

 

Catatan: Semua foto berasal dari kamera rekan-rekan yang entah saya tidak tahu pemiliknya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s