Wartawan Itu Intelektual Atau Buruh ?

Selasa malam. sehari sebelum kaum buruh turun kembali ke jalan-jalan di Jakarta untuk menuntut kenaikan upah minimum regional, sebuah pertanyaan tiba-tiba terlontar dari grup Whatsapp yang saya ikuti. Ah, satu-satunya grup yang menurut saya bisa memberi kesegaran saat otak sedang mumet. Kumpulan group anak Lamin Etam, rumah tempat saya ngekost selama setahun di Jatinangor. Serius tapi santai.

Jadi tulisan ini bisa dibilang merupakan rekonstruksi dari percakapan di grup. “Wartawan itu intelektual atau buruh?” tanya teman saya. Saya merasa pertanyaan itu tertuju ke saya. Pasalnya hanya ada dua orang dari kami yang bekerja sebagai wartawan.

“Buruh,” jawab saya. Bahkan sebenarnya lebih dari buruh. Dengan sedikit berkelakar, saya bilang buruh itu kalau kerja ada batas waktunya dan kalau kerja lebih alias lembur maka dibayar. Nah, beda dengan wartawan, udah jam kerja gak jelas dan gak ada konsep lembur lagi. Jawaban saya dalam tataran jam kerja yang secara tidak langsung berkaitan dengan penghasilan.

Teman lain mengatakan kalau persoalan intelektual atau buruh berada dalam wilayah mental. Mungkin sikap kerja, pikir saya. Tidak peduli apa pun pekerjaan kalau anda memiliki sikap mental seperti seorang intelektual maka anda bukan orang sembarangan. Bagi saya kata ‘intelektual’ dekat dengan kata ‘pemikir’. Mereka yang gak hanya sekedar kerja cari uang dan makan tapi ada karya nyata dan punya visi luas. Sebut saja perubahan. Saya sebut satu nama, Anies Baswedan.

Tapi ternyata percakapan kami, sebenarnya tiga orang yang terlibat aktif, mengerucut ke ranah media. Sebagai pelaku saya memahami betul apa yang sedang dibicarakan. Mereka bicara pada tataran teoritis dan pengamatan yang terjadi di lapangan. Sementara saya adalah pelaku di lapangan.

Pers

Tema pertama yang bergulir adalah peran pers. Perdebatan seputar idealisme dan profit bakal terus menerus jadi perdebatan. Tapi hari ini, secara pribadi saya melihat kalau idealisme dan profit dalam media massa porsinya sudah 30-70 persen. Media lebih mengutamakan profit. Media dalam arti luas dan mainstream, seperti TV, koran, radio, dan online.

Seorang mengutip pemikiran Theodor Ardono yang meramal pada 1946 kalau di masa depan media akan mengarahkan masyarakat untuk menentukan mana yang benar mana yang salah. Itu terjadi ketika media sudah jadi kebutuhan masyarakat yang gak bisa dilepaskan. Nah, pada saat itu terjadi maka pekerja media mau tidak mau diperlakukan sebagai buruh.

Pernyataan terbaik yang terlontar adalah kita tidak bisa terus menerus berpikir ideal tanpa memikirkan juga hal yang tidak ideal. Idealnya, peran pers adalah watch dog terhadap tiga pilar demokrasi. Tapi jika anjingnya sakit atau berubah menjadi anjing gila lantas siapa yang mengobati? Atau anjingnya lebih suka bermain-main dibandingkan menjadi anjing penjaga yang seutuhnya, siapa yang berhak mengingatkan?

Trust

Meski kami bicara secara random, tapi sebenarnya masih berada dalam pembahasan yang sama. Berikutnya ada kepercayaan (trust). Dampak jika media tidak serius menjadi anjing penjaga adalah melunturnya kepercayaan pembaca atau pemirsa. Di tengah dominasi para pengusaha yang terjun dan mengakuisisi sana-sini media mainstream makin suram dan berat rasanya kerja pewarta.

Satu hal yang membuat saya bertahan menjadi wartawan hingga saat ini karena tempat saya bekerja tidak dimiliki oleh satu orang atau pemodal besar. Pekerjaan utama wartawan sebenarnya tidak hanya menjadi corong bagi nilai-nilai kebenaran yang menjadi objek pemberitaan. Tapi juga membangun optimistis bagi pembaca. Yah, kalau merujuk ke 9 elemennya Bill Kovak, agar pembaca bisa menentukan sikap setelah melihat berita.

Kepercayaan dan kebenaran itu ibarat dua sisi mata uang. Saling terkait. Kalau bikin berita gak bener jelas pembaca gak akan percaya. Intinya adalah, ketika media tidak bisa menjadi anjing penjaga yang baik maka masyarakat akan mengoreksinya secara langsung. Itu terjadi di media online.

Semisalnya kasus impor daging yang melibatkan LHI petinggi partai Islam. Bisa dibilang, 99,99 persen kader partai tersebut tidak percaya dan menolak mentah-mentah dengan pemberitaan media. Bahkan ada yang menyebut keterlibatan LHI adalah konspirasi politik. Media yang posisinya berada di tengah menjadi bahan hujatan mereka yang kontra dengan kasus daging. Media sosial pun ramai.

Intinya dari poin trust adalah para pembaca yang masih terombang-ambing dan belum menentukan sikap cenderung akan mendekat (percaya) ke temannya dibanding dengan pemberitaan. teman yang sehari-hari diajak bicara, berbagi pengalaman dan sebagainya.

Lantas muncul istilah dalam media sosial, yaitu pengangkatan isu ‘many to many’. Media tidak menjadi satu-satu sumber kebenaran atau pemberitaan. Ada akun-akun yang meng-counter dengan menyajikan data-data pendukung bagi kelompok yang pro dan kontra.

Klik

Pembicaraan pun tiba ke penyajiaan berita. Dalam konteks media online, judul yang tersaji mesti nge-klik. Dengan kata lain harus menarik minat atau membuat penasaran pembaca. Di sisi lain pemilihan judul juga harus ramah Google. Itu artinya wartawan di lapangan dan redaktur mesti terlatih memilih kata-kata menarik kalau perlu nyeleneh. Di sini potensi untuk plintir berita terjadi. Tidak sedikit berita media online antara judul dan isi gak nyambung.

Contoh menarik adalah penggunaan kata yang sudah menjadi ciri khas dalam kasus kecelakaan yang memakai merek mobil. Xenia maut kasus Afriani, BMW maut kasus anak Hatta Rajasa. Media online lebih memilih kata ‘Anak Hatta Rajasa’ dibanding ‘Rasyid’ (sang pelaku) atau tersangka dalam kasus tabrakan di tol.

Segitu rasanya cukup buat rekonstruksi obrolan santai malem-malem. Hal yang mau saya sampaikan sebenernya gak lepas dari keluhan temen-temen wartawan juga yang sering kali nyinyir dan bertanya, sebenernya wartawan itu buruh bukan sih? Yah, kalau melihat fenomena sekarang wartawan sedang bergerak ke sana. Menjadi seorang buruh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s