I Want to Ride My Bicycle

MUNGKIN dengan menuliskannya akan mempercepat proses pemulihan. Goresan lukanya bisa segera mengering dan tinggal menyisakan kenangan semata. Setelah menghabiskan segelas kopi arabika, saya pun memberanikan diri untuk berbagi tentang tema kehilangan. Ya, kehilangan. Tepatnya kemalingan sepeda. Betul, moda transportasi roda dua yang bekerja dengan cara dikayuh itu.

Ceritanya berawal dari niatan saya yang penasaran dengan Kebun Raya Bogor. Semalam sebelumnya, saya agak ragu ingin menghabiskan waktu libur dengan cara keluar kosan. Dengan tekad yang setengah bulat saya pun memutuskan pergi ke Bogor pada Ahad pagi, 27 September lalu ke Kebon Raya Bogor.

Saya melewati Ahad siang dengan berjalan kaki tanpa arah di tengah rimbunnya pepohonan dan aneka tanaman. Seorang diri. Melirik puluhan pasangan anak muda yang duduk berduaan. rombongan keluarga yang menggelar tikar di atas rumput hijau yang terawat, anak-anak yang berlarian. Mengernyitkan dahi ketika membaca bahasa latin dari tanaman tertentu. Menghabiskan makan siang berupa roti. Melewati sekelompok anak muda yang tertawa sambil memotret. Mendengar hembusan angin yang menggesek dedaunan. Duduk terdiam di depan barisan nisan orang Belanda yang konon pendiri Kebun Raya Bogor. Sampai akhirnya terjebak hujan saat memutuskan untuk pulang.

Bogor mungkin satu-satunya kota di sekitar Jakarta yang tidak mengenal kemarau. Hujan turun tanpa ada interupsi. Mula-mulanya tercium aroma yang tidak asing. Bau tanah yang tersiram air. Di teras sebuah bangunan dengan syahdu saya memperhatikan miliaran butiran hujan. Lama saya tidak melihat hujan. Tak lama saya pun menaiki kereta yang membawa kembali ke Jakarta.

Begitu sampai di stasiun tujuan dan kaki menginjak peron, mata saya langsung tertuju ke pagar besi parkiran motor. Mata saya tidak menemukan sepeda berwarna putih yang menyandar. Bergegas saya menuruni anak tangga dan berdiri cukup lama untuk memastikan kalau sepeda saya benar-benar tidak berada di tempatnya. Hilang. Lenyap. Berpindah tangan. Maling. Bangsat. Sebut apa saja pilihan kata yang enak.

“Lihat sepeda yang di sini, Pak?” tanya saya ke tukang parkir. “Saya gak merhatiin,” kata dia. Saya lantas bertanya ke petugas keamanan apakah ada kamera pengintai. Jawabannya nihil. Hebat. Stasiun anyar dan megah tapi tidak punya kamera pengintai. Hebatnya lagi, sejenak saya tidak benar-benar merasa kehilangan. Situasinya seperti saya siap menghadapi takdir ini.

In Memorable

In Memorable

Selama perjalanan pulang dari stasiun menuju kosan saya menenggak perlahan sebotol minuman elektrolit. Imajinasi saya meriah oleh berbagai adegan penyiksaan jikalau sang maling tertangkap basah. Mematahkan tangan kanan lalu kaki kirinya. Berkelahi sampai berdarah-darah. Mengambil benda tumpul yang ditemukan di pinggir jalan kemudian menghantamnya tepat di pelipis.

Mematahkan tulang rusuk si maling tak peduli jika jari-jari saya mesti patah. Membenturkan wajahnya ke permukaan aspal setelah habis-habis menghajarnya pakai ujung kunci sepeda. Meratakan hidungnya sampai kesulitan bernapas. Tak peduli berapa orang dan seberapa besar lawan yang mesti saya hadapi. Tak peduli siapa yang akan menderita. Saya hanya ingin berkelahi sampai mampus malam itu.
Tapi bagaimana kalau pelaku adalah wanita? Malam itu saya tak terpikirkan kemungkinan pelaku wanita. Pikir saya, siapa pun dia yang pasti harus berani mengambil resiko dari aksinya. Selesai.

Satu jam setelah menahan amarah. Setelah mandi dan duduk tenang. Ayah seorang teman meninggal. Dia bagian dari korban jamaah haji yang berdesak-desakan di Mina, Arab Saudi. Luka yang masih segar segera dibalut oleh duka lain. Di tempat lain, ternyata ada banyak orang yang mengalami kehilangan. Tiba-tiba, saya teringat seorang teman yang juga pernah kehilangan sepeda. Well, this is life. But I just want to ride my bicycle.

Sesuatu yang pergi akan kembali dalam bentuk yang lain-Jalaludin Rumi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s