Tentang Dunia Yang Paradoks

Ada harga yang harus dibayar mahal dibalik ambisi mengejar target pertumbuhan ekonomi. Harus cermat mengambil kebijakan.

TENTU belum lepas dari ingatan kita tentang peristiwa kematian Salim Kancil. Seorang warga yang dengan berani menolak kehadiran tambang pasir ilegal di Desa Selok Awar-awar, Lumajang, Jawa Timur. Tidak banyak orang seperti Salim di negeri ini yang berani mempertaruhkan nyawa demi melawan ketidakadilan.

Tidak hanya Salim, warga yang berada di kawasan tebing karst Rembang dan Pati, Jawa Tengah pun tampak istiqomah melawan aksi korporasi perusahaan semen. Mereka menolak kehadiran pabrik semen lantaran berpotensi merusak sumber mata air. Di balik tebing-tebing karst yang merupakan bahan baku membuat semen tersembunyi cadangan air yang berlimpah.

Pekan ini, warga Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggualangin, Sidoarjo, Jawa Timur sedang gelisah dengan aksi PT Lapindo Brantas Inc. Perusahaan minyak dan gas itu berencana mengembangkan eksplorasi sumur gasnya. Jaraknya tak jauh dari semburan lumpur panas Lapindo. Enggan mengalami nasib serupa dengan desa sebelah, warga pun ramai-ramai menolak. Sejumlah pihak meradang dan mempertanyakan izin eksplorasi Lapindo.

Lantas apa yang paradoks dari ketiga peristiwa itu? Sebenarnya tak sulit-sulit amat sekedar menjawab. Apalagi selain soal pembangunan. Sialnya, saya justru berada di sisi arus perputaran peristiwa itu dan nyata-nyata punya peran yang cukup strategis. And it depress me.

Saya terkejut ketika seorang direktur perusahaan konstruksi menyebut kalau pasir yang berasal dari dusun Salim ternyata mengalir ke proyeknya. Dia bilang turut berduka cita atas tragedi kematian Salim. Untuk sementara kegiatan penggalian dan suplai pasir pun dihentikan. Belum jelas bagaimana kelanjutan proyek jalan tol yang tengah dikerjakan perusahaan pelat merah itu.

Selang beberapa pekan, bergeser ke Semarang, pengadilan menolak gugatan warga Rembang tentang pendirian pabrik semen yang dimotori Semen Indonesia. Nasib berbeda dialami warga Pati. Pengadilan malah mengabulkan permohonan warga yang menolak kehadiran pabrik semen yang bakal didirikan Indocement.

Di sektor infrastruktur, semen merupakan indikator pertama mengukur jalan atau tidaknya pembangunan. Tinggi-rendahnya konsumsi semen akan jadi tolak ukur apakah proyek seperti jalan, jembatan, waduk atau perumahan lancar atau tidak. Indonesia yang belum merata infrastrukturnya terbilang tertinggal jauh dengan negara lain dalam hal pembangunan jalan.

Berbeda dengan warga di Sidoarjo. Mereka sudah merasakan dan tahu betul betapa pahitnya kehilangan tempat tinggal dan tercerabutnya akar kehidupan setelah lumpur menenggelamkan tiga desa. Nada protes tidak hanya datang dari warga, tapi juga kalangan lain. Kementerian ESDM dan Lingkungan Hidup pun tengah mengkaji ulang aspek perizinan serta dampak lingkungannya.

musola lapindo grafis sosial wordpress

Hanya kubah musola yang sanggup bertahan di tengah semburan lumpur Lapindo. (Sumber: grafis sosial wordpress)

Kebutuhan manusia akan energi tidak bisa dihindari. Jelas kita tidak bisa kembali ke cara lama di mana jika ingin memasak meski menebang kayu-kayu di hutan. Beginilah resiko kehidupan modern. Minyak bumi, gas, dan batu bara sejauh ini jadi tumpuan utama penggunaan energi untuk menopang aktivitas orang Indonesia.

Ketiga unsur itu ada di Indonesia. Kita belum terlatih betul menerapkan alternatif energi lainnya, seperti matahari, angin, bahkan nuklir sekalipun. Kebijakan bauran energi belum mapan.

Nama Lapindo sudah terlanjut identik dengan semburan lumpur. Kalau operator berganti, saya tak yakin aksi korporasi bakal berjalan mulus. Namun kita harus apresiasi semakin tingginya kesadaran masyarakat akan lingkungan. Upaya pemerintah yang ingin mengejar pertumbuhan ekonomi tidak bisa serta merta ditunda. Tapi kesadaran melestarikan lingkungan pun mesti terus dibangun.

Kita perlu belajar banyak dari negara maju, di Eropa khususnya. Jerman sudah bergerak meninggalkan pembangkit listrik tenaga nuklir. Meski tergolong energi yang efisien tapi nuklir tak sebanding dengan resikonya. Jerman kini tengah mengembangkan pembangkit listrik tenaga angin. Sesuatu yang tidak sulit ditemukan di Indonesia mengingat ada jutaan kilometer garis pantai di negeri ini.

mesinunila org

Jerman sudah mengembangkan energi angin untuk memenuhi kebutuhan listriknya. Terdepan dalam pengembangan teknologi (sumber: mesinunila.org)

Rasa-rasanya langkah itu bisa menjadi pilihan bagi kita. Dibalik kontroversinya kebijakan Dana Ketahanan Energi, saya rasa kita perlu mendukung terus upaya pemerintah yang sedang menyiapkan energi terbarukan. Bisa jadi upaya itu merupakan jalan tengah agar tidak ada lagi kasus Salim Kancil, atau tenggelamnya desa di Sidoarjo. Sambil tentunya kita sama-sama menekan hasrat duniawi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s