Sjahrir

Dalam pergerakan nasional menuju kemerdekaan Indonesia, nama Sutan Sjahrir seolah-olah tenggelam dibalik kebesaran Soekarno dan Hatta. Saya sempat berpikir yang tidak-tidak, jika saja Sjahrir bergerak lebih keras bukan tidak mungkin dia menjadi orang pertama yang membaca teks proklamasi kemerdekaan. Faktanya memang demikian adanya. Beberapa hari setelah 6 Agustus 1945, saat Jepang di bom oleh sekutu, Sjahrir sudah mendesak Soekarno untuk segera memproklamirkan Indonesia. Soekarno menolak tapi Sjahrir bergerak. Cirebon menjadi kota pertama di Indonesia yang bebas dari penjajahan Jepang.

Cerita seputar perjuangan Sjahrir baru saya peroleh di usia 24 tahun. Tragis. Saya jadi berpikir jangan-jangan hingga saat ini nama Sutan Sjahrir belum juga masuk dalam buku sejarah di SD-SD negeri ini? Seingat saya, buku-buku sejarah yang saya beli selama masa sekolah tidak mencantumkan Sjahrir sebagai salah satu Founding Father. Soekarno dan Hatta lebih cemerlang namanya. Tidak salah,tapi saya pikir kita semua harus tahu bahwa banyak tokoh sentral yang terlibat dalam kemerdekaan Indonesia. Harapannya, jika kita bertanya ke murid SD atau SMP sekalipun, siapakah pahlawan nasional yang kamu kenal? Tidak melulu nama Soekarno atau Mochammad Hatta yang terlontar. Saya ingin mendengar Tan Malaka, Semaun, Cipto Mangunkusumo, Soerjadi Soeryaningrat, Amir Sjarifudin dll.

Saya tidak ingin disebut nasionalis hanya karena menulis tentang Sjahrir atau tokoh kemerdekaan lainnya. Pengetahuan sejarah telah saya sadari menjadi begitu penting untuk kita ketahui. Dengan mengetahui dan menyadari sejarah saya menjadi optimis bahwa bangsa ini memang besar sekali. Kebanyakkan para elit politik dewasa ini adalah mereka yang tercerabut dari akar-akar sejarah. Mungkin mereka tahu sejarah tapi mereka enggan belajar dari sejarah.

Berbicara tentang Sjahrir, pengatahuan saya hanya sebatas didapatkan dari Majalah Tempo edisi khusus mengenai Bung Kecil (sebutan akrab Sutan Sjahrir). Beruntung saya memilikinya, karena dari informasi itu saya mempunyai sudut lain dalam menatap pergulatan kemerdekaan bangsa saya. Secara sederhana saya menyebut Sjahrir sebagai tokoh yang tidak saja moderat pada zamannya, tapi juga hingga detik ini pemikirannya masih laku diterapkan. Sjahrir adalah sedikit contoh tokoh nasional yang memilih jalur diplomasi atau dialog dalam proses perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan. Anda tahu kan usia bangsa Indonesia masih sangat muda dan rentan sekali untuk direbut kembali oleh Belanda.

Sebagai seorang intelektual, Sjahrir tahu betul bagaimana memikat dunia internasional. Kehadiran Belanda, meski nama mereka cukup “harum” didunia internasional tapi perangai Belanda masih tergolong primitif dalam menghadapi Hindia Belanda yang telah merdeka dan berganti nama menjadi Indonesia. Bahasa peperangan menjadi tema utama dalam rangka menancapkan kembali kuku imperialisme dan kolonialisme via segerombolan pesakitan yang bernama Netherlands Indies Civil Administration (NICA).

Suatu hari anggota NICA membuat ulah dengan memancing keributan. Tidak tanggung-tanggung, Sjahrir yang ketika itu menjadi Perdana Menteri pertama Indonesia siap dibedil. Untung nyawanya masih selamat, tapi ujung popor pistol anggota NICA sempat mendarat di wajah sang Perdana Menteri. Sjahrir memilih diam. Sjahrir sadar jika rakyat tahu peristiwa ini, maka ratusan orang-orang Belanda yang sedang berada di tahanan Jepang akan habis dibantai oleh para pemuda Indonesia.

Sjahrir lahir pada 5 Maret 1909 di Padang Panjang. Hingga mencapai dewasa tinggi badannya tidak lebih dari 165 cm, itu sebab dia dipanggil Bung Kecil. Sjahrir kecil bisa dikatakan beruntung karena dia bisa mengeyam pendidikan karena perkembangan politik etis. Sjahrir tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Amsterdam. Dalam perkembangan kuliahnya, Sjahrir lebih banyak disibukkan oleh aktivitas di luar kuliah. Waktu Sjahrir lebih banyak dihabiskan dengan berkelana ke pusat budaya dan ruang diskusi mahasiswa. Sjahrir pun tercatat pindah kuliah ke Leiden School of Indology. Pergaulannya semakin luas, Sjahrir telah bertatap muka dengan para cendikiawan dan aktivis politik di Leiden. Mungkin aktivitas inilah bekal Sjahrir ketika dia memutuskan untuk berhenti dari kuliah dan memilih berjuang untuk bangsanya yang sedang terjajah.

Bola salju terus menggelinding. Setiba di Tanah Air, kehadiran Sjahrir menjadi ancaman bagi eksistensi kaum kolonialis. Beragam peristiwa, salah satunya di penjara dan di buang ke Boven Digul lambat laun telah mendidik Sjahrir menjadi pejuang yang tangguh. Saya melihat Sjahrir, dan juga tokoh nasionalis lainnya, merupakan produk dari pendidikan Belanda. Gaya internasional tapi bercita rasa lokal. Bisa dibilang Sjahrir tumbuh dan berkembang oleh pemikiran Barat, namun Sjahrir tahu betul bagaimana membuat garis perjuangannya agar diterima oleh rakyat Indonesia. Garis politik Sjahrir sangat tegas, yaitu intelektual radikal namun mengedepankan diplomasi. Jika di India ada Mahatma Ghandi yang menentang keras kekerasan, maka kita punya Sutan Sjahrir.

Enam dekade lalu, Sjahrir sudah bisa melihat bahwa citra begitu penting dalam pergaulan dunia internasional. Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, dengan berani Sjahrir mengekspor beras ke negeri sahabat India. Banyak pemuda yang mengecam Sjahrir atas kebijakannya tersebut. Namun rakyat harus sabar menanti hasil politik diplomasi sang Bung Kecil. Pihak yang paling dirugikan oleh tindakan Sjahrir adalah Belanda. India berusaha untuk menghormati hasil uluran tangan Indonesia dengan mengadakan Asians Relation Conference di New Delhi, Sjahrir diharapkan kedatangannya. Belanda senewen bukan main, jika dibiarkan terus menerus maka dunia internasional akan melihat bahwa Indonesia memang layak diakui kemerdekaannya.

Puncak dari diplomasi Sjahrir ialah pidato kenegaraannya di Lake Success, markas Perserikatan Bangsa-Bangsa. Belakangan Sjahrir mengaku kecewa atas pidatonya tersebut. Sjahrir menilai mata dunia belum melirik persoalan kemerdekaan Indonesia yang mati-matian menahan manuver Belanda. Pidato Sjahrir di PBB ternyata melahirkan benih lain. Allah mendengar doa rakyat Indonesia. Pidato Sjahrir telah mendorong pembentukan komite khusus Indonesia. Akhirnya persoalan mempertahankan kemerdekaan Indonesia menjadi perhatian dunia internasional. Dukungan untuk Belanda lambat laun melemah, hingga akhirnya seluruh dunia internasional, bahkan Belanda harus mengakui bahwa Indonesia adalah bangsa yang merdeka dan bebas. Terima kasih Bung Kecil.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s