Kelam

Allah berdasarkan kepada prasangka hamba-Nya

Kenyataan yang kita hadapi sehari-hari ada kalanya dibangun dari segumpalan persepsi-persepsi. Sebuah lintasan pikiran yang bisa jadi sering kali tidak kita sadari. Dalam sebuah kesadaran lainnya, ada sebuah ungkapan terkenal, yaitu if you think you can than you can, begitu juga sebaliknya. Jika memang demikian apakah persepsi termasuk ke dalam harapan atau bahkan doa? Saya gak tahu soal itu.

Namun ada satu hal yang saya rasakan pada detik ini. Detik ketika jari-jari saya menekan satu demi satu rangkaian huruf dalam komputer mini. Lagi-lagi perasan kelam. Kelam karena saya membangun sebuah persepsi negatif. Sebuah asa kebencian, cemburu, kekhawatiran, atau ketakutan akan kehilangan seseorang. Seorang perempuan yang pada hakikatnya belum menjadi bagian seutuhnya dari saya.

Tidak pantas rasanya saya membangun rasa takut kehilangan bila pada kenyataannya saya tidak pernah memiliknya. Dan dia pun tidak pernah tahu betul apa yang saya rasakan. Jadi kalau logika yang dijadikan pemimpin, maka perasaan saya malam ini adalah sebuah kebodohan sekaligus kedangkalan.

Hari ini dia pergi seharian setelah malam sebelumnya saya bertemu. Malam itu ia tampak tergesa-gesa. Padahal. Yah, ‘padahal’ adalah sebuah apologize mungkin lebih tepatnya adalah ketidakmampuan saya mengendalikan situasi malam itu. Tapi sekarang saya menyadari mungkin Allah punya ke hendak lain. Kehendak agar saya tidak terlalu lama berbicara dengan dia dan menawarkan tumpangan untuk pulang.

Kembali ke soal persepsi. Di tengah akhir pekan yang cerah saya ditakdirkan untuk masuk bekerja. Sebelum matahari berada di tengah perjalanan, saya tahu kalau dia sedang menghabiskan masa liburnya dengan pergi keluar kota. Panas matahari di hari Sabtu 13 Oktober 2012 semakin membuat rasa cemburu saya terbakar lebih cepat sebelum waktunya. Saya cemburu. Entah karena apa. Tidak jelas.

Kelamlah sepanjang hari ini, hingga tulisan ini mencapai ujungnya nanti. Semoga setelah ini tidak. Usai Zuhur, sepenuhnya saya mencoba menyadari bahwa dia bukan kepunyaan saya. Jadi tidak pantas rasa cemburu membakar hati ini. Cemburu lahir hanya karena satu hal, yaitu ketika seseorang sedang jatuh cinta. Itu saja. Sesederhana itu. Siang itu saya, seharusnya, tidak harus cemburu. Karena bisa jadi dia sama sekali tidak memikirkan dan tak ada rasa kepada saya. Jika benar maka ini adalah kesia-siaan yang nyata.

Lalu teringatlah soal kalimat pembuka dalam tulisan ini. Allah berdasarkan kepada prasangka hamba-Nya. Sepanjang hari saya membangun prasangka kalau memang dia tidak ada rasa sama sekali ke saya. Dia lebih memilih ajakan yang lain. Itu realitas yang terjadi. Tak ada obat mujarab selain kesabaran dan keikhlasan untuk menerima realitas itu.

Rasa kelam ini jauh melebihi ketika tahu Mr X akan menikah dengan Mrs Y. Ketika mereka berdua bekerja sama secara intens bahasa tubuh dan sindiran memperjelas kalau mereka memang ada ketertarikan. Menikah adalah ujung perjalanan mereka. Saya tahu itu sebelum mereka benar-benar memutuskan untuk menikah. Lebih tepatnya adalah saya membangun prasangka itu.

Tapi bukan itu saja. Saya rasa mereka berdua sama-sama membangun rasa cinta dan kasih sayang jauh sebelum mereka pada akhirnya memutuskan untuk menikah. Prasangka itu yang kembali saya bangun. Kepada sang perempuan dan dia, rekannya yang lain.

Entah kenapa kok jadi menulis soal ini. Padahal saat mandi sebuah cerita pendek yang bakal saya garap. Sudah cukup. Simpulannya adalah cinta itu sebagiannya adalah kebodohan dan sisanya adalah keberanian. Malam ini saya sedang berada dalam lingkaran kebodohan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s