Sunyi

Suatu malam Ikal pernah berharap bisa menemukan lampu ajaib milik Aladin. Dalam benaknya ia berpikir Aladin lupa atau tak sengaja menjatuhkannya saat jalan-jalan di mal atau trotoar. Atau kalau pun ada Aladin di kehidupan nyata ini dan dia pastinya punya lampu jin itu, Ikal ingin sekali meminjamnya meski hanya sekejap. Ikal penasaran apakah dongeng tentang jin itu benar adanya dan nyata-nyata bisa mengabulkan segala keinginan seperti di Kisah 1001 Malam. Satu permintaan Ikal. Meyakinkan Mat Item dan Mak Ijah pemuda kurus itu mencintai anaknya yang bernama Dewi dan serius ingin menikahinya.

Tapi segera Ikal hapus keinginan meminjam lampu ajaib itu. Sebab itu cuma kisah dan khayalan semata. Faktanya adalah Ikal dan Dewi mesti kerja keras membuat Mat Item dan Mak Ijah percaya kalau anaknya akan baik-baik saja ketika berumah tangga nanti.

Baik-baik saja karena Ikal tidak akan mengandalkan harta agar bisa bahagia. Tidak akan nafsu rebutan jabatan buat menarik perhatian orang lain. Tidak akan memasang poster di jalan raya atau pohon kalau suaminya nanti diminta jadi calon anggota legislatif. Dan yang lebih penting lagi adalah tidak akan memaksa anak-anaknya menikah dengan orang yang tidak dicintainya.

Sementara itu, di ujung sebuah jalan protokol yang memuntahkan polutan beracun, sesosok pemuda lainnya duduk termenung. Wajahnya menunjukkan keletihan yang membuat dia tampak lebih tua dari usianya yang baru menginjak angka 26 tahun.

“Ah, sudahlah,” kata dia setengah berbisik. Dari pada dipikirkan terus lebih baik aku pulang dan tidur. Sosok Rahma masih tertinggal dalam kenangan Remi. Berkali-kali Remi berlatih bagaimana rasanya kehilangan Rahma. Tapi latihan berbeda dengan mengalaminya. Dulu, dengan ringan Remi akan mengatakan kepada sahabatnya yang sedang putus cinta agar bersabar. Tenang dan tetap riang. Tapi situasinya amat berbeda ketika rasa itu dialami sendiri.

Di secarik kertas Remi menulis,


Terima kasih udah dikasih makan kalau maen ke Bandung. Bandung yang pasti bakal makin bikin kangen kalo ke sana lagi. Terima kasih udah dikenalin sama abah dan ambu. Dan terima kasih- terima kasih lainnya yang belum keingetan sekarang.

Oia, terima kasih juga buat Daendels. Berkat idenya aku bisa lancar kalau jalan ke Bandung walau sopir bus lebih memilih lewat tol Cipularang. Salam buat Si Item. Bilang gak usah mikirin soal persalinan, yang penting jangan lupa nyusuin bayi-bayinya.  

Soal buku dan hal-hal lainnya. Sepenuhnya milik kamu. Terserah mau kamu simpen ato sumbangin. Terus soal si Mama, itu juga terserah kamu. Dia orangnya melankolis. Gampang terkesan. Kaya kebanyakan ibu-ibu, intuisinya lumayan tajam tapi masih gaptek kalau ambil uang dari ATM. Gak nyambung kan.

Yaudah, segitu aja deh
Wassalamualaikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s