Kopi Susu Yang Cokelat Itu

Segelas kopi susu berdiri di sebelah kipas angin. Aromanya melayang memenuhi ruang kamar. Sudah lama aku tak menyeduh kopi yang dicampur susu. Aroma arabika yang muncul sehabis tersiram air panas tak terlalu tajam menusuk hidung. Warnanya pun jadi cokelat tua serupa sepatu kulitku.

Sebagai pendamping, aku menyiapkan dua potong roti tawar. Setelah ku oles mentega, bagian teratas ku siram butiran cokelat. Menu makan malam yang tak mewah. Biasanya segelas kopi dan roti tawar ku sajikan sebagai menu sarapan. Selain praktis, kopi cukup efektif bagiku untuk mengusir rasa kantuk yang masih tersisa di pagi hari. Tapi kali ini beda.

Malam ini aku memerlukan kopi yang dicampur dengan susu tidak untuk membuat mata tetap terjaga. Malam ini aku ingin mengusir rasa sakit kepala yang menggedor-gedor sejak dua hari yang lalu. Aku tidak tahu apakah kopi cukup mujarab menghentikan rasa sakit di kepala. Aku hanya ingin menyeduhnya.

Dengan penuh kesadaran, dan perhitungan yang matang, akhirnya aku memutuskan membeli sepeda. Pembelian kali ini motifnya beda, semata-mata hanya untuk berkendara dan ingin lepas dari ketergantungan akan sepeda motor. Walhasil, aku memilih harga yang relatif murah dan pilihan spesifikasi yang standar. Toh, hanya untuk dipakai di dalam kota atau melintas di jalanan kampung saja. Pilihan jatuh kembali ke Polygon.

Uji coba pertama aku menjajal rute Palmerah-Tangerang. Kalau biasanya pulang ke rumah naik sepeda motor dan hanya memakan waktu tempuh 45 menit, dengan bersepeda aku membutuhkan 90 menit untuk jarak 20 kilometer. Lumayan. Kaos yang berlapis kameja flanel basah kuyup menyerap keringat.

Lantaran beda spesifikasi maka beda pula pengalaman berkendaranya. Ditambah kondisi fisik yang tidak bugar karena absen dua bulan tak jogging, kayuhan pun terasa berat. Perpindahan gear terasa kasar dan terdengar berisik. Sisanya relatif tidak beda dengan si pendahulu yang lenyap di Stasiun Palmerah tiga bulan lalu.

Kembali ke Palmerah aku memilih rute berbeda. Aku mengambil jalur Ciledug dan melewati Joglo. Total aku melahap jarak 19 kilomater dengan waktu tempuh yang sama, yaitu sekitar 90 menit. Keputusan memilih jenis mountain bike sudah tepat. Aku belum percaya dengan kualitas aspal atau jalanan di daerah Jakarta dan kota-kota sekitar. Sepeda jenis road race mungkin akan terasa lebih ringan dan cepat, tapi aku rasa tidak akan cukup kuat meredam hentakan jalanan berlubang. MTB meski berat namun bisa diandalkan ketika menghadapi jalanan tak rata.

Entah karena apa, aku masih mencari tahu, asal sakit kepalaku ini. Sehari usai bersepeda rasa nyeri muncul di bahu sebelah kanan. Nyeri menyambar ke bagian leher dan merayap ke kepala. Semoga saja tak berkepanjangan. Mungkin hanya butuh rehat sejenak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s