I Write Sins and Tragedies

Tepat satu semester saya berada di desk metro. Ada begitu banyak cerita dan pengalaman yang saya dapat.  Rasanya gak berlebihan kalau saya mendapatkan pengalaman selama enam bulan di desk metro melebihi jenjang masa kuliah lima tahun di Unpad.  Bagi sebagian wartawan, desk metro biasa disebut desk berdarah-darah. Wajar aja sih, secara saya dan teman-teman hampir tiap hari meliput soal kriminalitas. Mulai dari jambret tas, perkosaan, perampokan sampai pembunuhan. Setidaknya, menurut saya, desk metro jauh lebih realistis dibandingkan harus meliput soal politik yang semua hal cuma wacana.

Tapi desk metro di kantor saya gak sepenuhnya menulis tentang hal berdarah-darah. Kami juga nulis soal perkotaan. Seperti bagaimana pelayanan kereta api dan angkutan umum seharusnya berjalan. Mengapa Jakarta belum bebas dari kutukan banjir dan macet, persoalan kependudukan dan sebagainya.  Khusus tulisan ini, saya bakal bicara soal kriminalitas saja.

Nah, seperti judul tulisan diatas, secara singkat saya mau mengatakan kalau setiap hari menulis berita soal dosa dan tragedi. Jelas bukan hal yang menarik karena saya jadi jarang liputan ke hotel seperti dulu waktu di desk ekonomi. Bicara soal kasus, terakhir saya ikuti kasus mahasiswa Binus yang dirampok, dibunuh terus diperkosa di dalam angkot. Sebagai catatan, sebelum kejadian almarhum baru saja selesai sidang skripsi. Saat ini kasusnya sudah memasuki proses persidangan. Agenda 6 Maret nanti jaksa bakal membacakan tuntutannya. Sejauh ini sih keempat pelaku bakal kena hukuman seumur hidup. Tapi kalau terbukti ada perencanaan pembunuhan, hukuman bisa naik jadi hukuman mati.

Lebih lanjut, sebagai jurnalis bahkan waktu saya masih kuliah dulu sudah diajarkan untuk bersikap objektif. Objektif dalam arti luas bisa berarti menjaga jarak dengan perkara yang saya tulis. Semenjak di metro saya udah belajar untuk menghiraukan bau amis darah yang keluar dari korban tabrakan. Saya  pun harus berani melihat tubuh mayat yang jatuh tertimpa bangunan atau kena tusuk dan sebagainya. Meski atasan gak maksa untuk melihat setiap mayat. Well, sejauh ini sih saya udah terbiasa akan hal itu tapi efeknya saya jadi sering bangun malam. Bangun malam untuk sesuatu yang gak jelas.

Efek lainnya adalah semua perkara kriminalitas menjadi hal biasa. Terkadang menjadi hal yang dinanti.  Sebenarnya menjadi sebuah pertanyaan, mungkin lebih tepatnya satire. “Bro, tumben nih landai amat hari ini,” begitu celetukan yang terlontar. Landai sebutan kalau tidak ada taruna sama sekali. Sepi.  Sedangkan taruna sebutan untuk semua peristiwa, baik kriminalitas maupun kecelakaan.

Nah, berkaitan dengan tulisan, saya yakin pasti ada mispersepsi antara berita dengan pembaca. Pembaca seringkali berkeluh kesah bahwa berita kriminal terlalu menekankan kesadisan. Sementara sang wartawan tak lebih dari sekedar pekerja. Sama seperti seorang sales yang menawarkan barang ke konsumen. Kadang ada konsumen yang memandang sinis sales. Baru jalan mendekat aja udah ditolak, buru-buru kabur and sok sibuk.

Padahal tujuan pemberitaan kriminal adalah sebagai bentuk peringatan ke warga. Kadang warga suka terbuai dan asyik dengan kesibukannya. Mereka melihat dunia begitu indah dan aman. Sampai pada suatu hari mereka menjadi salah satu korban kriminalitas. Dan berpikir bahwa dialah makhluk paling menderita sedunia. Padahal bisa jadi media sudah memberi peringatan akan hal itu. Berita kriminal dalam batasan tertentu hanya ingin menunjukkan kalau modus kejahatan senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Kejahatan dimana-mana sama saja yang membedakan adalah cara melakukannya dan alasan kejahatan tersebut. Contohnya, dulu pelaku perampokan hanya mengincar rumah di malam hari, tapi sekarang mereka sudah nekat merampok di tengah hari bolong dan di keramaian.

Jakarta dan Kriminalitas

Jakarta sama seperti New York, Tokyo, London, Bangkok, dan kota-kota besar lainnya di dunia. Sama dari perspektif kriminalitas. Bagi turis, Tokyo, New York, Bangkok, London adalah kota yang jauh lebih baik dari Jakarta. Itu berlaku sebelum sang turis menjadi korban kriminalitas. Semua kota-kota besar pasti ada peristiwa kejahatan atau aksi kriminalitas. Coba lihat, siapa mengira kalau pembunuh berdarah dingin, udah gitu gay lagi, muncul di kabupaten bernama Nganjuk, Jawa Timur. Mujianto sang gay berhasil membunuh sedikitnya empat pria. Motifnya sederhana yaitu cemburu lantaran korban-korbannya pernah tidur sama pasangan Mujianto. Itu baru satu kabupaten  di Indonesia.

Jadi, kejahatan bisa terjadi dimana pun, kapan pun dan menimpa siapa pun. Perbedaannya terletak pada bagaimana kita bereaksi terhadap tindak kriminalitas. Seseorang yang sudah terbiasa terlibat atau bahkan pernah menjadi korban kriminalitas akan jauh lebih waspada dibanding mereka yang membaca berita kriminal saja ogah.

Ada fenomena menarik bila berbicara soal kejahatan. Para korban umumnya enggan untuk melapor polisi. Pesan saya sih jangan ragu untuk melapor polisi jika memang anda menjadi korban kejahatan. Pencurian di angkot misalnya, meski uang anda yang hilang kecil jangan segan untuk melapor polisi. Apalagi jika pelaku mencurinya dengan pistol. Nah, seringkali masyarakat enggan berurusan dengan polisi. Alasannya malas lah dan sebagainya. Saya menilai kemalasan berurusan dengan polisi sebenarnya lebih disebabkan karena masyarakat atau korban tidak mengerti prosedur.

Ini ada secuplik kejadian pembajakan metromini di Jakarta Barat beberapa waktu lalu.  Sekedar contoh kasus aja. Waktu itu ada dua orang yang membajak metromini. Semua barang berharga penumpang, seperti telepon genggam dan dompet ludes disikat. Singkat cerita salah satu korban melapor ke polisi. Dia hanya melaporkan kalau dompetnya hilang, tapi tidak melaporkan kalau dompet dan teleponnya hilang karena dirampok di metromini.

Kebetulan salah satu kerabat tuh korban dekat dengan wartawan. Lantas ceritalah tuh korban ke wartawan. Lalu dimuatlah berita pembajakan di metromini. Untuk kelengkapan berita, saya harus minta konfirmasi dari polisi. Nah, ternyata polisi tidak menerima laporan perihal pembajakan metromini. Polisi cuma menerima laporan kehilangan barang.

Di sisi lain, tuh korban udah berkoar di media kalau doi dibajak bersama dengan sekitar sebelas penumpang. Kontan polisi kalang kabut pas membaca berita itu. Secara tidak langsung, polisi merasa dibohongi oleh korban. Korban sih gak salah. Dia berhak melaporkan apa yang dialaminya. Tapi kesalahan terbesarnya adalah dia tidak bercerita perihal kejahatan di metromini. Buat polisi dan media ini peristiwa yang serius. Persoalannya adalah pada waktu itu kejahatan di angkot sedang marak.

Walhasil, karena berita belum sempurna saya pun menunda dulu tuh tulisan. Yang ada malah itu bisa jadi pemberitaan gosip. Keesokan harinya kami, wartawan di Jakarta Barat, dikejutkan oleh kabar kalau pelaku pembajakan udah ke tangkap. Polisi sampai harus mengerahkan intel dari tingkat Polda untuk melacak pelaku. Berita pun akhirnya sempurna. Tapi yang menjadi pertanyaan sampai sekarang, kami belum melihat paras tuh pelaku. Well, ini terkait wilayah liputan. Karena tuh pelaku yang nangkep Polda. Sedangkan wilayah saya cuma sampe Polres aja.

Dari sini saya dapat pelajaran menarik dan berharga. Pertama, tentang korban yang hanya melaporkan perihal kehilangan barang saja. Ada banyak asumsi soal ini. Namun langkah dia untuk melaporkan patut diacungi jempol. Asumsi paling menarik adalah korban menilai kalau peristiwa perampokan adalah hal biasa, jadi dia pun melapor hanya untuk mendapatkan surat keterangan kehilangan agar mudah mengurus kartu kredit, SIM dll. Asumsi lainnya, dia gak percaya sama polisi makanya dia lebih memilih media sebagai  tempat curhat. Ini yang berbahaya. Saat media menyiarkan ada kriminalitas tapi polisi tidak menerima laporan itu, artinya berita itu bisa hanya gosip belaka, kecuali kriminalitas yang tidak berkaitan dengan delik aduan, seperti pembunuhan. Lebih baik, doi cerita di blog atau kaskus aja.

Pelajaran lainnya, ternyata masih sedikit kesadaran warga yang berniat melapor jika berposisi menjadi korban. Secara tidak langsung, orang tersebut mendukung aksi kejahatan yang terjadi. Dia tahu ada kriminalitas dan menjadi korban tapi tidak melapor. Persis seperti yang diharapkan oleh pelaku kejahatan. Walhasil, para penjahat makin bersuka cita.

Yah, ini sih seupil kriminalitas di kota Jakarta. Masih ada kriminalitas besar lainnya. Jaringan narkoba, prostitusi, sindikat pencurian kendaraan bermotor, sampai tawuran pelajar. Kejadian ini hampir tak beda jauh dengan tayangan film-film Hollywood. Bedanya, jika anda sedang di rampok atau menjadi sasaran kejahatan tidak akan ada Superman, Spiderman, Batman atau pria tampan kekar dan bertopeng yang mendengar teriakan atau rintihan kesakitan anda. Respon atas kejadian itu tergantung kepada seberapa besar nyali anda untuk melawan.

Namun jangan berkecil hati. Faktanya ada tiga orang perempuan yang berhasil melawan dan menggagalkan aksi pencurian di angkot. Hebatnya mereka bisa membekuk satu pelaku dan membawanya ke polisi. Tapi ada baiknya anda mempertimbangkan segala resiko yang ada mengingat sudah banyak kasus penjahat berlagak membawa senjata api. Seperti kata Bang Napi, waspadalah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s