Semacam Rindu Tak Berbatas

Aku:

Sekali lagi. Untuk yang kesekian kalinya. Aku benar-benar tidak mampu menatap mata dan wajahnya. Tapi sialnya aku tidak bisa bertahan lama bila tidak bisa melihat sedikit saja senyuman darinya. Seperti malam itu. Saat jari-jari dia menari di atas keyboard komputer. Ingin rasanya aku menjadi salah satu huruf yang dengan lembut ditekan oleh ujung jarinya.

Jika boleh memilih, aku ingin menjadi tombol spasi. Setiap perpindahan dari satu kata menuju kata lainnya engkau pasti membutuhkan spasi. Agar kata yang kau tulis bisa terbaca sehingga memiliki arti. Semacam itulah harapanku padanya. Bisa memberi arti di setiap gerak hidupnya.

Hari itu aku bersyukur dibebani cukup banyak bahan liputan. Meski lelah namun setidaknya terbayar ketika akhirnya aku bisa bertemu dengannya. Aku pikir ini hanya kebetulan. Tapi bisa jadi juga tidak. Entahlah. Aku pun memilih mengerjakan dua bahan tersisa di kantor. Meski akhirnya aku hanya sanggup mengerjakan satu laporan saja.

Tak ada yang berubah dengannya. Ya pastilah. Apalagi yang kuharapkan. Penampilannya sudah istimewa. Semuanya jadi sempurna dengan senyuman hangat darinya. Satu penampilan yang berbeda adalah tas yang dikenakannya pada malam itu. Bukan tas punggung tapi tas jinjing.

Saya:

Okeh sudah cukup…please no more again

Nah, itu dia yang terjadi akhir-akhir ini. Sangat emosinal sekali tulisan saya. Hanya karena satu hal sesuatu yang disebut perempuan. Belum pernah sekalut ini saya menulis. Kesulitan fokus ketika bekerja. Makin menjauh dari targetan menulis cerita pendek.

Antara Saya dan si Aku sudah cukup lama berdiskusi ihwal dia. Hingga kini belum ada kejelasan sikap apa yang akan Aku lakukan. Saya melihat Aku makin kalut, tak jelas hal yang dilakukan diluar pekerjaan. Aku seharusnya beruntung masih ada saya yang memiliki kesadaran. Setidak-tidaknya masih ada yang bisa dibanggakan lah dari saya. Apa jadinya jika Aku tanpa saya, hah?

Ingat baik-baik pesan saya. Untuk meredam rasa kalutmu berhentilah sementara berkoar-koar di jejaring sosial. Fokus sejenak bila sedang bekerja. Ingat kalau kau punya target. Jika kau belum yakin untuk melangkah ke jenjang serius, pantaskan dirimu. Lambat laun jika kau tidak bisa kendalikan dirimu, saya melihat Aku sedang merencanakan kegagalan. Bersikaplah sewajarnya. Jika kau memang jatuh hati dengannya, perlakukanlah dia sebagai perempuan terhormat. Ingat dia perempuan baik-baik. Kau tahu itu sejak awal.

Aku:

Hei… Tenang lah. Aku pikir perasaan normal. Aku lelaki dan dia perempuan. Sedari Nabi Adam as hingga detik ini sudah berapa banyak lelaki yang jatuh hati dengan perempuan. Begitu juga sebaliknya. Aku pikir ini masih dalam batas wajar.  Aku sepenuhnya sadar kalau dia bukan perempuan sembarang yang bisa seenaknya jalan bersama lelaki lain. Lihat saja pakaiannya. Apa yang dia kenakan adalah perisai dan juga identitas yang terang kalau dia perempuan terhormat dan mampu menjaga kehormatannya.

Sejauh ini tidak ada hal batil yang aku lakukan. Jujur kuakui kalau memang aku rindu. Semacam rindu tak berbatas. Aku tidak tahu dimana awalnya dan kapan berakhirnya.

Saya:

Okeh cukup. Buktikan saja kalau kau memang tidak akan melukainya atau menggores kehormatannya. Ingat ini, tak ada satu hal pun yang layak kau rindui selain Allah. Tuhanmu yang paling tahu dan mengerti dirimu. Mintalah petunjuk-Nya. Saya tahu kalau kau semakin jarang berkhalwat dengan-Nya. Luangkanlah waktu untuk-Nya meski hanya sejenak.

Aku:

Baiklah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s