Harapan

Terbangun di tengah malam kerap membuat perasaan aku resah. Beragam pertanyaan datang bertubi-tubi. Semua bicara tema yang relatif sama. Ketakutan, kegelisahan. Tapi kadang di balik ketakutan ada harapan. Aku punya piihan sepenuhnya. Memilih membiarkan pikiranku terbawa oleh arus ketakutan atau memilih berharap. Berharap kalau pagi memberikan kebaikan dan keberkahan yang melimpah.

Itu sebabnya mengawali pagi dengan kebaikan amat penting bagiku. Jika terbangun di tengah malam dan membuatku semakin sulit tidur, solat menjadi jalan keluarnya. Tak perlu banyak. Tiga rakaat sudah cukup memberikan ketenangan di hati.

Kembali ke soal mengawali pagi dengan kebaikan. Sebagai seorang muslim, aku merasa kalau solat subuh modal utama untuk mengawali hari. Terkadang lancar atau tidaknya hari tergantung kepada telat atau tidaknya aku solat subuh. Sebagai sebuah ilustrasi, mungkin. Dalam hadist disebutkan kalau dua rakat solat sunah sebelum subuh jauh lebih baik dari dunia dan seisinya. Solat sunahnya saja bernilai seperti itu, apalagi solat subuhnya.

Pagi. Bagiku pagi identik dengan harapan. Kamis pagi, 2 Oktober 2014, J.J Tolkien berkata kalau, false hopes are more dangerous than fears. Kira-kira bunyinya seperti ini, harapan yang salah jauh lebih berbahaya daripada ketakutan. Seirama dengan yang aku rasakan ketika pagi menghampiri.

Jangan-jangan rasa takut dan kecewa yang terkadang bangun lebih pagi dari matahari hadir karena di malam hari kita salah dalam memberi harapan. Salah dalam menuangkan harapan sebelum tidur membuat pagi datang dengan membawa ketakutan.

Jika sudah seperti itu keadaannya, Allah menjadi satu-satunya tempat peraduan. Tapi terkadang ada proses yang loncat jika seketika aku menyebut kalau itu menjadi solusi. Ada faktor lain yang membuat harapan kita salah. Bergantung kepada selain Allah, terlalu larut dengan dunia, niat yang tak dijaga merupakan beberapa faktor yang membuat kita merasa takut dan gelisah.

Rasulullah saw mengatakan kalau amalan tergantung kepada niatan. Salah dalam menentukan niat bisa juga melahirkan kekecewaan. Kekecewaan yang akhirnya berujung kepada ketakutan. Menurutku ucapan Tolkien serupa dengan yang diucapkan Rasul. Dengan tanpa maksud membuat kedudukan mereka sama. Jadi harapan (bisa juga disebut doa) yang salah jauh lebih berbahaya dari ketakutan.

Hanya Allah tempat yang terbaik untuk bergantung. Dan ketakutan kita cukup hanya kepada Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s