Runyam

Tiga puluh empat ribu rupiah harga yang aku harus keluarkan untuk menunggu. Menunggu setan keparat antrean motor di parkir mal. Dari pada aku buang-buang bensin ditambah menghirup racun gas buangan, lebih baik duduk santai di kedai.

Sial betul memang. Sebenarnya aku sudah antisipasi kalau Sabtu malam mal bakal ramai. Bagi sebagian orang, Sabtu malam adalah waktunya membuang-buang uang. Mal jadi tempat paling jitu sekaligus strategis melepas hasrat konsumtif.

Awalnya aku keluar rumah lantaran Ari, sahabatku, mengajak bertemu. Sudah sebulan lebih kami tak ngobrol dan bertatap muka. Setiap kali pulang berlibur ke rumah, saya coba luangkan waktu sekedar ngobrol. Dulu sebelum sepeda ku bawa ke tempat kosan kami biasa berolahraga sekedar membuang keringat.

Sebenarnya aku berat hati merogoh kantong dan menghabiskan uang sebesar Rp34.000 hanya untuk membeli es teh hijau di sebuah kedai donat. Tapi tak masalah. Setidaknya aku masih punya pilihan. Sabtu malam itu, 4 Juli 2015, dengan ditemani novel anyar seorang sastrawan aku memilih duduk di sudut kedai. Berlindung di balik pilar setinggi tiga meter sambil mengutuk antrean motor di basement mal.

Semula apa yang aku alami tampak sia-sia. Tapi ku pikir momen menunggu bisa dijadikan waktu berkontemplasi. Bah, kontemplasi macam apa di tepi mal yang tak jauh dari lalu lalang mobil.

Tiba-tiba pesan di grup ramai oleh ucapan selamat. Seorang sahabat di kota lain resmi menjadi ayah. Anak pertama dan laki-laki. Kedatangan putranya terasa indah karena hari lahirnya ternyata sama dengan ayahnya. Berapa persen kebetulan seperti itu di dunia? Takdir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s