Nyaris Kehilangan Cinta

Beberapa waktu yang lalu tersiar kabar bahwa perusahan tambang terbesar dunia PT Freeport yang menjalankan operasinya di Papua telah berhasil menyaring uranium. Selama ini masyarakat awam hanya mengetahui hasil tambang yang diolah oleh Freeport hanya sekedar menghasilkan logam seperti tembaga dan emas. Kepastian ini diperoleh setelah salah satu situs berita online, yaitu detik.com memastikan kabar tersebut benar adanya.

Kita tidak tahu secara pasti mengenai benar atau tidaknya keberadaan uranium di tanah Papua. Namun, dari laporan berita tersebut, kepastiaan mengenai keberadaan uranium disampaikan oleh masyarakat Papua yang bekerja di Freeport dan juga pekerja tambang lainnya. Informasi ini harus segera ditindak lanjuti oleh pemerintah mengingat uranium adalah bahan dasar dalam pengolahan energi nuklir.

Berita penting tentang penemuan dan pengelolaan uranium oleh Freeport tenggelam oleh berita mengenai kenaikan komoditas pasar dan rencana kenaikan Tarif Dasar Listrik. Kita tidak bisa mengelak bahwa masyarakat kita masih banyak yang harus mendahulukan memenuhi kebutuhan pokoknya dari pada harus berpikir keras mengenai logam uranium.

Jika kita harus berpikir mengenai eksistensi negara Indonesia, yang diwakili oleh pemerintah, dalam konteks mengelola Sumber Daya Alam (SDA), kita pantas bersedih. Sejak zaman Soeharto Indonesia menjual murah seluruh aset SDA, terutama pertambangan. Padahal jika bangsa Indonesia mampu memetakan prioritas utama terhadap pembangunan bisa jadi hari ini kita tidak akan diributkan mengenai TDL, tabung gas yang meledak, dan masih nelangsanya nasib nelayan dan petani.

Dengan gamblang, salah satu guru kita, Amien Rais mengatakan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah seorang yang tidak memiliki keberanian. Pemerintah SBY tidak punya wibawa sama sekali ketika harus duduk bersama membicarakan kontrak SDA terhadap perusahan-perusahaan besar macam Exxon dan Freeport. Saat penandatanganan kontrak kita melihat sebuah pertarungan antara negara melawan korporasi. Dan pertarungan itu dimenangkan oleh korporasi.

Saya tidak akan berbicara mengenai angka-angka dan definisi. Sudah terlampau banyak data dan definisi yang diejahwantahkan kepada pemerintah mengenai kebodohan kita di mata Exxon dan Freeport. Pertanyaan adalah bagaimana bisa SBY dibodohi oleh para korporasi padahal dia dulu adalah seorang menteri pertambangan di era Gus Dur. Satu hal yang sekali lagi perlu diingatkan bahwa SBY tidak bodoh, dia hanya ragu atau memang terlalu banyak pertimbangan. Itu saja.

Saya nyaris kehilangan cinta ketika membuka kembali lembaran-lembaran buku yang di tulis oleh Amien Rais. Selama ini kekayaan bangsa Indonesia telah dirampok oleh korporasi besar. Sangat mudah bagi aparat hukum untuk menindak seseorang yang melakukan pelanggaran kriminal biasa, seperti maling ayam misalnya. Tapi apakah bisa aparat hukum menindak seorang kepala negara beserta pembuat UU ketika mereka terlibat dalam kejahatan kerah putih?

State Capture Corruption
Saya ambil istilah di atas dari Pak Amien Rais. Kurang lebih pengertiannya seperti ini, bahwa state capture corruption adalah tindakan korupsi yang dilakukan oleh negara. Dalam hal ini tidak saja presiden selaku eksekutif yang terlibat, tapi juga legislatif dan yudikatif. Sayangnya istilah ini tidak akan pernah bisa dipakai untuk menjerat negara. Dari kasus Bank Century kita telah belajar bahwa kebijakan negara tidak bisa dipidanakan.

Sangat sulit sekali untuk mengurai tindakan korupsi yang dilakukan oleh negara. Tidak saja dibutuhkan ilmu tapi yang lebih penting adalah keberanian. Meski telah ada keberanian belum tentu hal ini terwujud jika hanya ada segelintir saja orang-orang yang sadar akan cengkraman korporasi atas negera.

Baiklah, sepertinya anda tampak bosan membaca tulisan ini. Sejauh yang saya ketahui, orang dewasa memang sulit untuk percaya jika tidak ada angka-angka atau data yang menyertai. Satu fakta saja akan saya utarakan yaitu mengenai ketentuan iuran tetap untuk suatu wilayah pertambangan.

Dalam kontrak Freeport besarnya iuran tetap untuk wilayah pertambangan yang dibayarkan atau disetor ke negara,yaitu sebagai berikut:
– Kegiatan penyelidikan umum berkisar antara 0,025 – 0,05 US dolar/hektar/tahun.
– Kegiatan eksplorasi 0,1- 0,5 US dolar/hektar/tahun
– Studi kelayakan dan konstruksi 0,5 US dolar
– Operasi eksploitasi/produksi 1,5 – 3 US dolar/hektar/tahun.

Jika kita menggunakan kurs 1 US dolar = Rp9.000 maka iuran diatas hanya sebesar Rp225 – Rp27.000 /hektar/tahun. Bandingkan dengan sewa lahan sawah oleh petani penggarap yang murah sekali, yaitu sebesar Rp300.000/hektar/tahun. Jika bukan perampokan, lalu apa namanya? Mengingat yang digali adalah emas, perak, tembaga, dan uranium. Ongkos tersebut belum termasuk kepada pemulihan lahan, yaitu bisakah Freeport mengembalikan dengan utuh satu undukan gunung setinggi 3000 meter lengkap dengan keanekaragaman hayatinya? Satu hal lagi kawanku bahwa kontrak karya II antara pemerintah dengan Freeport baru akan berakhir pada 2041. Jika tidak ada aral melintang maka pada saat itu usia saya akan menginjak angka 66 tahun.

Saya jadi teringat ungkapan wisatawan yang mengatakan bahwa bangsa indonesia itu sopan dan ramah-ramah. Memang benar demikian adanya karena dengan sadar dan ikhlas kita merelakan semua SDA kita diobral kepada pedagang besar.

Tapi kemudian Jalaluddin Rumi mengingatkan saya kembali. Suatu ketika Isa ditanya, apa yang paling sulit didunia ini dan dunia esok? Kemudian dia berkata kemurkaan Allah. Lalu Isa kembali ditanya, dan apa yang bisa menyelamatkan kami dari itu? Dia menjawab kuasai kemurkaanmu dan kemarahanmu sendiri terhadap orang lain.

Ketika pikiran ingin berkeluh kesah, maka lawan dan lakukanlah sebaliknya, yaitu bersyukur. Perbesarlah masalah itu sampai pada tingkatan dimana kamu menemukan dalam dirimu sendiri sebuah cinta yang dapat memukul mundur dirimu. Berpura-pura bersyukur adalah cara untuk mencari cinta Allah.
Wallahualam

Tulisan ini untuk semua sahabatku.
Kenanglah aku sebagai seorang lelaki yang tidak sempurna dan banyak berbuat salah…

Tangerang, 17 Juli 2010

Referensi:
– Amien Rais, Mohammad. 2008. Agenda Mendesak Bangsa, Selamatkan Indonesia. Yogyakarta. PPSK Press.
– Rumi, Jalaluddin. 2004. Fihi Ma Fihi. Inilah Apa Yang Sesungguhnya.Surabaya.Risalah Gusti.

Catatan
Empat tahun kemudian saya membaca kembali artikel ini. Sungguh saya terkejut. Lantas apakah ini masih terdengar relevan ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s