Antara Rio Haryanto dan Joey Alexander

Sebuah tulisan yang sempat tertunda karena menunggu kepastian Rio tampil di Formula 1.

Saya ini tak ahli betul mengulas dunia balap mobil selevel Formula 1 meski sempat mampir jadi reporter olahraga. Tapi sosok Rio tidak terlalu asing bagi saya. Ukuran tidak asing terletak pada apakah saya pernah mewawancarai atau mengulas tentangnya atau tidak. Secara kebetulan saya pernah sekali bertemu Rio langsung dan mewawancarai dalam acara buka bersama sekitar dua tahun lalu. Saat itu Rio masih tampil di GP2 Series, satu kasta di bawah F1.

Di usia yang masih muda, 23 tahun, kehadiran Rio di pentas F1 amat mengejutkan. Bukan berarti F1 itu milik pembalap tua loh. Tapi maksud saya adalah begitu cepatnya Rio naik kelas ke level paling tinggi. Dari sisi skill saya kira Rio tidak kalah meski sempat beberapa kali menabrak pembatas jalan kala menjalani latihan kemarin. Mungkin grogi atau saking antusias kali.

Terlepas dari segala pro-kontra soal dukungan dana (sponsorship) sebagai salah satu syarat paling penting menembus jajaran tim elit F1, kehadiran Rio pantas dibanggakan. Pasalnya, belum tentu dalam beberapa dekade ke depan akan ada pembalap Indonesia yang bisa menyamai prestasi Rio.

Sudah lupakan soal prestasi tim Manor Racing di ajang F1. Musim lalu saja tidak ada satu poin pun yang dikoleksi tim asal Inggris itu. Namun yang menjadi catatan penting adalah kehadiran pembalap asal Indonesia yang berada di belakang kendali mobil F1. Setidaknya di layar teve nanti ada wajah Rio terpampang lengkap dengan bendera merah-putih, berderet bersama juara dunia Lewis Hamilton.

Berbeda dengan Rio yang mesti merogoh kocek dan banting tulang mencari dana demi mendapatkan satu kursi di F1, Joey Alexander sebaliknya. Bukan berarti bebas dari kerja keras dan latihan, tapi masuknya Joey dalam nominasi Grammy setara menggemparkannya dengan keberhasilan Rio menembus F1.

Tak tanggung-tanggung, Joey yang baru menginjak usia 12 tahun masuk dalam dua nominasi di kategori Instrumental Jazz Album dan Best Improvised Solo. Di antara deretan nominator, Joey tercatat yang paling muda. Rasa penasaran pun mengejar-ngejar saya.

ebsqart com

gambar: ebsqart.com

Minim pengetahuan soal sosok Joey, saya lantas mengunjungi Youtube. Ternyata ada banyak video penampilan dan wawancara Joey. Namun ketika melihat penampilannya saya hanya bisa terdiam. Diam karena tak memahami secuil pun soal jazz. Saya yang setiap hari dibombardir lagu Justin Bieber, hanya menatap kosong permainan Joey dan sesekali tersenyum ketika memasuki sesi wawancara.

Banyak kalangan yang menyebut Joey sebagai anak ajaib (prodigy). Yah, berapa persen sih di dunia ini musisi berusia 12 tahun yang bisa masuk nominasi Grammy, di kategori jazz pula. Menyaksikan begitu banyak orang terpukau dan melemparkan tepuk tangan usai Joey memijit-mijit tuts piano, bagi saya cukup menjelaskan arti kata prodigy.

Prestasi Rio dan Joey, meski tidak membawa pulang piala Grammy, merupakan bukti pengakuan orang-orang luar terhadap atlet atau musisi Indonesia. Di sisi lain, mereka seolah penghibur sekaligus motivator bagi saya yang setiap hari nyaris murung melihat isu-isu ekonomi dan pertengkaran seputar LGBT di media sosial dan grup whatsapp.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s