Ketika Pulang Mengantar Nyawa

“Di situ lah seninya mudik. Pernah donk gue macet, berhenti gak bergerak sama sekali berjam-jam di jalan. Hahahaha,” ujar seorang teman seputar pandangannya soal mudik Lebaran.

“Saya udah hampir 15 tahun gak mudik, Dit. Buang-buang waktu. Temen saya pernah dua hari cuma muter-muter di daerah jawa barat. Bayangkan dua hari Cuma diputer-puter sama polisi. Itu rekor perjalanan terpanjang di satu tempat loh,” kata atasan saya di kantor.

Dan saya hanya bisa tersenyum mendengar keduanya berkomentar ketika saya layangkan pertanyaan soal mudik Lebaran. Sebenarnya apa sih yang dicari orang-orang yang melakukan mudik Lebaran? Jawabannya sudah pernah saya tulis empat tahun lalu ketika saya membuka kembali file mudik Lebaran. Judulnya tak tanggung-tanggung, Teror di Hari Raya.

Hingga detik ini persepsi saya mengenai tradisi mudik Lebaran tak lebih dari proses membuang-buang waktu dibandingkan dengan ajang silahturahim. Saya sendiri termasuk salah satu dari 13,6 juta orang yang melakukan mudik pada 2012. Di sisi lain, saya bersyukur tidak termasuk ke dalam golongan angka 5.013. Angka 5.013 merupakan jumlah kasus kecelakaan yang terjadi sepanjang 14 hari sebelum dan setelah Lebaran 2012 berdasarkan data Departemen Perhubungan. Angka ini punya potensi mengalami penambahan pada Lebaran 2013, mengingat jumlah kendaraan pun bertambah. Tapi saya berharap tidak.

Anda mau tahu berapa jumlah orang yang meninggal akibat kecelakaan selama mudik Lebaran tahun lalu? Mudah, tinggal searching saja maka ada beragam angka yang keluar berdasarkan hari H Lebaran. Mengutip tempo.co, ada  869 orang meninggal selama 14 hari mudik sebelum dan sesudah Lebaran 2012. Wajar? Kita akan lihat data pada tahun sebelumnya, 2011.

Dari Elshinta saya mendapat data angka kecelakaan 2.770 kasus naik 1.843 kasus dibanding 2010 yang hanya 927 kasus. Sedangkan korban meninggal sebanyak 449 orang atau naik 267 orang dibanding 2010. Bila melihat trennya, angka kecelakaan konsisten meningkat. Begitu juga dengan korban meninggal selama mudik Lebaran dari tahun ke tahun yang masih enggan menurun. Jadi pahitnya, kemungkinan besar angka kecelakaan dan korban mudik pada Lebaran 2013 akan meningkat. Lalu apa yang akan dilakukan pemerintah?

Di sinilah masalah terbesar kita. Ternyata solusi yang ditawarkan pemerintah pun masih tetap sama. Menyarankan agar berhati-hati selama menempuh perjalanan, menurunkan personel lalu lintas di jalan, perkuat ekspedisi pengiriman untuk mengangkut sepeda motor, memperbaiki jalan. Itu-itu saja dan sudah pasti monoton. Jadi jika solusi untuk persoalan yang sama tidak ada perubahan maka jangan kaget bila angka kecelakaan pun bakal meningkat. Syukur-syukur stagnan.

Memang sih Lebaran tidak melulu bicara kecelakaan. Masih banyak sisi yang bisa digali. Cara pandang yang saya buat dengan melihat sisi kecelakaan memang mengerikan. Tapi percayalah, itu sulit dicerna lantaran kita belum menjadi korban kecelakaan ketika menumpuh perjalanan dari Jakarta atau sekitarnya menuju tempat tujuan.

Tak hanya itu, perubahan angka korban meninggal akibat kecelakaan dari 182 korban pada 2010, 449 korban di 2011, dan 869 jiwa di 2012, terjadi begitu drastis. Meski mungkin dari patokan waktu yang dipakai berbeda satu dengan lainnya, tapi bahwa ada kenaikan jumlah korban jiwa tiap tahunnya adalah fakta yang tidak bisa diabaikan.

Tidak adanya upaya untuk menekan korban jiwa akibat kecelakan selama Lebaran tidak lepas dari paradigma yang dipakai oleh pemerintah tapi juga masyarakat itu sendiri. Saya yakin pemerintah sudah punya beragam solusi tapi mereka terlalu pengecut untuk mengambil perubahan yang radikal. Pemerintah hanya melihat mudik Lebaran sebagai tradisi tahunan tak beda seperti imigrasi burung untuk berpindah ke tempat yang lebih hangat saat dihabitatnya mengalami musim dingin. Tapi tak pernah terpikirkan kalau imigrasi burung kecil sekali memakan korban burung.

Sementara ini imigrasi yang dilakukan oleh manusia yang berakal justru jauh lebih besar korban jiwanya. Tragis. Sekarang kalau angka 869 orang dikonversi ke dalam bus yang berkapasitas 48 penumpang maka bakal didapat 18 bus. Silahkan bayangkan ada iring-iringan 18 bus dalam satu waktu yang mengalami kecelakaan dan semuanya meninggal tak bersisa. Mungkin kecelakaan itu bakal menjadi tragedi nasional.

Mestinya pemerintah mengambil langkah tegas. Larang saja para pemudik yang mengendarai sepeda motor. Karena faktanya 60 persen kecelakaan berasal dari sepeda motor. Kita lihat apa hasil. Tapi yang terjadi, pemerintah hanya sibuk mencatat angka kecelakaan untuk kemudian dilaporkan dalam rapat dengar pendapat di DPR pasca Lebaran.

Buat saya, hingga detik ini, mudik Lebaran nyaris seperti iring-iringan orang menuju kematian dan kemubaziran. Kejam memang. Karena kita menolak berubah.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s