Bukan Cerita Cinta

Semuanya berjalan lancar. Percintaan antara Tom Hansen dan Summer Finn dalam film 500 Days Summer sama seperti jutaan pasangan di belahan dunia lainnya yang sedang jatuh cinta. Menghabiskan waktu berduaan sepanjang hari, menonton bioskop, bermesraan di taman kota, bahkan hingga berbagi tempat tidur yang sama.

Sampai pada suatu ketika, Summer merasa ada sesuatu yang salah dengan hubungan mereka. Ia pun memilih berpisah dengan Tom. Sedari awal Tom sadar kalau mereka tidak memegang komitmen untuk menjalin hubungan serius dalam atribut bernama pacaran. Mereka sepakat hanya sekedar berteman. Just friend. Tapi cinta bekerja dengan caranya sendiri. Cinta Tom bertepuk sebelah tangan.

Puncak dari semua itu, Summer memutuskan menikah dengan seorang pria yang baru dikenalnya. Tom makin patah hati. Sebagai akibat dari patah hati Tom memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai seorang copywriter. Di hadapan teman sekantornya ia mengatakan kalau pekerjaan yang digelutinya sebagai copywriter di perusahaan kartu ucapan, lagu-lagu pop, dan film percintaan adalah penyebab utama dari bangunan ilusi kebahagiaan yang dialami oleh seorang yang sedang jatuh cinta.

Tom yang sehari-hari bekerja mencari kata-kata simpati, cinta, persahabatan yang dikemas dalam kartu ucapan ternyata tak berkutik ketika sedang patah hati. Semua kata-kata kiasan itu hanya makin membuat seorang pecinta makin mabuk kepayang. Kehilangan kesadaran.

Mereka, para pecinta, amat menikmati suatu keadaan di mana segala sesuatunya berjalan tampak sesuai dengan rencana. Jatuh cinta, menikah, memiliki anak, menjadi tua, hingga akhirnya menunggu datangnya kematian di sisi orang yang kita cinta. Kadang cinta tidak bekerja seperti itu. Tidak semua yang kita inginkan bisa terjadi saat ini dan sejalan dengan harapan. No one got at all.

Neng, Abang cintaaa bener sama Eneng. Sumpah Neng.

Neng, Abang cintaaa bener sama Eneng. Sumpah Neng.

Kata orang ada dua keadaan ketika otak berhenti bekerja. Pertama ketika sedang menjalani ujian dan kedua saat jatuh cinta. Kebanjiran senyawa endropin di otak, kondisi yang dialami orang yang sedang jatuh cinta, ternyata berpotensi membuat kita gagal berpikir logis. Sampai-sampai keburukan pun kita lihat sebagai keindahan.
Mungkin, salah satu kegagalan dalam bercinta adalah saat kita menyamakan sang kekasih dengan kekasih sebelumnya. Ada nilai-nilai lama yang masih tertanam dan tanpa sadar dijadikan referensi untuk mengambil sikap atau keputusan terhadap calon atau kekasih kita yang baru. Padahal setiap orang berbeda. Di sini kedewasaan akan diuji. Ya klasik memang.

Ya, Tom pada akhirnya memilih bersikap optimistis. Luka bisa terobati jika kita memilih untuk mengobatinya. Bukan suatu kebetulan Tom kembali bertemu dengan seorang perempuan. Hatinya memilih terbuka. Tidak ada kesempatan dua kali. Ini mungkin takdirnya, meski Tom enggan percaya pada takdir kalau menyoal cinta. Dia hanya perlu mencoba jatuh cinta sekali lagi tapi dalam kondisi yang sadar. Sebut saja cinta yang matang.

Palmerah, 13 Agustus 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s