Ramadan dan Sesuatu Itu

Ramadan kali ini amat lengkap. Ramadan paling riuh, berisik, meriah, sekaligus tersiksa. Bayangkan, dalam satu waktu saya disuguhi berbagai peristiwa yang mengaduk-aduk emosi. Fiuh. Melelahkan-lah kalau dimasukkan ke hati.

Peristiwa pertama adalah Piala Dunia Brasil. Tak mengenal usia, jenis kelamin, dan latar belakang. Hampir miliaran pasang mata di dunia tertuju ke perhelatan Piala Dunia sepak bola di Brasil. Meski laga final sudah usai dengan menghadirkan Jerman sebagai pemenang, namun demamnya masih terasa hingga kini, hari ke-21 puasa.

Bicara soal sepak bola dan Piala Dunia, saya masih ingat betul tim sepak bola yang pertama kali dilihat. Partai final Piala Eropa 1996 yang mempertemukan Jerman versus Republik Cekoslovakia menjadi lembaran pertama perkenalan saya dengan sepak bola. Kala itu, Jerman menang 1-0 dari Ceko. Sundulan penyerang Jerman Oliver Bierhoff membawa Jerman merengkuh gelar ketiga trofi bernama Henri Delaunay. Sejak itu, saya jatuh cinta dengan Der Panzer, julukan tim nasional Jerman.

Saya pun kembali gembira ketika Jerman merebut trofi Piala Dunia keempat di Brasil kemarin. Ah, mungkin kalian bakal menuduh saya sebagai penggemar dadakan. Gak masalah, itu hak Anda. Bahkan kalau sekiranya saya ditanya dan diminta membuktikan pun saya tak punya bukti sahih. Satu-satunya jersey Jerman KW 2 yang saya beli ketika SMP sudah hilang entah kemana.

Yap. Piala Dunia merupakan penawar paling mujarab karena di saat yang bersamaan, republik ini sedang bersiap menentukan presiden baru. Pemilihan Umum Presiden 2014 adalah peristiwa kedua yang paling saya hindari. Pasalnya, sudah jenuh otak ini dijejali orang-orang sok tahu.

Para penggemar Calon Presiden menurut saya amat menjemukan. Mereka tampak lebih bodoh dari seorang penggemar sepak bola yang fanatik sekalipun. Dalam sepak bola, ketika tim yang dibela kalah, para penggemar cenderung akan menerima dengan lapang dada. Kalau pun ricuh, relatif tidak lama dan tidak sampai membunuh karakter pribadi seseorang.

Nah, bandingkan dengan penggemar Capres ini. Baru kali ini saya menyaksikan sebuah panggung kampanye yang setiap plot dan adegan penuh dengan kebencian, sindiran, caci maki, dan pembelaan buta. Tak peduli setinggi apa pendidikan mereka, kebencian bahkan fitnah bertebaran lewat beragam media massa. Begitu lah kalau jiwa sudah terbeli. Manut tunduk pada komando ketua partai dan tokoh bak seorang juru selamat yang bakal membawa kedamaian.

Drama ini belum akan berakhir. Sebab, hari ini Komisi Pemilihan Umum secara resmi akan mengumumkan pemenang sekaligus presiden baru Indonesia. Sama seperti pemilihan kepala daerah, sudah bisa dipastikan Capres yang kalah bakal menuntut ke Mahkamah Konstitusi. Beragam kecurangan versi pecundang bakal dituduhkan ke lawan. Padahal si pecundang sendiri tak bebas dari kecurangan. Jadi bagi saya, ajang Pilpres kali ini paling riuh dan berisik. Terlalu ekstrem kalau saya sebut paling banal.

Berikutnya adalah penyerangan Israel ke Jalur Gaza. Setiap hari, selama hampir tiga pekan terakhir, puluhan orang Palestina tewas terkena bom dari serangan darat dan udara dari tentara pengecut Israel. Negara-negara maju bergeming, sikap yang sudah biasa mereka tunjukkan. Sementara bagi sebagian lainnya berlomba-lomba mengecam dan memberikan bantuan tanpa bisa mencegah jatuhnya korban jiwa.

Suatu keadaan yang amat menyiksa. Menyiksa sekali ketika kita bisa menghajar penjajah Israel dan berhadapan head to head seperti bermain sepak bola, tapi yang terjadi adalah meratap tak berdaya melihat saudara-saudara kita dibantai. Mungkin biar perlawanan berimbang, rakyat Palestina tidak membutuhkan bantuan obat-obatan tapi senjata yang seimbang. Biar peperangan berjalan adil.

Rangkaian tulisan tidak cukup untuk membawa negeri Palestina merdeka dari penjajahan Israel. Sungguh aneh, ketika Rusia bisa memasok senjata bagi para milisi yang melawan pemerintahan Ukraina, tapi hal sebaliknya tak terjadi di negera-negara Timur Tengah.

Mereka diam dan hanya mengecam. Padahal bukanlah pekerjaan yang sulit sekedar memberikan pasokan senjata kepada pejuang Palestina. Biar pertempuran berjalan imbang.
Tapi, kalau mau berpikir macam-macam dan berlandaskan teori serta kepentingan, jelas menuntut negera Timur Tengah memasok senjata bagi pejuang adalah pekerjaan yang sia-sia. Jadi ya sampai menunggu keajaiban datang kita hanya bisa membantu pada level memberi bantuan dan doa.

Begitu lah yang terjadi dan tersaji. Repetisi. Pengulangan. Kesenangan, kebencian, kesusahan semua terus berulang tak beda seperti putaran roda sepeda. Perbedaannya adalah apakah kesenangan, kebencian, kesusahan itu berakumulasi menjadi sesuatu yang bisa mengubah kita jadi lebih baik. Bagaimana bisa kebencian menjadikan kita baik.

Ah, mungkin ini hanya permainan kata-kata saja akibat cara pandang kita yang melihat kondisi dunia begitu paradoks. Satu waktu kita merasa begitu senang melihat tim sepak bola favorit juara, tapi dalam sekejap kita kebingungan melihat sekelompok manusia pengecut membunuh anak-anak dan ibu-ibu. Kita pun hanya bisa menatap dan merespon sekedarnya di media sosial yang hanya menyediakan ruang buat 144 karakter. Sementara diam-diam Ramadan merayap meninggalkan kita tanpa tahu apakah masih ada kesempatan untuk bertemu lagi.

Tangerang, Selasa, 21 Juli 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s