C Untuk Charlie

Jumat siang. Ruangan kantor masih sepi. Hanya ada tiga orang termasuk saya yang menjejakkan kaki di ruangan berukuran 6×4 meter. Sama seperti Jumat pekan lalu dan pekan-pekan sebelumnya, belum banyak rekan kerja saya yang tiba di kantor di bawah pukul 12.00. Sebelum melangkah ke masjid, saya sempatkan membaca satu artikel opini di koran yang mengangkat peristiwa penembakan kantor Majalah Charlie Hebdo di Prancis.

Ada perasaan bimbang usai membaca tulisan itu. Sebuah kegamangan antara setuju dan tidak. Saya mencoba menimbunnya sejenak. Berharap suatu ketika bisa mendapatkan jawaban yang bisa mengurangi rasa kebimbangan saya.

Di masjid, khotib masih mengangkat tema seputar hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Isi khutbahnya ringan. Sang khotib tidak memberikan perintah, larangan atau peringatan ini-itu. Dia hanya bercerita tentang sikap Rasulullah yang begitu santun dan tidak pernah marah ketika menerima caci maki seorang Yahudi. Padahal setiap hari si pencaci yang ternyata buta itu selalu diberi makan oleh Rasulullah. Cerita yang sudah pernah saya baca sebelumnya.

Lantas saya bertanya-tanya, apakah ada jamaah yang bernama Charlie di masjid yang saya datangi untuk menunaikan solat Jumat kemarin? Ah, pertanyaan yang aneh. Seandainya pun ada saya berharap Charlie tidak tertidur ketika khotib membacakan teks pidatonya.

Charlie Hebdo. Rabu, 7 Januari 2015, dua orang bersenjatakan senapan AK 47 menyerang kantor majalah Charlie Hebdo. Sebanyak 12 karyawan tewas. Pemberitaan yang berkembang, aksi penembakan itu diduga dipicu oleh terbitnya karikatur Nabi Muhammad. Saya perlu mencari lebih jauh karikatur mana yang mendorong aksi serangan itu. Ternyata ada banyak. Tapi jelas, bagi saya karikatur tersebut sebuah ejekan bukan produk jurnalistik yang prinsip utamanya harus melewati verifikasi.

rabble.co

rabble.co

Layakkah kaum Muslimin marah dengan karikatur itu ketika di saat yang bersamaan mereka yang mengusung hak kebebasan bersuara menentang aksi penyerangan itu? Bagi saya sekedar marah layak. Bahkan sudah semestinya jika kita mengenal betul ada di posisi mana seorang Rasulullah saw dalam Islam. Tapi untuk membunuh orang yang menghina? Saya masih bimbang.

Tersandera. Itu yang terjadi dengan Islam saat ini. Kami, selaku kaum Muslimin, akan selalu berada dalam posisi yang dilematis ketika ada sekelompok dari saudara kami yang memilih mengambil tindakan kekerasan untuk menjawab setiap aksi penghinaan terhadap Islam. Reaksinya pun beragam. Ada yang memilih diam. Ada yang tak mau tahu. Sementara sebagian lainnya berupaya untuk menjelaskan dengan bermacam aksi.

Charlie, atas nama kebebasan berekspresi telah menusuk terlalu jauh bagian paling sakral dari pemeluk Islam. Ada yang beranggapan kita tidak perlu reaktif menyikapi Charlie karena memang pekerjaan mereka membuat satire. Bagi mereka yang masih mempunyai harga diri dan kehormatan tentunya tidak akan tinggal diam ketika ada pihak yang dengan bebas menghina tanpa pernah berdialog. Dan jika ada pemeluk agama lain yang diperlakukan sama dengan Charlie lalu mereka memilih diam saja, menurut saya ada masalah dengan mereka.

Charlie harus tahu sampai sejauh mana batasan satire-nya. Sebab kebebasan yang dimiliki Charlie punya potensi melahirkan kebencian bagi pihak lain. Jika kami bisa memahami paham kebebasan yang Charlie anut, maka luangkan waktu sejenak bagi Charlie untuk memahami arti agama dalam keseharian kaum Muslimin. Jika tidak bisa, tidak ada salahnya mulai dari sekarang Charlie berlatih seni bela diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s