Invisible Hands

Apa yang salah dengan bangsa ini ? Ah, lagi-lagi dengan sangat terpaksa saya harus mencari-cari kambing hitam. Padahal tidak mudah mencari kambing yang benar-benar hitam, apalagi bagus buat diadu. Tapi tak mengapa.

Seorang anggota dewan yang seharusnya pandai dalam bertutur kata dan tak disangsikan lagi intelektualnya ternyata tererosi emosionalnya. Seorang tahanan yang seharusnya diperlakukan sama dengan tahanan lain ternyata bisa karaokean dan sibuk merias wajah di dalam Rutan dengan fasilitas hotel bintang 5. Semakin eksis KPK semakin bertaburan pula para koruptor. Menurut ICW, ada Rp215,57 miliar dana Bansos di korupsi pada 2009. Diduga aktor utamanya anggota DPRD, Ormas, dan staf Pemda. Para menteri yang mendapat mobil baru seharga Rp 1,3 miliar yang sangat menguras bensin padahal hanya berputar-putar di Jakarta.

Masih ada lagi. Seorang pria tega memutilasi anak-anak. Produksi narkoba telah bermetamorfosis menjadi industri rumahan, seperti buat kripik singkong dalam kemasan. Lain lagi dengan yang terjadi di Aceh yang merupakan daerah pertama di Indonesia yang berani menerapkan Syariah Islam. Tiga petugas Wilayatul Hisbah diduga memerkosa seorang perempuan. Sungguh sangat ironis. Belum lagi jika kita melihat kondisi saudara kita di daerah yang ribuan rumah, kebun, ternak, dan sawahnya tergenang air.

Sederas air terjun Niagara, mungkin seperti itulah persoalan bangsa ini. Belum juga air (baca:persoalan) diatas sampai ke dasar sudah muncul lagi, lagi, dan lagi air (baca:persoalan) yang baru. Apa yang salah dengan bangsa ini? Itu bukanlah pertanyaan untuk mencari kambing hitam. Itu adalah sebuah harapan sekaligus juga sebentuk rasa cinta akan bangsa ini. Itu bukanlah umpatan, tapi sebuah motivasi bahwa besarnya kejahatan dan ketidakadilan di negeri ini sama besarnya, bahkan lebih, dengan kebaikan dan cinta kasih yang disebarkan oleh ‘invisible hand’. Merekalah yang terus menerus berdoa dan berusaha agar negeri ini tidak terpuruk terlampau dalam ke jurang kenistaan.

The Invisible Hand. Mereka itulah tukang sampah yang selalu setia membersihkan tumpukkan sampah. Mereka adalah pedagang kaki lima yang tegar meski asap polusi menerjang. Mereka itulah mas/ibu tukang sayur yang tak lapuk karena hujan dan tak lekang karena panas berkeliling sekitar kompleks. Mereka itulah abang becak yang kuat dan berani menerjang padatnya lalu lintas. Mereka itulah para TKW/TKI dan PRT yang santun dan sabar melayani sang majikan. Mereka itulah para nelayan, seperti Jack Sparrow, yang memeluk ombak setinggi 3 meter. Mereka itulah para petani yang tersenyum meski harga pupuk selangit. Mereka itulah anak-anak kecil yang dengan riang tertawa menawarkan payung kepada profesional muda yang kehujanan. Merekalah seorang ayah yang memeluk hangat anaknya meski peluh bekerja hingga larut. Merekalah seorang ibu yang dengan sabar mengajari anaknya yang terbata-bata mengeja.

Merekalah The Invisible Hand. Mereka ada dimana-mana. Di kota, di desa, di stasiun, terminal, pusat perbelanjaan, rumah sakit, pusat pemerintahaan. Mereka adalah orang-orang yang fokus pada apa yang menjadi kewajibannya tanpa tendensi apapun, meski mungkin haknya sering tertunda atau terbengkalai. Tak ada sorotan kamera atau CCTV walaupun mereka berada di tengah-tengah hingar bingar peradaban manusia yang konon katanya sangat modern dan berteknologi tinggi. Lebih jauh dari itu, mereka justru memilih menghuni sudut-sudut dunia yang terpencil. Prinsip mereka lebih baik diam daripada harus melukai orang lain. Mereka yang ketika tergerus oleh otoritas-otoritas kekuasaan lebih memilih untuk berdamai. Ini bukan karena mereka lemah tapi karena mereka meyakini bahwa Allah Maha Adil.

Jadi ingatlah kawan. Jika ada seorang tukang baso yang sudah 25 tahun tidak berganti profesi atau ada seniman jalanan yang hanya bermodalkan tepukan tangan. Janganlah menggerutu, merasa iba, atau menghakiminya karena bisa jadi merekalah yang membuat Indonesia masih ada hingga saat ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s