Lengsernya Kursi Mursi

Agustus 2013 menjadi sejarah kelam gerakan organisasi Al-Ikhwan al-Muslimun (IM), salah satu partai politik di Mesir. Pun menjadi salah satu peristiwa pertumpahan darah terbesar sejak gerakan revolusi menggulingkan Presiden Husni Mubarak pada 2011. Ratusan, bahkan ada yang menyebut ribuan, pendukung IM tewas ditembaki oleh militer Mesir ketika melakukan aksi protes, 16-17 Agustus, terhadap penggulingan Presiden Muhammad Mursi dari kedudukannya yang sah.

Jalan-jalan di Kairo riuh oleh suara bedil tentara, tank, dan helikopter yang mengejar para demonstran. Demonstran yang gagal menyelamatkan diri berubah menjadi kumpulan mayat-mayat yang tergeletak di jalanan dan masjid. Bentrokan tak hanya terjadi di pusat kota Kairo. Kota lain seperti Iskandariah, Beheria, Fayoum, Minya, Suez pun mengalami hal serupa. Tak ada yang tahu secara pasti berapa korban tewas akibat tindakan represif militer. Satu hal pasti, semua orang di dunia tahu peristiwa ini.

Kecepatan teknologi informasi membuat orang-orang di Indonesia segera menumpahkan segala hal terkait “pembantaian” gelombang protes di Mesir detik itu juga. Linimasa jejaring sosial ramai menuang gambar, angka korban, dan tulisan yang mengutuk aksi militer. Buat saya, semua informasi seputar kejadian di Mesir perlu waktu untuk mengunyahnya lantaran posisi saya sebagai orang yang berada jauh di lingkaran konflik.

Ada pernyataan menarik dari Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan yang mengatakan tidak perlu menjadi orang Mesir untuk peduli terhadap peristiwa yang terjadi di Kairo. Politisi paling vokal terhadap kejadian di Mesir ini mungkin ingin membangun kesadaran dan mengajak masyarakat internasional agar melakukan aksi nyata. Memang tidak perlu menjadi orang Mesir, tapi bagi sebagian orang perlu memahami konteks dan akar persoalan di Mesir untuk mengambil sikap dan bereaksi mengecam kudeta.

Saya baru menyadari soal itu ketika sekelompok massa menggelar unjuk rasa protes terhadap kudeta Mesir di Jakarta. Setidaknya ada dua kelompok demonstran, yaitu mereka yang berunjuk rasa di depan gedung PBB dan Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Teman saya bertanya, “Kok aksinya di depan Kedubes Amerika bukan Mesir?” Seorang teman mengatakan kalau demonstrasi digelar di Kedubes Mesir, warga Indonesia yang tinggal di Mesir bakal kena dampaknya. Pada revolusi 2011 menggulingkan Presiden Mubarak, kabarnya para pelajar Indonesia yang kuliah di Al-Azhar diinterogasi oleh polisi Mesir. Ini tak lepas dari pihak keamanan yang mencium ada gelagat warga Indonesia yang mendukung revolusi. Sampe segitunya pergerakan polisi Mesir.

Namun bagi saya yang menarik ialah bagaimana peristiwa kudeta Mesir membawa dampak ke orang Indonesia, terutama di dunia maya. Sebuah fenomena twitwar (perdebatan di twitter) merebak ke permukaan. Mereka yang pro Islam ramai-ramai memasang gambar dukungan terhadap IM dan Mursi, mengutuk habis kaum liberal yang di Mesir ternyata mendukung langkah kudeta. Ternyata di Indonesia juga panas tapi cuma di internet.

Saya sendiri terkadang merasa serba salah karena ingin melihat peristiwa Mesir tidak hanya sekedar dari organisasi IM dan kudeta saja. Menurut saya, agar bisa netral melihat persoalan Mesir kita perlu pakai kaca mata kemanusiaan dan proses demokrasi. Akan menjadi lengkap bila kita paham betul karakter dan budaya orang Mesir.

Sebab bagi saya agak bias kalau menganggap mereka yang melakukan demonstrasi disebut sebagai upaya jihad dan korban tewas sebagai syuhada. Pasalnya, bisa jadi tentara yang menembak para demonstran menganut agama yang serupa, yaitu Islam. Klaim jihad dan syuhada hanya akan membuat luntur makna jihad dan syuhada itu sendiri.

Sementara kalau melihat konteks kudeta Mesir sebagai bagian dari paham demokrasi yang banyak dianut negara maju dan berkembang maka penggulingan presiden bukanlah hal baru. Di Asia Tenggara saja ada Filipina dan Thailand yang pernah mengalami kudeta. Pergantian dari Presiden Soekarno ke Soeharto saja ada yang menyebut sebagai kudeta. Kudeta, sudah menjadi resiko yang mesti dihadapi oleh negara penganut demokrasi.

Lantas bagaimana bisa kudeta, atau sebut saja Arab Spring, di Timur Tengah lebih banyak memakan korban dibandingkan dengan negara lain? Mantan Menteri Luar Negeri Indonesia Hassan Wirajuda menyebut bangunan politik di Mesir tidak setangguh ketika proses kudeta sedang terjadi.

Contoh menarik adalah ketika Husni Mubarak lengser, presiden yang memimpin lebih dari 30 tahun ini langsung di penjara. Sementara di Indonesia ketika reformasi 1998 tidak menahan Presiden Soeharto. Bahkan hingga akhir hayatnya tidak ada yang bisa membuktikan dosa-dosa dan menjebloskan Soeharto ke sel tahanan. Lantas apakah orang Mesir lebih keras dari orang Indonesia? Atau orang Indonesia lebih mudah memaafkan pemimpin yang berlumur dosa? Gak mudah buat menjawabnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s