Anita

Anita. Gadis berusia enam tahun dengan kaos biru bergambar Doraemon sebesar bola sepak tampak kuyu. Dua bola matanya sudah tak mampu menahan serangan kantuk. Meski terlihat kumal, pesona Anita masih terlihat benderang. Kedua tangannya terlihat mendekap erat boneka Teddy Bear. Diatas pangkuan sang ibu, rok Anita bergerak gontai disapu terpaan angin.

“Kelelahan dia,” ucap ibunya.

“Tapi dia tetap cantik dalam kondisi apapun. Mirip kamu,” kata saya.

“Sudahlah jangan mulai lagi,” sergah ibunya.

Setengah jam berlalu tanpa satu kata pun terlontar. Anita masih terlelap di pangkuan ibunya. Setiap sepuluh menit, tubuh Anita bergerak demi mencari posisi tidur terenak. Hujan masih setia turun membasahi ruas Jalan Kyai Tapa. Segelas kopi hitam yang ku pesan dari warung kelontong sudah surut. Aku pun kembali memesannya lagi.

“Jadi bagaimana, sudah bicara dengan Anita,” tanyaku.

“Belum,” jawabnya.

“Tapi sepertinya Anita sudah bisa menerima kehadiranku.”

“Oya, darimana kamu tahu?”

“Perasaanku saja,” kataku.

Tiba-tiba Anita menggeliat. Matanya yang bening memancarkan kebingungan.

“Dimana ini bunda?”

“Di halte sayang. Hujan jadi kita minggir sebentar, tunggu reda.”

“Eh, ada Om Bayu. Bunda kenapa kita gak naik mobil Om Bayu aja. Kan gak bakal kehujanan,” terang Anita.

“Kalau kita naik mobil Om Bayu, terus motornya disimpen dimana?”

“Oia ya…hehehe,” seru Anita sambil terkekeh. “Jadi kita tunggu hujannya berenti?”

“Yup,” jawab ibunya.

“Bunda, kayanya kalau tiap hari Anita bisa dianter tiap hari pake mobil Om Bayu seru kali ya. Bunda sama Anita kan jadi gak akan kehujanan sama kepanasan tiap hari.”

“Gak bisa sayang. Nanti Om Bayu kerja naik apa?”

“Naik kereta,” jawabku. “Kalau bundamu mau bisa kok Om Bayu pinjamkan mobilnya buat antarjemput kalian.”

“Gak usah. Saya masih sanggup mengantarkan Anita setiap hari kok.”

Anita hanya bisa mengulum ujung rambutnya ke dalam mulut saat mendengar jawaban bundanya.

“Nah, hujannya reda tuh. Yuk, kita jalan lagi.”

“Hati-hati. Jalanan masih basah,” pesanku.

“Om Bayu, Anita pulang dulu yah. Oia, Sabtu besok Om Bayu maen ke rumah lagi kan?”

Seketika mataku langsung tertuju ke ibunya. Cukup lama kami bertiga terdiam.

“Udah yuk. Nanti hujannya turun lagi,” ucap ibunya.

Dari kejauhan, helm angry bird Anita berwarna merah marun tampak makin mengecil. Lamat-lamat ia pun menghilang, berdesakan diantara puluhan motor dan mobil yang membelah jalanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s