Bukan Sembarang Profesi

Keraguan menyergap saya ketika sampai di depan pintu masuk kolam renang Cikini, Jakarta Pusat. Sebuah kamera pengintai yang entah berfungsi atau tidak menempel manis di atas pintu masuk. Secarik kertas berisi perintah untuk membeli tiket sebelum masuk ke arena kolam renang menempel sejajar dengan kepala saya.

Di balik kaca terlihat seorang petugas laki-laki sedang tertidur pulas di atas kursi. Akhirnya saya pun memilih menerobos masuk ke kolam renang tanpa berbekal tiket masuk. Biar saja, kalau disuruh bayar nanti saja belakangan, begitu pikir saya.

Pagi itu saya hendak menemui Albert Susanto pelatih renang nasional. Tak pernah bertemu dengannya membuat saya makin kikuk saat berada di arena kolam renang. Beruntung tidak banyak pengunjung pada pagi itu. Saya sudah merasa kalau sosok Albert itu berwajah oriental. Saya pun memberanikan diri untuk mengajak berkenalan. Tak salah, akhirnya saya pun bertemu Albert yang belakangan fotonya terpampang di majalah dinding yang menempel di pintu masuk yang saya lewati tadi.

Percakapan saya dengan Albert tidak bisa disebut wawancara antara wartawan dengan narasumber. Kami seperti ngobrol ngalor-ngidul tidak jelas. Tapi tidak pernah melenceng dari tema renang.

Albert adalah mantan perenang nasional. Sudah banyak prestasi yang diraihnya selama meniti karir sebagai atlet. Pensiun jadi atlet, ia pun memilih menjadi pelatih.

“Jadi pelatih di Indonesia gak cukup modal kemampuan tapi juga finansial,” begitu kata Albert. Miskinnya perhatian pemerintah kepada atlet dan kemajuan olahraga di Indonesia, dari sisi dana, sudah bukan menjadi rahasia lagi. Ibarat teori ekonomi, pemerintah ingin prestasi para atlet setinggi langit tapi dengan bekal duit setinggi tumit.

Faktanya, dengan bantuan duit dari pemerintah yang kecil atlet Indonesia gak pernah berhenti kasih medali. Di luar sepak bola, atlet seperti bulutangkis, karate, angkat besi, renang sudah sering membawa nama harum Indonesia di beragam turnamen. Bagi mereka, mendapatkan medali di sebuah turnamen sudah seperti mengambil garam di dapur. Kalau kurang, tinggal ambil.

Hidup menjadi atlet tidak hanya cukup dengan modal nasionalisme. Bagi saya cukup sudah pemerintah membius semangat dan melemparkan slogan nasionalisme buat mendongkrak prestasi para atlet. Sudah tak terhitung berapa kali tim nasional sepak bola Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Raya tapi baru kemarin mereka sanggup merebut Piala AFF U-19, setelah sebelumnya absen 22 tahun.

Dengan kata lain, zaman sekarang ini kita perlu realistis melihat hubungan nasionalisme dengan prestasi atlet. Pasalnya, pemerintah pun masih ogah-ogahan kasih perhatian ke olahraga Indonesia. Tidak usahlah berteriak nasionalisme kalau pemerintah tidak tahu apa yang mesti dilakukan buat menyejahterakan atlet dan pelatih.

Keterlambatan tiga bulan membayar uang saku yang sudah menjadi hak atlet sudah menjadi tolak ukur seberapa kuat perhatian pemerintah. Sudah 27 kali ikut SEA Games, sudah ratusan medali yang diberikan atlet. Tapi persoalan di tubuh pemerintah masih sama. Mengurusi kewajibannya saja tidak becus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s