Everyday Is Our Birthday

Dalam satu tahun penuh, seringkali kita menemukan atau sengaja membuat momen-momen tertentu menjadi begitu spesial atau istimewa. Momen tersebut seolah-olah menarik dan mengajak kita untuk mengukur, menilai, mengevaluasi, melihat, dan merasa apakah sesuatu yang sudah kita lakukan telah bermakna dan bermanfaat. Bersamaan dengan itu, kita pun melompat ke suatu masa yang gelap gulita, disatu sisi ada optimisme dan harapan yang besar, tapi di sisi lain ada juga keraguan dan rasa takut yang menyelimuti. Masa itu adalah masa depan. Namun dibalik itu semua, terkadang kita lupa bahwa sebenarnya kita justru sedang hidup dan berdiri saat ini.

Sepertinya baru kemarin kita merayakan keberhasilan lulus dari SMA dan memulai hari baru di universitas. Begitu banyak orang yang datang dan pergi , kemudian datang lagi, lalu pergi lagi dalam kehidupan kita, tapi mungkin hanya beberapa saja yang telah memberi kita makna istimewa dan pantas untuk dibanggakan. Begitu pun dengan hari-hari yang pernah kita miliki, entah sudah berapa banyak hari yang kita langkahi dengan tawa dan tangis. Begitu pun hari yang kita lalui dengan kesia-siaan dan kehampaan. Kita tidak tahu.

Mengutip buah pemikiran Komaruddin Hidayat, dalam Islam sesungguhnya setiap hari yang kita langkahi selalu diisi dengan kelahiran dan kematian. Di pagi hari saat kita berucap Alhamdulillah alladzi ahyana bada ma amatana wa ilahinnusur (segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan aku kembali setelah matiku dan hanya kepada-Mu kami kembali ) adalah momen kelahiran kita ke dunia. Lalu, setelah sepanjang hari berkelindan dengan peluh kesah, tiba saat bagi kita di malam hari untuk sejenak melepas lelah dan menghimpun energi kembali untuk hari esok, bismika allahumma ahya wa amut (ya Allah dengan asma-Mu aku menjalani hidup dan dengan asma-Mu aku mati).

Pagi hari kita bangun (lahir), malam hari kita tidur (mati). Esok pun demikian, jika Allah mengizinkan, kita akan menghadapi hal yang sama dan pasti, yaitu bangun (lahir) dan tidur (mati) terus menerus sampai batas waktu dimana jiwa ini benar-benar berpisah dari sang raga. Dan meski jiwa kita terlepas (mati sungguhan), toh kita tetap akan bertemu kembali dalam alam yang berbeda, yaitu akhirat dimana tidak ada lagi kematian.

Mengapa ketika ingin tidur kita mengucapkan lafaz mati dalam doa kita? Tidur dan mati adalah posisi di mana kita tidak memiliki kuasa atas tubuh atau jasad kita. Saat tidur kita tidak bisa melakukan sesuatu, sama seperti ruh dan jasad terpisah, sehingga kita meminta perlindungan kepada Allah dari segala hal yang dapat membahayakan. Begitu pun dengan kematian, yaitu saat roh betul-betul terpisah dengan jasad. Bedanya ketika kita tertidur ada kemungkinan kita akan bangun kembali keesokan harinya. Dan ketika kita bangun itulah kelahiran kita.

Mungkin inilah sebabnya Islam tidak mengatur secara syariah perayaan ulang tahun karena sebetulnya setiap hari adalah perayaan ulang tahun kita. Islam hanya menggarisbawahi bahwa kita harus rajin-rajin menghitung dan menimbang bekal untuk akhirat nanti. Terakhir, merajut kata-kata dari Komaruddin Hidayat lagi, jika kita bisa secara intim menghayati dan memberi makna, maka setiap hari adalah hari kelahiran dan juga kematian, maka setiap hari kita melakukan pesta tasyakuran dan doa pertobatan pada Allah.

Wallahuallam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s