Snap Judgement (Simpulan Sekejap)


Mengerikan. Sangat mengerikan sekali ketika hal itu benar-benar terjadi dan yang bersisa hanyalah penyesalan. Apakah itu hanya kebetulan belaka atau memang takdir telah menggiring dan menuntunnya? Saya hanya tidak habis pikir, terkadang berpikir positif bisa menjerumuskan.

Peristiwa itu terjadi pekan kemarin. Saya berencana untuk memfotokopi beberapa dokumen sekaligus melaminating ijazah SD dan SMP yang sempat tertunda. Hari itu saya harus memfotocopi di tempat lain karena tempat yang biasa (baca:langgangan) sang mesin sedang rusak. Sebelum saya menunaikan niat, pikiran dan perasaan saya berkecamuk. Ada perasaan tidak enak. Gelisah. Singkatnya akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakan hari ini. Sekilas saya “berimajinasi”, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada saya hari ini? Kejadian apakah itu? Bagaimana jika ijazah SD saya gagal terlaminating? Rusak terlipat tak menentu misalnya. Saya langsung membuang jauh-jauh pikiran itu.

Saya terus mengayuh sepada. Seorang anak, berusia sekitar 13 tahun, melayani saya. Pertama dia “berhasil” memfotokopi beberapa dokumen. Beberapa saat kemudian ada keraguan dalam diri saya. Bisakah anak ini melaminating? Kemudian saya bertanya,

“Bisa gak laminating?”

Dengan singkat dia menjawab, “Bisa”.

Dia langsung mengambil Danem SD saya dan siap melaminating. Sebenarnya ada 3 berkas yang akan dilaminating, yaitu Danem SD, ijazah SD dan SMP. Seketika itu juga hati saya berteriak dengan lantang, “Ambil Adi, anak itu gak bisa laminating. Ijazah elu bakal ancur.” Beberapa saat kemudian, dari kejauhan saya mengamati dia tampak canggung, tegang, dan kikuk.

“Gak bisa ya? Udah bawa sini!,” seru saya. Selama sekitar 30 detik dia tak bergeming. Akhirnya dengan nada suara agak tinggi, saya menyuruh dia membawa ijazah saya.

Tahukah kau kawan apa yang terjadi? Saat itu juga Danem SD saya telah hancur terlipat. Bagian atasnya yang bergambar burung garuda habis terbakar/sobek. Duapertiga bagian Danem menyatu dengan plastik laminating. Sekarang Danem saya tampak seperti botol air mineral yang meleleh terbakar api.

Blink

Sambil mengayuh sepeda menuju rumah, kepala saya dihujani beribu penyesalan dan berusaha mencari alasan logis atas kejadian ini. Saya sempat berpikir bahwa ini tidak masuk akal. Saya merasa, sebelum peristiwa itu terjadi, insting saya sudah memberikan tanda bahaya (early warning). Ya, insting atau intuitif, mungkin itu penjelasan yang bisa saya terima sampai saya tanpa sengaja membuka kembali buku yang sempat tertunda untuk saya baca. Tuntas sudah keraguan saya.

Malcolm Gladwell dalam bukunya yang berjudul “Blink” memberikan penjelasan yang “masuk akal” mengapa saya bisa “akan tahu” kalau Danem saya akan hancur pada pagi itu. Berikut ini salah satu cerita nyata yang bisa sedikit menjelaskan perasaan yang pernah saya alami.

Ada sebuah kisah menarik mengenai penjualan patung batu pualam yang berasal enam abad Sebelum Masehi. Ada seorang pedagang yang menawarkan patung itu kepada Museum J.Paul Getty di California. Setelah terjadi kesepakatan, patung tersebut dibanderol seharga kurang sedikit dari 10 juta dolar. Lalu dengan memakan beberapa hari pihak museum melakukan pengujian apakah patung tersebut tiruan atau asli. Seorang geolog asal University of California melakukan pengujian dengan perlengkapan teknologi modern. Hasilnya positif bahwa patung itu benda purbakala alias asli.

Empat belas bulan kemudian patung tersebut siap dipamerkan. Sampai pada suatu hari ada seorang yang bernama Federico Zeri, pakar sejarah Italia melihat ada sesuatu yang kurang pas, khususnya pada pahatan dibagian kuku. Selanjutnya, Thomas Hoving, mantan direktur Metropolitan Museum of Art di New York, saat pertama kali dia melihat, kata pertama yang terucap adalah Fresh”. Fresh bukanlah reaksi yang tepat untuk menilai patung yang berusia ribuan tahun. Singkat cerita, patung itu murni palsu atau lebih tepatnya baru berusia sekitar beberapa tahun. Sangat jauh sekali perbandingan antara beberapa tahun dengan 6 abad Sebelum Masehi.

Lalu bagaimana bisa terjadi (tertipu), padahal patung tersebut telah diuji oleh seorang geolog  dengan perlengkapan modern, seperti mikroskop elektron, electron microprobe dll? Lalu mengapa seorang pakar bisa menilai bahwa patung tersebut palsu hanya dalam hitungan detik tanpa melakukan pengujian? Selepas saya membaca beberapa bab dari buku Gladwell dan peristiwa-peristiwa nyata yang diangkat, semua itu bukanlah hal yang mustahil.

Malcolm Gladwell menyebut peristiwa yang terjadi pada saya dan penilaian patung palsu itu dengan istilah Snap Judgment (simpulan sekejap) Rapid Recognition (pemahaman cepat), Thin Slicing (cuplikan tipis) atau Blink (kedipan). Sederhananya kita bisa menilai, menyimpulkan dengan tepat bahkan sempurna atas peristiwa yang akan atau sedang terjadi atau membuat keputusan hanya dengan melihat gejala-gejala awalnya saja atau sesuatu yang dominan, menarik, ganjil yang kita rasakan. Gladwell mencoba mengatakan bahwa kita bisa membuat keputusan hanya dengan berbekal informasi yang sedikit atau dari kesan pertama saja.

Jika anda sering melihat tayangan Mario Teguh, pada beberapa kesempatan dia seiring mengajak orang yang hadir di studio untuk melakukan teknik Profiling. Di sini hadirin memberikan penilaian kepada beberapa orang hanya melihat dari penampilan fisik semata, seperti baju yang dipakai, bentuk wajah, dan terutama ekspresi wajah. Kebanyakan hadirin sependapat dengan simpulan yang ditawarkan Mario Teguh. Misalnya Mario Teguh mengajukan pertanyaan seperti, “Apakah perempuan dengan penampilan seperti ini dapat anda percaya?” Respon hadirin biasanya kalau tidak tertawa (tanda setuju) atau berkata ‘ya’.

Dua konsep tersebut pada dasarnya sama. Dalam komunikasi saya mengenal stereotip, yaitu dugaan sementara. Tapi stereotip cenderung kepada makna negatif.

Dalam penjelasannya, Gladwell mengatakan bahwa alam bawah sadar kita ikut berperan ketika kita memberi penilaian, melihat atau bereaksi terhadap sesuatu. Bagi kebanyakan orang, untuk bisa sampai kepada suatu keputusan atau dugaan sementara dan untuk menghindari hal-hal tertentu yang tidak diinginkan (baca:antisipasi) mereka membutuhkan informasi yang cukup dan memadai. Tujuannya sederhana, yaitu agar keputusan yang dibuat tepat, padahal menurut Gladwell, dengan informasi yang banyak dan menunpuk seringkali membuat sebagian dari kita bingung dan menjadi ragu, bahkan takut dalam mengambil keputusan. Padahal yang kita butuhkan, jika kita cukup “terlatih”, untuk membuat suatu keputusan adalah sedikit informasi saja. Ada begitu banyak contoh unik dan menarik yang diceritakan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya Blink. Kesamaan dari pelaku yang terlibat dalam proses Blink atau Snap Judgement adalah umumnya mereka ahli, profesional handal atau mereka yang terbiasa dengan pekerjaannya.

Gladwell menilai informasi yang kompleks/komprehensif kadang bisa membuat penilaian kita menjadi bias. Dalam mengambil keputusan, ada perasaan dan situasi yang menuntut agar kita lebih, lebih, dan lebih banyak lagi data, fakta, dan analisis agar keputusan yang dibuat bisa akurat. Sementara menurut Van Riper seorang veteran Perang Vietnam (Blink, 2009) mengatakan bahwa disebut keputusan karena dibuat pada suatu situasi yang tidak mengenakkan atau tertekan. Jadi jika anda sedang berada dalam suasana tenang-tentram-damai, dengan beragam data, fakta, dan analisis lalu anda membuat keputusan sesungguhnya itu bukanlah keputusan, tapi pemikiran. Keputusan adalah ketika anda sedang berada di medan perang, dokter di UGD, pemadam kebakaran sedang menjinakkan api, pemain sepakbola di lapangan atau menolong korban kecelakaan, bahkan maling yang sedang dikejar polisi. Mereka semua dituntut untuk mengambil keputusan dalam sepersekian detik. Saat itu juga, tanpa data, fakta, dan berada pada situasi yang menghimpit.

Jadi dengan kata lain, saat saya menyerahkan Danem saya untuk dilaminating  oleh seorang anak berusia sekitar 13 tahun dan detik itu juga saya menilai bahwa anak ini tampak tidak ahli maka seharunya saya langsung membatalkannya. Yang terjadi justru saya memadamkan api intuisi tersebut. Padahal Snap Judgement saya, yaitu seorang anak tidak biasa mengoperasikan mesin laminating dan berada dibalik mesin fotocopi sudah cukup bagi saya untuk menilai kompetensi dia. Lima tahun saya berada di lingkungan kampus (Unpad) dengan pulang-pergi ke kampus selalu melewati tukang fotocopi, belum pernah saya melihat anak berusia 13 tahun mengoperasikan mesin fotocopi apalagi, mengoperasikan mesin laminating. Fakta yang membiaskan saya pada waktu itu adalah prasangka baik. Ini bukan berarti saya menyalahkan positive thingking.

Ada contoh menarik lainnya. Suatu ketika saya pernah menyaksikan seorang teknisi di bengkel yang sedang memperbaiki mobil. Teknisi tersebut hanya berdiri dan membuka kap mobil kemudian salah seorang temannya menginjak pedal gas dalam-dalam. Beberapa saat kemudian dia langsung bekerja dan mengutak-atik mesin. Dengan kata lain, cukup mendengarkan suara mesin saja teknisi itu sudah tahu bagian apa yang rusak. Kadang sulit bagi teknisi tersebut untuk memberikan penjelasan yang kompleks, sama seperti pakar seni yang menilai patung palsu/asli atau saya yang Danem SD-nya rusak . Sederhananya, peristiwa tersebut sulit sekali untuk dijelaskan, bahkan untuk sekedar diceritakan kembali. Mudahnya kita sering mengucapkan “Gak tahu, feeling aja”. Sebuah frase sederhana yang cukup menjelaskan peristiwa luar biasa. Sialnya, pagi itu saya tidak menuruti “feeling” saya.

Naluri, intuitif, insting, feeling, blink atau apapun sebutannya memang sulit untuk dijelaskan ditengah situasi yang semakin kritis dan terbuka seperti saat ini. Secara sederhana, saya menyebut istilah tersebut adalah sisi emosional (bukan amarah) atau sisi manusiawi kita. Inilah yang membeda manusia (makhluk ciptaan Allah) dengan mesin, teknologi mutakhir atau logika. Manusia begitu dinamis dan natural, ini ditunjukkan dengan tidak ada sudut dalam tubuh manusia. Artinya, manusia bukanlah seonggok daging yang harus kaku dan patuh kepada logika atau terjebak pada pemikiran tertentu. Bebaskanlah (dalam artian positif), mengalir dan biarkan sisi logika dan emosi kita berjalan beriringan, bukan mengunggulkan salah satunya. Naluri atau emosi itu seperti api pada lilin. Jika kita tidak bisa menjaganya, maka akan hilang diterpa angin dan saat itu anda tak beda seperti sebuah mesin atau computer. Namun jika terlalu besar, api tersebut tidak hanya akan membakar diri kita sendiri tapi juga sekeliling kita maka jagalah dengan kebijaksanaan.

9 Maret 2010.

Sumber :

Gladwell, Malcolm. 2009, Blink, Gramedia. Jakarta

2 thoughts on “Snap Judgement (Simpulan Sekejap)

  1. Bagaimana membedakan intuisi, naluri, dengan kemauan kita..
    Yg dmaksud kemauan d sni adalah apa yg kita inginkan, jadi hal tersebut bisa mempengaruhi intuisi., contoh…
    Hari ini saya tdur malam, padahal esok hari kuliah, saat bangun pagi saya merasa ‘ah hari kliatanya ga akan ada dosen’ (dgn berbagai alasan dan pertimbangan)
    Nah dri cerita tsb, hal itu sbenarny intuisi ato memang kemauan kita untuk tidak kuliah?

    • maaf bangt baru bisa bales. Bukan blogger sejati ya saia ini..hehehe.Snap Judgement yg saya pahami ini lahir dari aktivitas yang sudah kita lakukan terus menerus. hingga pada akhirnya kita disebut sebagai ahli atau mendekati ke ahli.

      kalau cerita yg kamu maksud bisa disebut intuisi. kalau dari pertemuan sebelum2nya tuh dosen jarang dateng, bisa jadi intuisi kamu benar. tapi itu harus dibuktikan dulu dengn dateng ke kampus dan merasakan atmosfer yg sama ketika si dosen gak dateng. Snap di sini adalah kilasan, sekejap. artinya harus merasa, melihat atau memandang dulu baru kita bisa buat simpulan atau judgement …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s