Merbabu

Sepertiga keengganan. Sepertiga penyesalan. Sepertiga keramaian.

Suwanting–Naik penuh cobaan. Turun penuh siksaan. Cuma dua hal itu yang membekas ketika saya menuntaskan kunjungan ke Gunung Merbabu pekan lalu. Mendaki pada Ahad dini hari, 16 Agustus 2015, saya bersama tiga rekan memilih Desa Suwanting sebagai jalur menuju puncak Merbabu yang berada di ketinggian 3.142 meter dpl. Dari penuturan Pak Eko, seorang penjaga base camp, jalur Suwanting menawarkan keindahan alam yang elok.

Pak Eko bilang kalau Suwanting baru dibuka kembali dalam lima bulan terakhir. Malam ketika kami tiba di base camp, Pak Eko berkata kalau Ahad pagi pihak Perhutani baru akan membuka jalur Suwanting secara resmi. Dengan kata lain selama lima bulan ke belakang Suwanting bisa dibilang jalur ilegal.

Setiap pendaki, kata Pak Eko, mesti merogoh kocek Rp10.000 untuk registrasi. Namun usai saya turun dari puncak, harga tiket resmi berubah menjadi Rp17.000 per orang. “Sudah termasuk asuransi,” kata Tito, adik Pak Eko. Saya pun baru sadar kalau pendakian kami sehari sebelumnya tidak ada jaminan asuransi.

Bagi saya pendakian ke Merbabu merupakan perjalanan kedua di malam hari. Terakhir kali saya nanjak di waktu gelap ketika menjajal Gunung Manglayang, Bandung, delapan tahun silam. Saya lebih menikmati nanjak di siang hari. Kalau nanjak malam banyak tenaga yang terkuras. Selain harus melawan kantuk, udara dingin juga membuat kita cepat lapar. Tapi kali ini saya tak punya pilihan.

Sepertiga Keengganan

Malas. Sungguh gelapnya malam membuat saya harus waspada. Kendati sudah dibekali peta yang jelas dari base camp, tetap saja kekhawatiran salah ambil jalur selalu muncul. Apalagi saya berjalan paling depan. Kecemasan saya pudar ketika salah seorang teman kelelahan dan memaksa untuk mendirikan tenda. Saatnya memulihkan tenaga di Lembah Cemoro tak lama setelah meninggalkan pos 1.

Gunung Merapi dilihat dari Lembah Cemoro

Gunung Merapi dilihat dari Lembah Cemoro

Pagi hari, wajah Gunung Merapi terlihat jelas. Arak-arakan awan putih menabrak punggung Merapi yang duduk tegak di sebelah timur. Langit yang biru bersih membuat saya semangat keluar dari tenda. Dengan cepat kami melahap nasi dan telor asin. Awal perjalanan dari Lembah Cemoro menuju Pos 2 relatif cepat. Mungkin karena habis istirahat dan sarapan.

Sepanjang jalan kami berpapasan dengan para pendaki yang saya taksir rata-rata masih kuliah. Di bawah matahari yang terik, jalur pendakian memiliki lebar sekitar 80 cm. Di sejumlah titik jalan melebar dan cukup banyak tempat yang bisa dipakai untuk menarik nafas sejenak atau berteduh. Kontur tanahnya gembur dan berdebu.

Sepertiga Penyesalan

Melewati pos 1 beberapa kali saya terpancing melihat peta. Di atas kertas ada sejumlah titik antara satu pos dengan pos lainnya. Petugas menamakan titik-titik tersebut dengan sebutan lembah. Lembah Cemoro salah satunya, yang kami pakai untuk istirahat sejenak.

Merbabu lewat Suwanting rupanya tidak steril dari hal mistis. Sebelumnya kami diingatkan agar tidak banyak mengeluh ketika memasuki pos 2, khususnya begitu melewati Lembah Manding. Saya memilih fokus menjaga ritme jalan dan mengatur nafas daripada memikirkan hal yang tidak-tidak.

Selepas Lembah Manding, jalur makin menanjak. Di 100 meter pertama keringat tak henti bercucuran. Saya seolah dipaksa hanya bisa melihat dengkul dan jalur yang terus nanjak. Nyaris tak ada jalan landai. Debu yang berterbangan cukup menganggu pernapasan. Terlalu fokus berjalan, kami pun terpisah. Saya dan Ari jalan di depan. Sedangkan Dodi dan Wiwik tertinggal.

Tak banyak kami berkomunikasi. Ketika memutuskan beristirahat pandangan saya terpusat ke punggung Merapi yang berada di sisi kanan jalur. “Belum ada setengahnya,” pikir saya. Di sini firasat tak enak saya mengambang. Baru kali ini saya merasa hawa pesimistis muncul. “Kok ya kaya jalan di tempat,” dalam hati.

Hampir di tiap tempat yang landai saya menemui para pendaki yang istirahat. Di situ kami saling menyapa, sesekali berkenalan, dan bertukar informasi. Dari mereka yang turun ada yang mengaku menghabiskan 10 jam perjalanan ketika mendaki. Cukup saya dengarkan saja ucapan mereka.

Hingga pukul 17.30 kami belum juga menyentuh pos 3, base camp untuk menginap. Total pendakian kami memakan waktu 7 jam. Sepanjang jalan nyaris tidak ada jalur landai. Lelah, belum mendirikan tenda, dan memasuki pergantian hari dari sore ke malam jadi ujian mental kami. Di sini semangat, motivasi, dan ketahanan bakal di uji. Kalau gak bagus membuat keputusan bukan tidak mungkin emosi muncul.

Solat dan dua bungkus mie instan rupanya jadi solusi yang sempurna. Kami jadi semangat berjalan ke pos 3. Yang dinanti pun tiba. Base camp dan sumber mata air. Jam digital saya menunjukkan angka 19.10 wib. Sekitar 9 jam kami berjalan dari base camp ke pos 3. Dari ketinggian sekitar 2.100 meter, saya bisa mengenali Milky Way. Tidak seterang di lembar majalah National Geographic atau internet sih, tapi langit amat bersih malam itu.

Gunung Merapi (kiri) dan jajaran Gunung Sumbing, Gunung Sindoro terlihat dari pos 3.

Gunung Merapi (kiri) dan jajaran Gunung Sumbing, Gunung Sindoro terlihat dari pos 3.

Di dalam tenda, kami sibuk meracik menu makan malam. Perut harus terisi jika ingin tidur nyenyak. Di luar, angin begitu semangat memukul-mukul ratusan tenda. Sayur sup, rendang, tempe goreng jadi pengganjal perut kami. Malam pun dengan mulus kami lewati.

bersambung……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s