Bukan Musik Asyik

Saya suka musik. Hampir semua jenis musik saya minati. Sebut saja saya itu penikmat musik. Rock, blues, pop, jazz, klasik, punk, maupun yang sudah berevolusi seperti alternative, rock and blues bahkan dangdut hingga lagu daerah pun saya minati. Sederhananya saya suka alunan nada. Setiap jenis musik memberikan sensasi berbeda. Tapi pada intinya sama saja.  Ada sebuah keteraturan, meski dalam sebuah lagu metal sekalipun.

Bisa dibilang, hampir setiap hari saya mendengarkan musik, baik itu di sengaja maupun sekedar mendengar lantunan ringtone dari seluler orang lain. Awal bulan ini, media di mana saya bekerja melansir tokoh seni 2011. Saya cukil satu tokoh (group) dari sisi musik. Media saya memilih Tohpati bertiga sebagai tokoh di bidang musik 2011.

Majalah Tempo, tidak menyebut mereka (Tohpati, Indro  Hardjodikoro, dan Adityo Wibowo) sebagai pemilik album terbaik di tahun 2011. Tempo memiliki nominasi. Dan ada sembilan nominasi album terbaik lainnya di 2011 yang kesemuanya bikin kepala saya gatal dan dahi berkerut. Tidak ada satu pun dari kesepuluh album tersebut saya kenal dan dengarkan.

Nah, berikut ini album terbaik di 2011 versi Majalah Tempo. Tohpati Bertiga (album Riot), Lesmana-Likumahua-Winarta (Love Live Wisdom), Hiphopdiningrat-Java Hip Hop (the Soundtrack), Angsa dan Serigala (Angsa dan Serigala), Morfem (Indonesia), Luky Annash (180 derajat), BRNDLS (DGN8), Polyester Embassy (Fake/Faker), Dialog Dini Hari (Lirih Penyair Murung), Burgerkill (Venomous).

Ini soal selera. Mungkin inilah selera musik dari Majalah Tempo. Tapi di luar persoalan pemilihan dan selera, adakah satu group atau album yang anda kenal? Jujur saya tidak ada yang tahu, kecuali Burgerkill. Group metal ini memang sudah pernah mampir ke telinga saya sudah lama. Saya kurang mengenal track Burgerkill begitu juga dengan album mereka yang satu ini.

Saya tidak akan membahas soal isi dari kesepuluh album ataupun track di atas sebab saya bukan pengamat musik. Pengetahuan saya soal musik masih dangkal. Ibarat setetes air di lautan. Saya cuma mau bilang kalau musik mereka “Bukan Musik Asyik”. Mengapa saya sebut Bukan Musik Asyik dengan tanda petik? Jawaban versi saya sebab tak satu pun track mereka saya dengar di media elektronik.

Lalu track atau lagu seperti apa yang saya sering dengar? Tak bisa dipungkiri, saya biasa mengizinkan musik “asyik” masuk ke gendang telinga tanpa permisi dahulu. Pada titik ekstrem saya biarkan musik berpolusi menjajah telinga saya. Ini diluar lagu-lagu kegemaran saya seperti  The Beatles dan beberapa musisi asal luar negeri lainnya.

Perlu ditekankan bahwa yang saya maksud adalah musik sekaligus musisi lokal. Dewasa ini, musisi, grup band lokal, diluar kesepuluh di atas terlihat mati suri.  Sesekali saya mendendangkan lagu dari Dewa, tapi bukan Dewa sekarang. Iwan Fals terlihat maskulin hanya lewat lawas-lawas saat dia muda dan membara.  Padi seperti kehilangan arah selepas Yoyo cerai dari istrinya dan terjerat kasus narkoba. Sheila on 7 tak mampu melawan arus band-band melayu. Sejauh pengamatan saya, hanya Gigi yang masih punya taji.

Boy/Girl Band

Kelahiran teknologi digital, khususnya penerapan ringtone dalam penggunaan telepon seluler menjadi momen pertaruhan bagi musisi Indonesia. Masa itu merupakan pergulatan antara industri dengan musisi. Musisi seperti Glenn Fredly enggan karyanya hanya didendangkan secuil pada bagian reff atau intro saja. Bagi Glenn, karya musik adalah utuh tak bisa dipotong. Yang lainnya lebih memilih bernegosiasi agar mampu bertahan dan terus berkarya. Di sudut lain, musisi kita berhadapan dengan konsep album dan single. Musisi Barat sudah mengalaminya lebih dulu.

Pilihan membuat album atau menyicil satu per satu dengan mengeluarkan single dijadikan alasan untuk menahan laju pembajakan. Padahal pembajakan adalah keniscayaan, bagi saya. Perkembangan tersebut secara tidak langsung, melahirkan band-band dengan aliran musik agak berani. Tak jelas apakah kemunculan ini memang karena band-band lawas seperti Padi, Slank, Dewa, Sheila on 7, dan sebagainya sudah “tidak” melahirkan karya baru.

Tapi setidaknya dalam dua tahun tahun terakhir, band dengan aliran musik melayu membabi buta mendominasi televisi dan radio lokal. Musisi dan band tampil bukan untuk menunjukkan sebuah karya musik berkelas. Kebanyakan bergerak atas dasar rating atau pasar. Fakta menariknya adalah meski banyak band baru tapi mereka mendendangkan lagu-lagu lawas. Mayoritas dari penyanyi baru menggubah instrumen dari lagu asli. Terutama jika melihat perilaku para boyband atau girlband baru.

Mohon maaf saja. Boyband dan girlband Indonesia yang menjadikan Korea sebagai kiblat baru tak lebih dari penghibur mata saja. Saya melihat mereka sebagai sebuah produk. Tubuh modal utamanya. Terdengar sadis? Biar saja. Seharusnya pendengar kita harus tahu kapan waktunya untuk berhenti dan berkata “cukup, saya sudah bosan.” Faktanya tidak. Sepanjang 2012 ini masih akan bermunculan boyband dan girlband.

Pada akhirnya ini soal selera. Sebenarnya saya tidak bisa menghakimi selera orang lain. Mungkin ini hanya romantisme atau sekedar kerinduan saya akan karya-karya dari musisi lama seperti Padi, Potret, Kla Project.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s