Segitiga Berjomblo

Mari kita meracau…..
Demi menjaga persahabatan, saya mesti merahasiakan sosok dua pria lain. Tapi untuk satu sosok lelaki lainnya gak usahlah pakai rahasia-rahasian segala. Pria itu adalah saya. Tapi kalau suatu saat kalian (sahabat saya di tulisan ini maksudnya) tak sengaja menemukan tulisan ini dan mengira ada kesamaan, percayalah itu bukan kebetulan. Itu realitas yang sedang kita hadapi.

Judul di atas tetiba hadir kala menanti Kang ketoprak pengkolan mengolah menu makan malam saya. Dengan lihai dia mengaduk-aduk bumbu kacang dan memotong ketupat yang dibungkus plastik putih. Suara bising kendaraan roda dua yang lalu lalang mengiringi kerja Kang ketoprak. Setiap kali saya mampir Kang ketoprak selalu mengenakan polo shirt. Warnanya tak pernah mencolok. Kalau tidak abu-abu bergaris hitam ya kuning lembut berpadu putih pucat. “Pedas apa sedang,” begitu pertanyaannya kalau ada konsumen yang memesan.

Buat seorang jomblo rasa galau atau risau merupakan hal wajar. Patut dipertanyakan jika ada seorang jomblo tidak galau. Mungkin yang membedakan adalah reaksi dan kadarnya saja. Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan, itu sudah kodratnya. Jadi kalau gak berpasangan hingga akhir hayat, manusia berpeluang mengalami ketidakseimbangan, atau tidak sakinah kalau kata ustad terkenal yang sengaja tidak saya sebutkan.

Sebagai manusia normal yang rindu akan lawan jenis tentu tidak setiap saat kami merasa risau atau galau. Ada kalanya kerisauan akan datangnya jodoh, buat saya, datang kala menikmati kopi panas pahit di pagi hari. Kadang ketika membaca novel tengah malah dan tiba-tiba muncul penyesalan kenapa tidak menjadikan pacar ketika ada kesempatan. Masih banyak momen-momen lainnya.

Namun seiring berjalannya waktu dan makin bertambahnya usia kami, rasa galau dan risau sudah tidak punya arti penting. Maknanya makin memudar, rasanya malah plain serupa roti tawar. Saat ini, saya terutama, tak terlalu risau dengan segala kriteria pasangan. Sungguh, orang di sekitar saya pun makin mengerti dan tidak sibuk melontarkan pertanyaan kapan nikah dan sebagainya.

Apa kami, khususnya saya, tak punya kriteria? Ada. Tapi rasanya kok syarat dan kriteria, apalagi yang berurusan dengan dunia, makin gak penting. Kami, terutama saya, seolah sudah menyiapkan ruang penyesuaian yang luas. Saat ruang sosial kami makin menyempit, secara otomatis ruangan lainnya coba diperluas. Bukan ruang pasrah tapi ruang yang tidak mau ribet dengan urusan duniawi dan teman-temannya. Serupa wilayah penuh mistis yang bernama Segitiga Bermuda di kawasan Amerika Tengah. Di mana setiap kapal atau pesawat yang melintas maka akan hilang atau tersesat tak berujung. Agak maksa sih analoginya. Anyway, intinya kami, saya utamanya, berupaya menghilangkan semua ragam definisi cinta begitu masuk ke area privat.

Dulu saat masih muda begitu mendengar kata cinta selalu tersemat nama Khalil Gibran. Tapi belum lama ini saya mengenal seorang Eric Fromm yang menulis buku fenomenal, The Art of Loving. Fenomenal karena hingga kini bukunya sudah diterjemahkan ke dalam 28 bahasa. Belum lagi berapa banyak kutipan kata-kata cinta yang disadur dari buku yang sudah berumur 59 tahun itu. Ya, Fromm mencoba mengupas cinta dari perspektif dunia Barat. Jujur saya belum tuntas, lebih tepatnya kelelahan, membacanya dan berhenti di halaman 41 dari total 177.

Dari aura dua orang sahabat saya itu, cinta yang makin pop dewasa ini coba diartinya dengan sederhana. Bagi kami, cinta adalah realitas. Kalau cinta hadapi saja. Kalau susah dan mudah jalani saja. Bertemu senang nikmatii saja. Sakit juga diresapi. Berat dan pahit dirasakan saja. Dengan siapa kami akan bertemu tak ada yang tahu. Samar-samar mungkin kami merasa jodoh sedang mendekat.

pink flyod wallbasehq

Cover album Pink Floyd

Sudut Pertama
Kali pertama mengenalnya saat saya sedang berkuliah. Seiring berjalannya waktu dan nasib, dia jadi referensi dunia sastra bagi saya. Saya mengenal karya-karya Haruki Murakami dengan baik dari dia. Seorang pembaca yang sabar dan teliti. Dia mengaku kalau tidak banyak teman yang berada di lingkaran hidupnya. Buku adalah teman paling dekatnya. Amat bersyukur dengan teknologi e-book, sebab kini dia mempunyai buku bacaan yang katanya menyamai koleksi perpustakaan Batu Api. Perpustakaan terkenal di kampus Unpad Jatinangor. Koleksi bukunya tersusun rapi di laptop dan seluler. Dalam hal sastra lokal dia hanya mengakui Goenawan Muhamad sebagai penulis handal. Budi Darma masuk di daftar keduanya. Selebihnya, penggemar berat Murakami dan sastra asing.

Sudut Kedua
Mengaku kalau dunia sosialnya makin menyempit. Satu per satu temannya pergi dan keluar dari lingkaran hidupnya. Saia merasakan hal yang sama soal itu. Selain mempunyai riwayat penyakit anemia yang sama, pekerjaan dia dan saya pun sama. Hanya mengenal satu channel di televisi berbayar yang menayangkan Liga Inggris. Channel lainnya hanya penghias semata.

Suatu malam, saat kami menghabiskan waktu dengan menonton pertandingan Liga Inggris, teman saya itu bercerita soal perempuan yang enggan berbicara dengannya terlalu lama di telepon. Alasannya lucu, sang perempuan tidak ingin ada percikan cinta di antara mereka berdua. “Gua ini bisa dibilang baik sama semua orang. Ke lelaki atau perempuan sama aja. Tapi sikap baik gua justru disalahartikan sama tuh perempuan. Dia pikir sikap baik gua menunjukan kalau gua suka sama dia. Padahal biasa aja. Perhatian ke dia sama kaya perhatian gua ke yang lain,” kata dia. Saya tersentak. Kok ya nasib dia sama dengan saya.

Dari pada muncul salah pengertian, teman saya itu memilih menjelaskan ke perempuan itu. Semua yang dia lakukan, sikap baiknya, rasa perhatiannya tak beda layaknya pertemanan. Hal serupa juga dia lakukan ke teman lelaki lainnya. “Gua terlalu baik kayanya sama orang-orang,” ucapnya. “Gua cuma gak mau kehilangan teman. Itu aja sebenarnya,” kata teman saya itu.

Sudut Ketiga
Saya. Baru patah hati dan siap jatuh cinta lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s