If I Feel In Love

Sore itu ku pacu sepeda motor demi mengejar sebuah janji. Janji untuk berbuka puasa bersama teman-teman yang sempat tertunda. Selama bulan Ramadan ini, aktivitas berbuka puasa bersama menjadi rutinitas pertamaku diakhir senja. Aku pun datang dengan terlambat. Acara berbuka kami relatif berjalan singkat dan efektif. Selepas makan kami pun berpisah, kembali ke peraduan masing-masing dan berjanji akan berkumpul kembali selepas Idul Fitri nanti.

Setiba di rumah, tanpa menunggu terlalu lama dua ember air ludes dimuntahkan untuk mandi. Malam itu sinar purnama tidak mampu menyelimuti permukaan bumi. Awan kelabu tampak mendominasi langit malam tanda akan turun hujan. Tak berapa lama hujan pun turun dengan nada-nada minor. Udara yang semula terasa menyiksa berubah menjadi sejuk.

Lantunan lagu The Beatles menjadi pengiring datangnya malam yang membonceng hujan. Tepat sekali untuk melepas lelah, pikirku. Tiba-tiba terdengar hentakan suara Paul McCartney dan John Lennon pada lagu ‘If I Fell’. Tanpa menunggu terlalu lama segera ku putar balik file-file lama dengan maksud untuk mencari tahu lirik lagu tersebut.

If I feel in love with you, would you promise to be true
and help me understand. Cause I’ve been in love before
and found that love is more than just holding hands

Cinta adalah harapan. Tapi kita harus benar-benar saling memahami agar kita bisa mencintai secara utuh. Itu mungkin yang ingin disampaikan oleh lagu tersebut bahwa cinta tidak hanya sekedar saling berpegangan tangan. Love is more than just holding hands. Cinta melebihi semua itu. Ah, kenapa aku menjadi melankolis sekali malam ini.

Orang-orang boleh menyebut aku konservatif, kuno, norak, atau kolot. Tapi itu semua tentang lagu lama. Hingga detik ini aku belum pernah berkomitmen dengan serius untuk berbagi segala asa dan rasa, untuk menghabiskan waktu bersama, untuk saling memberi yang dimiliki dengan lawan jenis. Sampai pada malam itu, aku seolah-olah dipaksa oleh orang-orang disekitarku untuk mencari tahu lagi, menemukan, dan mengurai benang-benang kusut di otak tentang makna cinta yang sebenarnya. Dan tanpa sadar, romantisme dan kerinduan akan datangnya seorang perempuan kembali menyeruak. Mendobrak dinding yang selama ini telah ku segel rapat-rapat.

Pada pojok kantor, beberapa waktu lalu aku melihat sosok diriku sebagai orang yang tidak terlalu dominan. Aku bekerja seperti orang lain bekerja. Tidak ada isu atau tema menarik seputar diriku. Tapi kini aku seolah-olah telah menjadi trending topik. Aku tersudutkan oleh label sebagai seorang lelaki yang jomblo. Sejauh ini aku masih bisa bertahan dengan hanya bermodalkan senyuman. Kadang tersenyum manis, lain waktu tersenyum kecut.

Cinta Dalam Budaya Pop
Sepenuhnya aku sadar bahwa cinta tidak untuk diterjemahkan tapi diperjuangkan. Dan hari ini aku melihat makna cinta telah bergeser menjadi sesuatu yang dangkal dan murah. Barang yang sudah dibeli bisa dikembalikan kembali. Hari ini dengan Hilda, lain waktu dengan Hilde. Rasa yang aku sebut sebagai cinta dalam pandanganku saat ini sedang berjuang untuk mencari sosoknya yang telah lama menghilang. Orang-orang dengan mudah menyebut kata cinta kepada siapa saja yang baru mereka temui tanpa harus diuji terlebih dahulu.

Cinta di era lagu-lagu melayu tidak bisa dilepaskan dari faktor ekonomi atau materi. Tubuh menjadi modal utama, eksistensi di dunia maya menjadi syarat mutlak. Lelaki dan perempuan berdiri sejajar. Kita telah masuk ke dunia dimana perempuan pun punya hak yang sama untuk mengatakan “aku cinta padamu”. Satu hal yang tabu untuk diucapkan jika kita mampu melihat perjalanan cinta, setidaknya 20 tahun lalu.

Hari ini kita melihat cinta sama seperti bagaimana orang-orang Barat melihat cinta. Sementara itu di sudut-sudut kehidupan kaum urban, aku bersama dengan sahabat sedang berjuang mencari dan menguji makna cinta yang menurut kami layak untuk diperjuangkan.

Dan jika suatu hari aku jatuh cinta maka cintaku tidak sekedar hanya berpegangan tangan. Dan jika suatu hari aku harus jatuh cinta maka cintaku tidak akan melebur bersama orang yang kucintai karena cinta bukan saling meniadakan. Akan kubiarkan cintaku dan cintanya tumbuh bersama. Dan terakhir, aku tidak ingin jatuh cinta, aku ingin membangun cinta karena setahuku ‘jatuh’ itu sakit.

If I feel in love….

Catatan:
Untuk mereka yang sedang merindukan dan dirindukan…..
Rabu 25 Agustus 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s