Purnama

Ingin rasanya aku berjalan di bawah siraman sinar rembulan. Melangkah dengan bertelanjang serupa manusia serigala. Sekedar menunjukkan jati diriku yang sebenarnya. Kau tahu hanya ketika berada di dalam kamar mandi saja manusia bisa menerima dirinya apa adanya.

Ku dengar dari Orang-orang Selatan ada saat terbaik untuk mengenal seseorang. Mereka bilang kala purnama adalah waktu yang tepat mengetahui sosok orang lain. Dengan cahaya bulan yang lembut kita bisa melihat jauh apa isi hati manusia. Orang Selatan bilang purnama tak pernah keliru dalam memprediksi isi hati manusia.

Malam ini kulihat rembulan sembunyi di sisi tenggara. Dia berjalan mengendap-endap serupa bocah yang sedang mencuri roti dari sebuah kedai makanan. Sulit bagi orang-orang untuk mengamati sosok rembulan yang berjalan dalam sunyi.

Favim.com

Kulangkahkan kaki ke atap rumah. Satu per satu ku lepas pakaian yang melekat di tubuh. Aku nyaris tergelincir ketika hembusan angin menabrak tubuhku yang kurus.

Ketika malam kian matang dan seluruh bagian bulan menampakkan diri, ada sesuatu yang menyala di bagian dadaku. Warnanya merah pekat. Apa ini, pikirku.

Tak lama bulu kudukku berdiri. Aku merasa ada seseorang yang sedang memperhatikanku. Tapi aku mencoba tak menghiraukan. Ku bentangkan tangan dan kaki agar semua bagian tubuh tertimpa cahaya bulan. Cukup lama aku berada di posisi itu. Tak ada perubahan, kecuali satu organ di bagian kanan ku saja yang terus menyala.

Aku semakin penasaran dengan organ tubuh yang menyala. Aku menaksir bagian itu adalah hati. Segera ku berlari menuju dapur dan mengambil sebilah pisau. Lantas, aku bergegas kembali berdiri di atas atap dan mengambil posisi yang sama.

Didorong rasa ingin tahu, dengan perlahan ku arahkan pisau ke bagian sisi organ yang menyalah. Hembusan angin dari arah selatan menerjang bulir-bulir keringat yang membasahi sekujur tubuhku. Dengan mulus mata pisau membelah kulit dan daging. Pergerakannya diikuti dengan aliran darah yang membasahi paha hingga kaki.

Aku sempat kerepotan memasukkan tangan kiri untuk meraba hati yang cahayanya makin bersinar terang. Dengan paksa ku genggam hati yang berselimut bau amis darah. Ku coba bersihkan semua permukaannya. Samar-samar aku melihat ada sebaris tulisan. Di bawah tatapan purnama yang kini mengambang lebih tinggi tulisan itu berbunyi, pemilik hati ini seorang pecundang.

Palmerah, 3 Agustus 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s