Dua, Tiga, atau Empat

Pertama. Dia temanku satu kampus. Kami berbeda fakultas tapi saling kenal satu sama lain. Kegiatan kampus yang menjadi jembatan perkenalan kami. Tingginya sama dengan ku. Kulitnya kuning langsat. Rambutnya bergelombang sepanjang bahu. Tuhan mentakdirkan lesung pipit jatuh di wajahnya ketika dia tertawa atau tersenyum. Namanya Melati.

Suatu malam, ketika mengantarkannya pulang, aku meminta waktu untuk berbicara. Aku bilang kalau aku sayang dia. Tak ada jawaban. Dia hanya terdiam. Diam yang tidak aku kenal sebelumnya. “Kalau pun kamu ingin berteman, aku tidak ada masalah,” begitu kalimat terakhir yang aku ucapkan.

Esok paginya dia meminta aku menjemput. Di atas sepeda motor tangan kanannya memegang erat lingkar perutku. Tak ada satu patah kata pun yang terucap sepanjang perjalanan. Begitu sampai di kantor dia hanya bilang, “Lamar aku.”

Kedua. Jam digital ku berhenti di angka 23.38 ketika mesin motor aku matikan. Dari balik jendela setengah wajah Anisa menatap ke arahku. “Akbar rewel?” tanyaku. “Sebentar,” kata Anisa. Sebelum melangkah ke arah dapur, aku kecup kening Anisa. “Segelas teh hangat cukup untuk malam ini,” aku bilang.

Sudah setahun aku berbagi ranjang. Sebenarnya malam ini giliran aku bersama Melati. Tapi dia meminta aku menemani Anisa lantaran Akbar sedang demam. Bocah berusia tiga tahun itu bukan darah dagingku. Ayahnya tewas dihantam peluru tajam ketika bertugas di Suriah. Waktu itu Anisa sedang hamil tua.

Anisa terbilang masih kerabat dekat Melati. Kakek mereka berstatus saudara kandung. Kali pertama aku bertemu dengan Anisa kala acara kumpul keluarga usai Lebaran. Keceriaan yang biasa menghiasi hari raya untuk sesaat berganti menjadi awan kelabu. Aku merasa ada kemurungan yang dalam.

Dari mulut Melati aku mengetahui kalau Anisa adalah perempuan yang cerdas. Tubuhnya memang mungil tapi cara dia berpikir kerap membuat Melati terkesan. Bagiku Melati juga seperti itu. Melati cerdas dalam hal bersosialisasi. Supel dan ceria. Sesuatu yang tidak ada padaku.

Apa perlu aku jelaskan bagaimana sampai akhirnya aku dan Anisa menikah? Aku rasa tidak perlu. Tapi terkadang pembaca menuntut adanya alasan atau motif dari alur cerita. Mereka enggan mengembangkan imajinasi atau kemungkinan liar lainnya. Kadang setelah mengetahui alasan, mereka berkata, “Nah, betul kan tebakan ku.”

Melati bilang harus ada seseorang yang menemani Anisa dan bayinya. Aku tidak tahu apakah itu memang ide Melati atau berasal dari orang lain. Melati menyebut kehadiran suami amat berharga usai persalinan. Tidak hanya bagi ibu tapi juga untuk sang bayi. Ada sikap keras kepala Melati yang baru aku jumpai. Sikap itu tak datang ketika kami berpacaran dulu. “Belajarlah mencintai,” ucap Melati.

Bersambung…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s