Segumpal Darah

Segumpal Darah

Manusia mulia itu merasa linglung, bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sementara suara yang terus menerus menggema di dalam gua membuat dia bertanya-tanya.

“Saya tak dapat membaca”

“Saya tak dapat membaca”

”Apa yang akan saya baca?” serunya.

Lalu lima ayat meluncur dari Jibril. Menembus, menghujam, dan tertanam ke dalam hatinya yang memancarkan sinar ketentraman. Dia masih bertanya, apa sebenarnya yang dilihat? Sesampainya dirumah, dia minta diselimuti oleh istrinya.

”Selimuti aku,” katanya. Dengan penuh kehangatan dan kedamaian, istrinya menyelimuti manusia mulia ini.

”Khadijah, kenapa aku?”, katanya. Lalu dia menceritakan apa yang baru saja dialaminya. Sebuah pengalaman pertama dalam hidupnya. Awal runtuhnya kezaliman, masa kegelapan akan segera berakhir berganti dengan masa penuh kemuliaan dan keemasan.

Bacalah dengan nama Tuhanmu dan Penjagamu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah beku. Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan kepada manusia (menggunakan) pena. Mengajar manusia apa yang tak ia ketahui (Al-Alaq:1-5)

Begitu Jibril berucap kepada manusia mulia ini. Sebuah firman dari Allah yang secara tidak langsung pula mengangkat Muhammad menjadi seorang pembawa risalah bagi semua manusia. Seorang Rasulullah saw. Muhammad bin Abdullah.

Sulit untuk dicerap oleh nalar kita, mengapa Allah melalui perantara-Nya Jibril, menyuruh seorang Muhammad saw untuk membaca. Tidak heran jika Muhammad pada saat itu merasa keheranan. Selain karena dia mendengar suara yang tidak tahu siapa yang berucap, Muhammad pun tidak bisa baca dan tulis. Jadi apa yang harus dia baca?

Dalam perkembangan selanjutnya, turunnya surah Al-Alaq ini merupakan rahimnya berbagai ilmu pengetahuan yang lahir pada saat ini. Menurut Tafsir Al-Quran Kontemporer yang ditulis oleh Aam Amiruddin, makna ”baca” atau Iqra pada surah ini bukanlah berarti membaca dalam bentuk teks atau tulisan-tulisan (saja). Karena sepertinya Jibril pada saat itu tidak membawa selembar pun kertas atau salinan untuk dibaca oleh Rasulullah saw. Baca disini berarti membaca fenomena dan nomena, segala hal yang terlihat oleh kedua mata kita dan juga mata hati. Realitas-realitas yang datang kepada kita merupakan “teks-teks” yang harus kita baca. Menelaah, meriset, merenungkan, bereksperimen dan sebagainya.

Selanjutnya kata baca atau Iqra diikuti oleh ’dengan nama Tuhanmu dan Penjagamu yang menciptakan’. Allah mengaitkan kata membaca dengan nama Allah, hal ini menunjukkan agar kita saat membaca, meriset, merenungkan harus diikuti dengan keikhlasan hanya mencari keridhoan Allah swt, sehingga ilmu yang kita peroleh semakin membuat kita merasa berserah diri kepada Allah.

Seorang punggawa dibidang Fisika, Albert Einstein berucap, agama tanpa ilmu lumpuh dan ilmu tanpa agama buta. Realitas saat ini banyak menunjukkan kepada kita orang-orangnya yang katanya mengaku berilmu, intelektual muda, akademisi dengan barisan gelar dari dalam dan luar negeri, politisi, dokter-dokter telah menjadi ”buta”. Buta karena ilmunya tidak didampingi oleh agama. Tidak ada keseimbangan antara pikir dan zikir. Akibatnya teori-teori, teknologi, hasil riset yang lahir dari mozaik pemikiran para intelektual seperti ini bertentangan dengan nilai-nilai agama (baca-Islami). Bertentangan dengan nilai-nilai Islami berarti bertentangan dengan nilai-nilai fitrah yang ada pada kita sebagai manusia yang dicipta oleh Allah.

Kita telah lupa. Kesombongan sudah larut pekat menjelaga menutupi hati. Sehingga cahaya Ilahi sulit menetralkan kembali hati yang telah tertutupi. Oleh karena itu, apa pun yang kita lakukan haruslah diiringi dengan niat mencari keridhoan Allah. Sehingga kegiatan intelektual kita tidak membawa kita ke jurang kesombongan, tapi justru akan membuat kita semakin sadar bahwa kita begitu kecil sekali dihadapan Allah dan ilmu serta kekuasaan Allah begitu luas tak terbatas.

Pada ayat berikutnya menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari segumpal darah. Di surah yang pertama kali diturunkan ini Allah menjelaskan hakikat seorang manusia yang diciptakan dari segumpal darah. Ini adalah bentuk penyadaran terhadap keberadaan kita. Dalam surah Al-Mukminun ayat 11-14 dipaparkan proses kejadian manusia yang terdiri dari lima tahap, yaitu Nutfah (pertemuan sperma dan ovum), A’laqah (segumpal darah), Mudghah (segumpal daging), Idham (terbentuk tulang belulang), dan Lham (daging) yang menunjukkan keutuhannya dalam bentuk janin.

Pada ayat ketiga, kata iqra kembali muncul. Dalam proses membaca, meneliti, dan bereksperimen tidak cukup dilakukan hanya dengan sekali dua kali. Untuk bisa mencapai tahapan paham atau memahami diperlukan usaha atau proses berkali-kali agar hasilnya matang dan dapat dipertanggungjawabkan. Pengulangan yang diikuti oleh kerja keras adalah kunci sukses Thomas Alva Edison saat berhasil menemukan lampu pijar. Proses yang panjang, pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, dana bahkan jiwa yang membuat ilmu atau pengetahuan itu langgeng. Ironisnya adalah kita kadangkala enggan melalui proses tersebut.

Generasi instan sedikit demi sedikit menyelimuti dan merangkul kita. Proses yang panjang dan perjalanan yang berliku kurang diminati oleh kita. Segala sesuatunya ingin segera jadi, jadi, dan jadi. Tidak heran jika ruang-ruang untuk diskusi dan kajian sepi pengunjung. Kita lebih suka menjadi penikmat dibanding pembuat, konsumen dibanding produsen, penonton dibanding pemain, komentator dibanding peneliti. Jelas ini bertolak belakang dengan semangat mencari ilmu yang tersirat dalam ayat ketiga surah Al-Alaq.

Ilmu adalah kunci sukses meraih kebahagian dan merupakan modal bagi kita selaku khalifah fil ardh (pengelola bumi). Apa yang akan kita kelola dan gali jika tidak ada ilmu yang kita kuasai. Kita hanya akan menjadi budak, tergantung pada pihak lain. Dan peran kita selaku khalifah fil ardh akan terreduksi sedikit demi sedikit.

Aplikasi dari penerapan ilmu yang didampingi oleh nilai-nilai ketauhidan bukan merupakan hal yang utopis atau isapan jempol belaka. Sejarah telah mencatat pada masa kegemilangan Islam, lahir para ilmuwan dan pemikir yang bisa menyelaraskan antara pikir dan zikir. Ibnu Khaldun dan Ibnu Sina adalah salah satu diantaranya yang menerangi dunia dengan ilmu pengetahuannya sambil beriringan dengan zikir kepada Allah. Artinya keselarasan antara ilmu dan agama akan menghasilkan insan manusia yang betul-betul menduduki jabatan sebagai khalifah fil ardh.

Lima ayat diawal surah Al-Alaq ini menyentuh hal mendasar dalam potensi manusia, yaitu akal dan hati (pikir dan zikir), juga disertai perangkatnya atau bisa juga cara memperolehnya, pada ayat keempat dan kelima, yaitu iqra (baca, riset, teliti), allama (mengajarkan/transfer ilmu), dan qalam (alat tulis, penyimpan data, memori). Jadi jelaslah bahwa intelektual harus dibarengi dengan semangat mencari keridhoan kepada Allah swt.

Wallahu’alam Bishowab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s